YES NO WAVE MUSIC

YES NO WAVE MUSIC A netlabel from Yogyakarta-Indonesia www.yesnowave.com

Don’t missed out this in Europe.
05/03/2026

Don’t missed out this in Europe.

13/02/2026

RAJA KIRIK’S SENGAKALA will be out on 14 February 2026.

Music by Raja Kirik
Painting by Maryanto
Graphic & Video by Wok The Rock

“Kala Sengkala” is part of Raja Kirik’s new album “Sengkala” that revisits history not as a frozen past, but as a living...
05/02/2026

“Kala Sengkala” is part of Raja Kirik’s new album “Sengkala” that revisits history not as a frozen past, but as a living vibration that continues to resonate in the present. Grounded in the awareness that oppression never truly disappears, the album traces shifts of power from colonialism and overt violence toward global systems that operate more subtly through capital, technology, regulations, and imagery.

Through a fusion of fragmented gamelan, electronic layers, and raw environmental sounds, “Sengkala” rearticulates historical pulses in a contemporary sonic language. The album explores the entanglement of memory, power, and the body, inviting listeners to experience history as a physical and emotional force—one that resists silence, neutrality, and forgetting.

Listen to Kala Sengkala only on yesnowave.bandcamp.com or tap the link in bio.

The album Sengkala will be released on 14 February 2026.

Artwork by Maryanto
Graphic and layout by Wok The Rock

03/02/2026

RAJA KIRIK IS BACK FOR LAND BACK!

Music by Raja Kirik
Painting by Maryanto
Graphic & Video by Wok The Rock

🪳🐞🪲 KOLONI WAHANA YES NO KLUB MERAYAP DARI MAUMERE, DEPOK, BANGKOK, SAMARINDA, IPOH, DENPASAR, DAR ES SALAAM, YOGYAKARTA...
04/09/2025

🪳🐞🪲 KOLONI WAHANA YES NO KLUB MERAYAP DARI MAUMERE, DEPOK, BANGKOK, SAMARINDA, IPOH, DENPASAR, DAR ES SALAAM, YOGYAKARTA, DARI LASI, DAVAO, BADUNG-SHANGHAI, SINGAPURA, BANDUNG-TAIPEI, HINGGA SAMUDERA LINTAS BANGSA. 🦇🐜🦖

MARI 📣 LANTANGKAN SUARA SOLIDARTITAS WARGA. 🔊

🗓️ CATAT JADWALNYA. JANGAN SAMPE LENGAH!

GONG adalah gigs yang dikelola oleh  dalam program pekan musik elektronik Gaung Gumaung. GONG dirancang khusus menampilk...
14/08/2025

GONG adalah gigs yang dikelola oleh dalam program pekan musik elektronik Gaung Gumaung. GONG dirancang khusus menampilkan musisi atau projek musik elektronik lokal yang inovatif, berdedikasi, memiliki karakter karya yang kuat, dan solid dalam kurun 5 tahun terakhir. GONG mempersembahkan penampilan dari , musisi asal Minangkabau yang mengolah bebunyian instrumen, antrofonik, dan isu ekologi di tanah Minang; duo pelantang bunyi primal ; agen funkot kiwari ; dan projek Phantasmagoria of Jathilan dari kwartet .

Untuk memperkuat personifikasi talenta-talenta tersebut, konser akan di gelar di lapangan parkir lantai 3 Pasar Beringharjo pada Jumat, 15 Agustus 2025 mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB.

GAUNG GONG

🗓️ Jumat, 15 Agustus 2025
⏰ 19.00-23.00
📍Parkir Lt. 3 Pasar Beringharjo, Jl. Pabringan, Yogyakarta

Raja Kirik - Phantasmagoria Of Jathilan (Yogyakarta)
Kuntari (Bandung)
Rani Jambak (Lasi)
Prontaxan (Yogyakarta)

Kontribusi:
IDR 50.000
Hanya bisa disalurkan langsung di lokasi acara.

Gambar AI:
Layout:

Acara ini disokong oleh Liquid Architecture, Indonesia Netaudio Forum, Gayam 16, Umayumcha, Maternal.

