Warning UNTUK 18 Ke-Atas

Warning UNTUK 18 Ke-Atas STORYTELLERS

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 9Jantungku rasanya berdegup lebih kencang hanya mendengar...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 9
Jantungku rasanya berdegup lebih kencang hanya mendengar Fabian mengatakan hal itu. Bukan cara Fabian mengucapkannya namun bagian kami harus berciuman disini yang membuatku gugup. Ini akan jadi pengalaman pertamaku berciuman di depan umum. Aku yakin Fabian tahu ketakutanku karena setelahnya, aku melihatnya mengerutkan keningnya.
“Ada apa, Dewa?”
“You know that this will be my first time…” Aku menelan ludahku. “…berciuman di depan umum.”
“Hanya ciuman singkat, Dewa.”
Aku memandang Fabian, berusaha untuk menyerap keyakinannya bahwa apa yang akan kami lakukan bukan sesuatu yang memiliki konsekuensi besar. Genggaman tangan Fabian semakin erat dan akhirnya, aku mengangguk karena tahu bahwa Fabian ada disini.
Kami segera merendahkan tubuh kami untuk mencari celah yang kosong dan begitu kami menemukannya, tanganku dan Fabian sama-sama memegang gembok, aku dengan tangan kiriku dan Fabian dengan tangan kanannya sementara tangan kami yang lain saling berpegangan. Ketika akhirnya kami mendengar suara “klik” yang berarti bahwa gembok itu sudah terkunci disana, Fabian mendekatkan wajahnya kepadaku dan kami berciuman. Bukan satu namun tiga ciuman singkat.
“It’s time to throw the key.”
Fabian mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit dan dia pun langsung menggandeng tanganku untuk menuju ke pagar pembatas yang ada di sisi lain jembatan dengan kunci di tangan kanannya.
“Kita harus melemparnya bersama-sama.”
Fabian mengangkat lengan kanannya melewati kepalanya dan akupun melakukan hal yang sama dengan lengan kiriku hingga kedua lengan kami bertemu di tengah. Kami saling berpandangan dengan senyum lebar terpasang di wajah kami sebelum Fabian menghitung mundur.
Next In Comment

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012--Bagian 8“Kamu mau naruh gembok juga disini?"Fabian hanya tersenyu...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
Bagian 8
“Kamu mau naruh gembok juga disini?"
Fabian hanya tersenyum, seolah itu menjawab pertanyaanku. “Lihat lebih detail, Dewa.” Aku menuruti kata-kata Fabian dan jantungku rasanya berhenti ketika mengetahui bahwa bukan hanya nama Fabian yang terukir disana, namun juga namaku. Apa maksudnya ini? Aku memandang Fabian, kembali menuntut jawaban atas pertanyaanku.
“Kenapa ada namaku disitu?”
“Orang menyebut ini Padlocks Of Love. Jika seseorang mengukir namanya dan pasangannya di sebuah gembok lalu meletakan gemboknya disini, mereka percaya bahwa cinta mereka akan abadi karena kunci dari gembok ini mereka lemparkan ke sungai Rhein. Baru sekitar tiga tahun gembok-gembok ini ada disini namun jumlahnya sudah mencapai sekitar 40.000.”
Mulutku mendadak jadi bisu mendengar penjelasan Fabian. Aku sama sekali tidak menduga bahwa gembok-gembok ini dipasang disini untuk sebuah tujuan. Mungkin memang terdengar tidak masuk akal bahwa orang yang meletakkan gembok disini cintanya akan abadi, tapi, adakah mitos yang masuk akal? Siapa yang menyangka bahwa di dekat rel kereta api ada hal semacam ini?
“Kamu…?”
“It maybe just a myth, Dewa. Tapi, aku ingin sekali meletakkan satu gembok disini, dengan nama kamu dan namaku, berharap bahwa cinta kita akan abadi, berapa tahunpun keabadian itu akan jadi milik kita.”
Susah rasanya untuk tidak merasa terharu mendengar seseorang mengatakan hal seperti itu. Aku tahu Fabian bukan orang yang romantis namun sosok yang aku temui dua hari lalu ini sepertinya telah berubah. Bagi sebagian besar orang, mungkin apa yang dikatakannya terdengar terlalu picisan namun bagiku, terdengar begitu tulus dan sungguh-sungguh datang dari hatinya karena aku tahu Fabian bukan tipe pria yang s**a mengumbar rayuan.
“Apa yang harus kita lakukan?”
Hanya itu yang mampu aku tanyakan kepada Fabian karena aku kehilangan semua kosakata yang tersimpan di memoriku untuk mengatakan apapun selain pertanyaan itu.
Fabian tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya ke arahku. “We have to put the padlocks while we’re exchanged a kiss then we have to throw the key into the river. Are you ready?”
Next PART 9

