National Geographic Magazine Indonesia

National Geographic Magazine Indonesia Halaman Facebook resmi National Geographic Indonesia. Untuk informasi editorial: [email protected]
(1042)

Sebuah rekaman video yang mendadak viral pada Senin, 12 Januari 2026, memicu kemarahan sekaligus keprihatinan mendalam d...
12/01/2026

Sebuah rekaman video yang mendadak viral pada Senin, 12 Januari 2026, memicu kemarahan sekaligus keprihatinan mendalam di kalangan pengguna media sosial.

Dalam tayangan tersebut, seorang perempuan terlihat mengangkat tubuh seekor mamalia air yang diduga kuat adalah Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Yang membuat publik merasa miris adalah tindakan perempuan tersebut yang menggoyangkan tubuh satwa langka itu seolah-olah sedang mengajaknya berjoget.

Namun, harapan akan adanya tanda kehidupan sirna karena tubuh sang pesut tampak kaku, terkulai lemas, dan tidak memberikan respons sama sekali terhadap gerakan tersebut. Fenomena ini memperkuat asumsi bahwa hewan ikonik kebanggaan Kalimantan Timur tersebut sudah dalam kondisi mati sebelum mencapai daratan atau ditemukan oleh warga.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih bekerja keras melakukan penelusuran untuk menentukan lokasi pasti kejadian tersebut serta mencari tahu kronologi mengapa satwa dilindungi itu bisa berada di luar habitat airnya.

Berbagai spekulasi mulai bermunculan di tengah masyarakat, termasuk kemungkinan bahwa pesut malang tersebut terjerat jaring nelayan sebelum akhirnya dibawa ke tepian. Investigasi lebih lanjut sangat diperlukan untuk mengonfirmasi kondisi fisik satwa saat pertama kali ditemukan.

Mengingat statusnya yang dilindungi ketat oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan masuk dalam kategori Apendiks I CITES, insiden ini bukan sekadar konten viral biasa, melainkan sebuah tragedi lingkungan yang serius.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan pop**asi hewan cerdas ini semakin terhimpit di habitat aslinya? Dan seberapa kritis kondisi kesehatan ekosistem Sungai Mahakam saat ini hingga kejadian memilukan seperti ini terus berulang?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134340804/di-balik-video-viral-pesut-mahakam-ironi-satwa-cerdas-yang-hanya-tersisa-60-ekor

Sekilas melihat peta dunia mungkin membuat Anda bertanya-tanya mengapa Iceland (Islandia) tampak hijau, sementara Greenl...
12/01/2026

Sekilas melihat peta dunia mungkin membuat Anda bertanya-tanya mengapa Iceland (Islandia) tampak hijau, sementara Greenland tertutup es. Bahkan ada meme internet tentang hal itu karena lanskap dan namanya saling bertolak belakang.

Kebijaksanaan umum mengatakan bahwa ini disengaja. Para pemukim Viking Iceland berpikir nama itu akan mencegah permukiman berlebihan di p**au mereka yang hijau. Di sisi lain, tidak ada yang peduli jika orang mencoba menetap di Greenland yang tertutup es. Tetapi kebenarannya ternyata lebih rumit, dan itu berkaitan dengan kebiasaan Norse dan perubahan iklim global kita.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134340588/greenland-dan-iceland-mengapa-lanskap-dan-namanya-bertolak-belakang

Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans baru-baru ini membuka tabir gelap masa lalunya melalui buku berjudul Broken String...
12/01/2026

Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans baru-baru ini membuka tabir gelap masa lalunya melalui buku berjudul Broken Strings. Di usia yang masih sangat belia, yakni 15 tahun, ia terjerat dalam hubungan manip**atif dengan seorang pria berinisial Bobby yang saat itu telah menginjak usia 29 tahun.

Pertemuan yang diawali dari lokasi syuting iklan tersebut menjadi pintu masuk bagi praktik grooming, di mana Bobby secara perlahan menarik Aurelie keluar dari realitasnya, mendikte cara berpakaiannya, hingga memutus akses komunikasinya dengan dunia luar.

