25/09/2025
CINTA LELAKI SENJA (BAB 4)
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Pagi di Jakarta selalu riuh. Suara kendaraan mendesing dari jalan utama, bercampur dengan teriakan pedagang kaki lima yang membuka lapak di trotoar. Namun di dalam apartemen tempat Tom Petterson tinggal, dunia seolah berjalan lebih lambat.
Ruang tamunya luas, temboknya berwarna putih gading, dan nyaris setiap dindingnya dipenuhi kanvas. Ada pemandangan hutan pinus Swedia yang ia lukis dari ingatan, meski warna hijau daun yang ia tuangkan sering lebih lembut daripada kenyataan. Ada p**a panorama sawah berjenjang Bali, garis horizon yang panjang dan menenangkan. Tom selalu mengatakan, melukis alam adalah caranya berdamai dengan hidup.
Di sudut ruangan, sebuah easel berdiri, menopang kanvas setengah jadi. Tidak seperti lukisan lainnya yang penuh warna, kanvas ini masih pucat, hanya terdiri dari sketsa samar seorang gadis. Garis wajahnya lembut, belum selesai, nyaris seperti bayangan yang menunggu untuk dihidupkan. Tom tidak pernah melukis manusia. Namun sejak kemarin, sejak pertemuannya dengan Ziana di kantor Bayu, tangannya seperti refleks mengoreskan pensil, membuat sketsa. Beberapa kali nyaris menggapai kuas, agar sketsa itu hidup oleh sapuan warna cat minyak. Tapi keraguan muncul, lalu ia pun meletakkannya kuas itu kembali.
Tom berdiri mematung di hadapan sketsa itu pagi ini. Rambutnya yang mulai memutih satu-dua di pelipis tampak memperkuat karakter dan kulitnya yang masih terawat. Kemeja lengan panjang tipis berwarna abu-abu tergulung hingga siku, menyingkap lengan yang masih berotot meski usianya sudah lima puluh tahun. Tom menatap sketsa itu lama, seakan-akan ada sesuatu yang ingin meledak dari dadanya, tapi terhalang sesuatu yang tak kasat mata.
โTidak mungkinโฆโ gumamnya, lalu cepat-cepat menggeleng, seperti ingin menepis pikirannya sendiri.
Ia beranjak ke dapur, menyeduh kopi hitam. Dapur itu sederhana, dindingnya bersih dengan rak kayu yang tersusun rapi. Tom orang yang menjaga kerapian, sebuah kebiasaan yang mungkin ia warisi dari ibunya, Sofia. Setelah ibunya meninggal, kerapian menjadi semacam ritual, menata piring, melipat kain, menyapu debu. Semua dilakukan seakan dengan keteraturan ia bisa mengendalikan kekacauan batin yang kerap datang tiba-tiba.
Sambil menyesap kopi, ia duduk di kursi dekat jendela besar yang menghadap ke jalan. Dari sana ia bisa melihat kota yang sibuk, lampu lalu lintas yang terus berganti. Orang-orang bergegas ke kantor, sementara dirinya di sini, seorang pekerja lepas, di bidang copy writing dan melukis untuk menikmati hidup.
Tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Kopinya terasa hambar. Pikiran lelaki itu melayang pada senyum Ziana kemarin,.Tatapan matanya yang optimis, caranya menyapa yang sopan namun tidak canggung.
Seharusnya Tom sudah terbiasa dengan perempuan muda. Di masa lalu, ia sering bertemu banyak orang saat bekerja. Tapi entah mengapa, Ziana menghadirkan kehangatan yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak semalam.
โIni gila,โ gumamnya lagi. โDia separuh umurku. Ini hanya pikiran sesaat.โ
Namun bayangan wajah Ziana kembali muncul, menyelip di antara lukisan-lukisannya.
Tom mencoba melarikan diri ke kanvas lain. Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke cat hijau, lalu menambahkan detail pada lukisan sawah. Gerakannya terlatih, presisi, namun pikirannya terus terganggu. Setiap kali ia mencoba menyelesaikan satu sudut, tangannya berbelok ke kanvas yang belum selesai. Sketsa samar itu.
Akhirnya ia menyerah. Tom meletakkan kuas, mendekati sketsa, dan menatapnya lama. Ada garis mata yang samar, lekukan p**i yang hampir selesai, dan dagu yang belum ditentukan. Ia tahu siapa yang mengisi bayangan itu, meski enggan mengakuinya.
Perlahan, ia meraih pensil, menambahkan satu garis halus pada sisi wajah. Hanya itu, lalu berhenti. Tangannya bergetar.
