Renungan Kristen

Renungan Kristen Renungan Kristen sebagai penyejuk jiwa (Maleakhi 3:10) (TB). https://alkitab.app/v/e6dfd7bb6b03

Apabila anda diberkati dengan Renungan Firman Tuhan dan ingin memberkati Pelayan Tuhan melalui BNI: 1460137863

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

20/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Sabtu, 20 Desember 2025

Gembala Yang Terabaikan Memberitakan Berita Sukacita

Bacaan Alkitab: Lukas 2:8-20

"Di daerah itu ada gembala-gembala yang hidup di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba seorang malaikat dari Tuhan berdiri di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar di sekeliling mereka, sehingga mereka sangat takut. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: 'Jangan takut, sebab aku membawa kabar baik kepada kamu, yaitu s**acita besar bagi seluruh bangsa, bahwa hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota David. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menemukan bayi itu dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di dalam palungan.' Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara langit yang menyanyikan puji-pujian kepada Allah, katanya: 'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya

Dalam kisah Natal, gembala-gembala di padang rumput Betlehem adalah orang-orang yang pertama kali menerima berita tentang kelahiran Yesus. Mereka adalah orang-orang yang sederhana, yang tidak memiliki status atau kekuasaan, tetapi mereka dipilih oleh Allah untuk menjadi pembawa berita s**acita.

Apa yang dapat kita pelajari dari gembala-gembala ini?

1. Kesederhanaan: Gembala-gembala ini adalah orang-orang yang sederhana, tetapi mereka dipilih oleh Allah untuk menjadi pembawa berita s**acita.

2. Ketaatan: Gembala-gembala ini taat kepada perintah Allah, mereka segera pergi ke Betlehem untuk melihat Bayi Yesus.

3. Kesaksian: Gembala-gembala ini menjadi saksi mata kelahiran Yesus, dan mereka memberitakan berita s**acita kepada orang lain.

Tapi, bagaimana dengan kita di masa kini?

Banyak orang percaya tahu tentang Natal, bers**acita, tapi tidak memberitakan. Lebih s**a memberitakan perkara duniawi dan berita bohong, gosip. Kita sering kali lebih tertarik dengan berita yang tidak penting, daripada berita s**acita tentang Yesus.

Apa yang salah?

1. Kita lupa: Kita lupa bahwa kita dipanggil untuk menjadi pembawa berita s**acita, bukan pembawa gosip atau berita bohong.

2. Kita takut: Kita takut untuk memberitakan tentang Yesus, karena kita tidak ingin dianggap aneh atau tidak populer.

3. Kita tidak peduli: Kita tidak peduli dengan orang lain yang belum mengenal Yesus, kita lebih peduli dengan diri sendiri.

Bagaimana kita dapat berubah?

1. Jadilah sederhana: Kita dapat menjadi sederhana dan rendah hati, seperti gembala-gembala di Betlehem.

2. Taati perintah Allah: Kita dapat taat kepada perintah Allah, dan melakukan apa yang Dia kehendaki.

3. Jadilah saksi: Kita dapat menjadi saksi mata kasih Allah, dan memberitakan berita s**acita kepada orang lain.

Doa:
Ya Tuhan, terima kasih atas kasih-Mu yang besar. Berikan kami kemampuan untuk menjadi orang yang sederhana, taat, dan menjadi saksi mata kasih-Mu. Amin.

Selamat berakhir pekan dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

19/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Jumat, 19 Desember 2025

Memberi Persembahan yang Terbaik

Orang Majus datang ke Betlehem untuk memberi persembahan kepada Bayi Yesus. Mereka membawa emas, kemenyan, dan mur, yang merupakan persembahan yang sangat berharga pada zaman itu (Matius 2:11).

Apa yang dapat kita pelajari dari orang Majus?

1. Memberi persembahan yang terbaik: Orang Majus memberi persembahan yang terbaik dari apa yang mereka miliki. Mereka tidak memberi yang biasa-biasa saja, tetapi yang terbaik.

2. Menghargai Kristus: Orang Majus menghargai Kristus sebagai Raja dan Tuhan. Mereka memberi persembahan yang sesuai dengan status dan martabat-Nya.
3. Mengutamakan Kristus: Orang Majus mengutamakan Kristus di atas segala sesuatu. Mereka rela meninggalkan segala sesuatu untuk datang dan memberi persembahan kepada-Nya.

Bagaimana kita dapat mengaplikasikan hal ini dalam hidup kita?