Kisah yang dituangkan Aurelie dalam bukunya yang terbit saat ia berusia 32 tahun ini bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah peringatan keras mengenai bahaya laten manip**asi psikologis. Pengalaman pahit tersebut memberikan gambaran nyata betapa tipisnya batas antara perhatian dan kendali dalam sebuah hubungan yang tidak sehat.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan grooming (atau child grooming) yang dialami oleh Aurelie? Bagaimana kita bisa mengidentifikasi taktik licik para pelaku dan langkah apa yang harus diambil untuk memutus rantai eksploitasi ini?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134340576/child-grooming-definisi-ciri-ciri-korban-dan-pelaku-serta-cara-mencegahnya

12/01/2026

Perjalanan eksklusif mengungkap ancaman nyata krisis iklim terhadap masa depan kopi dari pusat riset Hacienda Alsacia, Costa Rica. Dokumenter ini mengupas tuntas inovasi bibit kopi hibrida yang tangguh, penerapan agroforestry, serta kolaborasi sains dengan petani kopi lokal untuk memastikan keberlanjutan pasokan dan kualitas kopi dunia di tengah cuaca ekstrem.

Temukan juga fakta penting tentang koneksi riset ini dengan Indonesia, di mana varietas unggul dan teknologi analisis tanah sedang divalidasi di Sumatera dan Jawa untuk membantu petani kopi Indonesia beradaptasi. Simak proses lengkap dari hulu ke hilir (bean to cup) dan pelajari bagaimana kopi berkelanjutan (sustainable coffee) menjadi kunci pertahanan planet kita.

Simak kisah selengkapnya di YouTube National Geographic Indonesia bertajuk “Bibit Masa Depan Kopi Akan Dikirim Ke Indonesia?”

Video oleh

Sebuah eksperimen jangka panjang mengungkapkan bahwa hutan tropis di Panama mampu beradaptasi dengan kekeringan. Namun p...
12/01/2026

Sebuah eksperimen jangka panjang mengungkapkan bahwa hutan tropis di Panama mampu beradaptasi dengan kekeringan. Namun para ilmuwan memperingatkan bahwa “strategi penyelamatan” jangka pendek ini kemungkinan tidak akan menyelamatkan mereka dari dampak perubahan iklim.

Ketika kekeringan melanda, hutan tropis di Panama memiliki “strategi penyelamatan” untuk beradaptasi dengan kekurangan air. Pohon-pohon mengirimkan akar mereka lebih dalam ke bawah tanah.

Hal ini diungkap dalam sebuah studi yang bertajuk Drying suppresses fine root production to 1 m depths and alters root traits in four distinct tropical forests. Tetapi para ilmuwan memperingatkan bahwa ini mungkin tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari kerusakan akibat perubahan iklim.

Hutan tropis adalah rumah bagi lebih dari setengah keanekaragaman hayati darat dunia dan menyimpan sejumlah besar karbon global. Sebagian besar karbon ini tersimpan di akar mereka di bawah tanah. Namun, perubahan iklim mendorong peningkatan suhu di hutan-hutan ini dan diperkirakan akan membawa kekeringan ekstrem.

Dalam sebuah studi, ilmuwan menyelidiki apa yang terjadi pada akar pohon di hutan tropis ketika mereka kekurangan air dalam waktu lama.

Hasil ini merupakan bagian dari eksperimen Panama Rainforest Changes with Experimental Drying (PARCHED). Para ilmuwan membuat 32 petak di empat area berbeda di hutan tropis Panama. Masing-masing dari empat hutan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, seperti spesies pohon, ketersediaan nutrisi tanah, dan curah hujan.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134338112/merespons-kekeringan-pohon-di-hutan-tropis-ini-tumbuhkan-akar-yang-lebih-panjang

"Tuan-tuan, saya berusia dua puluh lima tahun dan saya sudah berhasil membunuh 309 penjajah fasis. Tidakkah menurut Anda...
12/01/2026

"Tuan-tuan, saya berusia dua puluh lima tahun dan saya sudah berhasil membunuh 309 penjajah fasis. Tidakkah menurut Anda, Tuan-tuan, bahwa Anda telah bersembunyi di belakang punggung saya terlalu lama?"

