QoiAhmad

QoiAhmad s**a baca, s**a nulis,

"Halo, Mas Bagus!""Glad ...."Suamiku terkejut setengah ma ti, saat aku mela braknya di kafe. Padahal dia sedang asyik-as...
13/01/2026

"Halo, Mas Bagus!"

"Glad ...."

Suamiku terkejut setengah ma ti, saat aku mela braknya di kafe. Padahal dia sedang asyik-asyiknya mengobral janji pada ke-ka-sih gelapnya.

Bab. 4

"Sayang!"

Bagus tersen tak, ia bangkit dari duduknya. Bahkan ponselnya sampai terjatuh saking kagetnya. Matanya bergerak liar menandakan pr ia itu sedang geli sah luar biasa.

"Se-sejak kapan kamu ada di belakang, Sayang?" Wajah pu cat pa si itu menjadi hiburan tersendiri bagi Glad.

Glad mengabaikan pertanyaan Bagus, memilih duduk di kursi yang satunya. Wan ita itu menatap langit pagi yang sudah terang. Matahari sudah lumayan tinggi, mungkin sekarang sudah pukul setengah delapan.

"Sa-sa-sayang, aku bisa jelaskan." Bagus mendekat.

Glad tetap ac uh, melihat k*ku tangannya yang sudah waktunya perawatan. Tentu saja s*kap cu ek Glad membuat Bagus ka lang ka but. Pria penge.cut itu duduk di lantai bal kon, di dekat kursi Glad dan berusaha meraih tangan sang is tri.

"Sa-yang," panggilnya ragu.

Glad menarik napas dalam. Mengalihkan tatapannya ke wajah Bagus yang terlihat pu cat.

"Ada apa?"

"Kok kamu nggak tanya, aku tadi sedang teleponan sama siapa." Bagus berusaha memutar balikkan fakta. Biasanya Glad akan merasa bersalah dan membiarkan Bagus menyelesaikan panggilannya. Namun, kali ini tidak.

"Memang apa urusannya denganku? Kamu bisa meneleponnya lain kali meskipun aku kepo dan melar ang kamu menghub**ginya. Iya, 'kan?"

Tatapan Glad begitu menu suk. Sampai-sampai Bagus tidak bisa bicara, hanya bisa terpaku menyadari s*kap sang is tri yang berubah.

"Kenapa diam? Bukankah ucapanku benar? Tidak ada yang menjamin kamu tetap menjaga komitmen saat tidak ada aku di dekatmu, seperti kali ini," ucap Glad datar.

"Sayang ... aku nggak bermaksud menyak iti hatimu, tadi itu aku sedang menelpon ibu."

Glad tersenyum sinis. "Ibu atau bukan, yang tahu cuma kamu, Mas."

Bagus kehilangan ak al. Sorot matanya terlihat tak s**a. "Kamu mela rang aku menghub**gi ibu? Jangan kele watan! Sebagai seorang anak, aku rindu pada ibu itu wajar 'kan? Kok kamu gitu sih?"

"Loh, siapa yang lar ang? Mana ucapanku yang mela rang kamu menelepon ibumu, Mas? Aku hanya bicara apa adanya. Lagi p**a, kamu dan ibumu kok ngomongnya begitu. Nggak sopan banget, ya rindu, ya pingin segera ketemu, pingin jalan dan makan bareng. Ck, nanti deh, aku jemput ibu. Biar untuk sementara Ibu tinggal di sini."

"Terserah kamu, Sayang. Kalau nggak percaya ya sudah. Aku mau siap-siap dulu ke kantor. Tadi nungguin kamu bangun, eh ... bukannya dibikinin sarapan, malah kena Ome lan," ger utu Bagus. Pria itu bangkit dan memu ngut ponselnya yang ja tuh, kemudian mematikan laptop dan membawanya masuk ke dalam. Glad tak bergeming, melirik sekilas. Mencoba menenangkan gemu ruh hati.

Tak butuh waktu lama bagi Bagus untuk bersiap, pr ia itu terlihat begitu tampan. Harum parfum khas suaminya pun menu suk hidung Glad.

"Sayang, aku pergi dulu, ya," pamit Bagus. Mendekat ke arah Glad. Pr ia itu berdiri di belakang Glad. "Aku minta maaf," lanjutnya.

Glad membi su.

Bagus mem b**g k*k dan mencuri satu kecupan manis di p**i Glad. Jika dulu Glad bersemu karena ma lu dan bahagia, sekarang wajahnya meme rah menahan ama rah.

"Jangan lama-lama ngam bek nya. Nanti aku sedih," ujar Bagus lagi. Berniat mencuri satu kecupan lagi di p**i Glad, tapi wan ita itu memilih menghindar.

"Pergilah, aku sedang tidak mood banyak bicara denganmu."

"Iya, aku mengerti. Aku pergi dulu. Jangan lupa sarapan kalau kamu mau berangkat kerja."

Glad mengangguk. Berharap secepatnya Bagus pergi.