1. Memberi persembahan yang terbaik: Kita dapat memberi persembahan yang terbaik dari apa yang kita miliki kepada Tuhan dan kepada orang lain, termasuk mereka yang sedang berduka.

2. Menghargai Kristus: Kita dapat menghargai Kristus sebagai Tuhan dan Raja kita, dan memberi persembahan yang sesuai dengan kasih-Nya.

3. Mengutamakan Kristus: Kita dapat mengutamakan Kristus di atas segala sesuatu, dan rela meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya dan membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka.

Di tengah s**acita Natal ini, kita juga diingatkan akan saudara-saudara kita yang sedang berduka akibat bencana alam. Mereka yang menjadi korban membutuhkan uluran tangan kita untuk membantu mereka.

Jangan menjadi penonton, berpangku tangan, atau hanya merasa simpatik. Jangan gunakan kesempatan ini untuk kepentingan pribadi. Lakukanlah tindakan kasih yang nyata!

Doa:
Ya Tuhan, terima kasih atas kasih-Mu yang besar. Karuniakan kepada kami hati yang memberi persembahan yang terbaik kepada-Mu dan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang sedang berduka. Kami tetap berlaku setia bahwa Kristus adalah Tuhan dan Raja kami dan mengutamakan-Nya di atas segala sesuatu. Amin.

Selamat beraktivitas dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian

18/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Rabu, 18 Desember 2025

Topik: Jangan Takut

Natal mengingatkan kita bahwa Allah datang ke dunia melalui Yesus Kristus untuk membawa terang, damai, dan s**acita.
Namun, kenyataan hidup sering kali penuh ketidakpastian. Bencana alam, banjir bandang, dan hujan deras yang terus turun bisa menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya bagi banyak orang.

Dalam situasi seperti ini, kabar Natal memberi pengharapan. Lukas 2:10-11 berkata: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kes**aan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

Yesus hadir bukan hanya untuk masa lampau, tetapi juga untuk hari ini. Kehadiran-Nya memberi damai di tengah kekacauan dan pengharapan di tengah bencana. Ibrani 13:5 menegaskan: “Aku tidak akan membiarkan engkau dan Aku tidak akan meninggalkan engkau.”

Bahkan ketika kita dihantui ketakutan akan bencana susulan, banjir, atau cuaca ekstrem, Natal mengingatkan kita untuk percaya kepada Tuhan yang menyertai setiap langkah kita. 1 Yohanes 4:18 berkata: “Dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.”

Renungan:

Tetap waspada dan lakukan upaya keselamatan, tetapi jangan biarkan ketakutan menguasai hati.

Doa dan iman kepada Tuhan memberi ketenangan meski situasi luar sulit dikendalikan.

Bantu sesama yang terdampak bencana sebagai bentuk kasih Kristus yang nyata.

Natal adalah pengingat: Jangan takut! Tuhan hadir dan memegang kendali atas semua situasi, termasuk bencana alam dan kesulitan hidup. Dalam Dia, kita memiliki pengharapan dan damai sejati.

Selamat beraktivitas dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

17/12/2025

17 Desember

Memangkas Pohon Anggur?

“Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini. Dia bermaksud merendahkan hatimu dan menguji engkau...” (Ulangan 8:2).

Allah mendisiplinkan kita demi kebaikan kita, agar kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Bunga-bunga memiliki aroma paling harum setelah hujan; pohon anggur berbuah lebih baik setelah dipangkas; pohon kenari paling berbuah ketika paling banyak dipukul; orang-orang kudus bertumbuh dan berkembang secara rohani paling baik ketika mereka paling menderita secara lahiriah.

Belenggu Manasye lebih bermanfaat baginya daripada mahkotanya. Luther tidak dapat memahami beberapa bagian Kitab Suci sampai ia berada dalam penderitaan... Rumah hukuman [rehabilitasi] Allah adalah sekolah pengajaran-Nya. Semua batu yang dilemparkan ke telinga Stefanus justru membuatnya lebih dekat dengan Kristus, batu penjuru. Gelombang air hanya mengangkat bahtera Nuh semakin dekat ke langit; semakin tinggi airnya, semakin bahtera itu terangkat ke langit. Penderitaan mengangkat jiwa untuk menikmati Allah dengan lebih kaya, jernih, dan penuh.

