Penerbit Gang Kabel

Penerbit Gang Kabel Mengajak kalian lebih menyukai seni rupa, tanpa menyangka yang bukan-bukan.

Pembelian buku dapat dilakukan dengan menyantumkan jumlah pesanan & alamat pengiriman via PM.

SENI adalah wujud pengetahuan subjektif yang berterima dalam hubungan antarsubjek. Berbeda dengan ilmu, seni memantik ke...
22/04/2025

SENI adalah wujud pengetahuan subjektif yang berterima dalam hubungan antarsubjek. Berbeda dengan ilmu, seni memantik kesadaran akan yang esensial dan sentral perihal manusia, alam dan Allah. Ilmu bekerja dengan metodologi ilmiah dan dibatasi ranah empiris, sedangkan pengetahuan seni bersumber dari lingkup iman ( _intrinsic internal environment_ ). Itulah kredo Ahmad Sadali (1924-1987) sebagai seniman/intelektual muslim terkemuka. Ia pelukis pelopor gaya ‘abstrak’ di Indonesia, produktif menulis dan berceramah tentang seni, keimanan dan keislaman. Seni memancarkan hubungan sentral antara manusia dan Allah, sedangkan iman memberinya kedalaman makna. Darinya p**a semua seni yang besar berasal.

Keberadaan manusia di dunia dimaknai dengan ibadah, berserah diri ( _abada_ ). Kebudayaan dan seni adalah wujud nyata ibadah _muamalah_ , untuk menyempurnakan kehidupan materi/ nonmateri.

Kump**an esai ini adalah manifesto perupa modern Indonesia yang pertama tentang relasi antara seni rupa dan agama.

Tersedia dengan harga normal...
30/11/2023

Tersedia dengan harga normal...

Kritikus seni rupa tidak datang ke pameran untuk menyaksikan karya-karya seni lalu menulis kritik. Seni rupa kini dialam...
11/11/2023

Kritikus seni rupa tidak datang ke pameran untuk menyaksikan karya-karya seni lalu menulis kritik. Seni rupa kini dialami seluas ruang publik. Khalayak bukan penonton, mereka pencetus dan bagian penting dari siasat seniman. Berbagai aspek praktik & ekosistem seni, dari isu ruang, publik, medium, peran perupa perempuan sampai pentingnya arsip, adalah bahan refleksi kritis Farah Wardani dalam buku ini. Berkas-berkasnya membentuk Skena 2000> seni rupa kontemporer di Indonesia.

Farah Wardani (Jakarta, 1975) adalah sejarawan seni rupa, kurator, pengarsip dan pegiat budaya. Ia lulus dari Department of Historical & Cultural Studies, Goldsmiths College, London, Inggris (2001), direktur IVAA di Yogyakarta (2006-2015), Assistant Director, Resource Centre – Curatorial & Collections di National Gallery Singapore (2015-2019). Ia kini bermukim di London, Inggris.

*Pemesanan buku:*
0813 8252 8253; 0859 6020 2706 (WA)
[email protected] (email)

HARI TERAKHIR masa prapesan. Segera hubungi Penerbit Gang Kabel di wa 085960202706
04/10/2023

HARI TERAKHIR masa prapesan. Segera hubungi Penerbit Gang Kabel di wa 085960202706

Syahrizal Pahlevi dan bukunya tentang seni grafis. Selesai cetak....siap dipesan dengan harga pra pesan sampai tgl 10/10...
29/09/2023

Syahrizal Pahlevi dan bukunya tentang seni grafis. Selesai cetak....siap dipesan dengan harga pra pesan sampai tgl 10/10/2023. Hubungi Penerbit Gang Kabel

Syahrizal Pahlevi (Palembang, 1965) adalah pegrafis, pegiat seni grafis dan penulis. Ia belajar seni lukis di Institut S...
25/09/2023

Syahrizal Pahlevi (Palembang, 1965) adalah pegrafis, pegiat seni grafis dan penulis. Ia belajar seni lukis di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, tapi kemudian lebih tertarik menekuni wahana seni grafis. Sebagai pegrafis ia mengedepankan kreatifitas dalam memaknai mediumnya ketimbang terpaku pada konvensi cetak. Ia mengikuti program seniman mukiman di Awaji City, Jepang (2009), Vermont, Amerika Serikat (2011), dan Guanlan, Shenzhen, Cina (2017). Bersama Teras Print Studio yang didirikannya pada 2009, ia menyelenggarakan Jogja International Miniprint Biennale di Yogyakarta sejak 2014.

Keteguhan pegrafis di tengah medan seni rupa yang kurang berpihak kepada genre ini diumpamakannya seorang yang “dikutuk-sumpahi Eros”, mengutip larik dalam sajak _Tak Sepadan_ (1943), karya Chairil Anwar. Buku ini adalah kump**an esai tentang perkembangan seni grafis Indonesia—renungan dan gugatan atasnya—yang pertama pernah diterbitkan.

Pemesanan: 0859 6020 2706; 0813 8252 8253 (WA); [email protected] (email)

Tony Godfrey adalah sejarawan, kurator dan kritikus seni rupa. Ia menelusuri kecenderungan alegoris dalam seri potret da...
05/09/2023

Tony Godfrey adalah sejarawan, kurator dan kritikus seni rupa. Ia menelusuri kecenderungan alegoris dalam seri potret dan miniatur lukisan-lukisan Mahendra Yasa sebelum senimannya beralih ke ungkapan abstrak. Eksperimen Mahendra atas berbagai gaya seni lukis beriringan dengan penjelajahan material dan pencarian atas fondasi pemikiran dalam melukis. Pada seri lukisan miniatur, Mahendra menjadikan karyanya sendiri sebagai alegori genesis: memasukkan semua produk ciptaan, dan selaku pencipta ia memandanginya dari suatu jarak. Godfrey menyebut situasi ini—mengutip Luca Giordano —sebagai “teologi” dalam seni lukis yang jarang ditelaah penulis seni rupa. Atau seperti digambarkan James Joyce, “seniman, seumpama Tuhan [...] tidak terlihat, telah menyelesaikan ciptaannya, acuh tak acuh, sedang bersantai memotong kuku-kukunya.”