Tak butuh waktu lama, suara langkah Bagus meninggalkannya mulai terdengar, seiring air mata yang menetes deras di p**i Glad.

Awas kamu, Mas! Lihat saja, akan aku buat kamu dan dia mengetahui siapa diriku yang sebenarnya.

Pukul sepuluh, Glad baru selesai bersiap. Ia menghub**gi atasannya kalau hari ini terpak sa terlambat masuk kan tor karena ada kendala. Untung saja atasan Glad selalu percaya padanya. Jadilah, wan ita itu diizinkan.

"Kau yakin tidak apa-apa, Glad?" tanya sang atasan. Mereka baru saja berdiskusi soal langkah terobosan baru supaya produk unggulan perusahaan bisa booming di pasaran.

"Iya, Pak, i'm fine. Nggak kenapa-napa."

"Oh, syukurlah. Soalnya aku lihat kamu lebih banyak mela mun. Kalau memang ada something wrong, kamu bisa ambil istirahat dulu di rumah barang satu hari. 'Kan kamu nggak pernah ambil cu ti."

Glad menggeleng. "Sepertinya karena saya sedikit mengan tuk, Pak. Semalam tidur terlalu la rut."

Sang atasan manggut-manggut saja meskipun tidak percaya alasan Glad. Glad adalah karyawan paling ra jin, paling cerdas dan teliti serta penuh semang*t. Namun, hari ini wan ita itu terlihat let ih, le su parahnya banyak melamun. Biarlah, mungkin memang mengan tuk atau kele lahan, batinnya.

"Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita ke saya, Glad," tawarnya.

"Siap, Pak, aman-aman. Kalau tidak ada yang ingin dibahas lagi, saya ijin kembali ke ruangan ya, Pak."

"Silahkan, Glad. Hari ini cukup sampai di sini dulu. Besok kita samb**g lagi."

"Baik, Pak." Glad kemudian berdiri, memb**g k*k dan un dur di ri dari hadapan atasannya.

Sang atasan hanya mampu menatap punggungnya penuh tanya.

Hari yang be rat itu pun berhasil Glad lewati. Sore harinya, Glad mengajak Flo bertemu sebelum p**ang. Ia ingin memastikan sesuatu.

Mereka bertemu di kafe biasa. Ternyata Flo sudah datang terlebih dahulu.

"Glad, kamu nggak papa?" tanyanya. Flo memilih privat room untuk mereka berdua. Ruangan yang tertutup kaca dan tak terlihat dari luar, tapi dari dalam bisa melihat keluar.

Glad menghempaskan tubuhnya di kursi. "Aku nggak papa, hariku bukan nggak bu ruk, tapi benar-benar sang*t bur uk," jawabnya, sar kas.

Flo menatap intens sahabatnya. "Kamu sudah selidiki?"

"Sepertinya memang benar dia selin gkuh, Flo. Tadi malam p**ang sang*t lar ut dan parfum wa nita itu menempel di baju suamiku, tadi pagi teleponan di balkon. Namun, dia nggak mengakui itu. Dia pikir aku akan percaya gitu aja. Ih, sorry!"

"Lalu apa rencanamu?"

Glad menggeleng, belum menemukan cara yang cocok untuk membalas perbuatan suaminya.

"Glad, aku tetap mendukungmu, apapun yang kamu lakuin, aku siap bantu." Nada bicara Flo terdengar ik*t prihatin.

"Jangan menatapku seperti itu, Flo! Dunia belum berakhir, aku akan tunjukkan ke dia. Siapa aku yang sebenarnya."

"Bagus, Glad. Jangan terpu ruk. Pria seperti Bagus akan berte puk tan gan melihatmu terpu ruk. Law an dan han curkan! Pokoknya aku siap jadi gar da terdepan."

Glad terkekeh, ia menyesap minuman yang dipesankan Flo untuknya. "Aku sedang memikirkan cara jitu untuk menghan curkan men tal mereka. Enak saja, mereka berhasil menghan curkan kepercayaan dan men talku. Setidaknya harus sama."

Flo berkaca-kaca. Menatap haru ke arah sahabatnya yang meskipun dia tahu hatinya han cur berke ping-ke ping, tetapi tetap berusaha te gar.

"Glad, jangan menoleh ke belakang," ucap Flo tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Glad, reflek menoleh ke belakang.

Matanya membu lat sempurna. Ia melihat Bagus dan seorang wa nita mu da masuk sambil bergandengan tangan me sra. Kebetulan memilih tempat yang dekat dengan mereka, terhalang kaca.

Glad meng*tupkan mul utnya rapat. Melihat dengan ma ta kep ala sendiri rasanya sang*t menya kitkan. Saat sang sua mi memperlak*kan wan ita itu dengan lembut. Menarik kursi, memastikan wanitanya duduk dengan nyaman, barulah Bagus duduk di depannya.