Kalimat tajam ini meluncur dari bibir seorang wanita muda di Chicago pada tahun 1942, membungkam ribuan pasang mata yang awalnya memandangnya dengan keraguan.

Lyudmila Pavlichenko bukanlah sekadar tamu diplomatik biasa; ia adalah mesin tempur yang ditempa oleh salju dan mesiu di garis depan Uni Soviet. Kehadirannya di Amerika Serikat, yang diinisiasi oleh Eleanor Roosevelt, membawa misi besar untuk mendesak pembukaan "Front Kedua" guna membantu Soviet menghancurkan cengkeraman Hi**er.

Namun, di balik seragam militer yang kaku dan tatapan matanya yang dingin, media Barat justru lebih sibuk menanyakan warna lipstik atau model pakaian dalamnya ketimbang strategi tempur yang ia kuasai.

Bagaimana mungkin seorang mahasiswa sejarah yang bercita-cita menjadi guru bisa bertransformasi menjadi penembak jitu paling mematikan dalam sejarah modern?

Apa yang sebenarnya mendorong seorang ibu muda berusia belasan tahun untuk meninggalkan bayinya demi berburu nyawa di tengah puing-puing Odessa dan Sevastopol?

Dan bagaimana propaganda perang membentuk—sekaligus menyembunyikan—identitas aslinya dari mata dunia?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134340196/lyudmila-pavlichenko-sniper-wanita-berjuluk-lady-death-penakluk-309-tentara-nazi

Cakar dinosaurus sering digambarkan sebagai senjata dalam pertarungan hidup dan mati antar predator prasejarah. Imajinas...
12/01/2026

Cakar dinosaurus sering digambarkan sebagai senjata dalam pertarungan hidup dan mati antar predator prasejarah. Imajinasi populer menempatkannya sebagai alat penentu antara bertahan hidup atau tumbang.

Namun, di balik citra brutal tersebut, ternyata terdapat peran yang jauh lebih kompleks dan fungsional. Lalu, selain untuk bertarung, apa sebenarnya peran cakar dinosaurus dalam kehidupan sehari-hari mereka?

Bukti fosil menunjukkan bahwa cakar dinosaurus memiliki beragam fungsi praktis, mulai dari membantu mencari dan mengolah makanan, memanjat, menggali, hingga membuat sarang dan berinteraksi dengan lingkungan.

Dengan memahami bagaimana cakar digunakan, para paleontolog dapat merekonstruksi cara hidup dinosaurus. Mulai bagaimana mereka bergerak, makan, dan bertahan hidup dalam ekosistem purba.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134339838/selain-untuk-bertarung-apa-saja-fungsi-cakar-dinosaurus

Tanggal 12 Januari menandai peringatan Hari Kerja Lebih Keras atau Work Hard Day di Amerika Serikat. Sejak pertama kali ...
12/01/2026

Tanggal 12 Januari menandai peringatan Hari Kerja Lebih Keras atau Work Hard Day di Amerika Serikat. Sejak pertama kali diusung pada tahun 2016, momen ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memacu diri hingga mencapai batas maksimal demi meraih kesuksesan lebih cepat.

Inspirasinya berakar dari dedikasi para pebisnis, peneliti, hingga politisi yang membuktikan bahwa prestasi besar tidak datang secara instan. Sejarah mencatat bagaimana Thomas Edison pada tahun 1800-an mengabaikan label "bodoh" dari gurunya dan memilih bekerja lebih tekun hingga menjadi penemu lampu pijar.

Begitu p**a Michael Jordan, yang menurut mantan pelatihnya Phil Jackson, selalu memiliki pemikiran bahwa dirinya harus terus bekerja keras untuk menjadi yang terbaik di lapangan basket.