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 7“Welcome to Hohenzollernbrücke!” kata Fabian ketika kami...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 7
“Welcome to Hohenzollernbrücke!” kata Fabian ketika kami sampai di depan sebuah patung seorang pria yang sedang mengendarai kuda.
“Hohen…apa?”
Fabian tertawa. “Aku s**a ekspresi kamu kalau lagi bingung gitu. Hohenzollernbrücke kalau orang Jerman bilang tapi nama Inggrisnya adalah Hohenzollern Bridge. One of the most -if not- the most famous bridge in Köln. Yuk!”
Dengan semangat, Fabian melangkahkan kakinya lebih cepat seolah dia tidak peduli bahwa aku tidak mungkin bisa menyamai langkahnya. Namun, ketika kami sampai di awal jembatan, aku membelalakkan mataku. Terpana. Bukan karena kereta api yang melintas di sebelah kiriku, bukan juga karena pemandangan sungai Rhein di sebelah kananku namun karena aku melihat begitu banyak gembok yang tergantung di sepanjang sisi kiri jembatan, yang membatasi jalur pejalan kaki dan kereta api.
“Fabian, kenapa banyak sekali gembok disini?”
Fabian berdiri disampingku dan mengamati satu demi satu gembok yang terdiri dari berbagai macam warna dan bentuk dengan nama-nama yang terukir disana. Aku menyentuh satu persatu namun tetap tidak mengerti kenapa gembok-gembok itu ada disini.
“Bagus kan?”
“Unik,” jawabku singkat.
“Aku selalu kesini setelah tahu bahwa Nara menyembunyikan fakta tentang kamu. Berharap suatu hari, aku akan bisa kesini sama kamu. I guess, my wish has been granted.”
Perlahan, kami berjalan menyusuri sepanjang Hohenzollernbrücke tanpa sekalipun mengalihkan pandangan kami dari ribuan bahkan mungkin puluhan ribu gembok yang terpasang disana, membaca berbagai nama yang terukir di gembok-gembok itu, yang warnanya bahkan mungkin lebih banyak daripada koleksi bajuku. Aku masih berusaha untuk mencerna apa maksud gembok-gembok ini ada disini ketika Fabian mengulurkan sebuah gembok kearahku. Pasti aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga tidak mneyadari bahwa Fabian mengeluarkan gembok itu dari sakunya.
Next PART 8

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 6Aku mengerutkan keningku, berusaha untuk mencerna ucapan...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 6
Aku mengerutkan keningku, berusaha untuk mencerna ucapan Fabian namun aku sama sekali tidak bisa mencernanya. Baru dua hari aku di Köln dan itupun belum banyak tempat yang aku kunjungi karena Fabian masih harus ke kantor. Dia sengaja mengambil cutunya tiga hari sebelum kepulanganku ke Indonesia agar dia bisa menghabiskan lebih banyak waktunya denganku.
Sejak kami meninggalkan katedral, aku tidak pernah berhenti mengamati orang-orang yang melewati kami. Tinggal di negara yang memandang homoseksualitas masih merupakan hal yang tabu, membuatku kaget sekaligus lega bahwa disini, apa yang aku lakukan dengan Fabian, meskipun hanya sekedar bergandengan tangan, bukan merupakan pemandangan yang aneh. Tidak ada seorangpun yang memberikan pandangan menghina ataupun bertanya-tanya ketika melihat kami dan aku tidak bisa menahan senyumku menyadari hal itu.
“Ada apa? Kok senyum-senyum sendiri?”
“It’s still surprises me how people react to homosexuality here. Sangat bertolak belakang dengan Indonesia.”
“Well, I like it in Indonesia.”
Aku memandang Fabian yang tersenyum melihat reaksiku yang kaget dengan apa yang diucapkannya.
“Maksud kamu apa?”
“Kalo di Indonesia, paling nggak kita harus sampai rumah dulu sebelum aku bisa nyium kamu.”
Fabian jelas tahu bagaimana membuat wajahku memerah karena apa yang baru diucapkannya jelas-jelas membuatku tersipu. Apa yang aku lakukan? Meninju lengannya hingga dia reflek melepaskan genggaman tangannya.
“That’s not funny, Fabian.”
Fabian tertawa melihat reaksiku namun kemudian, dia kembali meraih tanganku untuk kembali digenggamnya.
Next PART 7

