21/01/2015
Energi Komunikasi Haroa Maludhu
Oleh: La Ode Chusnul Huluk, S.Kom.I
14 Januari 2015 - 23:54:13 WIT
Opini
167
Energi Komunikasi Haroa Maludhu
(Pengurus Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Buton (HIPPMIB) Bersatu-Jakarta)
BANYAK masyarakat Buton memahami Haroa ini sebagai ritual bid’ah yang menyimpang dari ajaran Islam. Namun, tidak sedikit umat Muslim Buton menganggap tradisi Maludhu(Maulid) merupakan momentum silaturrahmi family dengan dalih mempelajari historis kehid**an Rasulullah Muhammad Saw. Sampai saat ini, peringatan ritual masih sederhana layaknya Maludhu pada Masa Sultan Murhum (LakiLaponto) di tahun 1538 silam. Namun, beberapa masyarakat telah berimpruvisasi pada penyelenggaraan Maludhu yang terkonsep rapi dan besar-besaran.
Pemandangan dalam rumah dihiasi makanan tradisional yang dikelilingi beberapa anggota keluarga. Pun, saudara yang jauh akan rela tidak mau ketinggalan pada prosesi ritual ini. Tradisi duduk bersila, kemudian kedua tangan membentuk posisi khusyuk berdo’a, dilakukan serempak dari anak kecil sampai orang tertua. Dalam ruangan tak begitu luas, mengepul asap wangi tipis d**a yang dibakar, seolah menginstrumeni kata demi kata pada lukisan wajah yang membayangkan makanan enak di atas nampan. Inilah yang disebut Haroa (Ritual).
Shalawat berjama’ah lebih terasa saat peringatan kelahiran Nabi Saw, sampai waktu shalat subuh, lembar-perlembar Barsanji dilantunkan. Memang, persiapan hajatan tersebut kadang sampai menyeret nama seseorang masuk kedalam daftar utang. Meski demikian, masyarakat seakan sepakat bahwa piutang kecil dilarang keras merenggut keharmonisan keluarga dalam momentum religi ini. Sehingga, capek dan letih usai persiapan tersebut hilang begitu saja oleh hangatnya kumpul bersama.
Selain Maludhu di bulan Rabiul Awal, ada ritual yang lain. Misalnya, Haroana Rajabu (Ritual di Bulan Rajab) yang memperingati para Syuhada yang gugur di medan perang. Haroa Maludhu lebih berkesan dan penuh dekapan harmonis dalam sebuah keluarga. Di satusisi, kesakralan menjadi pendorong masyarakat untuk memperingatinya. Namun, di sisi lain, terlihat begitu banyak stimulus komunikasi selama hajatan keagamaan ini. Mulai dari jauh sebelum tiba harinya, percakapan antar keluarga sudah terjalin sampai waktu acara rebutan Baruasa dan Kalo-kalo di atas Tala (Nampan tradisional Buton).
Tradisi Komunikasi
Komunikasi secara verbal dan non-verbal, tersampaikan di moment tersebut. Disadari bahwa, komunikasi seseorang dengan orang lain tidaklah timbul dengan sendirinya. Salah satu unsur komunikasi adalah adanya sumber. Persis, maka Maludhu menjadi sumber komunikasi tersebut. Lebih spesifik, komunikasi yang terjadi dipengaruhi budaya masyarakat. dalam berkomunikasi, topik yang menarik selalu dimulai dari cerita tentang tradisi budaya. Sehingga, tidak heran jika lawan komunikasi akan ikut bernostalgia jika seseorang menempatkan Haroa sebagai topik percakapan.
Manusia adalah makhluk yang s**a bercerita (Alex Sobur). Karakter manusia tersebut akhirnya terbukti saat proses pengoperan lambing-lambang komunikasi muncul dari sejumlah makanan dalam nampan tradisional. Sebab, makanan dan kue, dalam Haroa memiliki arti untuk dimengerti, memberi kesenangan, dan akhirnya dapat mengubah tingkah laku. Sehingga, tidak perlu aneh jika usai peringatan Maludhu, akan terjadi tegur sapa yang sangat lama antar satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Dalam Maludhu, komunikasi yang terbangun menonjolkan kerukunan family. Kehid**an bertetangga semakin terasa rukun oleh tradisi saling berbagi isi makanan nampan ala kadarnya. Jenis makanan yang dibuat hanya pada acara khusus ini, menjadi pil kerinduan yang ingin ditelan dan dinikmati bersama-sama, terutama bagi warga yang ada di perantauan. Pertalian keluarga yang jarang berjumpa akan menjadi cerita tambahan hingga makanan ludes tanpa sisa sampai akhirnya berujung pada foto bersama.