“Sesungguhnya, Aku akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, lalu berbicara memikat hatinya” (Hosea 2:13), atau, sebagaimana bahasa Ibrani menyatakannya, 'Aku akan berbicara dengan sungguh-sungguh atau penuh semangat kepada hatinya.' Allah menjadikan penderitaan sebagai jalan masuk bagi jiwa untuk menikmati diri-Nya yang penuh berkat dengan lebih indah dan lengkap.

Kapan Stefanus melihat surga terbuka, dan Kristus berdiri di sebelah kanan Allah, jika bukan ketika batu-batu dilemparkan di sekitarnya, dan hanya ada satu langkah pendek antara dia dan kekekalan? Dan kapan Allah menampakkan kemuliaan-Nya kepada Yakub, jika bukan di hari kesusahannya, ketika batu menjadi bantalnya, tanah menjadi tempat tidurnya, semak-semak menjadi tirainya, dan langit menjadi kanopinya? Saat itulah ia melihat para malaikat....

Thomas Brooks (1608-1680), A Homiletic Encyclopedia (Sebuah Ensiklopedi Homiletik), hlm. 11

13/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Sabtu, 13 November 2025

Kemunafikan Merayakan Natal

Nats Bacaan Alkitab: Matius 2:1-8

Herodes, raja yang ingin merayakan Natal, namun sebenarnya tidak memiliki hati yang tulus. Dia ingin menghormati Yesus, namun sebenarnya ingin membunuh-Nya

Kemunafikan Herodes mengingatkan kita bahwa:

1. Penampilan tidak selalu sama dengan hati: Herodes terlihat menghormati Yesus, namun hatinya penuh dengan niat jahat.
2. Tidak semua yang beragama adalah sungguh-sungguh: Herodes ingin merayakan Natal, namun tidak memiliki iman yang sejati.
3. Tuhan melihat hati, bukan penampilan: Tuhan melihat hati Herodes yang munafik dan tidak tulus.

Sayangnya, kemunafikan seperti Herodes masih ada di masa kini. Banyak orang merayakan Natal, namun tidak karena iman yang sejati, melainkan karena:

- Ambisi: ingin mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain
- Spekulasi: ingin mendapatkan keuntungan materi atau popularitas
- Manipulasi: ingin memanfaatkan Natal untuk mencapai tujuan pribadi

Contohnya:

- Mengadakan acara Natal hanya untuk meningkatkan citra perusahaan atau organisasi
- Menggunakan Natal sebagai alasan untuk berpesta dan melupakan makna sejati
- Mengundang pastor atau pendeta hanya untuk mendapatkan status sosial

Renungan Natal ini mengingatkan kita untuk memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita memiliki hati yang tulus dan jujur di hadapan Tuhan?

Pertanyaan refleksi:

- Apakah saya memiliki hati yang tulus dan jujur di hadapan Tuhan?
- Apakah saya merayakan Natal karena iman yang sejati atau karena ambisi dan spekulasi?
- Apakah saya perlu memeriksa hati saya sendiri?

Doa:
Ya Tuhan, bantu saya untuk memiliki hati yang tulus dan jujur di hadapan-Mu. Bantu saya untuk tidak menjadi seperti Herodes yang munafik. Amin.

Selamat berakhir pekan dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

11/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Kamis, 11 Desember 2025

Immanuel, Allah Bersama Kita

Matius 1:23
"Seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamai Dia Immanuel, yang berarti: Allah bersama kita."

Pada masa Natal, kita merayakan kelahiran Yesus Kristus, Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Nama "Immanuel" yang diberikan kepada Yesus memiliki makna yang sangat dalam, yaitu "Allah bersama kita".

Immanuel, Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, telah menjadi manusia untuk berada di tengah-tengah kita. Dia meninggalkan kemuliaan surga untuk menjadi salah satu dari kita, untuk merasakan s**a dan duka kita, untuk memahami kelemahan dan kesulitan kita.

Karena Allah bersama kita, kita tidak perlu takut, bimbang, dan gentar menjalini hidup. Kita tidak perlu khawatir tentang masa depan, karena Immanuel telah menjanjikan untuk selalu bersama kita. Kita tidak perlu merasa sendirian, karena Immanuel telah menjadi teman sejati kita.

Immanuel, Allah yang kuat dan kuasa, telah menjadi lembut dan rendah hati untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian. Dia telah menunjukkan kasih dan belas kasihan-Nya kepada kita, dan memberikan kita harapan dan keselamatan.

Bagaimana kita merespons kasih dan kehadiran Immanuel di dalam hidup kita? Mari kita membuka hati kita untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan membiarkan Dia menjadi bagian dari hidup kita setiap hari.

