National Geographic Magazine Indonesia

National Geographic Magazine Indonesia Halaman Facebook resmi National Geographic Indonesia. Untuk informasi editorial: [email protected]
(1043)

17/09/2026

Seberapa sering kita menghakimi alam saat kenyamanan kita tiba-tiba terusik?

Ketika Gunung yang terbangun. Hutan yang terbakar. Sungai yang meluap. Langit yang berubah warna. Ketika alam bergolak, roda aktivitas kita pun dipaksa melambat. Kita pun riuh karena dunia yang kita bangun berhenti dan tak lagi berjalan seperti biasa.

Padahal mungkin, bukan dunia yang sedang berhenti. Mungkin berbagai rentetan bencana ekologis adalah cara alam mengingatkan kita untuk berhenti, menoleh, dan menata ulang arah. Sebuah tanda bahwa kita telah mengambil terlalu banyak dari apa yang alam bisa berikan.

Sudahkah kita benar-benar mendengarkan?

Sahabat, simak monolog selengkapnya pada unggahan ini!

video: Muhammad Zulfikar Muin , Ricky Martin
Takarir: Didi Kasim | Socio Eco Journalist

Pernahkah bayangkan hanya karena melempar satu puntung rokok kecil di tempat umum, seseorang harus meringkuk di balik je...
16/09/2026

Pernahkah bayangkan hanya karena melempar satu puntung rokok kecil di tempat umum, seseorang harus meringkuk di balik jeruji besi?

Kejadian nyata yang menimpa seorang WNI di Malaysia baru-baru ini mendadak jadi sorotan. Fenomena ini seolah menampar kita dengan pertanyaan pahit: mengapa kebiasaan membuang sampah sembarangan seolah sudah mendarah daging dan sulit diubah dalam keseharian masyarakat kita?

Ternyata, jejak perilaku ini tak muncul begitu saja. Ada warisan kebiasaan masa lalu hingga pola pikir unik yang melatarbelakanginya. Di sisi lain, sebuah riset juga mengungkap kontradiksi mengejutkan antara tingginya kesadaran warga dengan fenomena nyata di lapangan.

Simak ulasan lengkap dan temuan riset menariknya di sini:
https://nationalgeographic.grid.id/read/134412888/kasus-wni-dipenjara-di-malaysia-cermin-buruknya-budaya-buang-sampah-kita

Apakah Sahabat setuju jika sanksi tegas hingga hukuman penjara bagi pembuang sampah sembarangan juga diterapkan di Indonesia? Atau menurutmu, minimnya fasilitas publik yang jadi kendala utamanya?

Tulis pendapatmu di kolom komentar dan bagikan artikel ini agar semakin banyak orang yang peduli dengan kebersihan lingkungan kita!

Kenangan Warga Kala Krakatau Mengguncang Batavia“Djendela2 dan pintu2 menggetar dan tante dan budjang2 wara-wiri meminda...
16/09/2026

Kenangan Warga Kala Krakatau Mengguncang Batavia

“Djendela2 dan pintu2 menggetar dan tante dan budjang2 wara-wiri memindahkan beras, hanglo dan barang lain...,” tulis Tio Tek Hong dalam memoarnya. Dia juga menyaksikan, “Djalan-raja dan genteng rumah2 di Pasar Baru penuh abu berwarna abu2, bertumpuk sampai beberapa centimeter tebalnja.”

Ketika Batavia berselimut abu vulkanik, usia Tio baru enam tahun. Bersama teman-temannya, Tio justru membuat gundu-gundu dari abu yang dibasahi air. Dia lahir dan hidup di kawasan pecinan Pasar Baru. Sejatinya, Batavia cukup aman dari letusan Krakatau lantaran berjarak 153 kilometer dari pusat petaka.

Tio Tek Hong dikenang sebagai pengusaha yang sohor atas penerbitan kartu pos dan piringan hitam pertama seantero Hindia Belanda. “Toko Tio Tek Hong” merupakan warisan masa emasnya yang berada di seberang pintu air Pasar Baru.

Simak kisah kenangan saudagar Pasar Baru ini tentang letusan Krakatau 1883 pada unggahan ini.

Kisah oleh Mahandis Yoanata Thamrin
Desain oleh dendimanaaa

Halo, Sahabat.Sebuah kasus perburuan penyu sisik di Raja Ampat baru-baru ini menyita perhatian publik. Di balik ancaman ...
16/09/2026

Halo, Sahabat.