Buku ini menggunakan teks dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Terjemahan bahasa Indonesia oleh Dewi Kharisma Michellia.

Pemesanan:
0859 6020 2706; 0813 8252 8253 (WA); [email protected] (email)

Bedah buku Penyair sebagai Mesin karya Martin Suryajaya bersama Muhammad al Fayyadl & Saut Situmorang di JBS, Yogya
01/06/2023

Bedah buku Penyair sebagai Mesin karya Martin Suryajaya bersama Muhammad al Fayyadl & Saut Situmorang di JBS, Yogya

Hari Terakhir
28/05/2023

Hari Terakhir

Bagaimana menafsir dan menilai puisi yang ditulis tanpa perasaan?Perasaan adalah salah satu modal utama penyair. Kemampu...
26/05/2023

Bagaimana menafsir dan menilai puisi yang ditulis tanpa perasaan?

Perasaan adalah salah satu modal utama penyair. Kemampuannya berpuisi ditunjang oleh kekayaan kenangan dan pengalaman yang telah diresapkan ke dalam perasaan. Puisi adalah hasil mobilisasi perasaan dan segenap pengetahuan (verbal dan non-verbal) yang terkandung dalam pengalaman penyair dalam bersentuhan dengan dunia sebagai makhluk berdarah-daging.

Namun bagaimana dengan mesin Artificial Intelligence yang menulis puisi? Penyair-mesin tidak memiliki qualia atau aspek subjektif dari pengalaman, aspek what-is-it-like-ness dari pengalaman. Ia tahu bahwa menurut penyair A, “hujan” adalah XYZ, sedangkan menurut penyair B, “hujan” adalah PQR. Namun ia sendiri tidak pernah tahu seperti apa rasanya mengalami hujan. Jika kita taruh seorang penyair-mesin ke atas meja operasi dan kita bedah pedalaman puitiknya, apa yang akan kita temukan adalah kump**an observasi dari sudut pandang orang ketiga tetapi tidak satu pun pengalaman sudut pandang orang pertama.

Mereka berbahasa tanpa suatu maksud sehingga maksud-maksudnya tidak bisa dipecahkan melalui kerja telik sandi semiotika. Mereka berbahasa tanpa mengandaikan sebuah pedalaman batiniah, tanpa segi “seperti-apa-rasanya-mengalami-sesuatu”, tanpa fenomenologi. Sebuah bahasa tanpa inwardness, tanpa interioritas, tanpa maksud (dan karenanya tanpa maksud tersembunyi). Sebuah bahasa tanpa kedalaman, tanpa ceruk-ceruk makna yang menunggu disingkapkan melalui sebentuk paranoid reading. Lalu bagaimana menafsir dan menilai puisi-puisi AI?

Saksikan perdebatan seru tentang hal ini dalam bedah buku “Penyair sebagai Mesin” karya Martin Suryajaya yang diselenggarakan JBS JualBukuSastra bersama dengan Penerbit Gang Kabel. Karya ini akan dibedah oleh Saut Situmorang dan Muhammad Al-Fayyadl. Acara diselenggarakan pada 1 Juni 2023, pukul 16.00 WIB, di Kedai JBS, Jl. Keloran Dalam, Bantul.

Akal sehat tidak selamanya sehat. Akal sehat adalah akal yang menormalisasi, membuat apa yang sebetulnya eksepsi menjadi...
22/05/2023

Akal sehat tidak selamanya sehat. Akal sehat adalah akal yang menormalisasi, membuat apa yang sebetulnya eksepsi menjadi norma. Oleh karena itu, sensor bersifat inheren dalam cara kerja akal sehat: menakar segalanya berdasarkan suatu norma dan menghukum apa pun yang melenceng dari norma sebagai hal yang ‘tidak masuk akal’ atau ‘jelas keliru’. Akal sehat bekerja memberi kita keamanan yang timbul dari rasa ‘jelas dengan sendirinya’ (self-evident): sudah jelas bahwa puisi Indonesia itu begini, bahwa hakikat puisi itu begitu, dan sebagainya.

Keyakinan tentang adanya satu garis sejarah yang merentang lurus dari Amir Hamzah ke hari ini dan akal sehat tentang puisi yang bekerja lewat normalisasi dan sensor telah melahirkan sikap-sikap gatekeeper dalam sastra dan puisi Indonesia. Kritikus di situ memainkan peranan sebagai polisi sastra: seorang yang berdiri di setiap perempatan sastra dan siap menilang siapa pun yang melenceng dari sejarah dan hakikat puisi yang ia yakini. Para gatekeepers ini melakukan pengaturan lalu lintas wacana sastra dengan keyakinan yang membara tentang apa yang benar dan salah dalam sastra.

Dalam situasi seperti itu, jarang ada yang mau berkata: “Aku ingin mengingat sejarah puisi Indonesia dengan keliru. Aku ingin masuk ke rumah puisi Indonesia sebagai seorang yang salah alamat. Aku ingin salah keluarga.” Buku “Penyair sebagai Mesin” karya Martin Suryajaya adalah usaha untuk menempuh rute itu. Prapesan sekarang di . Seminggu lagi masa prapesan selesai dan kembali ke harga normal.

13/05/2023

Address

Jakarta
11850

Telephone

+6285960202706

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penerbit Gang Kabel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Penerbit Gang Kabel:

Share

Category