Suara Pribumi

Suara Pribumi Sejarah Indonesia Ambil Inspirasi dan Hikmah Sejarah

LONDO IRENG LEBIH JAHAT DARIPADA LONDO ASLIRakyat pribumi dulu, sering kali lebih takut kepada penguasa pribumi dibandin...
13/08/2026

LONDO IRENG LEBIH JAHAT DARIPADA LONDO ASLI

Rakyat pribumi dulu, sering kali lebih takut kepada penguasa pribumi dibanding kolonial. Kenapa bisa begitu?

Baca sampai habis. Karena sejarah ini jauh lebih rumit dari sekadar “Belanda jahat, rakyat tertindas.”

Raja dan pejabat pribumi sebelum masa kolonial jangan disamakan dengan pejabat pribumi di masa kolonial.

Sebelum kolonial datang, banyak kerajaan hidup dalam sistem patronase dan ikatan moral. Raja dihormati bukan hanya karena kekuasaan, tapi karena dianggap pelindung rakyat, penjaga adat, dan simbol kehormatan negeri. Hubungan rakyat dan penguasa masih dibungkus nilai budaya serta tanggung jawab moral.

Namun semua berubah ketika kolonial masuk.

Belanda sadar satu hal, menguasai Nusantara yang begitu luas tidak mungkin dilakukan hanya dengan tentara Eropa yang jumlahnya sedikit. Maka mereka memakai sistem Indirect Rule, pemerintahan tidak langsung.

Belanda tidak selalu turun langsung menekan rakyat. Mereka duduk di kantor, membuat aturan, lalu para demang, wedana, mantri, bupati, dan pejabat pribumi yang menjalankan semuanya di lapangan.

Yang datang menagih pajak ke kampung-kampung bukan orang Belanda.

Yang menyita hasil panen rakyat bukan orang Belanda.

Yang memaksa kerja rodi bukan orang Belanda.

Sering kali, sesama pribumi sendiri.

Inilah yang membuat rakyat lebih takut kepada pejabat lokal. Karena wajah penindasan itu hadir setiap hari di depan mata mereka sendiri.

Saat sistem Tanam Paksa diberlakukan pada abad ke-19, Belanda bahkan menerapkan sistem bonus dan target. Siapa pejabat lokal yang mampu menyetor hasil lebih banyak, maka jabatan aman, penghargaan naik, bahkan mendapat keuntungan pribadi.

Akibatnya?

Banyak pejabat pribumi memaksa rakyat bekerja di luar batas kemampuan. Sawah rakyat terbengkalai karena dipaksa menanam komoditas untuk kolonial. Kelaparan terjadi di mana-mana.

Loyalitas sebagian pejabat akhirnya bergeser.
Dari yang awalnya melindungi rakyat, menjadi alat untuk menyenangkan pemerintah kolonial.
Bahkan jabatan mereka diakui dan diperkuat lewat surat pengangkatan resmi dari pemerintah kolonial. Kekuasaan mereka tetap ada, tapi kini berada di bawah kendali Belanda.

Fakta ini bukan cerita karangan. Banyak catatan sejarah menulis hal yang sama.
Salah satu yang paling terkenal adalah kritik dari Eduard Douwes Dekker atau Multatuli dalam novel Max Havelaar. Ia membongkar bagaimana pejabat pribumi di Lebak melakukan pemerasan terhadap rakyat di tengah penderitaan dan kelaparan.

Multatuli bahkan memprotes sikap Raden Adipati Karta Natanegara, Bupati Lebak saat itu, yang dianggap membiarkan rakyat tertindas demi mempertahankan kekuasaan dan kemewahan.

Namun sejarah juga tidak hitam putih. Tidak semua pejabat pribumi jahat. Masih ada bupati, adipati, dan penguasa lokal yang jujur, peduli, bahkan diam-diam melindungi rakyatnya. Tetapi sistem kolonial dirancang begitu licik, membuat penguasa lokal bergantung pada restu Belanda.

