04/06/2026
Iklim makin panas, standar lari makin tinggi, apa kabar nasib pelari kalcer?
Lari menjadi salah satu olahraga yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang memilih lari karena sederhana, tidak membutuhkan fasilitas khusus, dan bisa dilakukan hampir di mana saja.
Namun, aktivitas yang terlihat sederhana ini kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kenaikan suhu global dan memburuknya kualitas udara membuat pengalaman berlari di luar ruangan menjadi lebih berat sekaligus kurang aman.
Laporan Strava menunjukkan 75% pelari mengaku panas ekstrem memengaruhi rencana olahraga mereka. Sementara itu, 27% pelari terdampak kualitas udara yang buruk. Risiko yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman saat berlari. Paparan panas berlebih dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, hingga gangguan ginjal akut.
Sementara itu, polusi udara bisa mengurangi kemampuan pernapasan, yang dalam jangka panjang dapat memicu iritasi dan peradangan paru.
Di tengah krisis iklim, muncul berbagai teknologi yang seolah menawarkan solusi bagi para pelari. Mulai dari aplikasi latihan, pelacak GPS, program berbasis AI, hingga berbagai perangkat digital pendukung berlari.
Teknologi berbasis data terutama AI sangat boros energi dan air. Pusat data AI juga meningkatkan emisi karbon dan limbah elektronik.
Di sisi lain, masifnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer membuat kita silau dan lebih konsumtif terhadap kebutuhan tracking data. Entah untuk kebutuhan personal, maupun pamer pencapaian di media sosial.
Para runfluencer juga mempromosikan sepatu, tren mode pakaian dan peralatan lari terkini, yang menormalkan konsumsi berlebihan fast fashion. Fenomena ini turut berkontribusi terhadap 2-8% emisi karbon global.
Perubahan ini menunjukkan bagaimana budaya lari juga ikut bergeser. Fokus tidak lagi hanya pada aktivitas berlari itu sendiri, tetapi juga pada berbagai produk dan layanan yang mengelilinginya.
Karena itu, tantangan pelari saat ini bukan hanya beradaptasi dengan cuaca yang semakin panas, tetapi juga menjaga agar lari tetap menjadi aktivitas yang menyehatkan, sederhana, dan berkelanjutan.
Memilih waktu latihan yang aman, mendengarkan kondisi tubuh, serta menggunakan perlengkapan sesuai kebutuhan adalah beberapa cara untuk tetap menikmati lari tanpa terjebak pada tekanan performa, tren, maupun konsumsi yang berlebihan.
*Konten ini diolah dari artikel The Conversation Indonesia https://theconversation.com/bukan-sekadar-tren-bagaimana-perubahan-iklim-dan-pengaruh-runfluencer-mengancam-hobi-lari-kita-282152