Doa Penutup:
Ya Immanuel, kami berterima kasih atas kasih dan kehadiran-Mu di dalam hidup kami. Bantu kami untuk mengingat bahwa Engkau selalu bersama kami, dan bahwa kami tidak perlu takut, bimbang, dan gentar menjalini hidup. Jadikan kami alat-Mu untuk membawa terang dan kasih-Mu kepada dunia. Amin.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Tetap semangat.

09/12/2025

Renungan Natal (RENA)
Selasa, 09 Desember 2025

KETIKA ALLAH TIDAK MENUNGGU DUNIA MENJADI AMAN, IA TURUN KE DUNIA YANG RUSAK

Pendahuluan

Banyak orang membayangkan seharusnya Tuhan datang ketika dunia sudah baik, aman, damai, dan penuh kasih. Tetapi Alkitab justru menunjukkan sebaliknya. Ketika Yesus lahir, dunia tidak sedang ama, dunia sedang kacau.
Maria dan Yusuf berada dalam tekanan sosial dan ekonomi. Kaisar Agustus memperlakukan seluruh masyarakat hanya sebagai angka sensus untuk kepentingan politik dan pajak.
Herodes penuh ketakutan kehilangan kekuasaan sampai membunuh bayi-bayi tak bersalah.
Tidak ada tempat bagi Kristus, bahkan di penginapan sekalipun.
Yesus tidak lahir ke dunia yang ideal. Ia lahir ke dunia yang rusak.

Isi Renungan

Kelahiran Yesus adalah pernyataan tegas bahwa Allah tidak menunggu dunia berubah untuk mengasihinya.
Roma 5:8 : “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.”
Allah tidak menunggu dunia bertobat…
Allah tidak menunggu luka-luka manusia sembuh…
Allah tidak menunggu kekerasan berhenti…
Allah datang ketika dunia sedang kacau.
Natal adalah bukti bahwa Allah masuk ke tengah kekelaman, bukan menonton dari jauh.

Allah tidak gentar terhadap kekacauan dunia, Ia masuk ke dalamnya untuk memulihkan.
Yesus tidak lahir di istana yang aman, tetapi di palungan, tempat paling rentan.
Ia tidak dibesarkan di kota besar yang penuh kuasa, tetapi di Nazaret, kota yang diolok-olok.
Ia tidak ditemani oleh penguasa, tetapi oleh gembala-gembala yang dianggap rendah.
Semua itu menyampaikan pesan:
“Allah hadir bukan hanya bagi dunia yang baik, tetapi bagi dunia yang rusak.”

Jika Allah memilih masuk ke dunia yang rusak, maka Natal memanggil kita untuk hadir, bukan menghindar dari penderitaan sesama.
Natal bukan sekadar perayaan suasana hangat keluarga, lampu, dan lagu.
Natal adalah panggilan misi:
- Hadir bagi mereka yang terluka.
- Menghibur mereka yang berduka.
- Mengangkat mereka yang jatuh.
- Mencari mereka yang terabaikan.

Karena Allah datang kepada dunia dalam keadaan terburuknya, gereja pun dipanggil untuk tidak hanya hadir dalam keadaan terbaik, tetapi juga dalam kegelapan dan penderitaan dunia.

Aplikasi

Kalau Allah tidak menunggu dunia menjadi baik untuk mengasihi,
maka orang percaya tidak boleh menunggu kondisi ideal untuk mengasihi juga.
• Kita tidak menunggu orang berubah dulu baru mengampuni.
• Kita tidak menunggu situasi nyaman dulu baru melayani.
• Kita tidak menunggu keadaan aman dulu baru berbagi.
Natal memanggil kita untuk masuk ke dunia nyata, bukan menciptakan dunia semu.

Penutup

Tidak ada yang lebih menunjukkan kedalaman kasih Allah selain ini:
Allah datang bukan karena dunia layak menerima-Nya, tetapi karena dunia sangat membutuhkan-Nya.
Ketika kita merayakan Natal tahun ini, mungkin dengan banyak luka, kegagalan, kekhawatiran, atau ketidakpastian, ingatlah:
Yesus lahir justru untuk keadaan seperti ini.
Ketika dunia tidak aman, Allah turun.
Ketika dunia rusak, Ia datang untuk memulihkan.
Kiranya Natal tahun ini bukan hanya dikenang sebagai peristiwa di palungan, tetapi dirayakan sebagai undangan untuk hadir bagi dunia yang terluka, seperti Kristus telah hadir bagi kita.
Amin.