Topik utama dalam Maulid adalah Religiusitas. Renungan yang momentum untuk lebih mencintai Rasulullah Saw. Mempelajari hikmah dari sejarah Beliau sampai mengikuti Sunnah yang dianjurkan. Selain itu, Ruang Maludhu justru mampu mengkonstruksi pesan-pesan lain dari encoder sampai tereksplorasi pada pembahasan ekonomi, politik, budaya dan pendidikan. Waktu tak akan terasa, perbincangan telah sampai pada Tokoh tertentu, Pengusaha, Ilmuan, hingga meretas rahasia bisnis keluarga.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi komunikasi masyarakat ini akan turut campur pada bahasan rencana pendidikan anak dan sanak saudara. Kerinduan hangatnya suasana ritual agama ini menembus prosesi biasanya. Maludhu Buton yang selalu diperingati di rumah-rumah, kini telah diterapkan juga di kota-kota besar seperti Jakarta. Tidak sedikit masyarakat Buton yang berdomisili di Maluku, pun masih melakukan Haroa. Di Jakarta, masyarakat memperingatinya secara jama’ah. Komunikasi terbangun sistematis serta mampu mengumpulkan hampir seluruh warga Buton yang di Jakarta dalam Maulid Massal menurut Tradisi dan Budaya Kesultanan Buton.
Empat tahun berturut Maludhu dilaksanakan di Taman Mini Indonesi Indah (TMII) Jakarta. Itu cukup membuktikan tradisi budaya komunikasi masyarakat yang masih terjaga. Puluhan anggota keluarga duduk bersila, berdekatan menghadap nampan layaknya di rumah. Kali lain, saat santap bersama, interaksi komunikasi antar satu keluarga dengan keluarga lainnya serempak membentuk kombinasi indah sebuah silaturahmi. Pesan kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw menggema di Anjungan Sultra TMII melalui Dakwah Penceramah.
Khalayak Cyber
Implikasi kehadiran Media Cyber melahirkan Ucapan moment Maulid yang ada di sejumlah jejaring sosial. Bahkan, Pengguna mengupload foto tertentu kemudian menoreh dan menuai banyak komentar dari Pengguna lainnya. Secara langsung dari ruang yang berbeda, para pengguna Facebook, BBM, dan jejaring sosial lainnya menyatakan rasa rindu kampung halaman dan suasana di rumah. Mayoritas yang memberi komentar adalah mereka yang sedang merantau di kampung orang.
Era media baru telah mengubah seseorang yang kurang percaya diri menjadi eksis melalui kehid**an maya. Khalayak Cyber dengan kehadiran situs jejaring sosial atau sering disebut dengan media sosial seperti Facebook, Twitter, BBM, dan sebagainya digunakan untuk mempublikasikan konten seperti profil, aktivitas, bahkan pendapat. Tidak hanya berupa teks, pengguna juga dapat mengunggah gambar dan menandai beberapa pengguna lainnya.
Budaya Cyber tersebut menjadi salah satu solusi bagi anggota keluarga di perantauan untuk mengobati rasa rindu dan penasaran akan suasana Haroa Maludhu tersebut. Cara kerja dan pola komunikasi ruang cyber bisa terjadi menjadi many to many (interaksi group) dan few to few (interaksi personal). Internet sebagai alat komunikasi jarak jauh di dunia maya, tidak luput dari perhatian muda-mudi, bahkan orang tua sekalipun. Menurut Ganedan Beer, semua percakapan, gambar, serta video, dalam media baru (Facebook) dapat tersimpan dalam archive (arsip) yang dapat diakses kapan saja.
Pesan Komunikasi yang muncul dari Ritual Maludhu Nabi Muhammad Saw tidak menjauh dari ranah wacana kekeluargaan. Perhatian khalayak terhadap Haroa ini terbukti masih bertahan hingga sekarang. Tidak sedikit warga yang masih melestarikan Prosesi Maulid Nabi ini. Dilihat dari prespektif komunikasi, ia merupakan objek terpisah dengan Syari’at Islam yang masih ikhtilaaf (kontroversi). Namun, tidak bisa dipungkiri, Haroa menjadi pesan komunikasi budaya yang sangat menentukan terjalinnya masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.(***)
Read more: http://www.butonpos.com/opini/energi-komunikasi-haroa-maludhu
Energi Komunikasi Haroa - Buton Pos