Dan ketika jabatan, kekayaan, serta kekuasaan ditentukan oleh kolonial, banyak yang akhirnya berubah. Inilah alasan kenapa dalam banyak kisah lama, rakyat kecil justru lebih takut kepada pejabat pribumi daripada wajah Belanda itu sendiri.

Karena penjajah yang paling dekat, terkadang adalah orang sebangsa yang berdiri di depan pintu rumah mereka.

Sebagai pengenalan, Fatiha telah menulis seri Wilwatikta Majapahit sebanyak 9 buku, dan beberapa seri Raja-raja Nusantara lainnya, yang bisa kamu dapatkan novel digital dan cetaknya atau mau koleksi Novel Fatiha lainnya yang hampir semua novelnya saling terhubung? 100ribu dapat 30 judul novel digital (sesuai urutan tidak bisa pilih judul). Khusus buat kamu pembaca baru yang belum pernah ambil harga promo (tidak termasuk seri raja-raja nusantara).

Pangeran Thailand in Bandung 1932Nasib memang tak pernah bisa diduga.Begitulah kisah Pangeran ParibatralSukhumbandu, put...
06/08/2026

Pangeran Thailand in Bandung 1932
Nasib memang tak pernah bisa diduga.
Begitulah kisah Pangeran Paribatral
Sukhumbandu, putra Raja Chulangkorn
atau Rama V dari Siam (kini Thailand).
Dulu ia memegang jabatan sangat
tinggi, Panglima Angkatan Laut, Menteri
Dalam Negeri, hingga penasihat raja.

Namun semua itu berubah seketika
saat kudeta meletus pada 24 Juni
1932 yang mengakhiri kekuasaan raja
mutlak. Sebagai bagian dari keluarga
kerajaan, ia terpaksa meninggalkan tanah
kelahirannya dan mencari tempat aman
untuk memulai hidup baru.

Setelah sempat mempertimbangkan
Eropa, akhirnya ia memilih Hindia
Belanda. Pada Agustus 1932, ia tiba
di Batavia bersama istri, lima anak,
dan pengikut setianya, lalu menetap
di kawasan Cipaganti, Bandung. Kota
yang dijuluki Paris van Java itu dipilihnya.
karena udaranya yang sejuk, tenang, dan
penuh pemandangan alam yang indah,
sangat cocok untuk masa pensiunnya.
Meski statusnya telah berubah, para
pejabat Hindia Belanda tetap sangat
menghormatinya. la bahkan dihadiahkan
tiga rumah besar.

Di sanalah hobi lamanya tersalurkan,
ia memilih menjadi tukang kebun yang
tekun, bahkan menggeluti dunia tanaman
anggrek. Paribatra merawat tanaman
dengan penuh kasih sayang, hingga
berhasil menghiasi halaman rumahnya
dengan bunga-bunga cantik. la pun
berbagi bibit anggrek tersebut kepada
warga sekitar, karena merasa Bandung
saat itu masih minim tanaman hias.

Di sela merawat kebun, ia juga gemar
berkelana menjelajahi nusantara, mulai
dari Malang, Yogyakarta, Bali, hingga
Sumatera. Jejak perjalanannya selalu
menjadi perhatian media masa itu.

Pangeran ini menghabiskan sisa hidupnya
di Bandung hingga wafat pada 18 Januari
1944 di usia 62 tahun. Jenazahnya
sempat dimakamkan di sana, sebelum
akhirnya dip**angkan kembali ke Bangkok
pada tahun 1948 untuk dikremasi secara
adat kerajaan.


RAJA DARI SIAK MENYUMBANGKAN UANG 1000 TRILIUN  KE INDONESIA DAN KEMUDIAN MENGHILANG 13 juta gulden (Rp1,074 triliun har...
30/07/2026

RAJA DARI SIAK MENYUMBANGKAN UANG 1000 TRILIUN KE INDONESIA DAN KEMUDIAN MENGHILANG

13 juta gulden (Rp1,074 triliun hari ini).