Selamat beraktivitas dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Tuhan Yesus memberkati

08/12/2025

RenunganNatal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Senin, 05 Desember 2025

Mengingatkan Dunia yang Penuh Kejahatan Membutuhkan Juru Selamat

Bacaan: Matius 1:21; Roma 5:8; Yohanes 3:16–17

Setiap tahun, dunia merayakan Natal dengan terang lampu, hiasan, lagu s**acita, dan pesta keluarga. Namun jika kita membuka mata lebar-lebar, kita melihat kenyataan lain: dunia ini penuh kejahatan.
Kita hidup di tengah:
• meningkatnya kejahatan dan kekerasan,
• penyalahgunaan kuasa dan ketidakadilan,
• kehancuran moral dan degradasi keluarga,
• penipuan, korupsi, kecanduan, kebencian, iri hati, dan egoisme.

Dunia mungkin semakin maju secara teknologi, pendidikan, dan peradaban, tetapi kejahatan tidak semakin kecil, justru semakin halus dan mematikan.
Faktanya, peradaban tidak pernah bisa menghapus dosa.
Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan di sinilah pesan Natal bergema begitu kuat.

1. Jika dunia bisa menyelamatkan dirinya, Yesus tidak perlu lahir
Matius 1:21 menyatakan: “Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Tujuan kelahiran Kristus bukan sekadar:
• memberikan tradisi baru,
• mengajarkan moralitas,
• memberikan inspirasi spiritual.
Ia lahir untuk menyelamatkan manusia dari dosa, akar dari segala kejahatan di dunia.
Masalah utama manusia bukan hanya ekonomi, politik, atau pendidikan.
Masalah utama manusia adalah dosa — hati yang memberontak terhadap Allah.

2. Dunia sering salah membaca masalah dan salah mencari solusi
Ketika kejahatan bertambah, dunia berkata:
• kita perlu lebih banyak aturan,
• lebih banyak pendidikan,
• lebih banyak teknologi,
• lebih banyak motivasi diri.
Semua itu membantu, tetapi tidak menyentuh akar masalah.
Hukum bisa menahan kejahatan, tetapi hanya Kristus yang bisa mengubah hati manusia.

3. Natal mengingatkan kita: solusi Allah untuk dunia yang jahat adalah seorang Juru Selamat
Roma 5:8 berkata: “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita ketika kita masih berdosa.”
Allah tidak menunggu manusia menjadi baik lebih dulu.
Ia mengirimkan Putra-Nya ke tengah dunia yang jahat, bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan (Yoh. 3:16–17).
Itulah inti Natal:
• bukan usaha manusia menuju Allah,
• tetapi Allah turun untuk menyelamatkan manusia.

4. Respons yang benar terhadap Natal
Natal bukan hanya untuk dirayakan, tetapi diterima.
Bukan hanya untuk diingat, tetapi dijalani.
Kita memerlukan Juru Selamat:
• bukan hanya secara teori, tetapi dalam pertobatan,
• bukan hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari,
• bukan hanya saat Natal, tetapi setiap hari.
Natal mengundang kita untuk berkata: “Tuhan, dunia ini jahat, dan aku juga tidak lepas dari dosa. Aku membutuhkan Engkau, Juru Selamatku.”
Ketika Yesus disambut, Ia bukan hanya mengampuni, Ia juga memulihkan, memperbarui, dan mengubah dari dalam ke luar.

Pertanyaan refleksi
• Apakah selama ini saya merayakan Natal tanpa menyadari bahwa saya membutuhkan Juru Selamat?
• Apakah saya membiarkan Kristus mengubah hati, karakter, dan cara hidup saya?
• Apakah saya membawa kabar keselamatan ini kepada dunia yang terluka di sekitar saya?

Doa
Tuhan Yesus, dunia ini penuh kejahatan dan kami sadar, kami pun bukan tanpa dosa.
Terima kasih karena Engkau datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan.
Ajarilah kami merayakan Natal dengan hati yang bertobat dan menyerahkan diri kepada-Mu. Perbarui hati kami, jadikan kami pembawa terang dan kasih bagi dunia yang gelap ini. Dalam nama Yesus Kristus, Juru Selamat dunia, kami berdoa. Amin.