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 5Fabian mengangguk. “Aku bahkan udah bilang ke mereka jau...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 5
Fabian mengangguk. “Aku bahkan udah bilang ke mereka jauh sebelum kamu sampai disini dan mereka sangat nggak sabar buat ketemu kamu terutama setelah mereka tahu bahwa kamu yang bikin Origami Angsa itu.”
“Pasti mereka pikir aku kurang kerjaan bikin kayak gituan.”
“Justru mereka malah pengen belajar, hahahahaha. I can’t wait to take you there this weekend, Dewa. I know they will like you.”
Ini seperti ketemu calon mertua judulnya. Yah, aku memang tidak tahu akan seperti hubunganku dengan Fabian di masa depan karena saat ini, kami hanya bisa berusaha untuk menjalani hubungan ini sebaik mungkin. Jika memang nantinya kami hidup bersama sebagai seorang pasangan, keluarga Fabian akan jadi keluargaku juga meskipun hal itu tidak berlaku untuk keluargaku. Bahkan, mereka tidak tahu kalau kepergianku ke Jerman untuk bertemu dengan Fabian, bukan tugas dari kantor seperti yang aku bilang sebelum aku meninggalkan Indonesia.
“Kamu pasti bangga dengan keluarga yang nerima kamu apa adanya.”
Langkah kami terhenti dan Fabian menatapku, tahu bahwa masalah ini adalah salah satu topik sensitif untukku. Sampai kapanpun, keluargaku tidak akan pernah bisa mengerti bahwa aku sama sekali tidak akan pernah bisa membuat diriku tertarik dengan perempuan. Dengan lembut, Fabian menyentuh pipiku lalu membelainya lembut.
“Kamu tahu kan kalau aku bakal tetep disamping kamu apapun yang terjadi? Kita ngejalanin hubungan ini berdua dan tahu konsekuensi apa saja yang akan kita hadapi. You won’t face it alone, Dewa. You will face it with me so pelase don’t be afraid of anything, okay?”
Aku mengangguk. “I won’t.”
“That’s my Dewa.”
“Kita bukan mau ke stasiun kan?” Aku mengajukan pertanyaan itu karena aku melihat rel kereta api yang melintas tidak jauh dari tempat kami berjalan sedangkan sungai Rhein tampak jelas di hadapan kami.
“Well, bisa dbilang kita akan berada di sisi lain dari rel kereta api.”
Next PART 6

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 4Ada ketidak relaan dalam nada suaranya, seperti dia tida...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 4
Ada ketidak relaan dalam nada suaranya, seperti dia tidak ingin menyebutkan berapa banyka waktu yang aku miliki bersamanya, namun terpaksa diucapkannya. Akan sangat terasa aneh bagi kami berdua jika waktu itu datang karena kebersamaan serta keintiman yang akan kami miliki selama tiga minggu akan digantikan dengan ketidakhadiranku ataupun Fabian ketika aku kembali ke Indonesia. Aku hanya berharap kami mampu bertahan dengan semua itu sebelum kami memutuskan waktu yang tepat untuk kembali bersama.
“Ya,” jawabku singkat.
“I’m happy, Dewa.”
“Karena?”
“Because you’re here now, with me and we have something to look forward to. It means that my life is heading to a new direction,” ucapnya sambil kembali tersenyum.
“Kita pulang kan abis ini?”
“Pulang?” Fabian seperti kaget ketika mendengar kalimat yang aku ucapkan. “Masih ada satu tempat lagi yang mau aku tunjukkin sama kamu.”
“Jauh?”
“No, we can walk. Kamu mau pergi sekarang?”
Aku megangkat kedua bahuku. “Asal kita makan malam tepat waktu aku sih nggak masalah, masalah perut ini memang susah diajak kompromi.”
Fabian tertawa hingga beberapa orang menoleh ke arah kami hingga kemudian Fabian merasa malu yang membuatku menahan tawa melihat ekspresi malunya. Fabian lalu bangkit dari tangga dan mengulurkan tangannya kepadaku.
“Kamu sering kesini?”
“Nggak juga. Hanya kalau aku ngerasa suntuk dan terlalu banyak hal yang harus aku kerjakan. Mengamati orang-orang serta jalan ke tempat yang akan kita tuju jadi satu-satunya yang bisa buat aku semangat lagi.”
“Memang kita mau kemana sih?”
“Kamu ini nggak sabaran ya?” balas Fabian sambil menyentil hidungku.
“Kamu bakal ngajak aku ketemu keluargamu?”
Next PART 5

