18/01/2021
"Membayangkan negara paling fanatis dengan sepakbola, tetapi tak memiliki kompetisi sepakbola" nyatanya benar ungkapan di kampanye yang kini sedang viral .
Apa boleh dikata, Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak melanjutkan kompetisi 2020. Sementara negara tetangga sudah selesai, Indonesia lewat PSSI dan operator liga PT LIB, terus berusaha agar kompetisi digulirkan meski sinyal ijin itu tidak kunjung muncul dari pihak Kepolisian.
3 kali sudah penundaan itu, membuat klub dan ekosistem sepakbola berdarah-darah. Melepas pemain bahkan bukan solusi hingga akhirnya langkah strategis dilakukan seperti Madura United dan Persipura yang membubarkan tim agar tidak terhimpit masalah finansial yang berlarut-larut.
Awalnya Indonesia tidak sendiri, ada Singapura dan Filipina. Namun Singapore Premier League akhirnya bergulir lagi pada 17 Oktober 2020 dan Philippines Football League-pun sudah berlanjut pada 28 Oktober 2020. 2 negara lain seperti Brunei Darussalam dan Timor Leste bahkan sudah mengambil keputusan tegas. Timor Leste hanya menggelar Copa FFTL, sedang Brunei sejak awal tahun tidak menggelar kompetisi karena pandemi.
Negara seperti Kamboja, sempat terhenti pada Maret 2020, namun bergulir lagi pada Juli dengan mengubah format menjadi 1/2 kompetisi, Myanmar terhenti Maret namun bergulir lagi pada Agustus dengan semua laga dimainkan di Yangon. Laos bermain normal, namun tanpa penonton.
Malaysia sempat terhenti Maret, namun Agustus berjalan lagi dengan 1/2 kompetisi. Thailand berhenti Maret, namun September bergulir lagi dengan format normal hingga Mei 2021. Vietnam 3 kali penundaan yaitu pada Februari, Maret dan September, namun akhirnya lanjut dengan mengubah format.
Jika target dari Kemenpora di SEA Games 2021 medali emas, seperti apakah rencana persiapan timnas Indonesia jika kompetisi tidak kunjung bergulir bahkan banyak tim yang kini tidak tahu pemainnya berlatih seperti apa. Belum lagi kualitas kompetisi nanti akan seperti apa jika bergulir musim baru?