Namun, di tengah dorongan untuk terus memacu adrenalin dan stamina, muncul sebuah refleksi mendalam mengenai efektivitas dari jerih payah tersebut. Banyak profesional merasa telah memberikan 110 persen kemampuan mereka, namun hasil yang didapat tetap terasa stagnan.

Meskipun kita semua memiliki jatah 168 jam yang sama dalam seminggu, mengapa ada orang yang tampak lebih santai namun meraih hasil lebih besar, sementara yang lain terjebak dalam kelelahan tanpa ujung? Apakah kerja keras dengan durasi panjang masih relevan di era modern ini, ataukah strategi kerja cerdas sebenarnya memegang kunci yang lebih krusial?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134340215/hari-kerja-lebih-keras-benarkah-tetap-lebih-baik-dari-kerja-lebih-cerdas

Hal pertama yang akan Anda perhatikan tentang pterosaurus ini adalah senyumnya. Dalam sebuah makalah studi, peneliti men...
11/01/2026

Hal pertama yang akan Anda perhatikan tentang pterosaurus ini adalah senyumnya. Dalam sebuah makalah studi, peneliti mengidentifikasi spesies aneh ini. Mengapa aneh? Pterosaurus tersebut memiliki 480 gigi tipis dan berbentuk kait di rahangnya yang melebar dan rata.

Studi itu bertajuk "A new pterodactyloid pterosaur with a unique filter-feeding apparatus from the Late Jurassic of Germany". Terbit di jurnal Paläontologische Zeitschrift.

Identifikasi fosil pterosaurus pertama berasal dari formasi batu kapur di Jerman pada tahun 1700-an. Sejak itu, para ahli paleontologi telah menemukan ratusan spesies terpisah dari penerbang ganas ini. Semuanya memiliki bentuk, ukuran, dan gaya hidup yang unik dan berbeda satu dengan yang lain.

Beberapa berukuran kecil, sementara yang lain tidak. Beberapa memiliki sayap lebar, dan beberapa memiliki sayap yang lebih ramping. Beberapa terjebak dengan postur membungkuk yang canggung. Sementara yang lain berdiri tegak dan berjalan, mengarungi air, dan berenang setiap kali mereka tidak terbang di langit. Beberapa pterosaurus diuntungkan oleh banyaknya gigi kecil. Sedangkan yang lain memiliki sedikit gigi besar atau bahkan tidak memiliki gigi sama sekali.

Kemudian, sebuah tim paleontologi menemukan spesies pterosaurus lain di formasi batu kapur yang sama dengan yang pertama. Namun spesimen baru ini memiliki senyum yang berbeda dari yang lain.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134340354/senyum-unik-pterosaurus-dengan-480-gigi-tipis-yang-berbentuk-kait

Tak banyak yang kenal dengan tradisi para santri Al Mukmin di Ngruki, Surakarta, secara turun temurun. Mereka terbiasa m...
11/01/2026

Tak banyak yang kenal dengan tradisi para santri Al Mukmin di Ngruki, Surakarta, secara turun temurun. Mereka terbiasa menikmati liburan akhir tahun sebelum kep**angan ke rumah dengan jelajah dan tadabur alam.

Ini juga yang terjadi kepada mereka, para santri dan ustaz yang hendak melakukan berkemah ke Gunung Lawu. Sebagai program pondok, jelajah alam adalah bagian dari cara pembelajaran di Al Mukmin untuk mengenalkan alam semesta sebagai bukti keagungan Allah SWT.

Kisah perjalanan ini, penulis dapatkan dari sebuah buku yang fenomenal berjudul Kisah Nyata: Musibah Gunung Lawu yang ditulis tim redaksi Pondok Pesantren Islam Ngruki Surakarta sekitar tahun 1988.