Selamat beraktivitas dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

07/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Minggu, 07 Desember 2025

Natal Menggerakkan Gereja untuk Bertindak, Bukan Hanya Berdoa

Nats Bacaan: Yakobus 2:14–17; Matius 25:35–40; Lukas 2:10

Pendahuluan

Setiap tahun gereja merayakan Natal dengan ibadah meriah, lagu pujian, dekorasi indah, dan doa syukur. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi bila Natal hanya berhenti pada perayaan internal, maka kita kehilangan makna terdalam dari kelahiran Kristus.
Kelahiran Yesus adalah kabar baik bagi semua orang, terutama bagi mereka yang menderita, terluka, miskin, dan tersisih.

Penjelasan

1. Kristus Tidak Datang untuk hanya Dirayakan, tetapi untuk Menyelamatkan
Natal tidak hanya berbicara tentang anak dalam palungan; Natal berbicara tentang Allah yang turun tangan ke dunia manusia untuk:
• menolong mereka yang tertindas,
• menyelamatkan mereka yang berdosa,
• memulihkan mereka yang hancur,
• mengasihi mereka yang dilupakan masyarakat.
Daripada menunggu manusia naik kepada-Nya, Allah turun kepada manusia.
Itulah teladan bagi gereja: jangan hanya menunggu orang datang, tetapi datanglah kepada mereka.

2. Doa Tanpa Tindakan Adalah Iman yang Mati
Yakobus 2:16 berkata: “Jika seorang berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah pakaian panas dan makanlah sampai kenyang!’ tetapi ia tidak memberi kepada mereka barang yang diperlukan tubuhnya, apakah gunanya itu?”
Inilah teguran bagi gereja, pelayanan tidak boleh berhenti pada kata-kata dan doa.
• Ketika orang lapar, mereka membutuhkan makanan.
• Ketika orang tidak punya rumah, mereka membutuhkan tempat berteduh.
• Ketika orang berduka, mereka membutuhkan pelukan, telinga untuk mendengar, kehadiran nyata.
Doa penting. Tetapi doa harus diiringi tindakan kasih.

3. Kelahiran Yesus Menggerakkan Gereja Keluar dari Kenyamanan
Jika Maria dan Yusuf mencari kenyamanan, Kristus tidak akan lahir di palungan.
Jika para gembala menunggu situasi ideal, mereka tidak akan pergi ke Betlehem.
Jika para majus takut berkorban, mereka tidak akan berjalan jauh.
Semua tokoh Natal meninggalkan kenyamanan untuk merespons karya Allah.
Maka gereja pun tidak boleh hanya duduk menunggu jiwa datang,
gereja harus bangkit, keluar, dan melayani.

4. Natal adalah Panggilan untuk Melakukan
Ketika Yesus berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” (Mat. 25:40)
Maka:
• memberi makanan → pelayanan Natal
• mengunjungi yang sakit → pelayanan Natal
• membantu anak yatim dan janda → pelayanan Natal
• menguatkan mereka yang berduka → pelayanan Natal
• berdamai dalam hubungan → pelayanan Natal
• berbagi kasih dengan yang terabaikan → pelayanan Natal
Natal bukan hanya ibadah perayaan, tetapi pelayanan yang nyata.

5. Pertanyaan Perubahan Hidup
Renungan ini menantang kita untuk bertanya:

Siapa yang bisa kita layani musim Natal ini?

Siapa yang membutuhkan sentuhan kasih Kristus dalam lingkup kita?

Apa tindakan nyata yang bisa gereja lakukan di luar gedung ibadah?

Allah tidak mengirim Yesus untuk tinggal di surga, Ia mengutus-Nya ke dunia.
Dan kini, Ia mengutus gereja ke dunia.

Doa
Tuhan, ajari kami agar tidak hanya merayakan Natal, tetapi menghidupi Natal.
Bangkitkan belas kasihan dalam hati kami, dan gerakkan kami untuk bertindak, menolong, dan mengasihi.
Jadikan kami perpanjangan tangan-Mu bagi mereka yang membutuhkan.
Dalam nama Yesus Sang Juruselamat, kami berdoa. Amin.

Selamat beribadah bersama anggota keluarga dan menikmati hadirat Tuhan. Tetap semangat menjalani hidup. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

06/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Sabtu, 06 Desember 2025

Allah Turut Merasakan Penderitaan Dunia

Nats Alkitab Baca:
Yesaya 53:3–4: Mesias “menanggung penderitaan kita, memikul kesakitan kita.”
Lukas 2:7: Yesus lahir dalam di palungan, kesederhanaan.
• Mazmur 34:18: “Tuhan dekat kepada orang-orang yang patah hati.”