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 3Munafik rasanya jika aku tidak pernah membayangkan hidup...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 3
Munafik rasanya jika aku tidak pernah membayangkan hidup bersama Fabian karena sejak aku mengenalnya, hanya bayangan itu yang melintas di pikiranku. Saat itu, aku berpikir bahwa apa yang aku inginkan bukan hanya terdengar terlalu berlebihan namun juga mustahil untuk jadi kenyataan. Namun, ketika semuanya menjadi semakin jelas dan sekarang aku kembali bersama Fabian, tanpa ada kepura-puraan lagi, aku semakin merasa yakin bahwa apa yang aku bayangkan saat itu mungkin saja akan menjadi kenyataan. Namun, aku tidak menyangka akan mendengar Fabian mengucapkan itu sekarang.
“Ada terlalu banyak hal yang harus kita bahas jika menyangkut hal itu Fabian.”
Fabian mengangguk. “Aku tahu. Tapi, apakah kamu mau? Mungkin bukan sekarang tapi nanti, kapanpun nanti itu datang.”
“Kita sudah saling mengenal selama tiga tahun tapi hanya sebagai teman. Apa yang kita jalani setelah kematian Nara sama sekali berbeda.” Aku menelan ludahku sebelum meremas tangan Fabian. “But, yes, I want it.”
Tidak ada keraguan sedikitpun saat aku mengatakan itu karena aku memang ingin bersama Fabian. Dimanapun dan kapanpun saat itu datang. Aku tidak pernah bisa melupakan perasaanku terhadap Fabian sejak kami berpisah dan menjalani tiga tahun kehidupan kami dalam asumsi dan ketidakpastian. Rasanya tidak terlalu berlebihan jika aku hanya ingin bersamanya setelah melalui semua itu.
“Berarti kita sama-sama punya tujuan setelah….tiga minggu.”
Ada ketidak relaan dalam nada suaranya, seperti dia tidak ingin menyebutkan berapa banyka waktu yang aku miliki bersamanya, namun terpaksa diucapkannya. Akan sangat terasa aneh bagi kami berdua jika waktu itu datang karena kebersamaan serta keintiman yang akan kami miliki selama tiga minggu akan digantikan dengan ketidakhadiranku ataupun Fabian ketika aku kembali ke Indonesia. Aku hanya berharap kami mampu bertahan dengan semua itu sebelum kami memutuskan waktu yang tepat untuk kembali bersama.
Next PART 4