Itu bukan angka yang datang dari pajak rakyat, melainkan uang pribadi seorang Raja. Namanya Sultan Syarif Kasim II. Raja ke-12 Kesultanan Siak Sri Inderapura, Riau. Beberapa bulan setelah proklamasi 17 Agustus 1945, ia mengirim telegram ke Presiden Sukarno. Isinya: Kesultanan Siak berdiri di belakang Republik Indonesia dan ia menyerahkan seluruhnya.

Bukan hanya uang. Mahkota berlian kesultanan, Pedang kebesaran, Perhiasan, dan Seluruh wilayah kerajaan dari Sumatera Timur, Deli, Serdang, hingga pesisir Riau yang ladang minyaknya dikerjakan bersama perusahaan Amerika. Semuanya. Diserahkan ke negara yang baru berumur hitungan bulan.

Sultan Syarif Kasim II adalah donatur terbesar di antara seluruh kerajaan Nusantara saat itu. Setelah semua itu diberikan kepada Indonesia, ia menghilang dari istananya. Ia pergi ke Aceh. Bergabung dengan Resimen Rencong sebagai Kolonel bukan sebagai raja, tapi sebagai prajurit biasa. Ikut menyumbang untuk membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah, pesawat angkut pertama milik Indonesia.

la wafat 23 April 1968 bukan di istana, tapi di Rumbai, Pekanbaru. Sebagai warga biasa.

Hari ini namanya tertulis di Bandara Internasional dan Universitas Negeri di Pekanbaru.

Basri Sangaji dari Maluku Pulau Haruku bersama kelompoknya membangun Bisnis debt collector di Ibukota. Kemudian Malam it...
30/07/2026

Basri Sangaji dari Maluku Pulau Haruku bersama kelompoknya membangun Bisnis debt collector di Ibukota.
Kemudian Malam itu Tahun 2004...
BELASAN pria berwajah tidak ramah masuk ke dalam Hotel Kebayoran Inn. Hasit Marabesi dan temanya Rusina Lestaluhu sedang terkantuk-kantuk di meja resepsionis, kemudian M. Simbolon dan Sunarono, staf pengamanan hotel, tidak berani menghadang. Karna di genggaman para tamu tidak diundang itu terselip kel3_^wang dan g0_^lok

Gerak cepat mereka menaiki tangga menyiratkan bahwa mereka tahu benar di mana letak buruan mereka berada. Kamar 30, lantai dua hotel yang terletak di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, itu. Lalu terdengar, brak! Pintu kamar dibuka secara paksa. Tidak lama terdengar suara gaduh orang beradu mulut ditingkahi suara besi beradu dan letusan s3_^nj4ta 4_^pi.

Keributan pada Selasa subuh hanya berlangsung 10 menit. Ketika para tamu tidak diundang itu keluar, mereka sempat merusak jip Lexus hitam milik penghuni kamar yang diparkir di depan lobi hotel. Lalu, mereka pergi dengan dua mobil.

Setelah para penyerbu menghilang, baru pegawai hotel mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Ketika menuju ke suite room itu mereka terkesiap. Di dalam kamar, mereka saksikan seorang pria terbaring tidak bernafas, tergeletak di sofa. Dadanya ada lubang bekas terjangan tim4_^h panas Tangan sebelah kirinya tidak ada.

Dia adalah Basri Jala Sangaji, 35 tahun, pemimpin kelompok pemuda Ambon yang mengendalikan Bisnis debt collector.

Kepolisian Menyeret beberapa Nama untuk diselidiki yang diduga terlibat dalam masalah ini yaitu Hercules dan John Kei. Dimana mereka sama sama bergerak di Bisnis sejenis dengan Basri Sangaji.

