Novel Kita Bersama

Novel Kita Bersama Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Novel Kita Bersama, Digital creator, Jakarta.
(2)

04/12/2023
Di gubuk tua, pada malam hari."Cepat lepas bajumu!" titah seorang pria tampan berusia sekitar 22 tahun pada seorang gadi...
03/12/2023

Di gubuk tua, pada malam hari.

"Cepat lepas bajumu!" titah seorang pria tampan berusia sekitar 22 tahun pada seorang gadis yang masih berusia 17 tahun.

"Apa maksudmu memintaku lepas baju, dasar mesum!" Kesal sang gadis cantik berdarah Tionghoa dari garis keturunan ayahnya itu pada sang pria.

"Lihat saja itu bajumu basah, sana ganti baju, aku nggak mau ya Kakakmu marahin aku karena kamu sakit," jawab Damian Bagaskara sang pria tampan tadi.

"Halah, alasan aja, bilang aja kamu mau kurang ajar, kan? Mau lihat tubuhku ya? Dasar mesum!" ejek Arandha sang gadis cantik tadi.

"Otakmu tuh yang kotor, dah sana cepetan ganti baju!"

"Mana baju gantinya?"

"Tuh pakai aja jaketku!" jawab Damian seraya menunjuk jaketnya yang sudah dia lepas sejak tadi.

Arandha kemudian beranjak berdiri dan pergi ke arah sana mengambil jaket kulit berwarna hitam itu.

"Kebesaran tahu, nggak sesuai buat aku!" Kesal Arandha.

"Udahlah pakai aja, nggak ada yang lain lagi."

"Tutup matamu, awas kalau mengintip!"

"Siapa juga yang mau ngintip, dasar otak kotor!" jawab Damian yang kemudian mengubah posisi duduknya membelakangi Arandha.

Arandha kemudian segera melepas bajunya dan setelah bajunya terlepas, dia hendak mengenakan jaket itu tetapi ada kecoak yang terbang dan menempel ke lehernya.

"Aaaa!!!" Teriakan Arandha membuat Damian langsung menoleh sambil berdiri.

"Kecoak, tolong! Tolong! Geli!" ucap Arandha sambil menepuk-nepuk lehernya.

Kecoak itu kemudian terbang menjauh dan Arandha akhirnya bisa bernafas lega, tetapi ketika dia melihat ke arah depan, dirinya kembali terkejut dan membulatkan matanya.

"Hey, ngapain kamu lihat aku!!!" teriak Arandha sambil menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya memakai bra saja.

"Oh, iya lupa, maaf!" ucap Damian yang kemudian kembali berbalik.

"Dasar mesum!"

"Kamu yang teriak dan mengejutkan aku tadi, salah kamu juga takut sama kecoak sampai pecicilan kayak gitu."

"Halah, dasar mesum! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!"

~Mengenal Cinta Indigo

SENJA BERTASBIH DI LEXANDRIA.Part     : 2.Author : Habiburrahman Et-Shirazy.Judul Novel : KETIKA CINTA BERTASBIH.By     ...
02/12/2023

SENJA BERTASBIH DI LEXANDRIA.

Part : 2.

Author : Habiburrahman Et-Shirazy.
Judul Novel : KETIKA CINTA BERTASBIH.
By : Nabila Ahmad featuring Novel Kita Bersama .

Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut
Mediterania. Nun jauh di sana ia melihat tiga kapal yang
tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang
menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan
Alexandria. Sejak dulu Alexandria memang terkenal sebagai
kota pelabuhan yang penting di kawasan Mediterania. Pela-
buhan utama Alexandria saat ini ada di kanan dan kiri kawa-
san Ras El Tin dan kawasan El Anfusi. Dua kawasan itu
terletak di semenanjung Alexandria lama. Di ujung seme-
nanjung itu berdiri dua benteng bersejarah Yaitu Benteng
Qaitbai dan Benteng El Atta.
Dari jendela kamarnya ia bisa melihat Benteng Qaitbai
itu di kejauhan. Kedua matanya kembali mengamati tiga kapal
yang letaknya berjauhan satu sama lain. Ia edarkan pan-
dangannya ke kiri dan ke kanan. Laut itu terlihat begitu luas
dan kapal itu begitu kecil. Padahal di dalam kapal itu mungkin
ada ratusan manusia. Ia jadi berpikir, alangkah kecilnya manu-
sia. Dan alangkah Maha Penya-yangnya Tuhan yang menji-
nakkan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal
kapal berisi manusia. Padahal, mungkin sekali di antara manu-
sia yang berada di dalam kapal itu terdapat manusia-manusia
yang sangat durhaka kepada Tuhan. Toh begitu, Tuhan masih
saja menunjukkan kasih sayangNya. Ia jinakkan lautan, yang
jika Ia berkehendak,Ia bisa menitahkan ombak untuk meneng-
gelamkan kapal itu dan bahkan meluluh-lantakkan seluruh isi
Kota Alexandria. Ia teringat firman-Nya yang indah,
"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhya kapal
itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya
kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sesung-
guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kebesaran-
Nya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur." 1
Ia terus memandang ke laut Mediterania. Laut itu telah
menjadi saksi sejarah atas terjadinya peristiwa peristiwa besar
yang menggetarkan dunia. Perang besar yang berkobar kare na memperebutkan cinta Ratu Cleopatra terjadi di laut itu.
Pertemuan bersejarah yang diabadikan dalam Al-Quran an-
tara Nabi Musa dan Nabi Khidir, konon, juga terjadi di salah
satu pantai laut Mediterania itu.
"Laut yang indah, penuh nilai sejarah," lirihnya pada diri-
nya sendiri. "Akankah aku juga akan mencatatkan sejarahku di
pantai laut ini?" Ia berkata begitu karena nanti malam ada
jadwal makan malam bersama seluruh staf KBRI di Pantai El
Mumtazah. la yakin akan bertemu lagi dengara Eliana disana.
Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinar-
nya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan.
Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi
pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Terasa damai dan
indah. Menyaksikan fenomena alam yang dahsyat itu Azzam
bertasbih, "Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah mencip
takan alam seindah ini."
Ya, alam bertasbih dengan keindahannya. Alam bertasbih
dengan keteraturannya. Alam bertasbih dengan pesonanya.
Segala keindahan, keteraturan dan pesona alam bertasbih,
menjelaskan keagungan Sang Penciptanya. Bertasbih, menyu-
cikan Tuhan dari sifat kurang. Keindahan senja sore itu men-
jelaskan kepada siapa saja yang menyaksikannya bahwa
Tuhan yang menciptakan senja yang luar biasa indah adalah
Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna ilmu-Nya.
Siang malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, udara.
laut, ombak dan pasir bertasbih. Semua benda yang ada di
alam semesta ini bertasbih, menyucikan asma Allah Semua
telah tahu bagaimana cara melakukan shalat dan tasbihnya.
Dengan sinarnya, matahari bertasbih di peredarannya. De-
ngan hembusannya udara bertasbih di alirannya. Dengan
gelombangnya ombak berta sbih di jalannya. Semua telah tahu
bagaimana cara menunjukan tidak ada Tuhan selain Allah
Yang Maha Kuasa.

Keteraturan alam semesta, langit yang membentang tan-
pa tiang, pergantian siang dan malam, lautan luas memben-
tang, gunung gunung yang menjulang, awan yang membawa
air hujan, air yang menumbuhkan tanam-tanaman, proses
penciptaan manusia sembilan bulan di rahim, binatang-bina-
tang yang menjaga ekosistem dan keteraturar-keteraturan
lainnya, itu semua menuniukkan bahwa ada Dzat Yang Maha
Kuasa dan Maha Sempurna. Dzat yang kekuasaan-Nya tidak
ada batasnya. Dzat yang menciptakan itu semua. Dan Dzat itu
adalah Tuhan Penguasa alam semesta. Dan jelas Tuhan itu
hanya boleh satu adanya. Tak mungkin dua, tiga dan sete-
rusnya. Tak mungkin.
Sebab, jika Tuhan itu lebih dari satu pastilah terjadi keru-
sakan di alam semesta ini. Sebab masing-masing akan merasa
paling berkuasa. Masing-masing akan memaksakan keinginan-
Nya. Mereka akan berkelahi. Misalnya satu menghendaki ma-
tahari terbit dari timur, sementara yang satu menghendaki
matahari terbit dari barat. Terjadilah perseteruan. Dan rusak-
lah alam.
Ternyata matahari terbit dari timur dan tenggelam di
barat, dengan sangat teraturnya. Matahari tak pernah terlam-
bat terbit. Matahari juga tak pernah bermain main, belari-lari
ke sana kemari di langit seperti anak kecil bermain bola atau
petak umpet. Ia beredar di jalan yang ditetapkan Tuhan
untuknya. Dan selalu tenggelam di ufuk barat tepat pada
waktunya. Keteraturan ini menunjukkan, Tuhan Yang Men-
ciptakan alam semesta ini adalah satu. Yaitu ‘Allah Wa Jalla,
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, yang tak
terbatas kekuasaan-Nya itu memang tak mungkin berjumlah
lebih dari satu. Sebab seandainya Tuhan lebih dari satu, lalu
mereka sepakat menciptakan matahari, misalnya. Maka ada
dua kemungkinan di sana. Pertama, Tuhan yang satu men-
ciptakan,sementara Tuhan yang lain berpangku tangan. Tidak
berbuat apa-apa. Dengan begitu, bisa berarti bahwa Tuhan
yang tidak berbuat apa apa itu tidaklah Tuhan yang berkuasa.
Sia-sia saja ia jadi Tuhan. Sebab, pada saat matahari diciptakan.

