11/06/2026
Ketika Hutan Hilang, Hudoq Kehilangan Wajahnya
Di pedalaman Kutai Timur, masyarakat adat Dayak B**g Min Wehea masih menari Hudoq dalam ritual Mbob Jengea—sebuah pesta syukur pascapanen yang diwariskan leluhur selama generasi. Di balik topeng kayu, daun pisang hutan, dan bulu rangkong, tersimpan hubungan yang jauh lebih dalam: ikatan spiritual antara manusia, hutan, dan seluruh kehidupan yang menopang mereka. Bagi Wehea, hutan bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang hidup tempat budaya, pengetahuan, dan identitas bertumbuh bersama.
Namun, relasi itu kini berada dalam tekanan. Deforestasi, ekspansi sawit, pertambangan batu bara, hingga berbagai kebijakan yang membatasi praktik berladang tradisional perlahan menggerus fondasi yang selama ini menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Pohon-pohon yang menjadi bahan topeng ritual semakin sulit ditemukan. Flora dan fauna yang dibutuhkan dalam upacara adat kian terancam. Ketika hutan berubah, bukan hanya bentang alam yang hilang, tetapi juga bahasa, ingatan, dan warisan budaya yang hidup di dalamnya.
Ironinya, masyarakat yang selama berpuluh generasi menjaga hutan justru sering menjadi pihak yang paling sedikit dilibatkan dalam menentukan masa depan wilayahnya sendiri. Padahal, pengetahuan ekologis yang mereka miliki telah membentuk sistem pengelolaan hutan yang terbukti mampu menjaga keberlanjutan lanskap. Bagi Dayak Wehea, konservasi bukanlah konsep baru; ia telah hidup dalam ritual, aturan adat, dan hubungan hormat kepada semesta jauh sebelum istilah itu dikenal dunia modern.
Jika suatu hari Hudoq tak lagi bisa menari karena hutannya telah tiada, yang hilang bukan hanya sebuah tarian. Yang hilang adalah satu cara manusia memahami bahwa alam bukan warisan dari leluhur, melainkan titipan untuk generasi yang belum lahir.
Simak kisahnya di sini...
https://nationalgeographic.grid.id/read/134386107/tari-hudoq-dayak-bung-min-wehea-ironi-ekologis-di-bumi-kalimantan