Sri Hanuraga akan memandu diskusi album Epitaph dari  yang akan dipaparkan oleh Dion Nataraja dan Yusti Paradigma.Sandik...
13/07/2025

Sri Hanuraga akan memandu diskusi album Epitaph dari yang akan dipaparkan oleh Dion Nataraja dan Yusti Paradigma.

Sandikala Ensemble mengundang publik dalam Artist Talk bersama Dion Nataraja dan Yusti Paradigma sebagai pembicara, dengan Sri Hanuraga sebagai moderator.

Dalam talk ini, karya Epitaph akan mengulas hubungan karya dengan anti kolonialisme Frantz Fanon; pemikir religius seperti Simone Weil dan Meister Eckhart, kritik mazhab Frankfurt dari Theodor Adorno dan Walter Benjamin, estetika kesunyian di Chairil Anwar, puisi Wiji Thukul dan Mahmoud Darwish, pemikiran pejuang dari Toussaint Louverture hingga Filep Karma, anarkisme Emma Goldman dan Friedrich Nietzsche, Serat Dewa Ruci, opera klasik seperti Carmen dan Pelléas et Melisande, musisi tekno eksperimental seperti Burial dan Raja Kirik, refleksi atas karya-karya Luigi Nono, dan sebagainya.

Acara akan berlangsung secara daring pada:

Tanggal: Senin, 14 Juli 2025
Waktu: 19:00 WIB
Link: https://bit.ly/EpitaphSandikala atau tap link di bio
Meeting ID: 936 4760 8949
Passcode: 503580

Terbuka untuk umum, gratis dan tanpa reservasi.

Sandikala Ensemble mengundang publik dalam Artist Talk bersama Dion Nataraja dan Yusti Paradigma sebagai pembicara, deng...
10/07/2025

Sandikala Ensemble mengundang publik dalam Artist Talk bersama Dion Nataraja dan Yusti Paradigma sebagai pembicara, dengan Sri Hanuraga sebagai moderator.

Dalam talk ini, karya Epitaph akan mengulas hubungan karya dengan anti kolonialisme Frantz Fanon; pemikir religius seperti Simone Weil dan Meister Eckhart, kritik mazhab Frankfurt dari Theodor Adorno dan Walter Benjamin, estetika kesunyian di Chairil Anwar, puisi Wiji Thukul dan Mahmoud Darwish, pemikiran pejuang dari Toussaint Louverture hingga Filep Karma, anarkisme Emma Goldman dan Friedrich Nietzsche, Serat Dewa Ruci, opera klasik seperti Carmen dan Pelléas et Melisande, musisi tekno eksperimental seperti Burial dan Raja Kirik, refleksi atas karya-karya Luigi Nono, dan sebagainya.

Acara akan berlangsung secara daring pada:

Tanggal: Senin, 14 Juli 2025
Waktu: 19:00 WIB
Link: https://bit.ly/EpitaphSandikala atau tap link di bio
Meeting ID: 936 4760 8949
Passcode: 503580

Terbuka untuk umum, gratis dan tanpa reservasi.

OUT NOW!Epitaph continues Sandikala’s exploration of a compositional method where tempo progressively decelerates, inspi...
07/07/2025

OUT NOW!
Epitaph continues Sandikala’s exploration of a compositional method where tempo progressively decelerates, inspired by Javanese gamelan. In gamelan, slowing tempo expands space between the balungan (core melody) while elaborating instruments grow denser—creating a paradoxical sense of time. Traditionally likened to a blooming flower, Sandikala instead imagines a flower that withers and rots.

This rotten flower becomes a symbol of critique. Epitaph rejects the glorification of tradition and turns instead to the wounds of history. In its center, a broken-radio-like collage features the fragmented voices of Wiji Thukul, Mahmoud Darwish, and Frantz Fanon—echoing like trauma, half-remembered and unresolved.

These sounds are framed by references to Lalermengeng, a traditional gending associated with death. Like a memory that haunts, it returns beyond control. The radio-static textures resemble a swarm of flies circling decay—history decomposing in sound.

The piece ends with a singular burst of noise, standing in stark contrast. This noise becomes a poetic figure: the Ratu Adil, a messianic force interrupting the relentless march of history. It is not clarity, but rupture; not redemption through reason, but the irrational hope of a future refusing definition. Noise is what remains when articulation fails.