Foto: Basri Sangaji (Kiri) dan Taufik Kiemas (Kanan)

❗❗Sosok Londo Ireng yang diceritakan Prabowo ternyata,Benjamin Thomas Sigar (sekitar 1790 – 1879) adalah seorang pemimpi...
30/07/2026

❗❗Sosok Londo Ireng yang diceritakan Prabowo ternyata,
Benjamin Thomas Sigar (sekitar 1790 – 1879) adalah seorang pemimpin tradisional dan perwira militer Minahasa dari abad ke-19 yang memiliki signifikansi historis penting dalam sejarah kolonial dan kontemporer Indonesia. Ia dikenal luas dalam catatan sejarah sebagai salah satu leluhur langsung (buyut) dari Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto, dari garis keturunan sang ibunda, Dora Marie Sigar.

Pasukannya dikirim untuk menghadapi Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830). Berdasarkan catatan kearsipan, pasukannya terlibat dalam rangkaian operasi militer di Jawa Tengah yang berujung pada peristiwa di Magelang pada Maret 1830.
Monggo Bakom Presiden di luruskan 😁

DI USIA 73 TAHUN, IA MASIH MEMIMPIN PERANG DAN MEMBUAT TENTARA BELANDA GEMETAR!Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia ...
14/07/2026

DI USIA 73 TAHUN, IA MASIH MEMIMPIN PERANG DAN MEMBUAT TENTARA BELANDA GEMETAR!

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia melahirkan banyak pahlawan besar. Namun, di antara mereka berdiri seorang wanita perkasa yang keberanian dan kecerdasannya mampu mengguncang pasukan penjajah. Dialah Nyi Ageng Serang, atau Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, sosok legendaris yang namanya abadi dalam perjuangan bangsa.

Saat Perang Diponegoro meletus pada tahun 1825, Nyi Ageng Serang telah berusia 73 tahun. Usia yang bagi banyak orang menjadi masa untuk beristirahat, justru ia jadikan sebagai alasan untuk bertempur lebih gigih demi tanah air. Semangatnya tidak pernah lapuk dimakan usia, dan keberaniannya tetap menyala seperti api yang tak pernah padam.

Tak hanya berani, ia juga dikenal sebagai ahli strategi perang yang luar biasa. Nyi Ageng Serang memimpin pasukan gerilya dengan taktik yang cerdas dan sama sekali tidak terduga. Ia memerintahkan para prajurit membawa serta mengenakan daun lumbu atau daun keladi raksasa sebagai penyamaran. Dari kejauhan, pasukan Belanda hanya melihat hamparan kebun keladi yang tampak biasa, tanpa sedikit pun menyadari bahwa di balik dedaunan hijau itu tersembunyi para pejuang yang siap menerkam.

Begitu musuh berada dalam posisi paling lengah, pasukan Nyi Ageng Serang melancarkan serangan mendadak yang dahsyat. Barisan tentara Belanda dibuat kacau, panik, dan terpaksa mundur menghadapi serangan yang datang dari arah yang sama sekali tak mereka duga.

Strategi penyamaran hijau ini menjadi salah satu taktik gerilya paling cemerlang pada masanya dan terbukti efektif dalam berbagai pertempuran di wilayah Kulon Progo dan sekitarnya.

Kisah Nyi Ageng Serang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah soal usia, melainkan keberanian, kecerdasan, dan cinta yang tak tergoyahkan kepada tanah air. Selama semangat perjuangan masih menyala, tidak ada kata terlalu tua untuk membela bangsa.





PEMUDA YANG MEMBUAT PROKLAMASI17 AGUSTUS TETAPI DIJEMPUTSERDADU DAN LENYAP SELAMANYA.Malam 15 Agustus 1945, pukul 22.30,...
14/07/2026

PEMUDA YANG MEMBUAT PROKLAMASI
17 AGUSTUS TETAPI DIJEMPUT
SERDADU DAN LENYAP SELAMANYA.