Kenangan pahit tiba-tiba menyerbu. Ingatan tentang ayahnya, Petter Willson, yang selalu memaki ibunya setelah melahirkan Tom. Suara bentakan ayahnya terdengar seakan nyata di telinga, โKau sudah rusak! Tidak cantik lagi!โ
Lalu ibunya menangis, tubuhnya ringkih, wajahnya pucat. Dan Tom, bocah sepuluh tahun kala itu, hanya bisa bersembunyi di balik pintu kamar, menggigil ketakutan.
Dada Tom sesak mengingat semua itu. Tangannya gemetar semakin hebat. Kuas hampir terlepas. Ia buru-buru meletakkannya, menarik napas panjang, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.
โBukan salahmu,โ bisiknya pada dirinya sendiri, sebuah mantra yang ia ulang bertahun-tahun, tapi tak pernah benar-benar ampuh.
Tom tidak tahu kenapa ayahnya sekejam itu. Namun selintas ia dulu pernah mendengar pamannya, Anders berbicara dengan istrinya, Emilia. โPetter itu mengidap kelainan jiwa, kata psikolog, itu Peterpan Syndrom. Takut bertanggung jawab jika punya anak. Tapi kemungkinan ada paranoid juga yang membuatnya selalu berpikir Sofia akan berubah buruk jika melahirkan. Itu seperti gabungan, antara takut punya tanggung jawab dan juga paranoid akut.โ
Tom bangkit dari kursi, berjalan ke balkon. Dari sana, angin kota menerpa wajahnya. Suara klakson bersahutan, tapi justru membuatnya sadar ia tidak lagi berada di Swedia. Ini Jakarta. Ini hidup barunya. Dan mungkin, hanya mungkin, ini awal dari sesuatu yang berbeda.
Di sisi lain kota, Ziana sudah duduk di meja kerjanya. Kantor Bayu berada di lantai sepuluh gedung perkantoran, modern dan rapi. Ziana mengenakan kerudung biru pastel yang dipadukan dengan blouse putih dan rok panjang denim. Gayanya sederhana tapi modis, menonjolkan sisi periangnya tanpa kehilangan kesopanan.
Rekan-rekan kerja menyapanya ramah. โPagi, Zia!โ
Ia membalas dengan senyum cerah. Meski jauh di dalam dirinya ada lubang kosong, ketiadaan figur ayah yang seharusnya hadir sejak lama. Namun ia tak pernah membiarkan hal itu merampas keceriaannya. Ziana memilih bangkit, bukan tenggelam.
Pagi ini ia tak bisa menahan diri untuk bercerita pada sahabat sekantornya, Rina.
โKemarin aku dikenalin sama klien baru Bayu. Orang Swedia, sudah agak berumur, tapiโฆ baik sekali,โ katanya sambil menunduk, menyusun berkas.
โHmm,โ Rina mengangkat alis. โUdah ketahuan, ya? Kamu lagi senyum-senyum sendiri.โ
Ziana tertawa kecil, memukul pelan lengan temannya. โBukan begitu. Dia kelihatan ramah aja. Matanya teduh. Ngobrolnya juga enak, sopan banget.โ
Rina menatapnya penuh selidik, lalu berbisik, โJangan bilang kamu tertarik sama om-om bule itu.โ
Ziana hanya tertawa lagi, tidak menjawab. Tapi jauh di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang bahkan ia sendiri tidak bisa jelaskan.
@@@
Sore mulai turun. Matahari condong ke barat, memantulkan cahaya oranye di dinding apartemen Tom. Ia baru saja selesai menulis artikel pesanan klien luar negeri, tapi pikirannya tetap tidak tenang. Sesekali ia berjalan kembali ke kanvas, menatap sketsa itu, lalu menjauh.
Sebelum ia sempat menuang kopi kedua, ponselnya berdering. Nama Bayu muncul di layar.
โTom, besok ada acara kecil di kantor. Semacam gathering sama tim. Aku pengin kamu ikut,โ suara Bayu terdengar riang. โBiar makin akrab sama orang-orang. Ziana juga nanti hadir.โ
Tom terdiam sejenak, jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia menjawab, โBaiklah, aku akan datang.โ
Setelah telepon berakhir, ia menutup wajah dengan kedua tangan. Di ruangan yang dipenuhi lukisan-lukisan alam, hanya satu kanvas yang berbeda, sketsa samar seorang gadis bernama Ziana.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Tom merasa dirinya sedang melangkah ke arah yang sama sekali baru. Besok ia akan bertemu Ziana lagi, bukan sekadar sebagai rekan kerja freelance Bayu, melainkan sebagai sosok yang mulai mengisi kanvas kosong di hatinya. (Bersambung)
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/3bf262a7-306f-485c-98bc-ad8ffe14c4ae?af=28161e82-f9c4-ad64-919a-c452d486aa09
*Tinggalkan komen ya jika kamu s**a.