12/04/2014
Perkembangan Islam di Jepang Meningkat pesat
Islam benar-benar akan meliputi ujung timur dan
barat dunia, termasuk ke negeri Jepang. Di
Tokyo Camii, atau dikenal juga Masjid Tokyo,
Imam Ensari Yenturk membacakan ayat-ayat Al-
Quran mengiringi kedamaian, para jamaah
termasuk seorang pria Jepang setengah baya,
bersujud menghadap ka'bah. Tokyo Camiee &
Turkish Cultural Center atau dikenal dengan
Masjid Tokyo yang terletak di Shibuya Ward
dengan arsitek Utsmani dan kaligrafi Arab yang
indah ini merupakan salah satu masjid bagi
komunitas Muslim di Jepang.
Sekalipun jumlah Muslim di Jepang masih kecil,
namun berkembang pesat. Diperkirakan
jumlahnya sekitar 110.000 hingga 120.000,
termasuk sekitar 10.000 Muslim asli Jepang.
Masyarakat Muslim di Jepang, beberapa waktu
lalu tersinggung dengan stigma negatif, ketika
polisi menuduh warga Muslim yang teridentifikasi
sebagai "teroris".
Meskipun kesulitan yang dihadapi oleh kaum
Muslim di Jepang, termasuk citra negatif atas
Islam dan Muslim terutama setelah 9/11,
ditambah dengan sulitnya menemukan makanan
halal, jumlah masjid yang masih sedikit, namun
jumlah umat Islam di negeri matahari terbit itu
meningkat dari hari ke hari.
"Terorisme adalah aktivitas yang tidak diterima
Islam," kata Yenturk yang juga direktur Tokyo
Camii, sebuah lembaga yang berfungsi sebagai
pusat budaya Islam.
"Saya sendiri dan banyak umat Islam di Jepang
mencintai negeri ini dan menganggapnya sebagai
rumah kami. Mengapa kami menghancurkan
rumah kami sendiri?" tanya Ihsan Bhai, anggot
pendiri Islamic Circle of Japan.
Meskipun Islam dianggap agama terbesar kedua
setelah Kristen, jumlah Muslim Jepang masih
kecil dibandingkan dengan di AS, di mana
2.454.000 muslim hidup atau di Inggris di mana
sekitar 1.647.000 Muslim, menurut laporan Pew
Research center pada tahun 2009.
Menurut penelitian yang dilakukan Hirofumi
Tanada, profesor ilmu kemanusiaan di Universitas
Waseda Tokyo mengatakan, ada 58 masjid di
Jepang pada April 2009, dau lagi baru didirikan
baru-baru ini, hingga totalnya 60 masjid.
Selain masjid, menurutnya, terdapat lebih dari
100 mushola atau tempat-tempat sholat
sementara yang tersebar di seluruh negeri.
Tanada menjelaskan, Islam masuk ke Jepang
sekitar awal tahun 1920-an, ketika ratusan
Muslim Turki beremigrasi dari Rusia setelah
Revolusi Rusia 1917.
Pada akhir 1930-an ada sekitar 1.000 Muslim
dari berabagai asal-usul, kata Tanada.
Gelombang berikutnya datang pada 1980-an,
ketika gelombang pekerja migran dari Iran,
Pakistan dan Bangladesh datang, secara
signifikan meningkatkan populasi Muslim.
"Saya percaya perhatian masyarakat akan Islam
terus meningkat," kata Tanada.
Tanada yang telah melakukan penelitian
terhadap banyak komunitas Muslim di Jepang,
menambahkan, ada beberapa faktor membantu
peningkatan jumlah populasi Muslim di Jepang,
termasuk pertukaran mahasiswa di Jepang
dengan universitas lain di beberapa negeri
Muslim, disamping migrasi para pemilik usaha dan
pekerja Muslim yang telah menyebarkan Islam.
"Ada banyak orang Islam yang telah menikah dan
menetap dengan keluarga mereka di Jepang, dan
mereka ingin memperdalam pertukaran dengan
komunitas mereka. Dan mereka ingin lebih
banyak lagi orang memahami agamanya," tandas
Tanada.
Lambat laun dunia akan menyaksikan Islam
benar-benar akan menyinari seluruh pelosok
negeri, insya Allah di bawah naungan Khilafah.
Paling tidak hal ini juga diamini oleh salah
seorang intelektual Muslim Jepang yang sudah
tak asing lagi di Indonesia, yakni Hasan Ko
Nakata.
Di depan seratus ribu peserta Konferensi
Khilafah pada 2007 lalu ia berbicara tentang
Islam dan Khilafah dalam bahasa Jepang. Ko
Nakata dengan tegas menyatakan "Saatnya
Khilafah memimpin dunia!". Semua ini semakin
menambahkan keyakinan bahwa Islam akan
meliputi seluruh dunia, termasuk Jepang, insya
Allah di bawah naungan Khilafah.