Malam 15 Agustus 1945, pukul 22.30,
di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan
Timur 56 Jakarta, seorang pemuda
kurus berkacamata berdiri berhadapan
langsung dengan sang proklamator. la
diutus rekan-rekannya dari Menteng 31
untuk menyampaikan satu tuntutan yang
tidak bisa ditolak. Dengan suara tegas,
Wikana memperingatkan Soekarno: jika
proklamasi tidak diumumkan malam itu
juga, esok hari akan terjadi pertumpahan
darah dan pembunuhan besar-besaran.

Soekarno tidak gentar. Ia berdiri, maju
ke arah Wikana, dan berkata, "Ini batang
leherku, seretlah saya ke pojok itu dan
potonglah leherku malam ini juga! Kamu
tidak usah menunggu esok hari!" Para
pemuda terdiam. Soekarno menguasai
ruangan malam itu — namun Wikana dan
kawan-kawannya belum selesai.

Wikana lahir pada 18 Oktober 1914 di
Sumedang, Jawa Barat, sebagai anak
ke-14 dari 16 bersaudara dari keluarga
menak - bangsawan lokal yang
mendapat privilege pendidikan di era
kolonial. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman,
pendatang dari Demak, Jawa Tengah.

Dari keluarga inilah kesadaran politiknya
bermula: kakaknya, Winanta, pernah
dibuang ke kamp tahanan Boven Digoel
oleh pemerintah Belanda akibat terlibat
pemberontakan 1926, dan kisah itu
kemudian diabadikan dalam buku yang
disunting oleh Pramoedya Ananta Toer.

Setelah menyelesaikan pendidikan di
Europeesch Lagere School - sekolah
dasar kolonial berbahasa Belanda -
lalu melanjutkan ke MULO di Bandung,
Wikana belajar bahasa Jerman,
Prancis, dan Inggris secara autodidak.
Penguasaan bahasa asingnya itulah yang
kelak membukakan pintu bagi dirinya
ke jaringan pergerakan internasional.

la bergabung dengan Partai Komunis
Indonesia yang saat itu bergerak di
bawah tanah setelah dilarang kolonial
pascapemberontakan 1926. Bersama
Adam Malik dan Pandu Kartawiguna,
ia pernah ditangkap Belanda karena
menyebarkan koran ilegal Menara
Merah di Jawa Barat, sebelum akhirnya
dibebaskan saat Jepang menggantikan
kekuasaan Belanda.

Di masa pendudukan Jepang, Wikana
bergabung di Asrama Indonesia Merdeka
sekolah kader pemuda yang dibentuk

oleh kalangan intelijen Angkatan Laut
Jepang, di bawah naungan Laksamana
Tadashi Maeda. Dengan menggunakan
nama samaran Raden Sunoto, Wikana
menjalin kedekatan personal dengan
Maeda. Hubungan inilah yang kemudian
memainkan peran menentukan: ketika
proklamasi harus dirumuskan dalam
semalam, Wikana-lah yang membuka
pintu rumah dinas Maeda di Menteng
sebagai tempat yang aman dari
pengawasan militer Jepang darat.

Ketika kabar kekalahan Jepang menyebar
pada 15 Agustus 1945, para pemuda
Menteng 31 tidak mau menunggu.
Mereka mengirim Wikana bersama Darwis
untuk menemui Soekarno dan Hatta,
menuntut proklamasi dikumandangkan
malam itu juga - tanpa menunggu
sidang PPKI, tanpa menunggu restu
Jepang, tanpa menunggu apapun.

Soekarno menolak. Pertemuan itu
berakhir panas. Esok subuhnya, 16
Agustus 1945 pukul 03.00, bersama
Chaerul Saleh dan Sukarni, Wikana ikut
dalam rangkaian aksi yang membawa
Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok
― sebuah kota kecil di Karawang, Jawa
Barat, jauh dari pengaruh garnisun
Jepang di Jakarta. Di sana Soekarno dan
Hatta diamankan di rumah seorang petani
Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong.