ia tidak berperan menciptakannya. Ia menganggur. Sama se-
perti makhluk yang menganggur. Jadi ia bukan Tuhan dan
tidak bisa disebutTuhan.
Atau kemungkinan kedua, Tuhan-tuhan itu bekerja sama
menciptakan matahari. Matahari diciptakan dengan keroyok-
an. Jika demikian, jelas jelas mereka bukanlah Tuhan Yang
Maha Kuasa. Sebab mereka lemah. Bagaimana tidak. Untuk
menciptakan matahari saja mereka harus bekerja sama. Tidak
bisa menciptakan sendiri. Kekuasaan-Nya tidak mutlak. Yang
terbatas kekuasaanya berarti lemah dan tidak layak disebut
sebagai Tuhan.
Jika Tuhan itu lebih dari satu, bisa saja terjadi pembagian
tugas. Ada yang bertugas mencipta matahari, ada yang bertu-
gas mencipta bumi, ada yang bertugas mencipta langit dan
seterusnya. Jika demikian, mereka bukan Tuhan Yang Maha
Kuasa. Sebab pembagian tugas itu menunjukkan kelemahan,
menunjukkan ketidak-mahakuasaan. Tuhan yang sesungguh-
nya adalah Tuhan Yang menciptakan dan menguasai seru
sekalian alam. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini de-
ngan kekuasaan-Nya yang sempurna. Tuhan yang ilmu-Nya
meliputi segala sesuatu. Dan yang memiliki sifat maha sem-
purna seperti itu hanya ada satu, yaitu Allah Swt. Dialah
Tuhan yang sesungguhnya. Sebab tidak ada yang memprok-
lamirkan diri sebagai pencipta alam semesta ini kecuali hanya
Allah Swt.
"Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada
tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha suci
Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan”
2
Pemuda bemama Khairul Azzam itu masih menatap ke
arah laut. Matahari masih satu jengkal di atas laut. Sebentar
lagi matahari itu akan tenggelam. Warna kuning keemasan
bersepuh kemerahan yang terpancar dati bola matahari
menampilkan pemandangan luar biasa indah. Ia jadi ingat

sabda Nabi, ''Sessungguhnya Allah itu indah dan mencintai kein-
dahan."
"Subhanallah!" Kembali ia bertasbih dalam hati.
Ia terus menikmati detik-detik pergantian siang dan
malam yang indah itu. Cahaya matahari seperti masuk ke
dalam laut yang perlahan menjadi gelap. Siang seolah olah
masuk ke dalam perut malam. Matahari hilang tenggelam.
Lalu perlahan bulan datang. Subhanallah. Siapakah yang
mengatur ini semua? Siapakah yang mampu memasukkan
siang ke dalam perut malam? Seketika azan berkumandang
menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang: Allaahu
Akbar! Allaahu Akbar! Allah Maha Besar. Allah Maha Besar.
Ya, hanya Allah Yang Maha Besar kekuasaan-Nyalah yang
mampu memasuk-kan siang ke dalam perut malam. Dan
memasukkan malam ke dalam perut siang.
"Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan
malam ke dalam siang dan memasukan siang ke dalam malam dan
Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar
sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
3
Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu-
lampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya
yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap-
kelip lampu kota yang mendapat julukan "Sang Pengantin
Laut Mediterania" itu bagai tebaran intan berlian. Khairul
Azzam menutup gorden jendela kamarnya. Ia bergegas untuk
shalat di masjid yang jaraknya tak jauh dari hotel.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu hendak keluar,
telpon di kamarnya berdering. Ia terdiam sesaat. Ia menatap
telpon yang sedang berdering itu sesaat dan terus membuka
pintu lalu melangkah keluar. “Kalau dia benar-benar perlu,
nanti pasti nelpon lagi setelah shalat. Apa tidak tahu ini saat-
nya shalat," lirihnya menuju lift.