Sebuah kasus perburuan penyu sisik di Raja Ampat baru-baru ini menyita perhatian publik. Di balik ancaman kepunahan dan proses hukum yang berjalan, ada risiko tersembunyi yang jauh lebih mengintai siapa saja yang mengonsumsi satwa dilindungi ini.

Banyak yang belum tahu bahwa ada bahaya mematikan yang mengintai tubuh manusia dari daging penyu—mulai dari potensi keracunan akut hingga tumpukan zat berbahaya yang berdampak jangka panjang. Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh saat mengonsumsi daging penyu, dan mengapa tradisi serta mitos seputarnya masih sulit dihentikan?

Simak ulasan lengkapnya di sini:
https://nationalgeographic.grid.id/read/134413434/kasus-penyu-raja-ampat-benarkah-makan-penyu-bisa-berakibat-fatal

Menurut Sahabat, apakah edukasi mengenai bahaya kesehatan sudah cukup ampuh untuk menghentikan perburuan penyu di Indonesia, ataukah butuh sanksi hukum yang jauh lebih tegas? Tulis pendapatmu di kolom komentar!

Jangan lupa bagikan (share) postingan ini agar semakin banyak orang yang paham dan peduli akan kelestarian penyu serta kesehatan kita bersama.

Leluhur Kita Telah Gunakan Pinang Sebagai Obat Pereda Nyeri Sejak 25.000 Tahun LaluDua spesimen di Leang Bulu Bettue dan...
16/09/2026

Leluhur Kita Telah Gunakan Pinang Sebagai Obat Pereda Nyeri Sejak 25.000 Tahun Lalu

Dua spesimen di Leang Bulu Bettue dan Leang Cappalombo 1, Maros, Sulawesi Selatan, merekam jejak penggunaan buah pinang sebagai obat sekitar 25.000 tahun lalu. Menurut para peneliti, penggunaanpinang juga turut memanfaatkan zat psikoaktif yang terdapat di dalamnya.

Selama ini, perkiraan penggunaan pinang dimanfaatkan sejak awal Neolitik atau Zaman Perunggu, sekitar 3.500 tahun yang lalu, di Tailan. Sementara itu, tradisi penggunaan obat-obatan psikotropika muncul setelah inovasi minuman beralkohol hasil fermentasi sekitar 13.000 tahun lalu di Kanaan.

Para peneliti mengklaim bahwa kerangka di dua gua mematahkan kedua perkiraan tersebut secara sekaligus: penggunaan buah pinang sebagai pengobatan psikoaktif yang lebih awal dalam sejarah manusia.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134413092/sekitar-25000-leluhur-kita-telah-menggunakan-pinang-sebagai-obat-pereda-nyeri

Goguryeo, Baekje, dan Silla: 800 Tahun Persaingan Tiga Kerajaan KoreaKorea, seperti Jepang atau Tiongkok, kaya akan seja...
16/09/2026

Goguryeo, Baekje, dan Silla: 800 Tahun Persaingan Tiga Kerajaan Korea

Korea, seperti Jepang atau Tiongkok, kaya akan sejarah. Di antara sejarah ini terdapat Tiga Kerajaan Korea, yang ada selama hampir 800 tahun, unik namun saling terkait.

Ketiga kerajaan itu saling bersaing, Goguryeo, Silla, dan Baekje. Ketiganya ada di Semenanjung Korea, masing-masing memiliki bahasa dan warisan budaya yang sama. Ketiga kerajaan ini ada kira-kira dari abad ke-1 SM hingga sekitar tahun 668 M. Mereka menduduki seluruh semenanjung, serta sebagian Manchuria dan Liandong.

Masing-masing kerajaan Korea membentuk peradaban Korea. Namun, segala sesuatu berubah, sehingga persaingan politik dan perbedaan pun menghilang. “Silla akhirnya menyatukan semenanjung pada tahun 668 M dengan bantuan Dinasti Tang,” tulis Matt Whittaker di laman The Collector.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134412529/goguryeo-baekje-dan-silla-800-tahun-persaingan-tiga-kerajaan-korea

16/09/2026

Sebanyak 1.765 pelari dari 15 negara meramaikan Volcano Trail Championship (Votcha) 2026 yang berlangsung pada 12–13 September 2026 di kawasan Gunung Tangkuban Parahu.

Mengusung tema “The New Era of Trail Run” dengan konsep “Ring of Fire”, ajang ini memadukan tantangan lintasan vulkanik aktif, keindahan hutan tropis, serta prinsip melalui manajemen lomba dan sistem keselamatan yang ketat.