Ironisnya, Wikana p**a yang tanpa
sengaja menjadi penyebab berakhirnya
peristiwa itu. Didesak oleh Ahmad
Subardjo, ia akhirnya membocorkan
lokasi persembunyian kedua pemimpin
bangsa. Subardjo segera menjemput
Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta,
dan malam harinya teks proklamasi
dirumuskan di rumah Maeda - berkat
koneksi yang dibangun Wikana sendiri.
AM Hanafi, rekan sesama Menteng 31,
mengaku marah besar atas kebocoran
itu. Wikana hanya bisa menerima
dengan muka pucat sambil mengakui
kesalahannya.

Namun sejarah tidak berhenti. Pada
17 Agustus 1945, proklamasi yang
diperjuangkan mati-matian itu akhirnya
berkumandang dari Jalan Pegangsaan
Timur 56. Wikana-lah yang mengatur
seluruh logistik upacara, termasuk
membujuk aparat militer Jepang agar
tidak mengganggu jalannya pembacaan
teks proklamasi.

Kepalanya dipisahkan.Tubuhnya ditinggalkan.Belanda menganggapnyabagian dari prosedur.Orang Banjar mengingatnyasebagai lu...
03/07/2026

Kepalanya dipisahkan.

Tubuhnya ditinggalkan.

Belanda menganggapnya
bagian dari prosedur.

Orang Banjar mengingatnya
sebagai luka.

la lahir dengan nama Idis.

Sejarah kemudian mengenalnya sebagai
Demang Lehman.

Bergelar Adhipattie Mangko Nagara.
Usianya baru 32 tahun.

Abad ke-19.
Tanah Banjar.
Belanda datang membawa meriam, peta,
dan keyakinan bahwa perlawanan akan
cepat berakhir.

Yang mereka temui justru seorang
panglima yang lebih mengenal sungai,
rawa, dan hutan daripada mereka
mengenal peta.

Demang Lehman bukan seorang raja.
la bukan p**a pewaris takhta.

la adalah tangan kanan Pangeran
Antasari.

Sebelumnya, ia menjadi panakawan
Pangeran Hidayatullah II lalu diangkat
sebagai Demang Riam Kanan.

Di pinggangnya terselip Keris Singkir.
Di tangannya ada tombak Kaliblah dari
Sumbawa.

Keduanya merupakan pusaka Kesultanan
Banjar.

Perang tidak selalu dimenangkan oleh
pasukan terbesar.

Kadang hanya oleh orang yang lebih
memahami jalan setapak daripada
musuhnya.

Pasukan Belanda berkali-kali kehilangan
jejak.

Perlawanan muncul dari hutan.
Lalu menghilang ke sungai.

Benteng Tabanio akhirnya jatuh.

Laporan-laporan Belanda mulai berubah.
Nama Demang Lehman tidak lagi ditulis
sebagai pemberontak.

la menjadi ancaman utama.

Penangkapan dengan kekuatan senjata
nyaris mustahil.

Mereka memilih cara yang lebih murah.
Pengkhianatan.

Seseorang dari lingkaran
dekat membocorkan tempat
persembunyiannya.

Bukan lewat teriakan.

Lewat bisikan.

Tahun 1864.
Gunung Raja.

Demang Lehman bersiap menunaikan
ibadah.

la mengetahui pasukan Belanda sedang
mendekat.

la juga mengetahui dirinya sedang
dikhianati.

Namun ia tidak menghunus kerisnya.

la tidak mengangkat tombaknya.

la memilih tidak menumpahkan darah di
tempat suci.

Saat itulah ia ditangkap.
Tanpa perlawanan.

Pengadilan kolonial berlangsung singkat.

Putusan telah diputuskan bahkan
sebelum sidang dimulai.

Hukumannya gantung.

27 Februari 1864.
Martapura.

Tali itu mengakhiri hidupnya.

Belum penghinaan terhadap dirinya.

Tubuhnya dipisahkan dari kepalanya.

Belanda mengetahui satu hal.

Selama rakyat Banjar masih memiliki
makam yang utuh, nama Demang Lehman
akan tetap hidup.