Epitaph is available to stream and download at yesnowave.com.

Sandikala Ensemble is a Yogyakarta-based group dedicated to exploring experimental techniques and designing new gamelan instruments in order to expand the horizons of contemporary gamelan music. Founded in 2020 by Dion Nataraja and Yustiawan Paradigma Umar, the ensemble features musicians Roni Driyastoto, Mustika Garis Sejati, Suseno Setyo Wibowo, Muhamad Erdifadillah, and Muhammad Khoirur Roziqin. The ensemble has developed new instruments, including four genders with a 36-tone non-octave tuning system. More recently, Sandikala has added instruments designed by Dion Nataraja, including two gambang and two sets of gong kemodhong, crafted in Klaten by Karnadi Handoko and Siswo Pradangga.

Instrumen-instrumen di Sandikala Ensemble mengambil prinsip-prinsip dasar dari gamelan tradisional, namun melalui peruba...
03/07/2025

Instrumen-instrumen di Sandikala Ensemble mengambil prinsip-prinsip dasar dari gamelan tradisional, namun melalui perubahan sistem laras (tuning), mereka membentuk hubungan yang paradoksal dengan tradisi: bunyinya berakar pada gamelan, tapi ia terdengar asing dan menyimpang. Saat ini, Sandikala Ensemble memiliki dua gendèr barung, dua gendèr panerus, dua gambang, dan dua gong kemodong. Walau berdasarkan pada prinsip-prinsip di gamelan, tuning di instrumen-instrumen ini juga mengambil inspirasi dari, semisal just intonation dan makam Turki. Proses ini menciptakan ruang bunyi yang liyan: tidak sepenuhnya berada pada tradisi, tetapi tetap terhubung dengan sejarah gamelan. Instrumen ini digunakan dalam komposisi baru yang akan dirilis tanggal 7 Juli 2025.

26/06/2025

Sandikala Ensemble is getting ready to drop a new release with Yes No Wave Music, coming out on July 7, 2025.

is a Yogyakarta-based group dedicated to exploring experimental
techniques and designing new gamelan instruments in order to expand the horizons of contemporary gamelan music. Founded in 2020 by Dion Nataraja and Yustiawan Paradigma Umar, the ensemble features musicians Roni Driyastoto, Mustika Garis Sejati, Suseno Setyo Wibowo, Muhamad Erdifadillah, and Muhammad Khoirur Roziqin. The ensemble has developed new instruments, including four genders with a 36-tone non-octave tuning system. More recently, Sandikala has added instruments designed by Dion Nataraja, including two gambang and two sets of gong kemodhong, crafted in Klaten by Karnadi Handoko and Siswo Pradangga.

🖤 NEW RELEASE 🖤Entah ini intrepretasi trek-trek musik hits Jazz dunia, atau sekedar plesetan, atau mungkin juga cemooh t...
06/06/2025

🖤 NEW RELEASE 🖤

Entah ini intrepretasi trek-trek musik hits Jazz dunia, atau sekedar plesetan, atau mungkin juga cemooh terhadap genre tersebut. Apapun itu, saya paham bahwa ada kelas yang seharusnya dilenyapkan di genre musik di Indonesia. Tidak merasa lebih hanya karna nada/hitungan lebih rumit, tidak memicingkan mata hanya karna bunyinya berbeda, dan menghakimi padahal tidak mengerti.

Tidak hanya panggung dengan tata suara megah, ini adalah album yang seharusnya menemani para pencinta kopi di interior brutalist alih-alih bossa nova yang kian tidak selaras dengan situasi negara yang carut marut. (Tesla Manaf)

Mahamboro
“7 Jazz Pop Greats”
1. What a Wonderful War
2. Can’t Help Falling in Grave
3. Moon Creeper
4. Fry Me to the Moon
5. Ungained Melody
6. Gloomy Doomsday
7. Failing Me Softly

Stream/download di yesnowave.com atau ketuk tautan di bio .

Address

JIEXPO (Jakarta International Expo)
Jakarta
10620

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when YES NO WAVE MUSIC posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to YES NO WAVE MUSIC:

Share

Category