13/01/2026
"Halo, Mas Bagus!"
"Glad ...."
Suamiku terkejut setengah ma ti, saat aku mela braknya di kafe. Padahal dia sedang asyik-asyiknya mengobral janji pada ke-ka-sih gelapnya.
Bab. 4
"Sayang!"
Bagus tersen tak, ia bangkit dari duduknya. Bahkan ponselnya sampai terjatuh saking kagetnya. Matanya bergerak liar menandakan pr ia itu sedang geli sah luar biasa.
"Se-sejak kapan kamu ada di belakang, Sayang?" Wajah pu cat pa si itu menjadi hiburan tersendiri bagi Glad.
Glad mengabaikan pertanyaan Bagus, memilih duduk di kursi yang satunya. Wan ita itu menatap langit pagi yang sudah terang. Matahari sudah lumayan tinggi, mungkin sekarang sudah pukul setengah delapan.
"Sa-sa-sayang, aku bisa jelaskan." Bagus mendekat.
Glad tetap ac uh, melihat k*ku tangannya yang sudah waktunya perawatan. Tentu saja s*kap cu ek Glad membuat Bagus ka lang ka but. Pria penge.cut itu duduk di lantai bal kon, di dekat kursi Glad dan berusaha meraih tangan sang is tri.
"Sa-yang," panggilnya ragu.
Glad menarik napas dalam. Mengalihkan tatapannya ke wajah Bagus yang terlihat pu cat.
"Ada apa?"
"Kok kamu nggak tanya, aku tadi sedang teleponan sama siapa." Bagus berusaha memutar balikkan fakta. Biasanya Glad akan merasa bersalah dan membiarkan Bagus menyelesaikan panggilannya. Namun, kali ini tidak.
"Memang apa urusannya denganku? Kamu bisa meneleponnya lain kali meskipun aku kepo dan melar ang kamu menghub**ginya. Iya, 'kan?"
Tatapan Glad begitu menu suk. Sampai-sampai Bagus tidak bisa bicara, hanya bisa terpaku menyadari s*kap sang is tri yang berubah.
"Kenapa diam? Bukankah ucapanku benar? Tidak ada yang menjamin kamu tetap menjaga komitmen saat tidak ada aku di dekatmu, seperti kali ini," ucap Glad datar.
"Sayang ... aku nggak bermaksud menyak iti hatimu, tadi itu aku sedang menelpon ibu."
Glad tersenyum sinis. "Ibu atau bukan, yang tahu cuma kamu, Mas."
Bagus kehilangan ak al. Sorot matanya terlihat tak s**a. "Kamu mela rang aku menghub**gi ibu? Jangan kele watan! Sebagai seorang anak, aku rindu pada ibu itu wajar 'kan? Kok kamu gitu sih?"
"Loh, siapa yang lar ang? Mana ucapanku yang mela rang kamu menelepon ibumu, Mas? Aku hanya bicara apa adanya. Lagi p**a, kamu dan ibumu kok ngomongnya begitu. Nggak sopan banget, ya rindu, ya pingin segera ketemu, pingin jalan dan makan bareng. Ck, nanti deh, aku jemput ibu. Biar untuk sementara Ibu tinggal di sini."
"Terserah kamu, Sayang. Kalau nggak percaya ya sudah. Aku mau siap-siap dulu ke kantor. Tadi nungguin kamu bangun, eh ... bukannya dibikinin sarapan, malah kena Ome lan," ger utu Bagus. Pria itu bangkit dan memu ngut ponselnya yang ja tuh, kemudian mematikan laptop dan membawanya masuk ke dalam. Glad tak bergeming, melirik sekilas. Mencoba menenangkan gemu ruh hati.
Tak butuh waktu lama bagi Bagus untuk bersiap, pr ia itu terlihat begitu tampan. Harum parfum khas suaminya pun menu suk hidung Glad.
"Sayang, aku pergi dulu, ya," pamit Bagus. Mendekat ke arah Glad. Pr ia itu berdiri di belakang Glad. "Aku minta maaf," lanjutnya.
Glad membi su.
Bagus mem b**g k*k dan mencuri satu kecupan manis di p**i Glad. Jika dulu Glad bersemu karena ma lu dan bahagia, sekarang wajahnya meme rah menahan ama rah.
"Jangan lama-lama ngam bek nya. Nanti aku sedih," ujar Bagus lagi. Berniat mencuri satu kecupan lagi di p**i Glad, tapi wan ita itu memilih menghindar.
"Pergilah, aku sedang tidak mood banyak bicara denganmu."
"Iya, aku mengerti. Aku pergi dulu. Jangan lupa sarapan kalau kamu mau berangkat kerja."
Glad mengangguk. Berharap secepatnya Bagus pergi.
Tak butuh waktu lama, suara langkah Bagus meninggalkannya mulai terdengar, seiring air mata yang menetes deras di p**i Glad.
Awas kamu, Mas! Lihat saja, akan aku buat kamu dan dia mengetahui siapa diriku yang sebenarnya.
Pukul sepuluh, Glad baru selesai bersiap. Ia menghub**gi atasannya kalau hari ini terpak sa terlambat masuk kan tor karena ada kendala. Untung saja atasan Glad selalu percaya padanya. Jadilah, wan ita itu diizinkan.
"Kau yakin tidak apa-apa, Glad?" tanya sang atasan. Mereka baru saja berdiskusi soal langkah terobosan baru supaya produk unggulan perusahaan bisa booming di pasaran.