Simak penuturan Race Director dan keseruan para juara yang telah menaklukkan trek rute Votcha 2026 selengkapnya dalam video berikut!

Video dan editor: Farid_Julianto5
Video kamera aksi dan takarir Ade Sulaeman

Perubahan Iklim Membelah Siberia, Membangunan 'Raksasa Tidur' MetanaSiberia yang luas tidak merespons pemanasan Arktik d...
16/09/2026

Perubahan Iklim Membelah Siberia, Membangunan 'Raksasa Tidur' Metana

Siberia yang luas tidak merespons pemanasan Arktik dengan cara yang sama. Di bagian barat, wilayah itu semakin basah. Sementara itu, Siberia timur justru semakin kering dan lebih rentan terhadap kebakaran hutan.

Dua kondisi yang berlawanan tersebut ternyata mengarah pada persoalan yang sama: peningkatan emisi metana.

Penelitian yang diterbitkan pada 6 Agustus dalam jurnal Science dengan judul "Decadal doubling of Siberian methane emissions due to warming-induced fires and methanogenesis" menemukan bahwa pemanasan Arktik sedang membentuk dua rezim iklim berbeda di Siberia. Sungai Yenisei—juga ditulis Yenisey—di Rusia tengah menjadi batas antara kondisi lingkungan yang berbeda di kedua sisi wilayah tersebut.

Menurut laporan Live Science, antara 2010 dan 2023, emisi metana dari Siberia meningkat sekitar 5 persen setiap tahun. Di Siberia barat, metana terutama dilepaskan melalui aktivitas mikroba pada tanah yang mencair. Sebaliknya, di Siberia timur, gas rumah kaca itu terutama dilepaskan melalui pembakaran biomassa.

“Dengan meningkatnya pencairan permafrost, aktivitas lahan basah, dan kejadian kebakaran hutan yang telah diamati, peningkatan emisi metana memang diperkirakan terjadi,” kata Paul Palmer, profesor di School of Geosciences, University of Edinburgh, yang menjadi salah satu penulis penelitian tersebut, kepada Live Science melalui email.

“Yang mengejutkan adalah betapa besar dan berkelanjutannya peningkatan tersebut.”

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134411553/perubahan-iklim-membelah-siberia-membangunan-raksasa-tidur-metana

Kloset Disiram, Aerosol Melayang ke Zona Pernapasan: Studi Ungkap RisikonyaMenyiramklosetternyata tidak hanya membuat ai...
16/09/2026

Kloset Disiram, Aerosol Melayang ke Zona Pernapasan: Studi Ungkap Risikonya

Menyiramklosetternyata tidak hanya membuat air dan kotoran mengalir ke saluran pembuangan. Proses tersebut juga dapat menghasilkan aerosol dan bioaerosol yang menyebar ke udara. Bahayanya,menurut sejumlah penelitian, aerosol tersebut ditemukan bisa mencapai ketinggian yang sejajar dengan zona pernapasan orang dewasa.

Aerosol sendiri adalah partikel padat atau cair berukuran sangat kecil yang melayang dan tersuspensi di dalam medium gas seperti udara.Aerosolinibisa memengaruhi kesehatan manusia jika terhirup atau terakumulasi dalam jumlah besar.

Temuan risikotersebut berasal dari kajian sistematis para peneliti dari Flinders University dan Adelaide University yang menganalisis 22 penelitian mengenai aerosol dan bioaerosol yang dihasilkan saatkloset disiram.

Studi baru yang diterbitkan di jurnal Science of the Total Environment tersebut meneliti faktor-faktor yang memengaruhi jumlah aerosol yang dihasilkan serta bagaimana partikel itu menyebar di dalam ruangan.

Penulis utama studi ini, Lira Adiyani, mahasiswa doktoral di Flinders University, mengatakan turbulensi yang terjadi ketikakloset disiram dapat membawa aerosol ke udara sekitar.

“Penyiramankloset menciptakan turbulensi yang dapat melepaskan aerosol ke udara di sekitarnya. Beberapa penelitian mendeteksi aerosol ini pada ketinggian pernapasan orang dewasa, yang menunjukkan adanya jalur potensial untuk paparan melalui inhalasi,” kata Adiyani.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134412679/kloset-disiram-aerosol-melayang-ke-zona-pernapasan-studi-ungkap-risikonya

Address

Gedung Grid Network Perkantoran Kompas Gramedia Jalan Gelora VII RT. 2/RW. 2 Kelurahan Gelora Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat
Central Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when National Geographic Magazine Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to National Geographic Magazine Indonesia:

Shortcuts

Share