SENJA BERTASBIH DI ALEXANDRIAPart   : 1Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitumemesona. Cahaya mataharinya ya...
02/12/2023

SENJA BERTASBIH
DI ALEXANDRIA

Part : 1

Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu
memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah
menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara,
dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat
cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai
menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.
Di atas pasir pantai yang putih, anak-anak masih asyik
bermain kejar-kejaran.
Ada juga yang bermain rumah-rumah-
an dari pasir. Di tangan anak-anak itu pasir pasir putih tampak
seumpama butir-butir emas yang lembut berkilauan diterpa
sinar matahari senja.
Di beberapa tempat, di sepanjang pantai, sepasang muda-mudi tampak bercengkerama mesra. Di antara mereka masih

ada yang membawa buku-buku tebal di tangan. Menandakan
mereka baru saja dari kampus dan belum sempat pulang ke ru-
mah. Suasana senja di pantai rupanya lebih menarik bagi me-
reka daripada suasana senja di rumah. Bercengkerama dengan
pujaan hati rupanya lebih mereka pilih daripada berceng-
kerama dengan keluarga; ayah, ibu, adik dan kakak di rumah.
Di mana-mana muda-mudi yang sedang jatuh cinta sama.
Senja menjadi waktu istimewa bagi mereka. Waktu untuk ber-
temu, saling memandang, duduk berdampingan dan bercerita
yang indah-indah. Saat itu yang ada dalam hati dan pikiran
mereka adalah pesona sang kekasih yang dicinta. Tak terlintas
sedikit pun bahwa senja yang indah yang mereka lalui itu akan
menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak. Ya, kelak ketika masa
muda mereka harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang
Pencipta Cinta. Dan jatuh cinta mereka pun harus dipertang-
gung jawabkan kepada-Nya: Di hadapan pengadilan Dzat
Yang Maha Adil, yang tidak ada sedikit pun kezaliman dan
ketidakadilan di sana.
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu
indah.Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih.
Bergelombang naik turun. Berkejar kejaran menampakkan
keriangan yang sangat menawan. Semilir angin mengalirkan
kesejukan. Suara desaunya benar-benar terasa seumpama de-
sau suara zikir alam yang menciptakan suasana tenteram.
Dari jendela kamarnya yang terletak di lantai lima Hotel
Al Haram, ia menyaksikan sihir itu. Di matanya, Alexandria
sore itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia.
Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi keindahan dan
kedamaian saja.
Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana
menjelang musim semi yang membuat Alexandria senja itu
begitu memesona. Bukan semata-mata sihir matahari senja

