Renungan Kristen

Renungan Kristen Renungan Kristen sebagai penyejuk jiwa (Maleakhi 3:10) (TB). https://alkitab.app/v/e6dfd7bb6b03

Apabila anda diberkati dengan Renungan Firman Tuhan dan ingin memberkati Pelayan Tuhan melalui BNI: 1460137863

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

10/09/2026

10 SEPTEMBER

IMAM BESAR YANG KITA BUTUHKAN

“Jadi, karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita berpegang teguh pada pengakuan iman kita. … Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” IBRANI 4:14-16

Perjanjian Lama berulang kali menekankan beratnya tanggung jawab para imam besar di Israel (lihat, misalnya, Keluaran 29 dan Imamat 16). Menjadi imam besar bukanlah tugas yang bisa dianggap enteng. Hanya dia yang dapat memasuki Tempat Mahakudus, ruang dalam bait suci Yahudi. Hanya dialah yang dapat mempersembahkan kurban darah “karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dilakukan oleh umatnya tanpa sadar” (Ibrani 9:7). Meskipun ia tidak tanpa dosa, ia melayani sebagai pembela bagi komunitasnya di hadapan Allah.

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penulis Ibrani, ada satu Imam Besar Agung—yaitu Yesus—yang melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh imam lain dan memikul tanggung jawab yang bebannya tidak dapat ditanggung oleh manusia lain.

Yesus tidak masuk ke Tempat Mahakudus di bait suci Yerusalem melalui tirai. Sebaliknya, sebagai Anak Allah, Ia telah melintasi langit, sehingga Ia sekarang tampil di hadapan takhta Bapa untuk kita. Kita tidak perlu meratapi ketidakhadiran-Nya secara fisik di bumi, bukan hanya karena Ia hadir bersama kita melalui Roh Kudus, tetapi juga karena ketidakhadiran-Nya berarti bahwa bahkan sekarang Ia berbicara langsung kepada Allah Bapa sebagai Pengantara kita (Ibrani 7:25).

Itulah sebabnya dalam Perjanjian Baru, pelayanan tidak dikhususkan untuk golongan imam yang mempersembahkan kurban darah. Mereka yang dipanggil oleh Allah dan diberi hak istimewa dan tanggung jawab untuk memimpin dan mengajar umat Allah tidak perlu membela umat-Nya di hadapan Allah seperti yang dilakukan oleh imam-imam Perjanjian Lama. Karena Imam Besar Agung kita telah mempersembahkan satu kurban besar untuk dosa, tidak perlu ada pembela lain. Sesungguhnya, imamat-Nya tidak memberi ruang bagi persembahan lain untuk dosa, baik di surga maupun di bumi. Hanya Dia yang dapat mati untuk kita dan berbicara untuk kita, dan hanya Dia yang telah melakukannya.

Keagungan imamat Kristus terletak pada kenyataan bahwa Ia telah mempersembahkan diri-Nya untuk dosa-dosa kita sekali untuk selamanya. Kita tidak perlu lebih dari sekadar menyadari bahwa “karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.” (Ibrani 7:24). Yesus belaka yang mampu menyelamatkan kita yang datang kepada Allah berdasarkan jasa-Nya. Ia selalu hidup untuk menjadi Pengantara bagi umat-Nya. Ia sedang melakukannya, tepat pada saat ini, untuk Anda. Jadi Anda dapat hidup dengan yakin akan akses ke ruang takhta surgawi setiap kali Anda berdoa, dan akses untuk jiwa Anda pada hari Anda meninggal. Hari ini, yang perlu Anda lakukan hanyalah berpegang teguh pada pengakuan iman Anda kepada Imam Besar Agung, yang telah melakukan semua yang diperlukan.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: Ibrani 7:23-28

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Hakim-hakim 9-10; Yohanes 4:1-30

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

08/09/2026

9 SEPTEMBER

PELAYAN YANG RENDAH HATI

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” YOHANES 13:13-14

Andrew Martinez adalah salah satu caddy terhebat dalam sejarah golf, menjadi caddy bagi para pemain hebat seperti Johnny Miller, John Cook, dan Tom Lehman. Ia juga seorang atlet berbakat. Salah satu hal yang membuatnya luar biasa sebagai seorang caddy adalah pengabdiannya kepada atasannya, yang dimulai begitu ia melangkah masuk ke gardu caddy dan mengenakan seragam putih. Dalam perannya, ia melupakan dirinya sendiri. Ia tetap Martinez, tetapi nama di punggungnya terbaca berbeda; ia hanya ada untuk melayani orang lain, terlepas dari bakat dan kemampuannya sendiri.