Karena itu kepalanya dibawa pergi.

Diduga menuju Leiden, Belanda.

Tubuhnya dimakamkan di tanah Banjar.
Tanpa kepala.

Hingga hari ini, arsip terus dibuka.

Museum terus ditelusuri.

Upaya repatriasi masih berjalan.

Tubuhnya tetap berada di Banjar.

Kepalanya belum p**ang.

dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat(1879-1952)Radjiman Wedyodiningrat adalahseorang dokter dan juga tokoh pendirinegara R...
30/05/2026

dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat
(1879-1952)

Radjiman Wedyodiningrat adalah
seorang dokter dan juga tokoh pendiri
negara Republik Indonesia yang cukup
terkenal. Ia mempunyai tanggal lahir
yang sama seperti R.A. Kartini, yakni
21 April 1879. Pada masa hidupnya
memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia, ia pernah tergabung ke dalam
organisasi Budi Utomo, dan pada tahun
1945 ia terpilih untuk menjabat sebagai
ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI).

Dalam perjalanan sejarah menuju
kemerdekaan Indonesia, Dr. Radjiman
adalah satu-satunya orang yang terlibat
secara aktif dalam kancah perjuangan
berbangsa dimulai dari munculnya
Boedi Utomo sampai pembentukan
BPUPKI. Pada sidang BPUPKI 29 Mei (29
Mei 1945), ia mengajukan pertanyaan
"apa dasar negara Indonesia jika kelak
merdeka?" Pertanyaan ini dijawab oleh
B**g Karno dengan Pancasila. Jawaban
dan uraian B**g Karno tentang Pancasila.
sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku
ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar
penerbitan buku Pancasila yang
pertama tahun 1948 di Desa Dirgo,
Kecamatan Widodaren, Kabupaten
Ngawi.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, sehari
setelah pengeboman atom di Nagasaki,
Radjiman bersama dengan tokoh
nasionalis Soekarno dan Mohammad
Hatta diterbangkan ke Saigon untuk
bertemu dengan Marsekal Lapangan
Hisaichi Terauchi, komandan Jepang
dari Grup Angkatan Darat Ekspedisi
Selatan. Pada tahun 1950, setelah
menjadi anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, ia memimpin sidang
pleno pertamanya. Dua tahun kemudian,
Radjiman meninggal dan dimakamkan
di Yogyakarta. la dianugerahi gelar
Pahlawan Nasional pada tahun 2013
oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang
Yudhoyono.

Sumber:
https://javanologi.uns.ac.id

KORUPTOR PERTAMA INDONESIA.Menelusuri Jejak Kelam Teuku YusufMuda Dalam.Dialah Teuku Yusuf Muda Dalam, priaAceh yang men...
21/05/2026

KORUPTOR PERTAMA INDONESIA.

Menelusuri Jejak Kelam Teuku Yusuf
Muda Dalam.
Dialah Teuku Yusuf Muda Dalam, pria
Aceh yang mencatatkan namanya
sebagai
koruptor pertama yang dijatuhi
hukuman mati di Indonesia.
09.20 pagi, ruang sidang itu mendadak
kaku saat ALICE ELISABETH VAN DE
WETERING duduk terlalu tenang―
sementara di belakangnya, TEUKU
JUSUF MUDA DALAM menunduk, seperti
memilih tidak lagi melawan.
Mikrofon tua menghadap lurus ke wajah
Alice.

Kursi kayu berderit pendek.
Beberapa pria di bangku belakang
menahan napas.
Alice hampir tidak bicara.
Tatapannya dingin, tidak mencari siapa
pun.

Semua perhatian justru berhenti di
diamnya.

Di belakangnya, Jusuf duduk tanpa
mengangkat kepala.
Mantan Menteri Urusan Bank Sentral.
Sekaligus Gubernur Bank Indonesia.
Saat rakyat antre beras, ia hidup dalam
kemewahan.