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 2“Is there something wrong?” tanyaku ketika dia tidak ber...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 2
“Is there something wrong?” tanyaku ketika dia tidak beranjak dari pandanganku.
“I still feel like I’m dreaming, Dewa.”
Aku menganggukkan kepalaku pelan. “I feel the same way, Fabian. But, we both know it’s not a dream.”
Fabian tersenyum. “Let’s go now before it’s getting dark,” ucap Fabian sambil melepaskan tubuhku dari pelukannya dan berjalan melintasi ruangan untuk mengambil kunci mobilnya.
“Sebenernya kita mau kemana sih?”
“You’ll see.”
Akupun mengikuti langkah Fabian dan pasrah saja kemana dia akan membawaku.
+++
“Kamu s**a Köln?”
“From what I’ve seen so far, I like this city.” jawabku sambil mengamati lalu lalang orang-orang yang melintasi aku dan Fabian yang sedang duduk di tangga di depan Cologne Cathedral. “Kenapa?” Fabian hanya tersenyum, tangannya sejak tadi tidak lepas dari tanganku. Berpegangan tangan di tempat seramai ini awalnya membuatku tidak nyaman namun begitu aku melihat ada beberapa pasangan seperti kami melakukan hal yang sama, aku malah merasa bangga karena aku bersama dengan Fabian dan perasaan tidak nyaman itu perlahan hilang.
“In case you wanna live here,” jawabnya tanpa mengalihkan wajahnya untuk memandangku.
“Aku kira kamu s**a Bali.”
“Tentu saja aku s**a Bali! Hanya saja…” Fabian tidak meneruskan kalimatnya, dia malah mengedarkan pandangannya seolah ingin aku melanjutkan sendiri kalimat yang sengaja tidak dilanjutkannya.
Aku memandang Fabian, menunggunya melanjutkan kalimatnya namun sepertinya dia tidak berniat melakukannya.
“Hanya saja apa, Fabian?”
“Berapa lama kita akan bertahan, Dewa?”
Aku mengerutkan keningku. “Bertahan apa, Fabian? Ngomong itu yang jelas, jangan dipotong-potong seperti itu. Aku kan nggak bisa baca pikiranmu jadi kamu musti ngasih tahu aku.”
Fabian memandangku. “Hubungan kita, Dewa. Aku tahu, mungkin terlalu cepat, tapi aku ingin sekali kita hidup bersama. As a couple.”
Next PART 3

.HOHENZOLLERNBRÜCKEBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 1 “Udah siap?”Aku memalingkan wajahku dan melihat Fabian ...
21/01/2021

.
HOHENZOLLERNBRÜCKE
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 1 “Udah siap?”
Aku memalingkan wajahku dan melihat Fabian sudah mengganti t-shirtnya dengan kemeja merah marun yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Bayangan akan Fabian tiga tahun lalu masih sering terlintas di pikiranku ketika yang dikenakannya hanyalah celana pendek, kaos tanpa lengan, paling rapi, aku melihatnya mengenakan polo t-shirt. Tiga tahun telah berlalu sejak terakhir kali kami bertemu, sosok Fabian yang sekarang masih baru untukku. Bukan hanya dari cara dia berpakaian, namun juga cara dia berbicara semakin menunjukkan kematangan usianya. Mungkin karena kami baru menghabiskan dua malam dari dua puluh empat hari yang akan aku habiskan bersamanya.
“Memang kita mau kemana?” tanyaku yang masih berdiri di dekat jendela apartemennya, memandang langit sore kota Köln yang membiusku sejak beberapa menit yang lalu.
Fabian menjawab pertanyaanku dengan menghampiriku lalu menyusupkan kedua lengannya untuk memelukku. Aku masih merasa ini seperti mimpi, merasakan tubuh Fabian begitu dekat denganku setelah selama tiga tahun aku hanya mampu membayangkan bagaimana rasanya merasakan lengannya memelukku.
“Ada satu tempat yang pengen aku tunjukkin sama kamu,” ucapnya lirih sambil mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. Punya tinggi lebih dari 190 cm membuat aku seperti kurcaci baginya hingga dia yang harus menundukkan wajahnya setiap kali kami berciuman. Satu hal yang dikeluhkannya semalam –tentu saja dia cuma bercanda- namun tidak pernah bosan dilakukannya.
“Okay, shall we go now?”
“One kiss?”
Aku hanya tersenyum sebelum Fabian menempelkan bibirnya ke bibirku dan entah sudah berapa kali kami melakukannya, aku selalu merasa seperti kami baru pertama kali berciuman. Fabian menatapku dan aku masih saja merasa gugup mengetahui bahwa tatapan itu hanya ditujukan untukku.
Next PART 2

.YANG TAK TERKATAKANBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 12 Aku kemudian mencium batu nisan Tristan, satu-satunya...
22/05/2019

