05/06/2026
Menolak babi dan tuak karena keyakinan adalah hak setiap orang. Tidak ada yang mempermasalahkan itu. Namun ketika keyakinan dipakai untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dijual orang lain demi mencari nafkah, di tengah masyarakat yang beragam, kita patut bertanya: sebenarnya yang sedang diperjuangkan itu iman atau keinginan mengendalikan hidup orang lain?
Perlu diingat, di balik warung babi dan penjual tuak itu ada pelaku UMKM, ada keluarga yang menggantungkan hidup dari usaha kecil yang mereka bangun dengan kerja keras. Mereka bukan penjahat. Mereka bukan ancaman bagi masyarakat. Mereka hanya mencari rezeki dari produk yang memang dikonsumsi oleh sebagian warga yang memiliki budaya, tradisi, dan keyakinan yang berbeda. Ketika usaha mereka dipersoalkan hanya karena tidak sesuai dengan keyakinan sebagian orang, yang terancam bukan sekadar dagangan, tetapi juga sumber penghidupan banyak keluarga.
Kalau iman kita benar-benar kuat, mengapa harus takut hanya karena melihat warung babi atau penjual tuak? Mereka tidak pernah memaksa kita membeli. Tidak pernah memaksa kita makan. Tidak pernah memaksa kita minum. Jadi apa yang sebenarnya membuat kita begitu marah?
Yang lebih menyedihkan, sebagian orang bisa begitu lantang mempersoalkan makanan dan minuman yang dijual pelaku UMKM, tetapi mendadak diam ketika muncul kasus pencabvlan, pelecehan s3ksual, atau kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh oknum yang berlindung di balik simbol-simbol agama. Saat urusan dagangan orang kecil, suaranya menggelegar. Saat ada korban yang hidupnya hancur, suaranya nyaris tak terdengar.
Bukankah seharusnya kemarahan terbesar kita ditujukan kepada para pelaku kejahatan yang merusak masa depan anak-anak, bukan kepada pedagang kecil yang sedang berjuang menghidupi keluarganya?
Agama seharusnya menjadi benteng keadilan, bukan alat untuk menghakimi yang berbeda. Jangan sampai kita lebih sibuk mengawasi isi piring orang lain dan mempersulit usaha rakyat kecil daripada melawan kezaliman yang nyata di depan mata.
Kalau memang ingin membela agama, mulailah dengan membela korban. Bersuaralah untuk anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan. Tuntut pertanggungjawaban para pelaku tanpa pandang bulu. Karena tidak ada warung babi, tidak ada penjual tuak, dan tidak ada pelaku UMKM yang menghancurkan masa depan anak-anak. Tapi pred4ator s3ksual jelas melakukannya.