"Iya, Pak, i'm fine. Nggak kenapa-napa."
"Oh, syukurlah. Soalnya aku lihat kamu lebih banyak mela mun. Kalau memang ada something wrong, kamu bisa ambil istirahat dulu di rumah barang satu hari. 'Kan kamu nggak pernah ambil cu ti."
Glad menggeleng. "Sepertinya karena saya sedikit mengan tuk, Pak. Semalam tidur terlalu la rut."
Sang atasan manggut-manggut saja meskipun tidak percaya alasan Glad. Glad adalah karyawan paling ra jin, paling cerdas dan teliti serta penuh semang*t. Namun, hari ini wan ita itu terlihat let ih, le su parahnya banyak melamun. Biarlah, mungkin memang mengan tuk atau kele lahan, batinnya.
"Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita ke saya, Glad," tawarnya.
"Siap, Pak, aman-aman. Kalau tidak ada yang ingin dibahas lagi, saya ijin kembali ke ruangan ya, Pak."
"Silahkan, Glad. Hari ini cukup sampai di sini dulu. Besok kita samb**g lagi."
"Baik, Pak." Glad kemudian berdiri, memb**g k*k dan un dur di ri dari hadapan atasannya.
Sang atasan hanya mampu menatap punggungnya penuh tanya.
Hari yang be rat itu pun berhasil Glad lewati. Sore harinya, Glad mengajak Flo bertemu sebelum p**ang. Ia ingin memastikan sesuatu.
Mereka bertemu di kafe biasa. Ternyata Flo sudah datang terlebih dahulu.
"Glad, kamu nggak papa?" tanyanya. Flo memilih privat room untuk mereka berdua. Ruangan yang tertutup kaca dan tak terlihat dari luar, tapi dari dalam bisa melihat keluar.
Glad menghempaskan tubuhnya di kursi. "Aku nggak papa, hariku bukan nggak bu ruk, tapi benar-benar sang*t bur uk," jawabnya, sar kas.
Flo menatap intens sahabatnya. "Kamu sudah selidiki?"
"Sepertinya memang benar dia selin gkuh, Flo. Tadi malam p**ang sang*t lar ut dan parfum wa nita itu menempel di baju suamiku, tadi pagi teleponan di balkon. Namun, dia nggak mengakui itu. Dia pikir aku akan percaya gitu aja. Ih, sorry!"
"Lalu apa rencanamu?"
Glad menggeleng, belum menemukan cara yang cocok untuk membalas perbuatan suaminya.
"Glad, aku tetap mendukungmu, apapun yang kamu lakuin, aku siap bantu." Nada bicara Flo terdengar ik*t prihatin.
"Jangan menatapku seperti itu, Flo! Dunia belum berakhir, aku akan tunjukkan ke dia. Siapa aku yang sebenarnya."
"Bagus, Glad. Jangan terpu ruk. Pria seperti Bagus akan berte puk tan gan melihatmu terpu ruk. Law an dan han curkan! Pokoknya aku siap jadi gar da terdepan."
Glad terkekeh, ia menyesap minuman yang dipesankan Flo untuknya. "Aku sedang memikirkan cara jitu untuk menghan curkan men tal mereka. Enak saja, mereka berhasil menghan curkan kepercayaan dan men talku. Setidaknya harus sama."
Flo berkaca-kaca. Menatap haru ke arah sahabatnya yang meskipun dia tahu hatinya han cur berke ping-ke ping, tetapi tetap berusaha te gar.
"Glad, jangan menoleh ke belakang," ucap Flo tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Glad, reflek menoleh ke belakang.
Matanya membu lat sempurna. Ia melihat Bagus dan seorang wa nita mu da masuk sambil bergandengan tangan me sra. Kebetulan memilih tempat yang dekat dengan mereka, terhalang kaca.
Glad meng*tupkan mul utnya rapat. Melihat dengan ma ta kep ala sendiri rasanya sang*t menya kitkan. Saat sang sua mi memperlak*kan wan ita itu dengan lembut. Menarik kursi, memastikan wanitanya duduk dengan nyaman, barulah Bagus duduk di depannya.
Adegan selanjutnya membuat kesabaran Glad yang sebenarnya setebal tisu satu pak, langsung tinggal seu prit. Bagus dengan penuh percaya diri meraih tangan kekasihnya tersebut. Tangan keduanya saling menggenggam di atas meja.
Brak!
Glad menggebrak meja. "Aku nggak bisa diam saja, Flo! Aku akan melab rak mereka sekarang."
"Kamu melupakan satu hal, Glad. Dokumentasi, itu penting saat kamu gug*t cerai pria pe cun dang itu."
"Oh, ini, kamu abadikan dulu. Hatiku sudah ngga kuat."
Flo menerima ponsel Glad, dengan tenang mulai mengambil gambar Bagus dan Dinda.
"Sudah. Waktunya pertunjukan!"
Glad mengangkat sudut bibirnya. Wa nita itu bangkit, penuh percaya diri. Dibukanya pintu dengan ketenangan tingkat tinggi, tanpa menimbulkan suara. Kini, Glad berada tepat di samping Bagus yang sibuk mera yu keka sihnya.
"Halo, Mas Bagus!"
***
Judul: Buket Mawar Untuk Selingkuhan Suamiku
Penulis : QoiAhmad
Lengkapnya ada di KBM ya, teman-teman.