02/12/2023
SENJA BERTASBIH DI LEXANDRIA.
Part : 2.
Author : Habiburrahman Et-Shirazy.
Judul Novel : KETIKA CINTA BERTASBIH.
By : Nabila Ahmad featuring Novel Kita Bersama .
Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut
Mediterania. Nun jauh di sana ia melihat tiga kapal yang
tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang
menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan
Alexandria. Sejak dulu Alexandria memang terkenal sebagai
kota pelabuhan yang penting di kawasan Mediterania. Pela-
buhan utama Alexandria saat ini ada di kanan dan kiri kawa-
san Ras El Tin dan kawasan El Anfusi. Dua kawasan itu
terletak di semenanjung Alexandria lama. Di ujung seme-
nanjung itu berdiri dua benteng bersejarah Yaitu Benteng
Qaitbai dan Benteng El Atta.
Dari jendela kamarnya ia bisa melihat Benteng Qaitbai
itu di kejauhan. Kedua matanya kembali mengamati tiga kapal
yang letaknya berjauhan satu sama lain. Ia edarkan pan-
dangannya ke kiri dan ke kanan. Laut itu terlihat begitu luas
dan kapal itu begitu kecil. Padahal di dalam kapal itu mungkin
ada ratusan manusia. Ia jadi berpikir, alangkah kecilnya manu-
sia. Dan alangkah Maha Penya-yangnya Tuhan yang menji-
nakkan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal
kapal berisi manusia. Padahal, mungkin sekali di antara manu-
sia yang berada di dalam kapal itu terdapat manusia-manusia
yang sangat durhaka kepada Tuhan. Toh begitu, Tuhan masih
saja menunjukkan kasih sayangNya. Ia jinakkan lautan, yang
jika Ia berkehendak,Ia bisa menitahkan ombak untuk meneng-
gelamkan kapal itu dan bahkan meluluh-lantakkan seluruh isi
Kota Alexandria. Ia teringat firman-Nya yang indah,
"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhya kapal
itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya
kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sesung-
guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kebesaran-
Nya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur." 1
Ia terus memandang ke laut Mediterania. Laut itu telah
menjadi saksi sejarah atas terjadinya peristiwa peristiwa besar
yang menggetarkan dunia. Perang besar yang berkobar kare na memperebutkan cinta Ratu Cleopatra terjadi di laut itu.
Pertemuan bersejarah yang diabadikan dalam Al-Quran an-
tara Nabi Musa dan Nabi Khidir, konon, juga terjadi di salah
satu pantai laut Mediterania itu.
"Laut yang indah, penuh nilai sejarah," lirihnya pada diri-
nya sendiri. "Akankah aku juga akan mencatatkan sejarahku di
pantai laut ini?" Ia berkata begitu karena nanti malam ada
jadwal makan malam bersama seluruh staf KBRI di Pantai El
Mumtazah. la yakin akan bertemu lagi dengara Eliana disana.
Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinar-
nya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan.
Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi
pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Terasa damai dan
indah. Menyaksikan fenomena alam yang dahsyat itu Azzam
bertasbih, "Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah mencip
takan alam seindah ini."
Ya, alam bertasbih dengan keindahannya. Alam bertasbih
dengan keteraturannya. Alam bertasbih dengan pesonanya.
Segala keindahan, keteraturan dan pesona alam bertasbih,
menjelaskan keagungan Sang Penciptanya. Bertasbih, menyu-
cikan Tuhan dari sifat kurang. Keindahan senja sore itu men-
jelaskan kepada siapa saja yang menyaksikannya bahwa
Tuhan yang menciptakan senja yang luar biasa indah adalah
Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna ilmu-Nya.
Siang malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, udara.
laut, ombak dan pasir bertasbih. Semua benda yang ada di
alam semesta ini bertasbih, menyucikan asma Allah Semua
telah tahu bagaimana cara melakukan shalat dan tasbihnya.
Dengan sinarnya, matahari bertasbih di peredarannya. De-
ngan hembusannya udara bertasbih di alirannya. Dengan
gelombangnya ombak berta sbih di jalannya. Semua telah tahu
bagaimana cara menunjukan tidak ada Tuhan selain Allah
Yang Maha Kuasa.
Keteraturan alam semesta, langit yang membentang tan-
pa tiang, pergantian siang dan malam, lautan luas memben-
tang, gunung gunung yang menjulang, awan yang membawa
air hujan, air yang menumbuhkan tanam-tanaman, proses
penciptaan manusia sembilan bulan di rahim, binatang-bina-
tang yang menjaga ekosistem dan keteraturar-keteraturan
lainnya, itu semua menuniukkan bahwa ada Dzat Yang Maha
Kuasa dan Maha Sempurna. Dzat yang kekuasaan-Nya tidak
ada batasnya. Dzat yang menciptakan itu semua. Dan Dzat itu
adalah Tuhan Penguasa alam semesta. Dan jelas Tuhan itu
hanya boleh satu adanya. Tak mungkin dua, tiga dan sete-
rusnya. Tak mungkin.
Sebab, jika Tuhan itu lebih dari satu pastilah terjadi keru-
sakan di alam semesta ini. Sebab masing-masing akan merasa
paling berkuasa. Masing-masing akan memaksakan keinginan-
Nya. Mereka akan berkelahi. Misalnya satu menghendaki ma-
tahari terbit dari timur, sementara yang satu menghendaki
matahari terbit dari barat. Terjadilah perseteruan. Dan rusak-
lah alam.