Adegan selanjutnya membuat kesabaran Glad yang sebenarnya setebal tisu satu pak, langsung tinggal seu prit. Bagus dengan penuh percaya diri meraih tangan kekasihnya tersebut. Tangan keduanya saling menggenggam di atas meja.

Brak!

Glad menggebrak meja. "Aku nggak bisa diam saja, Flo! Aku akan melab rak mereka sekarang."

"Kamu melupakan satu hal, Glad. Dokumentasi, itu penting saat kamu gug*t cerai pria pe cun dang itu."

"Oh, ini, kamu abadikan dulu. Hatiku sudah ngga kuat."

Flo menerima ponsel Glad, dengan tenang mulai mengambil gambar Bagus dan Dinda.

"Sudah. Waktunya pertunjukan!"

Glad mengangkat sudut bibirnya. Wa nita itu bangkit, penuh percaya diri. Dibukanya pintu dengan ketenangan tingkat tinggi, tanpa menimbulkan suara. Kini, Glad berada tepat di samping Bagus yang sibuk mera yu keka sihnya.

"Halo, Mas Bagus!"

***

Judul: Buket Mawar Untuk Selingkuhan Suamiku
Penulis : QoiAhmad
Lengkapnya ada di KBM ya, teman-teman.

Sepintar-pintarnya kamu menyembunyikan semuanya dariku, ada saatnya semua akan ter bon gkar, Mas! Wangi par fum siapa di...
12/01/2026

Sepintar-pintarnya kamu menyembunyikan semuanya dariku, ada saatnya semua akan ter bon gkar, Mas! Wangi par fum siapa di bajumu, Mas?

❣️❣️

Bab. 3

Ketahuan

Bagus terlihat salah tingkah. Ia tidak menyangka Glad belum ti dur dan memergokinya p**ang dalam kondisi tidak bersih.

"Mana, Sayang? Nggak ada parbfum ce wek." Bagus sib uk mengen dus bajunya sendiri, sementara Glad mene lan lud ah dengan susah pa yah.

Glad jelas tidak percaya ucapan Bagus. Hidungnya tidak bermasalah dan itu jelas wangi vanila. Wangi parfum yang tidak pernah dis**ai oleh Glad dan Bagus harusnya tahu sedetail itu.

"Mungkin cuma perasaanku saja. Man di sana, gih! Kamu mau makan nggak? Tapi ini udah tengah malam," ujar Glad. Wan ita itu mengu tuk dalam ha ti perka ra dia sebenarnya tidak s**a berpura-pura.

Ucapan Glad membuat Bagus tersenyum le ga.

"Temanku pestanya di klub. Kamu tahu sendiri 'kan di klub itu kayak gimana. Res*konya ya gini, padahal aku samaa sekali nggak seng go lan sama ce wek," kata Bagus, berusaha menjelaskan dengan penuh percaya diri.

"Aku percaya. Sana man di dulu! Aku ngantuk mau tid ur dulu."

Bagus mengangguk. "Ayo!" Ajaknya.

Sepasang sua mi is tri itu pun masuk ke ka mar mereka. Jika Bagus hatinya sedang berb**ga-b**ga, berbeda dengan Glad yang perasaannya semakin han cur le bur. Semakin ku at keinginannya untuk menyelidiki dan membal as perlakuan Bagus.

Bagus masuk kam ar man di dengan langkah ringan, sementara Glad hanya bisa memandangi punggung suaminya dengan tatapan kosong. Suara air menyem bur dari shower, tapi Glad tahu Bagus tak langsung man di. Ia tahu karena sudah terlalu sering menghitung waktu dan mencermati kebiasaan Bagus. Dan benar saja, sepuluh menit, dua puluh menit berlalu, tidak ada suara guyuran air yang konsisten. Glad menarik napas dalam-dalam, lalu diam-diam melangkah mendekati ceblah pintu kamar man di yang tidak sepenuhnya tertutup rapat.

Pelan, ia menempelkan matanya ke celah tipis itu.

Tepat seperti dugaannya. Bagus duduk di kloset, ponsel di tangan, layar menyala terang. Jemarinya sibuk mengetik sesuatu, lalu berhenti. Ia membaca pesan yang masuk, ekspresi wajahnya berubah-ubah, kadang tersenyum tipis, kadang me lotot seolah tak ut sesuatu terungkap.

Glad menahan napas. Ia tidak bisa melihat isi percakapan, tapi gerak-gerik Bagus seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu yang sang*t penting.

Tanpa suara, Glad kembali ke ranjang. Ia naik ke atas kas ur, membenamkan wajah ke bantal, dan memejamkan mata rapat-rapat. Beberapa menit kemudian, suara shower akhirnya terdengar. Bagus benar-benar mandi. Mungkin sadar ia sudah terlalu lama dan harus memberi kesan seolah-olah tak ada yang jang gal.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Bagus keluar dari kam ar man di. Rambutnya masih basah, tubu hnya hanya diba lut han duk, dan matanya langsung tertuju pada tu buh Glad yang terlihat meringk*k membelakanginya.

