18/08/2026
Faizah (36) tidak menyangka hasil pengecekan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang iseng dilakukan justru membuatnya bingung. Ketika mengecek statusnya di laman resmi DTSEN, perempuan yang berprofesi sebagai karyawan di salah satu perusahaan multinasional tersebut mendapati dirinya masuk desil 10.
“Nggak nyangka banget. Aku pikir desil 10 itu buat orang-orang yang beneran kaya banget. Iseng ikutan yang lagi rame di X kan, lah kok aku masuk (desil 10),” katanya sambil terkekeh, saat dihubungi Tirto, Kamis (13/8/2026).
Faizah mengaku, penghasilan per bulan memang sudah lebih dari Rp10 juta per bulan. Namun, sebagai sandwich generation, dia harus membiayai dua adiknya yang masih menempuh pendidikan di dua perguruan tinggi berbeda. Di kampung juga masih ada ayahnya yang hanya pensiunan guru SD negeri dan ibunya yang cuma membuka warung kelontong. Dia juga harus membayar cicilan rumah di pinggiran ibu kota.
“Kalau dibilang hidup susah mungkin enggak ya. Tapi, kalau dibilang kaya, juga aku merasa belum. Tanpa pemasukan tambahan, aku juga masih harus ngitung pengeluaranku sendiri sama keluarga biar gajiku cukup sampai gajian selanjutnya,” jelas dia.
Faizah sendiri bukan warga golongan atas. Keluarga Faizah hanya memiliki rumah sederhana dengan sedikit halaman, empat sepeda motor yang masing-masing dikendarai ayahnya dan dua adiknya, serta satu unit mobil yang baru dibelinya tiga tahun lalu dari hasil patungan dengan ayahnya.
Dia mengaku bingung bisa masuk kelompok desil 10. Namun, Faizah tidak serta-merta menyebut data DTSEN keliru. Dia hanya ingin mengetahui landasan apa yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam menyusun pengelompokan desil 1-10, padahal hidup masih harus mengirit.
Faizah tidak mempermasalahkan jika dia atau keluarganya dianulir dari penerima bantuan sosial (bansos), termasuk subsidi Pertalite yang kabarnya akan segera dibatasi. Namun, dengan masuk ke desil 10, Faizah khawatir hal itu akan mempengaruhi biaya pelayanan publik yang harus ditanggungnya, misalnya layanan kesehatan akan menjadi semakin mahal.
Dihubungi terpisah, Rian (32), awalnya tidak terlalu memedulikan istilah desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Ia mengaku baru mengetahui adanya penggolongan desil setelah pemerintah mewacanakan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Sama seperti Faizah, namanya muncul dalam DTSEN dengan status desil 10.
Bagi Rian, hasil tersebut justru menimbulkan pertanyaan. Ia merasa kondisi ekonomi keluarganya tidak mencerminkan gambaran kelompok masyarakat paling sejahtera yang selama ini ia pahami sebagai desil 10.
“Karena enggak ada kejelasan soal klasifikasi itu, jadi bingung sesuai apa enggak. Tapi, kalau lihat dari range desil 1-10, masa sih bisa masuk ke desil 10? Aneh aja, harusnya kan yang di kategori itu kelompok super kaya,” katanya kepada Tirto.
Source : tirto(.)id