yang membuat Alexandria begitu menakjubkan. Bukan sema-
ta-mata pasir putihnya yang bersih yang membuat Alexandria
begitu menawan. Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat
segala yang dipandangnya tampak menakjubkan adalah kare-
na musim semi sedang bertandang di hatinya. Matahari keba-
hagiaan sedang bersinar terang di sana. Bunga bunga kesturi
sedang menebar wanginya. Tembang tembang cinta menga-
lun di dalam hatinya, memperdengarkan irama terindahnya.
Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah seo-
rang gadis pualam, yang di matanya memiliki kecantikan bu-
nga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di mata -
nya seumpama permata safir yang paling indah.
Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok
yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan
masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dika-
gumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan
fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi
yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri
orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir.
Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-satunya Bapak
Duta Besar Republik Indonesia di Mesir. Hampir genap satu
tahun gadis itu tinggal di Mesir. Selain untuk menemani
kedua orangtuanya, keberadaannya di Negeri Pyramid itu
untuk melanjutkan S.2-nya di American University in Cairo
(AUC).
Belum begitu lama menghirup udara Mesir, gadis yang
memiliki suara jernih itu langsung menunjukkan prestasinya.
Kontan, ia langsung jadi pusat perhatian. Sebab baru satu
bulan di Cairo, tulisan opininya dalam bahasa Inggris sudah
dimuat di koran Ahram Gazzette. Opininya menyoroti peran
Liga Arab yang mandul dalam memperjuangkan martabat
anggota-anggotanya. Liga Arab yang tak punya nyali berha-
dapan dengan Israel dan sekutunya. Liga Arab yang hanya
bisa bersuara, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tulisannya rapi runtut, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan
pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan
perpaduan pandangan seorang jurnalis, sastrawan dan diplo-
mat ulung.
Karena opininya itulah ia langsung diminta jadi bintang
tamu di Nile TV. Di layar Nile TV ia berdebat dengan Sekjen
Liga Arab. Hampir seluruh masyarakat Indonesia di Mesir
menyaksikan siaran langsung istimewa itu. Baru kali ini ada
anak Indonesia berbicara di sebuah forum yang tidak sem-
barang orang diundang. Sejak itulah Eliana menjadi bintang
yang bersinar di langit cakrawala Mesir, terutama di kalangan
mahasiswa Indonesia.
Terhitung, gadis yang menyelesaikan S.l-nya di EHESS
Prancis itu sudah tiga kali tampil di layar televesi Mesir.
Sekali di NileTV. Dua kali di Channel 2. Wajahnya yang tak
kalah pesonanya dengan diva pop dari Lebanon, Nawal
Zoughbi, dianggap layak tampil di layar kaca. Selain karena ia
memang putri seorang duta besar yang cerdas dan fasih
berbahasa Inggris dan Prancis.
Eliana, Putri Pak Dubes itulah yang membuatnya berada
di Alexandria dan tidur di hotel berbintang lima selama satu
pekan ini. Meskipun ia sudah berulangkali ke Alexandria,
namun keberadaannya di Alexandria kali ini ia rasakan begitu
istimewa. Ia tidak bisa mengingkari dirinya adalah manusia
biasa, bukan malaikat. Ia tak bisa menafikan dirinya adalah
pemuda biasa yang bisa berbunga-bunga karena merasa dekat
dan dianggap penting oleh seorang gadis cantik dan ter-
hormat seperti Eliana. Gadis yang membuat matahari keba-
hagiaan sedang bersinar terang di hatinya.
Awalnya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia
(KBRI) yang mengadakan acara "Pekan Promosi Wisata dan
Budaya Indonesia di Alexandria". Beberapa acara pagelaran
budaya digelar di Auditorium Alexandria University selama
satu pekan. Selama itu juga ada promosi masakan dan makan-
an khas Indonesia. Ada empat makanan yang dipromosikan
yaitu Nasi Timlo Solo, Sate Madura, Coto Makassar, dan Empek-empek Palembang. Dan Elianalah yang menjadi pe-
nanggung jawab promosi makanan khas Indonesia itu. Semen-
tara ia, dikenal sebagai mahasiswa paling mahir memasak.
Dan ia dikontrak KBRI untuk membuka stand Nasi Timlo
Solo. Mulanya ia menolak. Sebab, dengan begitu ia harus
meninggalkan bisnisnya membuat tempe selama semingu. Ia
khawatir langganannya kecewa. Namun Putri Dubes itu terus
mendesak dan memohon kesediaannya. Akhirnya ia luluh dan
bersedia.
Sejak itulah hatinya berbunga-bunga. Sebab sebelum ber-
angkat ke Alexandria ia sering ditelpon Eliana. Dan saat di
Alexandria hampir tiap hari Eliana datang ke standnya untuk
mengontrol, melihat-lihat, atau hanya sekadar untuk menga -
jaknya bicara apa saja.
"Aku salut Iho ada mahasiswa yang mandiri seperti Mas
Insinyur." Puji Eliana. Hatinya tersanjung luar biasa.
Bagaimana tidak, gadis jelita itu seolah begitu menghor-
matinya. Ia dipanggil dengan panggilan "Mas Insinyur", bu-
kan langsung memanggil namanya, atau dengan kata ganti
"kamu" atau "Anda". Orang-orang memang biasa memang-
gilnya "Mas Khairul", karena namanya Khairul Azzam, atau
"Mas Insinyur" karena ia memang dikenal sebagai "Insinyur"-
nya dunia masak memasak di kalangan mahasiswa Indonesia
di Cairo. Entah kenapa, mendengar pujian dari Eliana itu, ia
merasakan kebahagiaan dengan nuansa yang sangat lain.
Kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tersenyum sendiri. Kedua matanya memandang ke
arah pantai. Dua orang muda-mudi Mesir berjalan mesra
menyusuri Pantai Cleopatra yang berada tepat di depan hotel.
Ia tersenyum sendiri. Entah kenapa tiba-tiba berkelebat
pikiran, andai yang berjalan itu adalah dirinya dan Eliana.
Alangkah indahnya.
Astaghfirullal! la beristighfar.
Ia merasa apa yang berkelebat dalam pikirannya itu
sudah tidak dianggap benar.