Bagus berjongkok di depan Glad, menatap wajah istrinya sebentar, lalu mengambil ponselnya dari atas meja rias. Setelah meletakkannya di laci nakas, ia naik ke atas ranj ang dengan pelan.

Begitu tu buh Bagus benar-benar tertidur dan napasnya mulai teratur, Glad membuka matanya. Rasa penasaran menye ruak, membuatnya ne kat. Si-l alnya, ia tak pernah menyadari gelabg*t seperti ini. Apakah mungkin Bagus sering melak*kan itu?

Dengan gerakan nyaris tanpa suara, ia tu run dari ran jang. Melangkah perlahan menuju nakas, menarik laci dengan sang*t hati-hati, dan menemukan ponsel utama Bagus tergeletak di sana.

Namun Glad tahu, ponsel ini bukan yang barusan dipakai Bagus di kam ar man di. Ia kembali melirik ke arah tas kerja Bagus yang disimpan di po jok ka mar.

Dengan perasaan was-was, ia mem b**g kar tas tersebut, dan di antara tumpukan kertas dan charger, ditemukan satu ponsel lain. Ponsel lama, bukan model terbaru, tapi cukup bersih dan jelas sering dipakai. Dan tentu saja layarnya terkunci.

Glad menggi git bibirnya. Ia mencoba beberapa kombinasi angka. Tanggal ulang tahun mereka. Tahun pernikahan. Tanggal lahir Bagus. Semua gagal.

Akhirnya ia mencoba kode angka yang tidak terlalu ia harapkan. Itu adalah nomor plat mobil milik Bagus. Mobil yang dibelikannya dulu.

Ponsel terbuka.

Jant ung Glad seperti berhenti berdebtak. Ia menahan napas dan mulai membuka galeri. Tidak ada foto. Aneh. Ia buka WhatsApp. Dua nomor kontak paling sering berinteraksi satu bernama Ibu dan satu lagi bernama Ayang.

Glad membuka percakapan dengan Ayang. Di dalamnya, tumpukan pesan manis, voice note, dan foto-foto me sra.

Terima kasih parfum vanillanya, Sayang. Aku s**a. Tadi nempel banyak di kamu. Hemm, jadi pingin nempel lagi.

Tangan Glad bergetar. Napasnya be rat. Ia menggulir percakapan ke atas, dan menemukan pesan dari malam ini:

Aku baru nyampe rumah. Bi ni udah ti dur, aman. Kangen kamu.

Da da Glad serasa dire mu kkan. Matanya pa nas. Tapi tak ada air mata yang ja tuh. Ia menahan semuanya. Apalagi saat melihat banyaknya pesan menji jikkan lainnya, foto-foto tak senonoh. Rasanya Glad ingin mere mu kkan ponsel tersebut.

Ia kembali ke WhatsApp, mengirim file chat ke email pribadinya secara diam-diam, lalu menaruh ponsel itu kembali di tas. Semuanya rapi, seolah tak pernah disen tuh.

Pagi akan tiba sebentar lagi, dan bersama matahari yang menyelinap lewat jendela kam ar mereka, niat Glad menguat sepenuhnya.

Ini bukan lagi sekadar curi ga. Ini sudah terbukti dan ia harus merencanakan pembalasan. Bukan hanya membalas val akor itu, tapi ... pada sua mi tercintanya juga.

*

Pagi datang lebih cepat. Glad belum bangun dari tempat ti dur. Wa nita itu kesiangan karena baru tidur satu jam. Saat ia membuka mata, meraba ran jang di sisinya sudah ko song. Tak biasanya sang sua mi pergi tanpa membangunkannya.

Glad menahan pu sing yang mende ra, bangun dengan pelan. Namun, gerakannya terhenti. Samar-samar ia mendengar suaminya sedang berbicara. Glad menurunkan kakinya ke lantai, berjalan pelan tanpa suara. Mendekati bal kon ka mar, dimana suara itu berasal.

Suaminya sedang duduk di kursi santai di bal kon ka mar. Di depannya, di atas meja kecil ada laptop yang masih menyala, sedang Bagus asyik teleponan dengan seseorang.

Glad mendekat tanpa suara. Sementara Bagus yang tidak sadar sang is tri ada di belakangnya, terus saja bercanda.

"Baru sehari nggak ketemu aku sudah rin du."

"Rin du sama siapa, Mas?"

***

Judul : Buket Mawar untuk Selingkuhan Suamiku
Penulis : Qoi Ahmad
Apk : KBM

"Kamu kok b a u par fum ce wek sih, Mas?"Su amiku pa mit menghadiri pes ta bujang salah satu temannya. Namun saat dia p*...
12/01/2026

"Kamu kok b a u par fum ce wek sih, Mas?"

Su amiku pa mit menghadiri pes ta bujang salah satu temannya. Namun saat dia p**ang, aku men ci um aroma par fum wan ita lain. Dia se ling kuh, aku tahu itu. Akan ku buat dia mengakui semuanya!!