Pendahuluan

Realitas Bencana: Sumut, Aceh dan Sumbar

Mengalami Penderitaan Nyata
Belakangan ini, provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali dilanda bencana besar, banjir, longsor, tanah runtuh, dan bencana hidrometeorologi lain, yang menyebabkan: ratusan, bahkan ratusan jiwa, ada yang meninggal dunia, hilang, atau terluka. ratusan rumah rusak, ribuan warga mengungsi, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Banyak daerah terisolasi, akses sulit, kondisi penuh duka dan ketidakpastian bagi keluarga yang terdampak.
Bencana ini tak hanya soal fisik, tapi juga traumatis secara emosional, sosial, dan spiritual bagi mereka yang kehilangan, terluka, atau kehilangan harapan.

Natal: Ketika Allah Tidak Menunggu Dunia Menjadi Aman

Ia Turun ke Dunia yang Rusak
Pada malam Natal pertama: Yesus tidak lahir di kota megah, rumah megah, atau lingkungan yang aman. Ia lahir di palungan, tempat orang miskin, dalam kondisi sederhana.
Ketika dunia penuh ketidakadilan dan penderitaan, Allah memilih hadir.
Artinya: Allah tidak menunggu dunia bersih atau aman, Ia datang ke situasi paling sulit dan paling gelap untuk membawa harapan, penghiburan, dan keselamatan.
Bagi mereka yang mengalami bencana di Aceh dan Sumut.
Natal bukanlah perayaan tradisi , hanya rutinitas ibadah. Natal menjadi pengingat bahwa: Allah tahu penderitaanmu, Ia ikut merasakannya.
Dan Dia hadir sebagai “Mesias yang memanggul penderitaan manusia.

Natal Membawa Kehadiran, Belas Kasihan, dan Pemulihan, Bukan Sekadar Simbolisme

Kelahiran Kristus mengajarkan bahwa Allah: tidak asing dengan penderitaan manusia, Ia memilih masuk ke dalam penderitaan itu, membawa kasih, harapan, dan penghiburan kepada yang terluka dan yang kehilangan dan memanggil umat-Nya untuk menjadi tangan dan kaki kasih — bukan hanya berdoa, tetapi turun membantu secara nyata.
Artinya, ketika saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar merasakan duka, ketakutan, kehilangan, iman Kristen kita tidak boleh pasif. Natal menggerakkan kita: memberi bantuan (makanan, pakaian, tempat tinggal sementara, doa, dan dukungan emosional), ikut berbela-rasa, mendengar, menguatkan, berbagi beban dan memperlihatkan bahwa kasih Kristus nyata di tengah penderitaan.

Harapan Natal bagi yang Berduka dan Trauma

Bagi korban: Natal mengingatkan bahwa mereka tidak sendiri — Allah hadir, peduli, dan tetap menyertai.
Bagi kita: Natal adalah panggilan untuk empati, solidaritas, dan tindakan kasih.
Bagi gereja & komunitas: Natal bukan hanya perayaan, tetapi momen refleksi — bagaimana kita mewujudkan iman dalam tindakan nyata di tengah dunia yang hancur.

Penutup
Tuhan, Engkau tahu penderitaan saudara-saudara kami di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Engkau yang menjadi manusia, ikut merasakan duka dan kehilangan.
Datanglah membawa penghiburan, kekuatan, dan harapan baru.
Pakailah kami, gereja dan aku pribadi, untuk menjadi tangan belas kasihan-Mu; memberikan pertolongan, doa, dan kasih bagi mereka yang hancur.
Biarlah Natal ini bukan sekadar perayaan, tetapi janji keselamatan dan pemulihan bagi dunia yang sedang menderita. Amin.

Selamat berakhir pekan dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tetap semangat menjalani hidup. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

05/12/2025

5 DESEMBER

Menjawab Orang Bodoh Sesuai ...

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Efesus 1:5).

Sebuah godaan yang sering setan tanamkan ke dalam pikiran manusia duniawi adalah seperti ini: Dekrit predestinasi Allah [menentukan dari semula] tidak dapat diubah, sama seperti diri-Nya; oleh karena itu, jika Anda telah dipilih oleh Allah, Anda bisa terus hidup dalam dosa Anda, karena Anda pasti akan diselamatkan, dan Dia akan memberi Anda pertobatan, meskipun mungkin ditunda hingga napas terakhir Anda. Namun, jika Anda telah ditolak oleh Allah dalam kehendak kekal-Nya, maka apa pun yang Anda lakukan, semuanya sia-sia, karena mereka yang telah ditolak oleh-Nya akan dihukum. Oleh karena itu, jauh lebih baik menikmati kesenangan sekarang dalam hidup ini, karena hukuman di kehidupan mendatang sudah cukup berat tanpa menambahkan penderitaan kehidupan ini ke dalamnya.

