22/12/2025
Dulu, saya punya murid bernama Taufik.
Kertas ulangan Fisikanya selalu kotor, ada cap jempol hitam, bukan tinta pulpen, tapi oli.
Kuku-kukunya hitam.
Baunya bukan parfum, tapi bensin bercampur matahari.
Setiap ulangan teori: nilai 40.
Hukum Ohm? Gagal paham.
Rangkaian seri-paralel? Selalu tertukar.
Saya sering menegur,
"Fik, cuci tangan dulu sebelum masuk kelas."
Suatu hari saya bilang,
"Kamu niat sekolah nggak sih? Kertas kotor begini gimana saya ngoreksinya?"
Dia cuma nyengir.
"Maaf, Pak. Tadi habis benerin rantai motor teman di parkiran."
Lalu datang hari besar sekolah:
Pentas seni & perpisahan kelas 9.
Panggung megah.
Sound system menggelegar.
Undangan penuh.
Tiba-tiba... PET!
Listrik padam total.
Genset sekolah batuk-batuk... lalu mati.
Hening...
Panitia panik.
Kepala sekolah pucat.
Teknisi? Cuti sakit.
Acara terancam gagal.
Malu besar.
Di tengah kepanikan itu, saya lihat Taufik berlari ke belakang panggung.
Masih pakai seragam batik.
Jas almamater dilepas.
Dia jongkok di depan genset tua.
Tanpa buku manual.
Tanpa rumus fisika.
Tangannya yang "kotor" itu bekerja cepat: membuka klep, memutar baut, menyambung kabel yang putus.
"Ini karburatornya banjir, Pak. Busi-nya kotor!" teriaknya.
Lima menit terasa seperti satu jam.
Taufik berdiri.
Keringat bercucuran.
Tangannya makin hitam oleh jelaga.
Dia tarik tuas genset sekuat tenaga. BRUM... BRUMMMM!
Lampu panggung menyala.
Sound system hidup.
Satu lapangan bergemuruh tepuk tangan.
"Hidup Taufik! Hidup Taufik!"
Hari itu, Taufik yang nilainya 40 di kertas, dapat nilai 1.000 di kehidupan nyata.
Mesin overheat.
Minggu lalu, mobil saya mogok di jalan tol. Saya bingung harus menghubungi siapa.
Asap ngebul.
Tiba-tiba sebuah double cabin gagah berhenti.
Stiker pintunya bertuliskan: "Taufik Engineering Solutions."
Seorang pria turun-rapi, tegap.
Tapi saat kami berjabat tangan...
saya mengenal tekstur tangan kasar itu.
"Pak Devi, kan?"
Dia tersenyum.
Itu Taufik.
Sekarang dia punya bengkel besar.
Kontraktor mesin. Mobil saya beres 10 menit. Gratis.
Sambil mengelap tangan, dia bilang:
"Pak, terima kasih... Bapak nggak pernah marah karena tangan saya hitam. Bapak cuma marah kalau saya nggak ngerjain PR. Tapi Bapak nggak pernah menghina hobi saya."
"Waktu Bapak bilang, Tangan kamu itu emas, saya berani buka bengkel."
Saya menangis di pinggir tol hari itu.
Bukan sedih.
Tapi bangga sampai ke ulu hati.
Kita sering lupa: kecerdasan itu bentuknya berbeda-beda.
Ada yang cerdas di ujung pena. Ada yang cerdas di ujung obeng.
Kalau hari ini ada muridmu nilainya jeblok, tapi jago benerin kipas angin.. jangan matikan semangatnya.
Siapa tahu, tangan kotor merekalah yang suatu hari menolong kita saat mogok di jalan kehidupan.
Pernah punya murid yang akademiknya biasa saja tapi skill hidupnya luar biasa?