11/07/2025
Kadang sebuah kesalahan yang didukung mayoritas orang bisa terlihat seperti kebenaran. Tapi seberapa banyak pun orang yang mendukungnya, kalau itu salah, ya tetap salah.
Beberapa hari terakhir, saya melihat kasus yang cukup menyedihkan. Seorang anak kecil, Safeea — anak dari Ahmad Dhani dan Mulan Jameela — dibully secara terang-terangan oleh seorang dokter di media sosial. Bukan karena anak ini melakukan kesalahan. Bukan juga karena ada fakta yang perlu dikritisi. Tapi karena dia adalah anak dari pasangan yang sejak lama dibenci oleh sebagian netizen.
Ironisnya, banyak yang malah membela si pembully. Bahkan ikut-ikutan menyebarkan hujatan. Kebanyakan dari mereka bersembunyi di balik dendam masa lalu: “Mulan merebut suami orang”, “Kasihan Maia”, dan semacamnya. Padahal yang dibicarakan sekarang adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang konflik orang dewasa bertahun-tahun lalu.
Inilah yang terjadi ketika kebencian dibungkus seolah-olah kebenaran. Anak kecil yang tidak bersalah pun bisa jadi sasaran tembak, hanya karena sebagian orang tidak bisa move on dari drama selebriti di masa lalu.
Mungkin ini terdengar kasar, tapi saya harus bilang: sebagian dari kita terlalu fanatik terhadap tokoh idola sampai lupa batas kemanusiaan. Apa karena Maia lebih dis**ai, lalu semua yang berseberangan dengan dia otomatis salah dan pantas dibenci — bahkan anak-anaknya sekalipun?
Kalau kita mengaku sebagai orang tua, sebagai manusia yang punya hati nurani, harusnya kita tahu bahwa anak-anak tidak layak menjadi korban kebencian orang dewasa.
Boleh tidak s**a dengan Ahmad Dhani. Boleh kecewa dengan keputusan Mulan di masa lalu. Tapi jangan jadikan anak-anak mereka sebagai sasaran pelampiasan. Mereka tidak memilih dilahirkan dari siapa. Mereka tidak meminta jadi anak dari keluarga yang kalian benci.
Kalau ini terus dibiarkan, artinya kita mendukung budaya “salah asal ramai dibenarkan”. Ini bahaya. Karena yang menjadi korban bukan cuma satu anak hari ini, tapi bisa anak-anak lain di masa depan.
Ingat,
> Keadilan tidak ditentukan oleh jumlah suara, tapi oleh kejernihan hati dan akal sehat.
Semoga kita bisa lebih bijak. Tidak ikut-ikutan membully hanya karena “ikut ramai”. Karena siapa tahu, di tempat dan waktu yang berbeda, anak kita yang jadi korban — dan kita berharap orang lain membelanya.