13/05/2026
Buku terbaru karya Gad Saad berjudul "Suicidal Empathy" mengangkat kritik tajam terhadap budaya politik modern yang menurutnya terlalu mengedepankan empati hingga mengorbankan rasionalitas dan ketertiban sosial.
“Penulis bestseller The Parasitic Mind, Gad Saad, menunjukkan bagaimana empati dalam politik dapat membawa peradaban menuju kehancuran.
Apa yang terjadi ketika sebuah masyarakat menjadikan status korban sebagai sebuah keutamaan dan menganggap hukuman sebagai tindakan kejam? Menurut Dr. Gad Saad, itulah yang disebut sebagai suicidal empathy atau ‘empati bunuh diri’. Dan Barat, menurutnya, mungkin sudah terinfeksi secara terminal.
Dalam buku terbarunya, Suicidal Empathy, Saad melontarkan kritik keras terhadap altruisme irasional yang maladaptif yang disebutnya telah mencengkeram budaya modern. Ia menilai ‘parasit pikiran’ ini telah membajak naluri empati kaum progresif, sehingga menyebabkan kekacauan dalam prioritas moral masyarakat. Dampaknya terlihat di mana-mana: mulai dari perlakuan lunak terhadap kriminal brutal, perlindungan terhadap pelaku kekerasan seksual, hingga pelabelan tindakan membela diri sebagai perilaku toksik.
Saad berpendapat dunia Barat sedang mengalami kemunduran peradaban secara cepat. Kebijakan-kebijakan yang dianggapnya absurd diterapkan karena masyarakat lebih memprioritaskan perasaan kelompok tertentu dibandingkan kebenaran, lebih membela pelaku kejahatan dibanding korban, serta lebih berpihak pada penghuni liar dibanding pemilik rumah sah. Menurutnya, hal tersebut bukan bentuk kemanusiaan, melainkan pembongkaran aktif terhadap fondasi yang menjaga keamanan dan kebebasan masyarakat.
Ia juga menyebut krisis empati ini menciptakan sistem ‘moralitas terbalik’, di mana kelompok kuat dan sukses justru didemonisasi, sementara perilaku destruktif dirayakan. Saad mencontohkan berbagai fenomena yang menurutnya mencerminkan kondisi tersebut, seperti mendahulukan imigran ilegal dibanding warga negara sendiri dan veteran, membiarkan pecandu narkoba mengancam keamanan anak-anak di taman, hingga menempatkan perempuan transgender di atas perempuan biologis dalam olahraga dan ruang aman.
Melalui buku ini, Saad menyampaikan peringatan agar masyarakat tidak mengabaikan naluri bertahan hidup demi tuntutan political correctness. Ia menilai persoalan tersebut bukan sekadar kesalahan kebijakan, tetapi bentuk budaya yang secara aktif memilih jalur menuju kehancurannya sendiri.
Suicidal Empathy pada dasarnya melanjutkan pola argumentasi yang sebelumnya sudah dibangun Gad Saad lewat buku The Parasitic Mind. Bedanya, kali ini fokusnya lebih tajam: bagaimana empati yang dianggap “terlalu berlebihan” justru bisa berubah menjadi kebijakan yang merusak masyarakat itu sendiri.
Saad memakai istilah “suicidal empathy” untuk menggambarkan kondisi ketika rasa iba atau belas kasihan tidak lagi dibatasi oleh logika, fakta, atau kepentingan jangka panjang sebuah negara dan peradaban. Dalam pandangannya, empati seharusnya membantu manusia bertahan hidup sebagai komunitas. Namun ketika empati berubah menjadi ideologi moral absolut, ia bisa menghasilkan kebijakan yang menurutnya kontraproduktif.
Isi utama buku itu kemungkinan besar bergerak di beberapa tema besar.