Kisah selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/133343355/tragedi-lawu-1987-merenggut-nyawa-15-santri-dan-1-ustaz-al-mukmin

Sebuah kisah sadis dan tragis pernah terjadi di Batavia, 8 April 1722. Tersebutlah dua pemuda, Pieter Erberveld yang ber...
11/01/2026

Sebuah kisah sadis dan tragis pernah terjadi di Batavia, 8 April 1722. Tersebutlah dua pemuda, Pieter Erberveld yang berkulit putih berdarah Jerman, dan Raden Kertradria, orang pribumi yang berasal dari Jawa, keturunan Sunan Kalijaga. Kedua orang ini sudah lama dikenal dan disegani penduduk karena sikap-sikapnya yang penuh sopan santun. Keduanya s**a membela rakyat.

Pieter Eberveld adalah pemuda yang gigih dan rajin membantu usaha-usaha orang tuanya dalam bidang penyamakan kulit dan pabrik sepatu. Keluarga yang sederhana ini tinggal di dekat sebuah gereja, Gereja Sion, di Jalan Jakarta. Ayahnya berdarah Jerman, tapi ibunya berasal dari Thailand yang bernama Elizabeth Cornelist.

Tak diketahui pasti kapan Pieter dilahirkan. Banyak yang menduga bertepatan dengan tanggal dia dibaptis sebagai seorang Nasrani.

"Hal ini terjadi jauh hari sebelum dia memeluk Islam. Lantaran pergaulannya yang luas dan intens dengan penduduk setempat, kemungkinan dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim," tulis Zaenuddin dalam bukunya, Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe.

Pieter cukup berjasa terhadap penduduk Batavia, yakni memberikan bantuan untuk pembelian senjata, mengkoordinasi serta memberi semangata kepada orang-orang pribumi dalam menentang dan melawan penindasan Belanda dan VOC-nya. Pada awalnya, gerakan Pieter yang berkulit putih tidak pernah dicurigai meski dia sering keluar-masuk benteng VOC. Kesempatan ini dimanfaatkannya sebaik-baiknya untuk memperkuat gerakan politiknya.

Bersama Raden Kertadria serta beberapa tokoh lainnya seperta Kerta Singa, Kerta Naya, Sara Pada, Singa Ita, Tumbar, dan lainnya, Pieter mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia guna membicarakan gerakan mereka melawan kompeni Belanda. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari rakyat.

Suatu hari gerakan mereka hampir mencapai tujuan. Senjata-senjata mereka mulai terkumpul di suatu tempat di luar benteng Belanda. Namun tiba-tiba seorang mata-mata Belanda melihatnya dan melaporkan gerakan rahasia ini.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/133314302/kematian-paling-tragis-pieter-erberveld-akibat-mengkhianati-voc

Lama (Lama glama) dan alpaka (Lama pacos) terlihat seperti dua hewan yang sangat mirip. Lama dan alpaka merupakan hewan ...
11/01/2026

Lama (Lama glama) dan alpaka (Lama pacos) terlihat seperti dua hewan yang sangat mirip. Lama dan alpaka merupakan hewan yang hidup berkelompok. Keduanya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat sehingga dapat kawin silang dan menghasilkan keturunan, jadi kemiripan mereka yang kuat bukanlah hal yang mengejutkan.

Baik lama maupun alpaka termasuk dalam famili Camelidae, kelompok hewan ruminan berkuku panjang dengan leher dan kaki yang panjang—famili ini juga mencakup unta.

Sementara unta dan dromedari berevolusi di gurun di Afrika dan Asia, lama dan alpaka, bersama dengan kerabat liarnya yang dekat, vicuña (Vicugna vicugna) dan guanaco (Lama guanicoe), adalah produk dari Pegunungan Andes yang tinggi dan terjal di Peru, Ekuador, dan Bolivia. Lantas, apa perbedaan alpaka dan lama?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134338593/terlihat-sangat-mirip-apa-perbedaan-alpaka-dan-lama

Address

Gedung Grid Network Perkantoran Kompas Gramedia Jalan Gelora VII RT. 2/RW. 2 Kelurahan Gelora Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat
Central Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when National Geographic Magazine Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to National Geographic Magazine Indonesia:

Share