23/01/2026
Antrian
Pagi itu panas, dan antrian di loket layanan publik mengular sampai keluar gedung. Sebuah papan besar bertuliskan:
“HARAP ANTRI DENGAN TERTIB.”
Budi sudah berdiri di sana sejak pukul tujuh. Ia memegang map cokelat berisi dokumen lengkap—fotokopi KTP, KK, surat ini-itu—bahkan sudah disusun rapi sesuai urutan yang tertulis di website resmi.
Jam menunjukkan pukul sembilan.
Loket baru dibuka.
Petugas pertama duduk, menyalakan kipas kecil, lalu berkata santai,
“Nomor satu.”
Budi maju setengah langkah.
Tiba-tiba seorang pria berkaus polo mahal menyelip dari samping.
“Sebentar ya, Mas. Saya cuma nanya.”
Ia langsung berdiri tepat di depan loket.
Petugas mengangguk ramah.
“Iya Pak, silakan.”
Lima menit. Sepuluh menit. Bukan cuma nanya—ia menyerahkan berkas.
Diproses.
Budi menarik napas.
“Nomor dua,” kata petugas.
Seorang ibu datang tergesa-gesa dari arah parkiran.
“Maaf, saya tadi ke toilet.”
Tidak ada yang ingat ia ada di antrian sebelumnya.
Petugas tersenyum lagi.
“Oh iya, silakan Bu.”
Budi menatap papan HARAP ANTRI DENGAN TERTIB. Papan itu menatap balik, tanpa rasa bersalah.
Giliran berikutnya, seorang pemuda berseragam kantor masuk sambil menelepon.
“Iya, Pak. Saya sudah di dalam. Oh, bilang saja saya saudara Pak Hadi.”
Petugas langsung berdiri.
“Oh, kalau begitu langsung saja, Mas.”
Budi mengepalkan mapnya. Ujung kertas di dalamnya tertekuk.
Akhirnya—setelah hampir tiga jam—namanya dipanggil.
Ia menyerahkan map.
Petugas membuka, lalu menghela napas kecil.
“Mas, ini fotokopi KTP-nya kurang satu lembar.”
Budi terdiam.
“Di website tertulis dua lembar.”
“Iya, tapi sekarang harus tiga.”
“Bisa fotokopi di sini?”
“Mesin fotokopi rusak.”
“Kalau saya balik lagi hari ini?”
Petugas tersenyum, sangat sopan.
“Silakan ambil nomor lagi besok pagi.”
Budi menoleh ke https://s.shopee.co.id/5AmRuKf59I