.
YANG TAK TERKATAKAN
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 12
Aku kemudian mencium batu nisan Tristan, satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa begitu dekat dengannya dan berusaha untuk menahan air mataku agar tidak menetes diatas pusaranya. Namun, air mataku terlalu cepat untuk aku tahan hingga kemudian aku menegakkan tubuhku kembali dan menyeka air mataku.
“Gue sayang elo Tristan, gue cuma pengen elo tahu itu. Mustinya gue bilang malam itu juga kalau gue sayang ama elo biar elo tahu. Gue emang goblok ya? Gue pulang dulu, bulan depan gue balik lagi kesini. Doain gue supaya bisa dipindah ke Surabaya ya? Biar gue bisa lebih sering nengokin elo. Tristan, elo baik-baik ya disana? Jangan sok gaya atau narsis disana, elo nggak ada apa-apanya dibanding James Dean. Gue pasti bakalpengen balik lagi kesini begitu gue nyampe Bali.”
Aku terdiam beberapa saat sambil membiarkan mataku menatap tempat peristirahatan Tristan tanpa henti sebelum akhirnya aku membalikkan tubuhku untuk meninggalkan area pemakaman. Sekuntum bunga kamboja tiba-tiba jatuh tepat di saku kemeja yang aku kenakan hingga terlihat seperti seseorang sengaja menaruhnya disana. Aku menghentikan langkahku lalu meraih bunga kamboja itu dan menciumnya.
“Nggak usah khawatir gitu, Tristan. Gue bakal kesini lagi kok.”
Aku tahu, Tristan bersamaku saat ini maka aku pun memandang sekelilingku lalu tersenyum sebelum kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti tadi.
(END)

.YANG TAK TERKATAKANBY : AbiyasaTahun Rilis : May 2012---Bagian 11Mike, teman semaskapai Tristan, kemudian memberiku seb...
22/05/2019

.
YANG TAK TERKATAKAN
BY : Abiyasa
Tahun Rilis : May 2012
-
-
-
Bagian 11
Mike, teman semaskapai Tristan, kemudian memberiku sebuah notes, yang selalu dibawanya kemanapun dia terbang, dan hanya dua foto yangtersimpan disana. Fotonya bersama Papa dan Mamanya, serta foto kami berdua ketika kami menghabiskan dua minggu di New Zealand. Mike bilang bahwa sudah sejak lama dia ingin bilang kepadaku tentang orientasi seksualnya namun dia terlalu takut aku akan berhenti jadi temannya jika aku tahu. Setiap detik yang aku lewati bersama Tristan malam itu kembali muncul seperti slide show yang diputar di hadapanku. Setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya malam itu ternyata sebuah pertanda, bahwa dia tidak akan mampu lagi menghabiskan waktunya denganku. Aku benar-benar seperti berada di dua dunia, dunia ketika Tristan masih hidup dan kematiannya hanyalah seperti mimpi dan dunia yang mengingatkanku bahwa Tristan memang sudah berada di dunia lain.
Dua bulan sudah berlalu sejak kematian Tristan namun, aku masih belum merasakan kebosanan untuk mengunjunginya setiap sebulan sekali. Di pemakaman inilah, aku selalu bertemu dengannya, berbicara dengannya, menggodanya bahkan menangis di hadapannya. Aku tahu Tristan bisa melihatku hingga aku tidak memiliki keraguan sedikitpun bahwa dia mengabaikanku. Aku hanya tidak mampu mendegar suaranya, melihat senyumnya ataupun ekspresi yang selalu ditunjukkannya padaku setiap kali aku menggodanya. Semua itu hanya tersimpan di memoriku. Disanalah aku menyimpan semua tentang Tristan.
“Gue bakal tetep dateng kesini meskipun gue tahu, elo bakal nggak s**a. Kali ini, elo nggak bisa larang gue, Tristan. Kalaupun sampe ada yang liat dan pikir gue pantes dimasukin RSJ, gue tahu elo bakal bantuin gue. Elo lebih s**a liat gue disini daripada di RSJ kan?” Aku tersenyum tipis sebelum membungkukkan badanku agar mampu menyentuh batu nisannya. “Elo nggak bosen kan liat gue? Lima tahun aja elo nggak pernah protes kan? Gue yakin elo pasti seneng gue temenin.”
Next PART 12 - ENDING

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Warning UNTUK 18 Ke-Atas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category