Pertama, soal kriminalitas dan sistem hukum. Saad mengkritik pendekatan progresif yang terlalu fokus pada “memahami pelaku” dibanding melindungi korban. Ia menilai di banyak kota Barat, terutama beberapa wilayah di Amerika Serikat dan Kanada, muncul tren pengurangan hukuman, pembatasan penahanan, atau pembiaran pencurian kecil atas nama keadilan sosial.
Contoh yang sering dipakai kubu konservatif adalah situasi di San Francisco, ketika banyak toko ritel menutup gerai karena maraknya pencurian berulang. Kritikus seperti Saad melihat ini sebagai bentuk “empati salah sasaran” terhadap pelaku kriminal, sementara warga biasa dan pemilik usaha justru dirugikan.
Kedua, soal imigrasi ilegal. Saad kemungkinan menyoroti kebijakan perbatasan terbuka atau longgar di negara-negara Barat. Ia berargumen bahwa rasa kasihan terhadap migran tidak boleh membuat negara kehilangan kemampuan menjaga keamanan, identitas nasional, atau stabilitas ekonomi.
Kasus yang sering dijadikan contoh adalah lonjakan migrasi ke Jerman setelah kebijakan pintu terbuka Kanselir Angela Merkel pada 2015. Pendukung kebijakan itu menyebutnya tindakan kemanusiaan, sementara kritik konservatif menganggap kebijakan tersebut memicu tekanan sosial, politik, dan keamanan jangka panjang.
Ketiga, isu gender dan identitas biologis. Saad termasuk akademisi yang sangat vokal menolak gagasan bahwa identitas gender sepenuhnya terpisah dari biologi. Dalam buku ini ia tampaknya kembali menyerang kebijakan yang mengizinkan atlet transgender perempuan bertanding melawan perempuan biologis.
Contoh paling terkenal adalah kontroversi Lia Thomas di kompetisi renang NCAA. Kaum progresif melihatnya sebagai kemenangan inklusivitas, sedangkan pihak konservatif menilai itu bentuk ketidakadilan terhadap atlet perempuan.
Keempat, budaya kampus dan kebebasan berbicara. Saad sudah lama mengkritik fenomena “cancel culture”, safe space, dan sensor sosial di universitas. Ia berpendapat kampus Barat kini lebih mementingkan perlindungan emosi dibanding pencarian kebenaran ilmiah.
Kasus yang sering dikaitkan dengan argumen ini adalah pembatalan kuliah publik atau pemecatan akademisi karena pandangan politik tertentu dianggap ofensif. Dalam sudut pandang Saad, masyarakat mulai takut berbicara jujur karena tekanan sosial.
Yang membuat buku ini kontroversial adalah gaya bahasanya yang sengaja provokatif dan sangat frontal. Ia memakai istilah seperti “mind parasite”, “inverse morality”, hingga “civilizational collapse” untuk menggambarkan kondisi Barat saat ini. Pendukungnya melihat Saad sebagai akademisi yang berani melawan arus political correctness. Namun pengkritiknya menilai argumen itu terlalu menyederhanakan masalah kompleks dan berpotensi memperkuat polarisasi sosial.
Menariknya, gagasan “empati berlebihan” sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah pemikiran politik. Filsuf seperti Friedrich Nietzsche pernah mengkritik moralitas belas kasihan yang dianggap melemahkan masyarakat. Di era modern, debat serupa muncul dalam pertarungan antara liberalisme progresif dan populisme konservatif di Barat.
Kalau ditarik lebih luas, buku ini sebenarnya bukan sekadar soal empati. Ini tentang pertanyaan besar: sampai di mana sebuah masyarakat harus toleran tanpa menghancurkan aturan yang menopang dirinya sendiri.
Dan itu sebabnya buku seperti ini langsung meledak di tengah situasi global yang penuh perang budaya, krisis migrasi, inflasi, polarisasi politik, dan ketidakpercayaan publik terhadap elite. Sedikit seperti alarm kebakaran di tengah gedung yang sudah penuh asap — sebagian orang menganggapnya peringatan penting, sebagian lain menganggapnya hanya memperbesar kepanikan.