Bab. 2

Glad me ma cu ken cang mo bilnya, saat ini ia butuh menyendiri, mencoba men cer na apa yang telah terjadi. Berita itu mengguncang ba tin nya dengan ku at. Dia yang biasanya te gar dan ce ria, kini tak berdaya.

Air matanya mene tes. Sengaja ia menyembunyikan di balik kaca mata hitam. Meskipun di dalam mo bil, Glad merasa malu, menangisi seseorang yang telah me ni punya habis-habisan. Ku rang a jar kamu, Mas. Aku nggak bakal tinggal diam!

Glad mengemudi tak tentu arah. Hingga suara ponsel membuatnya menepi. My husband@ganteng memanggil. Glad tak langsung mengangkat, menenangkan de bar di da da yang kian meraja. Tidak biasanya Bagus menelponnya di jam segini.

"Halo, Mas!"

"Iya, Sayang. Kamu dimana?" Suara lem but itu menyapa gen dang teli nga Glad, membuat bibirnya tertarik sedikit.

"Eum, aku lagi di luar. Tadi mau belanja tapi nggak jadi."

"Loh, kenapa? Du itnya kurang? Nanti aku tran sfer buat beli baju sama skincare kamu, atau ... kamu mau nyalon?"

Glad terdiam sejenak, ucapan Flo kembali terngiang. Glad menggeleng. Gak mungkin! Bagus masih sama seperti yang dulu.

"Halo, Sayang, kok diam saja? Apa mau aku susul? Kita pergi kemana gitu, staycation dimana gitu, kamu yang atur jadwalnya."

"Besok aku kerja, Mas. Aku lagi nggak pengen kemana-mana. Oh, iya, tum ben kamu nelpon aku jam segini, Mas? Ada apa?"

"Oooh, sampai lupa. Gini, Sayang, nanti malam temanku ada yang pesta bu jang. Aku diundang karena dia teman satu divisi sama aku. Gimana menurutmu?"

Glad terdiam sejenak, ia mulai ra gu dengan kebaikan-kebaikan Bagus. Ucapan Flo dan bukti yang dilihatnya begitu mengu s*k.

"Memangnya boleh bawa pasangan?"

"Ya nggaklah, 'kan itu pesta bu jang. Yang datang la ki-la ki semua."

"Oke. Jadi nanti p**ang dulu apa nggak?"

"Dari kan tor langsung ke pes ta, soalnya kita berangkat bareng-bareng."

Glad mengangguk meskipun Bagus tak melihatnya. "Jangan p**ang terlalu malam dan jangan ma buk. Aku nggak s**a b a u alko hol," ucapnya.

"Oke, Sayang. Thanks yah, love you more!"

"Love you too."

"Ya sudah ya, Sayang. Aku tutup dulu. Kerjaan masih num puk nih."

"Oke, bye, Sayang!"

"Cepat p**ang dan beristirahat, aku tran sfer ua ngnya dan nikmati waktu sebaik mungkin."

Klik.

Glad menyandarkan tubuhnya. Su lit untuk percaya kalau Bagus ber sel ing kuh. Sikapnya masih semanis dan sehang*t dulu. Selalu mengabari kalau ada apa-apa. Ah, sepertinya Flo telah sa lah san gka.

Glad bernapas lega, ia pun kembali melanjutkan perjalanan p**ang. Notifikasi trans feran masuk sempat diliriknya, Bagus mengirim dua puluh ju ta. Tumben. Biasanya ngasih lima juta saja diun gkit. Ah masa bo doh, aku akan simpan ua ng ini baik-baik.

Sesampainya di rumah, Glad langsung memasukkan mo bil ke garasi, kemudian buru-buru masuk ke rua ng kerjanya. Ya, Glad punya rua ng kerja sendiri, menging*t pekerjaannya membutuhkan kon sen trasi yang tinggi.

Wa nita itu mengeluarkan semua bukti yang diberikan oleh Flo. Glad sang*t cer das, tentu dia menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu sebelum bertindak. Ia memegang teguh ucapan ibunya. Wa nita itu harus cer das! Karena seorang wa nita adalah guru, guru untuk dirinya sendiri, untuk anak-anaknya dan tak jarang guru untuk pasangannya.

Mata Glad menyipit saat menyadari wanita itu sepertinya berasal dari kantor Flo. Ada salah satu fotonya memakai seragam perusahaan. Ternyata Flo tidak bohong.

Glad mencoba memperhatikan lebih detail, ia melihat wa nita itu memakai ge lang yang ... Glad melirik ke pergelangan tangannya sendiri. Dan da danya terasa dire mas. Gelang itu sama persis dengan miliknya.

Seragam berwarna biru tua dengan logo kecil di da da kiri tampak jelas, meski wajah wa nita itu sebagian tertutup ram but. Ia memperhatikan detail foto lain, beberapa di antaranya seperti diambil secara diam-diam. Salah satunya menampilkan sosok Bagus berdiri terlalu dekat dengan wa nita itu, tersenyum seolah tanpa be ban. Di foto lain, tan gan mereka nyaris ber sen tu han, terlalu in tim. Padahal mereka beda perusahaan. Bagaimana bisa?

