03/04/2026
Di Ambang Salib Tetap Setia
Malam turun perlahan
Kamis Putih bernafas dalam sunyi.
Ia berlutut, membasuh kaki kaki
yang berjalan bersama-Nya,
juga yang diam-diam akan mengkhianati.
Ia tahu.
Namun kasih-Nya tidak berubah,
tidak menahan diri,
tidak membalas dengan luka.
Dari ruang perjamuan
Ia melangkah ke Getsemani
berdoa dalam gentar yang dalam,
keringat-Nya jatuh seperti darah,
namun kehendak-Nya tetap tunduk:
“Jadilah kehendak-Mu.”
Ciuman Yudas menjadi tanda,
Ia ditangkap tanpa perlawanan.
Dihakimi tanpa kebenaran,
dicambuk tanpa belas kasihan,
dimahkotai duri oleh dunia yang menolak kasih.
Ia memikul salibNya sendiri,
jatuh dan bangkit di jalan derita,
hingga tiba di puncak Golgota
tempat kasih diuji sampai batas terakhir.
Paku menembus tangan dan kaki,
langit menjadi saksi bisu,
namun dari bibir-Nya tidak lahir kutuk,
hanya doa yang menggetarkan kekekalan:
“Bapa, ampunilah mereka…”
Sampai akhirnya,
dalam napas yang hampir hilang,
Ia berkata dengan tenang:
“Sudah selesai.”
Dan sunyi pun menjadi saksi
bahwa kasih telah menang.
Kini aku berdiri di bawah salib itu,
memandang tanpa kata,
bertanya dalam hati yang rapuh
"bagaimana denganku?"
Mampukah aku tetap mengasihi
saat dikhianati?
Tetap bertahan
saat lelah dan terluka?
Tetap memberi
saat tak dihargai?
Karena setia bukan tentang kuatnya perasaan,
melainkan keberanian untuk tetap tinggal dalam kasih,
bahkan ketika hati ingin pergi.