Author : Habiburrahman Et- Shirazy.
Judul novel : KETIKA CINTA BERTASBIH.
By : Nabila Ahmad Featuring Novel kita Bersama.

ANAKKU SAYANG, ANAKKU MALANGDreeettttt dreeettttt. Kali keempat ponsel itu kembali bergetar. Masih dari panggilan yang s...
02/12/2023

ANAKKU SAYANG, ANAKKU MALANG

Dreeettttt dreeettttt. Kali keempat ponsel itu kembali bergetar. Masih dari panggilan yang sama. Kaluna memijat keningnya di antara dua alis. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menerima panggilan itu.

“Hallo ... Kenan.”

“Hallo, Kal! Kamu lagi sibuk apa sama Jovita? Aku telpon dari tadi loh!

Terdengar bersemangat sekali nada suara Kenan di seberang telepon. Yang justru membuat Kaluna ingin menangis meledak saja saat itu juga. Menumpahkan segala resah di hatinya pada sang suami.

“Kal? Hallooo? Kamu masih di sana, Sayang? Atau ... sinyalnya jelek ya?”

“Kenan.”

“Iya? Suaramu pelan sekali, Sayang.”

“Kenan ... Jovita hilang. A- aku su –“

“Apa?! Jovita hilang? Hilang bagaimana maksudmu?”

“Tadi dia persis di sampingku. Lalu ... lalu ... aku hanya sedang menulis sebentar. Tiba-tiba Jo –“

“Kaluna, demi apapun kamu tolong cari Jovita sampai ketemu! Kamu –“

Tiba-tiba ada nada bip pada ponsel Kaluna. Ia segera melihat layar ponsel, dan keningnya mengernyit.

“Kenan, ada telepon masuk lainnya. Ini nomor Bandung, mungkin dari pos security. Aku angkat dulu ya.”

Dan tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Kaluna segera menerima panggilan telepon yang kedua.

“Hallo?”

“Hallo, dengan Mbak Kaluna?”

Terdengar suara bariton yang berat dari seberang telepon. Nada suaranya diatur sedemikian rupa, hati-hati sekali tampaknya.

“Iya betul. Ini dari mana? Apa dari pos security Green Park?”

“Betul Mbak Kaluna. Hemm ... begini Mbak, kami telah menemukan seorang anak kecil dengan ciri-ciri persis seperti info yang kami terima.”

“Ohh, benarkah?!” pekik Kaluna dengan mata berbinar penuh harap. “Saya mau ketemu Jovita sekarang juga! Kita bisa bertemu di mana Pak?”

“Saya ada di danau, sisi timur Green Park. Yang ada perahu bebeknya ya Mbak. Silakan segera kesini Mbak.”

“Baik Pak. Terima kasih.”

Segera Kaluna menutup telepon, lalu berlari menuju danau yang ia tahu tempatnya. Sebab tadi Jovita sempat merengek sebentar ingin naik ke perahu bebek itu, tapi urung karena Kaluna mengajak putrinya untuk ke tempat lain lebih dulu.

Dari kejauhan Kaluna melihat kerumunan orang-orang di tepi danau. Tiba-tiba saja ia merasa cemas kembali. Dan langkahnya terhenti ketika hanya tinggal berjarak beberapa meter saja. Ketika dia dapat melihat seorang anak kecil tengah dibaringkan di tanah beralas kain tipis. Dan seseorang sedang melakukan tindakan CPR pada anak itu.

“Tidak mungkin!” desis Kaluna tertahan. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Dan ketika melihat rok renda berwana pink, seketika napasnya terasa sesak.




Judul : MATA ELANG
Penulis : Diena Lubis
Status : on going Gratis koin.
By : Nabila Ahmad
Featuring : Novel kita Bersama.

Address

Jakarta
73210

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Novel Kita Bersama posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Novel Kita Bersama:

Shortcuts

Share