20/08/2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan saat ini sedang meluas secara drastis akibat musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena anomali iklim El Niño kuat.
Krisis ini telah memicu kabut asap pekat lintas batas negara, mengancam kesehatan warga, serta melumpuhkan aktivitas transportasi dan pendidikan.
Berdasarkan data BMKG, konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan sempat menyentuh angka 389,4 mikrogram per meter kubik (Kategori Berbahaya).
Sementara itu, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah mencapai 154 (Tidak Sehat).
Di beberapa titik seperti Landasan Ulin dan Sungai Tabuk, kabut asap sangat pekat hingga memangkas jarak pandang pengendara menjadi hanya 1 hingga 10 meter saja.
Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru mengalami penundaan (delay) akibat gangguan jarak pandang pada landasan pacu.
Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) resmi memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Karhutla setelah mencatat 189 kejadian dengan luasan lahan terbakar mencapai 859,49 hektare.
Di sisi lain, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) juga menjadi wilayah paling kritis karena sempat dikepung oleh 401 titik panas (hotspot).
Sebaran kabut asap dari Kalimantan Barat kini telah melewati perbatasan dan mencapai wilayah Sarawak, Malaysia, yang memaksa otoritas setempat menghentikan total aktivitas sekolah.
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) ikut merilis peringatan dini kepada warganya mengenai risiko penurunan kualitas udara akibat tiupan Angin Monsun Barat Daya yang membawa asap dari Sumatra dan Kalimantan.
Tim Satgas Gabungan (TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan relawan) terus melakukan pemadaman secara intensif lewat jalur darat serta pengeboman air (water bombing) menggunakan helikopter.
Kendati demikian, proses pemadaman di area lahan gambut membutuhkan waktu lama dan sangat menguras energi karena api kerap menjalar di bawah permukaan tanah.