Glad menggi git bi bir ba wahnya. Ia bukan orang yang mudah cem buru. Tapi bukan berarti bu ta.

Tangannya terul ur ke ponsel. Ia membuka kontak Flo.

Flo, aku butuh informasi tentang wani ta itu, sedetail mungkin.

Pesan terkirim. Beberapa menit berlalu. Glad menunggu sambil terus memelo toti foto-foto itu, mencoba menahan gejolak em osi yang mulai mende sak keluar. Lalu notifikasi masuk.

Namanya Dinda, dia junior aku di kantor. Mau aku kirim nama akun medsos punya dia?

Kirim. Sekecil apapun informasi tentangnya.

Tak butuh waktu lama, sebuah kontak dan link profil Instagram dikirimkan. Glad segera membuka akun . Akun itu publik. Barisan foto yang terpajang membuat da da Glad makin sesak. Ada satu unggahan yang menarik perhatiannya, sebuah foto group kantor, namun di belakang, hampir tak terlihat, so sok Bagus dan Dinda berdiri berdampingan.

Ma tanya makin je li. Beberapa postingan Dinda memiliki caption ambigu. Tentang "menanti seseorang yang tak bisa disebut", "rindu yang diam-diam" dan yang paling menyakitkan adalah, "Kalau dia milik orang lain, kenapa dia datang dengan begitu hang*tnya?"

"Kurang aj ar," gumam Glad. Tangannya meng ep al.

Tapi em osi bukan alasan untuk gega bah. Ia kembali duduk tenang. Menarik napas panjang. Membuka folder baru di laptopnya dan memberi nama, Investigasi Bagus.

"Baiklah, Mas," ucapnya pelan. "Kita main can tik. Kau han curkan kepercayaan dan perasaanku, kamu pun akan aku han curkan dengan caraku."

Glad mulai mencatat semua hal penting, waktu foto, lokasi, siapa saja yang tampak di dalamnya. Ia mulai menyusun pola. Jika Bagus berse ling kuh, pasti ada ce lah, jej ak, atau kebiasaan yang berubah. Walaupun belum sepenuhnya percaya, Glad harus menyelamatkan jiw anya sebelum benar-benar han cur.

Ia juga membuka reken ingnya, melihat riwayat transaksi dari Bagus. Dua puluh juta hari ini, lima juta minggu lalu. Sering, tapi tidak teratur. Lalu satu nama muncul Dinda Ayu. Glad menyipit. Lima juta ke akun bernama itu dua minggu lalu. Alasan apa Bagus mengirim ua.ng sebanyak itu ke perempuan bernama Dinda Ayu? Ini sudah tidak bisa dibiarkan.

Glad menghela napas. Tangannya mulai gem etar. Tapi ia memaksakan senyum. "Terima kasih sudah memberi ce lah, Mas," bis*knya. "Sekarang aku tahu kamu bukan sekadar manis di mulut. Kebaikanmu hanya untuk menutupi kebu ruka nmu."

Glad menangis dengan hebat, ini adalah kali pertama ia menangis sepanjang pernikahannya dengan Bagus. Jiw anya rem uk tak berbentuk. Kalau datang hanya untuk meninggalkan lu ka, kenapa harus pura-pura membuat bahagia.

Glad menangis sampai jat uh tertidur.

Pukul tujuh malam, Glad terbangun. Ia memutuskan untuk membereskan semuanya dan menyimpan dengan rapi. Ia tidak mau ketahuan oleh Bagus sebelum dirinya bisa membuktikan p***e ling kuhan pr ia itu.

Glad pergi membersihkan diri, lalu memesan makanan. Wan ita itu berusaha menikmati makanannya. Namun, rasanya tetap ham bar. Akhirnya memutuskan untuk menonton drama Kor ea yang menyedihkan. Biar nanti punya alasan kalau ditanya kenapa matanya beng kak.

Diliriknya jam dinding. Sudah pukul sebelas malam, tetapi Bagus tak kunjung p**ang. Glad mema ti kan lampu ruang tengah. Ia menenggelamkan dirinya dalam ge lap. Satu jam kemudian, deru mobil Bagus memasuki halaman rumah.

Ceklek!

"Baru p**ang, Mas? Dari mana aja sampai jam segini?"

"Ya Tuhan, Sayang! Kok kamu belum ti dur?" Bagus yang terke jut dengan cepat menguasai diri.

"Aku menunggumu. Su amiku masih berkel ia ran di luar sana, bagaimana aku bisa tidur?"

Bagus terlihat salah tingkah.

Glad bangun, menghampiri Bagus yang berdiri dengan kerin g*t dingin. Padahal ruangan itu memakai pendingin ruangan.

"Kamu kok b a u parfum ce wek sih, Mas?"

