24/05/2026
Apakah bisa membuat area komersial yang indah di tengah alam, tanpa mengorbankan ekosistem itu sendiri? Jawabannya ditunjukkan secara elegan oleh proyek SADA Pavilion karya firma Pranala Associates (.associates).
Terletak di perbatasan hutan pinus dan hutan sekunder seluas 5,8 hektar di kaki Gunung Tangkuban Parahu, bangunan ini mengusung gagasan Tropical Contemporary yang sangat sensitif terhadap tapak aslinya. Dipimpin oleh arsitek Darius Tanujoyo, tim desain mengambil keputusan krusial: Membangun paviliun murni di lahan clearing yang sudah ada, sehingga tidak ada penebangan pohon sama sekali.
Untuk menyiasati tanah miring, mereka menggunakan sistem Elevated Platform. Kontur tanah tidak disentuh, resapan air tetap aman. Kombinasi material lantainya juga menarik. Mereka menggunakan Polished Concrete yang pengerjaannya tanpa alat berat, dipadukan dengan Galvanized Steel Grating yang tembus pandang, membuat pengunjung bisa melihat lantai hutan di bawah kaki mereka. Ditambah Ceiling kayu daur ulang, susunan Massing bersistem Open Plan tanpa Facade tertutup ini seolah bernapas bersama hutan itu sendiri lewat sistem Cross-ventilation yang terbentuk alami.
Hasil dari desain yang menyatu pada alam ini bukan sekadar estetika belaka. Proyek ini sukses melenggang sebagai finalis (Shortlist) di ajang World Architecture Festival 2024. Sebuah bukti bahwa Sustainable Architecture dari Indonesia mampu diakui di level dunia.