Ternyata matahari terbit dari timur dan tenggelam di
barat, dengan sangat teraturnya. Matahari tak pernah terlam-
bat terbit. Matahari juga tak pernah bermain main, belari-lari
ke sana kemari di langit seperti anak kecil bermain bola atau
petak umpet. Ia beredar di jalan yang ditetapkan Tuhan
untuknya. Dan selalu tenggelam di ufuk barat tepat pada
waktunya. Keteraturan ini menunjukkan, Tuhan Yang Men-
ciptakan alam semesta ini adalah satu. Yaitu ‘Allah Wa Jalla,
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, yang tak
terbatas kekuasaan-Nya itu memang tak mungkin berjumlah
lebih dari satu. Sebab seandainya Tuhan lebih dari satu, lalu
mereka sepakat menciptakan matahari, misalnya. Maka ada
dua kemungkinan di sana. Pertama, Tuhan yang satu men-
ciptakan,sementara Tuhan yang lain berpangku tangan. Tidak
berbuat apa-apa. Dengan begitu, bisa berarti bahwa Tuhan
yang tidak berbuat apa apa itu tidaklah Tuhan yang berkuasa.
Sia-sia saja ia jadi Tuhan. Sebab, pada saat matahari diciptakan.
ia tidak berperan menciptakannya. Ia menganggur. Sama se-
perti makhluk yang menganggur. Jadi ia bukan Tuhan dan
tidak bisa disebutTuhan.
Atau kemungkinan kedua, Tuhan-tuhan itu bekerja sama
menciptakan matahari. Matahari diciptakan dengan keroyok-
an. Jika demikian, jelas jelas mereka bukanlah Tuhan Yang
Maha Kuasa. Sebab mereka lemah. Bagaimana tidak. Untuk
menciptakan matahari saja mereka harus bekerja sama. Tidak
bisa menciptakan sendiri. Kekuasaan-Nya tidak mutlak. Yang
terbatas kekuasaanya berarti lemah dan tidak layak disebut
sebagai Tuhan.
Jika Tuhan itu lebih dari satu, bisa saja terjadi pembagian
tugas. Ada yang bertugas mencipta matahari, ada yang bertu-
gas mencipta bumi, ada yang bertugas mencipta langit dan
seterusnya. Jika demikian, mereka bukan Tuhan Yang Maha
Kuasa. Sebab pembagian tugas itu menunjukkan kelemahan,
menunjukkan ketidak-mahakuasaan. Tuhan yang sesungguh-
nya adalah Tuhan Yang menciptakan dan menguasai seru
sekalian alam. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini de-
ngan kekuasaan-Nya yang sempurna. Tuhan yang ilmu-Nya
meliputi segala sesuatu. Dan yang memiliki sifat maha sem-
purna seperti itu hanya ada satu, yaitu Allah Swt. Dialah
Tuhan yang sesungguhnya. Sebab tidak ada yang memprok-
lamirkan diri sebagai pencipta alam semesta ini kecuali hanya
Allah Swt.
"Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada
tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha suci
Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan”
2
Pemuda bemama Khairul Azzam itu masih menatap ke
arah laut. Matahari masih satu jengkal di atas laut. Sebentar
lagi matahari itu akan tenggelam. Warna kuning keemasan
bersepuh kemerahan yang terpancar dati bola matahari
menampilkan pemandangan luar biasa indah. Ia jadi ingat
sabda Nabi, ''Sessungguhnya Allah itu indah dan mencintai kein-
dahan."
"Subhanallah!" Kembali ia bertasbih dalam hati.
Ia terus menikmati detik-detik pergantian siang dan
malam yang indah itu. Cahaya matahari seperti masuk ke
dalam laut yang perlahan menjadi gelap. Siang seolah olah
masuk ke dalam perut malam. Matahari hilang tenggelam.
Lalu perlahan bulan datang. Subhanallah. Siapakah yang
mengatur ini semua? Siapakah yang mampu memasukkan
siang ke dalam perut malam? Seketika azan berkumandang
menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang: Allaahu
Akbar! Allaahu Akbar! Allah Maha Besar. Allah Maha Besar.
Ya, hanya Allah Yang Maha Besar kekuasaan-Nyalah yang
mampu memasuk-kan siang ke dalam perut malam. Dan
memasukkan malam ke dalam perut siang.
"Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan
malam ke dalam siang dan memasukan siang ke dalam malam dan
Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar
sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
3
Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu-
lampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya
yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap-
kelip lampu kota yang mendapat julukan "Sang Pengantin
Laut Mediterania" itu bagai tebaran intan berlian. Khairul
Azzam menutup gorden jendela kamarnya. Ia bergegas untuk
shalat di masjid yang jaraknya tak jauh dari hotel.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu hendak keluar,
telpon di kamarnya berdering. Ia terdiam sesaat. Ia menatap
telpon yang sedang berdering itu sesaat dan terus membuka
pintu lalu melangkah keluar. “Kalau dia benar-benar perlu,
nanti pasti nelpon lagi setelah shalat. Apa tidak tahu ini saat-
nya shalat," lirihnya menuju lift.