***

Judul : Buket Mawar untuk Selingkuhan Suamiku
Penulis : Qoi Ahmad
Apk : KBM

"Ini bukan tentang aku, tetapi tentang keluargamu, Glad! Su a mi kamu ... ber se ling kuh!"Sua miku adalah sua mi terbai...
12/01/2026

"Ini bukan tentang aku, tetapi tentang keluargamu, Glad! Su a mi kamu ... ber se ling kuh!"

Sua miku adalah sua mi terbaik. Sepertinya pendapatku itu sa lah. Buktinya, hari ini aku mendapatkan fak ta peng khi an atan itu, justru dari sahabatku sendiri. Ternyata selama ini sua miku ....

Bab. 1

"Kamu di mana, Glad?"

"Di rumah."

"Emangnya nggak kerja?"

"Hari ini aku libur, Flo. Ada apa sih? Keknya serius amat."

"Nongkrong, yuk. Aku dah lama nggak nongki nih."

"Oke, sharelok aja. Btw, aku nggak jem put kamu 'kan? Aku bawa mo bil."

"Iya, aku juga bawa mo bil. Cuuuus. Udah dulu ya, aku berangkat dulu."

"Siap, aku su sul." Gladys, wa ni ta mu da dan can tik itu bergegas membu ka lemari dan ber ga nti pa ka ian. Melirik sebentar ke arah jam dinding. Ini baru pukul dua sore, tidak apa-apalah nongkrong sebentar, toh sang sua mi tercinta p**angnya masih nanti jam lima.

Flo---sahabatnya sudah mengirim lokasi pertemuan mereka. Tanpa banyak berpikir, Glad ke lu ar dari ka mar dan menge lu ar kan mo bil me wah miliknya. Untung hari ini sang sua mi nggak meminjam mo bilnya lagi, jadi dia bisa me time. Itung-itung me ne bus ke le la han selama beberapa hari bekerja lem bur.

Sore itu tidak terlalu pa na s, mo bil Glad mem be lah jalanan ibu kota, menuju kafe langganannya bersama sahabat. Selalu saja, mereka kembali ke ka fe tersebut meskipun mengagendakan nongki di tempat lain.

"Udah lama, Flo?" tanyanya basa basi, meletakkan tasnya di kur si kosong sampingnya.

"Baru kok, rin du aja. Kita udah lama nggak me man ja kan diri sendiri. Terlalu si buk sama dunia ker ja," sahut Florentina, tersenyum lebar menyambut sahabat karibnya. Sudah seperti saudara malah. Maklum, di kota ini Glad tinggal sendiri.

Glad ter ke keh."Saat ini sudah waktunya kita kerja, membanggakan keluarga."

"Iya, sih. Mereka udah sekolahin kita tinggi-tinggi, masa kita nggak bisa mandiri. Ma lu d**g," sahut Flo.

Keduanya pun saling bertu kar cerita, sudah lama mereka tidak bertemu karena si buk dengan pekerjaan dan keluarga. Namun, Glad menangkap hal yang tak biasa dari sahabatnya itu.

"Hari ini kamu kayak beda deh, Flo. Ada apa?" Glad bukan orang sem ba rang an, ia bisa melihat kalau sang sahabat sedang tidak baik-baik saja. Flo yang biasanya ceria, sekarang malah mu rung.

"Pesen minum dulu aja, Glad. Aku butuh banyak minum supaya lancar ceritanya," gurau Flo. Tak ingin membuat sang sahabat semakin penasaran.

"Kebiasaan." Glad melambai pada pelayan ka fe, yang langsung sigap mendekat.

"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan dengan ramah.

"Aku es cappucino, kamu apa, Glad?"

"Aku jus alpukat aja. Ada 'kan, Mbak?"

"Ada, Kak. Ada lagi?"

Glad menggeleng, sementara Flo memilih memesan cookies untuk mengisi pe rut nya yang ko song.

Pelayan pun un dur diri untuk menyiapkan pesanan.

"Sekarang cerita ke aku. Ada apa? Tumben-tumbenan kamu ngajak nongki jam segini." Glad me na tap sang sahabat le kat-le kat.

"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan ke kamu, tapi ...."

"Kamu lagi be ra ntem sama sua mimu lagi?"

Flo menggeleng. Tapi so rot matanya tidak bisa menyembunyikan kege li sa han.

"Katakan saja, Flo, kamu kayak sama siapa aja sih. Kita udah kenal bertahun-tahun. Kamu tahu aku selalu siap untuk mendengarkan ke luh ke sah mu itu."

"Aku tahu ... tapi ini bukan tentangku, Glad." Flo terlihat ra gu.

"Lalu?"

"Ini tentang keluarga kamu," ucap Flo, lirih hampir tak terdengar.

Glad mengerutkan keningnya merasa bingung. "Tentang keluargaku? Memangnya kenapa dengan keluargaku, Flo?"

Flo baru mau menjawab ketika pelayan datang dan menyajikan pesanan keduanya.