Enam rumah.
Mobil Fiat, Opel, sampai Porsche.
Nama Alice ikut terseret.
Bukan pelaku.
Hanya saksi dari lingkaran yang terlalu
dekat.

Sidang berjalan tanpa suara tinggi.
Fakta ditumpuk pelan.
Lalu satu kalimat dijatuhkan.

"Menghukum saudara Teuku Jusuf Muda
Dalam dengan hukuman mati."

I. SOSOK FLAMBOYAN DI LINGKARAN
KEKUASAAN

Teuku Yusuf Muda Dalam bukanlah
orang sembarangan. Ia adalah Gubernur
Bank Negara Indonesia (BNI) dan
Menteri Urusan Bank Sentral pada era
Demokrasi Terpimpin (1963-1966).

Dengan penampilan parlente dan
kemampuan orasi yang memikat, Yusuf
Muda Dalam menjadi salah satu "anak
emas" di lingkaran Istana. Namun, di balik
wibawanya, ia membangun kekaisaran
finansial ilegal yang merongrong ekonomi
negara yang saat itu sedang morat-marit.

II. MODUS OPERANDI: LISENSI IMPOR
DAN DANA REVOLUSI

Jejak kejahatannya terendus saat
ia menyalahgunakan wewenangnya
dalam pemberian fasilitas pembiayaan
impor atau yang dikenal dengan
"Lisensi Khusus". Yusuf Muda Dalam
memanip**asi dana negara melalui
mekanisme deferred payment
(pembayaran tertunda).
la diketahui menarik keuntungan pribadi
dari setiap pemberian lisensi impor
kepada pengusaha. Tak hanya itu, ia
mengelola "Dana Revolusi"-sebuah
dana taktis yang seharusnya digunakan
untuk proyek-proyek strategis negara-
namun justru dialirkan untuk memperkaya
diri sendiri dan membiayai gaya hidup
mewahnya.

III. SKANDAL ASMARA DAN GAYA HIDUP
MEWAH

Sidang Yusuf Muda Dalam pada tahun
1966 menjadi tontonan publik yang paling
menggemparkan saat itu. Bukan hanya
soal angka kerugian negara sebesar Rp.
97 miliar (nilai yang fantastis di tahun
60-an), tetapi juga terungkapnya skandal
moral. Dalam persidangan, terungkap
bahwa Yusuf Muda Dalam memiliki
setidaknya 25 istri, di mana banyak di
antaranya adalah artis dan perempuan
cantik yang ia pikat dengan harta negara.

AKHIR SANG PEMAIN

Pasca-G30S, posisi politik Yusuf Muda
Dalam runtuh. Ia ditangkap oleh Satuan
Tugas yang dibentuk oleh penguasa
Orde Baru. Pada 8 April 1966, Pengadilan
Subversif menjatuhkan vonis mati
kepadanya. Ia dinyatakan bersalah atas
dakwaan korupsi, kepemilikan senjata
api ilegal, dan tindakan subversif yang
merusak ekonomi nasional.

Meskipun divonis mati, Yusuf Muda
Dalam tidak pernah menghadapi
regu tembak. la meninggal dunia di
dalam penjara pada 26 Agustus 1976
karena menderita sakit komplikasi saat
sedang menjalani masa tahanan sambil
menunggu eksekusi yang tak kunjung
dilaksanakan.

Kisah Teuku Yusuf Muda Dalam adalah
pengingat pahit bahwa korupsi di
Indonesia telah berakar sejak struktur
negara ini masih muda. Ia adalah pionir
dari sebuah sistem yang memadukan
kekuasaan politik, akses finansial tanpa
batas, dan degradasi moral. Hingga hari
ini, jejaknya seolah menjadi pola yang
terus berulang dalam sejarah gelap
birokrasi Indonesia.

Sejarah mencatatnya sebagai yang
pertama-dan sampai hari ini,
belum ada yang menyusul.

Address

Jalan Kusuma Bangsa
Jakarta

Telephone

+62821434888

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suara Pribumi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category