Jika kita mempertimbangkan godaan ini dengan bijak, maka jelas itu adalah sesuatu yang bodoh dan salah. Bodoh, seperti jika seseorang berkata: Waktu Anda telah ditentukan... Jika, karena itu, telah ditetapkan bahwa waktu Anda akan singkat, nikmatilah semua hal dalam hidup atau pola makan apa pun yang Anda mau, Anda tidak akan memperpanjang hidup Anda satu hari pun. Tetapi jika Allah telah menetapkan bahwa Anda akan hidup hingga usia tua, ambillah risiko apa pun yang Anda s**a, masuki bahaya apa pun, makan berlebihan di setiap hidangan, menjadi rakus—atau tidak makan sama sekali—dan Anda tetap akan hidup sampai tua.

Sekarang, siapa yang tidak akan menertawakan pemikiran yang begitu absurd? Setiap orang tahu bahwa sebagaimana Allah telah menetapkan panjang umur kita, Dia juga telah menetapkan bahwa kita harus menggunakan sarana yang diperlukan untuk menjaga hidup kita selama itu... menghindari bahaya, menjaga pola makan yang baik, menggunakan obat-obatan, dan berolahraga.

Bagi mereka yang telah dipilih oleh Allah, Dia juga telah menetapkan bahwa mereka akan mencapainya, dan menggunakan semua sarana baik yang diperlukan... Sebab tujuan dan sarana tidak dapat dipisahkan dalam kehendak Allah.

George Downame (1566-1634), A Homiletic Encyclopedia (Sebuah Ensiklopedi Homiletik), hlm. 1780

04/12/2025

Renungan Natal (RENA) Warga Kerajaan Allah
Kamis, 04 Desember 2025

Kasih Yang Nyata

"Anak-anakku, marilah kita tidak mengasihi dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (1 Yohanes 3:18)

Kasih Yang Nyata

Natal adalah waktu yang spesial bagi kita untuk merayakan kasih Allah yang besar kepada kita. Namun, kita sering kali terjebak dalam ritual dan tradisi tanpa benar-benar memahami makna kasih yang sebenarnya.

Apa itu Kasih Yang Nyata?

Kasih yang nyata bukanlah hanya sekedar perkataan atau ucapan, tapi adalah perbuatan yang nyata. Kasih yang nyata adalah ketika kita menunjukkan kasih Allah kepada orang lain melalui tindakan kita.

Bagaimana Kita Dapat Menunjukkan Kasih Yang Nyata?

1. Dengan Perbuatan: Kita harus menunjukkan kasih Allah kepada orang lain melalui perbuatan kita, seperti membantu mereka yang membutuhkan, mengunjungi mereka yang sakit, dan memberikan hadiah kepada mereka yang kurang beruntung.
2. Dengan Kebenaran: Kita harus menunjukkan kasih Allah kepada orang lain dengan kebenaran, yaitu dengan mengatakan kebenaran dan tidak berbohong kepada mereka.
3. Dengan Kasih: Kita harus menunjukkan kasih Allah kepada orang lain dengan kasih, yaitu dengan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dan menunjukkan kasih kepada mereka yang tidak mencintai kita.

Kasih Yang Nyata ditengah Duka

Saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana alam dan longsor sedang berduka, kehilangan pencaharian, ada yang kehilangan anggota keluarga, takut, gelisah, dan mereka membutuhkan bahan pokok makan dan pakaian. Mereka membutuhkan kasih yang nyata dari kita.

Mari kita tunjukkan kasih Allah yang nyata kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana alam dan longsor. Mari kita menjadi saksi kasih Allah di dunia ini.

Doa

Tuhan, aku berterima kasih atas kasih-Mu yang besar kepada aku. Aku ingin menunjukkan kasih-Mu kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana alam dan longsor. Aku percaya bahwa Engkau akan memberikan aku kekuatan dan kemampuan untuk melakukan itu. Amin.

Selamat beraktivitas dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Tuhan Yesus memberkati.

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Renungan Kristen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category