"Janji nggak ma rah sama aku, ya."

"Hmm, tergantung nanti, Flo."

Flo menarik napas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya. Sementara Glad mena han na pas, entah mengapa perasaannya mulai tak nyaman.

"Su amimu sel ing kuh, Glad."

"Apa? Sua miku se ling kuh? Nggak ... nggak mungkin!" Glad meno lak pernyataan sahabatnya.

"Ya sudah kalau nggak percaya. Ini fotonya, ini alamatnya dan ini ... bukti p***e ling ku han mereka." Tanpa basa basi, Flo mengel ua rkan bukti-bukti yang dia punya. Ini yang dita k*t kannya, Glad tidak mungkin percaya begitu saja. Secara sang sua mi sudah nge-treat dia like queen banget. Huft!!

Glad mengge leng. Dia cukup berada, can tik, bekerja, dan mereka juga baru satu tahun meni kah. Belum punya an ak adalah sesuatu hal yang wajar. Lalu, atas dasar apa sang sua mi menduakannya? Tentu saja Glad tidak percaya begitu saja, menging*t sang sua mi begitu baik terhadapnya, ia juga tidak menemukan tanda-tanda kalau sua minya se ling kuh.

"Kamu jangan nga rang cerita, Flo. Aku tahu rumah tangga kamu nggak harmonis seperti rumah tanggaku, tapi ... apa harus seperti ini? Lagi p**a, Mas Bagus itu baik, selalu p**ang tepat waktu, kemana-mana juga selalu kasih kabar. Meskipun belum punya an ak, kami tetap baik-baik saja." Glad menatap kece wa sahabatnya. Ia pun tidak menggubris bukti-bukti yang diletakkan Flo di atas meja. Dia jadi berpikir bu ruk pada Flo. Menyangka Flo hanya i r i terhadapnya.

"Kamu dibo hongi, Glad. Dia nggak sebaik yang kamu kira. Dia itu mo ... kon ...do!"

"Flo, jaga ucapan kamu yah! Jangan asal fit nah. Kita emang sahabatan, tapi bukan berarti kamu bisa fit nah sua mi aku seenak ud el mu dewe!" Glad menaikkan nada bicaranya. Ia tidak terima su am inya dikatakan sebagai su ami mo-kon-do.

"Ya sudah kalau nggak percaya. Nih, nomor wa nita se ling ku han sua mi kamu. Aku punya. Kebetulan dia kerja satu kantor sama aku. Awalnya aku nggak mau bilang, tapi mendengar kamu terus bercerita tentang kebaikan sua mi kamu, aku jadi mu ak.

"Bener-bener kamu ya, Flo!" Glad terlihat ma rah, tapi jauh di lu buk hatinya mulai terge li tik akan kebenarannya.

Flo tersenyum mengacungkan dua ja ri. "Aku mau ke toilet dulu. Nervous banget mau ju jur ke kamu. Udah kayak diin tro gasi polisi," ucapnya setengah bercanda. Flo berdiri dan meninggalkan Glad. Wa nita itu ingin memberikan waktu pada Glad untuk merenung. Ju jur saja, dia sudah tidak tahan ingin mena ngis. Andai saja Glad tinggal bersama orang tuanya, mungkin tidak akan sese dih ini.

Glad terdiam. Perasaannya ber pe rang. Antara mempercayai Flo, atau tetap percaya pada Bagus. Sua minya yang sempurna. Pikirannya sedikit ra gu, tapi pada akhirnya ia mengambil foto yang tergeletak di depannya. Seketika wajahnya berubah mu ram. Dalam foto itu, sang su ami me ra ng kul mes ra seorang wa nita mu da. Tidak begitu can tik, tapi cukup menarik. Tangan Glad terkepal er at. Siapa wa nita ini? Batinnya.

Tanpa pikir panjang, Glad langsung menge mas semua yang diletakkan oleh Flo. Dari foto-foto, nomor kontak dan bukti per sel ingk uhan sua minya. Wan ita ca ntik itu menyimpannya di tas. Lalu, bangkit dari duduknya. Tanpa ra gu meletakkan sejumlah ua ng di atas meja untuk memba yar pesanannya dan Flo.

Melambai ke salah satu pelayan kafe.

"Kak, aku udah ba yar dan tipsnya ada di atas meja."

Tanpa menunggu jawaban pelayan kafe, Glad berlalu pergi. Mengenakan kaca mata hitam favoritnya.

"Jangan kamu pikir aku akan diam saja, Mas. Lihat saja. Aku akan membuat seluruh kota merayakan kesuksesanmu berse ling kuh!"

Tanpa Glad sadari, diam-diam Flo mengamatinya. Air matanya mene tes. Aku tahu kehidupanmu sempurna, Glad. Carilah aku saat kamu butuh teman untuk menghadapi ba dai besar ini.

****

Baca selengkapnya di KBM yaa

Judul : Buket Mawar Untuk Selingkuhan Suamiku

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when QoiAhmad posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share