Malam sebelum Yesus wafat, dalam salah satu adegan paling berkesan dari kehidupan-Nya di bumi, Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Salah satu alasan Dia melakukan itu adalah untuk memberikan contoh pelayanan yang rendah hati, karena pekerjaan membasuh kaki adalah peran seorang hamba, bukan seorang raja. Kita semua dapat memperoleh manfaat dari mengikuti teladan-Nya: Sang Pencipta membasuh kaki makhluk-Nya dan, dengan demikian, Dia melayani baik murid-murid-Nya yang saling bermusuhan maupun pengkhianat-Nya, Yudas. Tindakan seperti itu melampaui keramahan biasa yang terkandung dalam ritual ini.

Tindakan Yesus adalah contoh bagi kita untuk diteladani (“kamu pun wajib"), tetapi itu bukan semata contoh—dan jika yang kita pegang dalam kisah ini hanyalah seruan untuk meniru perilaku rendah hati Yesus, kita berisiko tersesat dalam moralisme dan melewatkan maksud Kristus sepenuhnya dan yang mulia. Saat Dia membasuh kaki murid-murid-Nya, Yesus tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dia sangat menyadari bahwa masa kesedihan yang besar—penyaliban-Nya yang akan datang—sudah dekat. Tindakan-Nya menunjukkan bahwa masa depan selalu berada di tangan Bapa yang penuh kasih. Pembersihan kaki para pengikut-Nya melambangkan pembersihan jiwa mereka di masa depan—pembersihan bukan oleh air dalam baskom-Nya tetapi oleh darah-Nya di kayu salib. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menawarkan untuk membersihkan kita dari noda dosa kita, dan kita harus membalas kerendahan hati-Nya dengan kerendahan hati kita sendiri dengan cara menyadari kebutuhan kita yang mendesak dan meminta untuk dibersihkan.

Hanya setelah kita menghargai bagaimana kita telah dilayani oleh Juruselamat kita, barulah kita dapat melayani orang lain dengan cara yang sama. Petrus, yang pada saat itu bingung dengan apa yang Yesus lakukan (Yohanes 13:6-8), suatu hari akan memahami pesan Tuhannya. Bertahun-tahun kemudian, ia mendorong sesama orang percaya untuk “rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1 Petrus 5:6). Ia tahu bahwa teladan Kristus dimaksudkan untuk melakukan lebih dari sekadar mengubah perilaku kita; itu dimaksudkan untuk merendahkan hati kita dan kemudian meyakinkan kita akan pengampunan kita.

Dengan cara apakah Anda dipanggil untuk membasuh kaki orang lain hari ini? Bagaimanakah Anda dapat mengorbankan waktu atau kenyamanan Anda sendiri untuk melayani orang-orang di sekitar Anda dengan cara yang hanya dapat dimotivasi oleh kasih yang rendah hati? Dan yang terpenting, bagaimanakah Anda dapat melayani orang lain dengan cara yang mengarahkan mereka pada tindakan pelayanan terbesar—penyucian oleh darah Kristus, yang ditumpahkan di kayu salib?

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: YOHANES 13:1-17

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Hakim-hakim 7-8; Yohanes 3:16-36

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

07/09/2026

8 SEPTEMBER

BERSUKACITALAH SENANTIASA

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
FILIPI 4:4

Bagaimanakah kita seharusnya bersukacita senantiasa? Apakah hal itu mungkin dicapai? Ataukah kita seharusnya memahami nasihat Paulus untuk “bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” sebagai semacam pernyataan hiperbola yang tidak pernah dimaksudkan Paulus untuk kita alami dalam kehidupan Kristen kita?

Tidak! Paulus sungguh-sungguh bermaksud dengan apa yang dikatakannya. Sebagai orang percaya, kita benar-benar harus bersukacita senantiasa.

Salah satu alasan mengapa kita mengalami kesulitan dalam hal ini adalah karena kita cenderung memikirkan sukacita dengan cara yang salah seperti kita memandang perihal kasih—yaitu, sebagai produk dari emosi kita ketimbang sebagai pelayan dari kehendak kita. Jika dilihat sebagai produk emosi yaitu produk dari keadaan dan perasaan kita; dan dengan pandangan itu, kita hanya mungkin bersukacita ketika kita merasa baik, ketika matahari bersinar, dan ketika semuanya tampak berjalan sesuai keinginan kita.

Namun Alkitab benar-benar bermaksud mengatakan kepada kita untuk senantiasa bersukacita, termasuk ketika hidup tidak seperti yang kita inginkan, awan-awan berkumpul, dan kita merasa sedih. Karena itu, kita harus berusaha memahami [apa itu] sukacita.

Dalam Habakuk 3, kita membaca bahwa nabi itu gemetar karena hari kesusahan yang akan datang (ay.16). Segala sesuatu dalam ranah perasaan mengarahkan Habakuk pada kepanikan. Tetapi alih-alih menyerah pada kecemasan, ia membiarkan perasaannya tunduk pada apa yang ia ketahui tentang Sang Penyedia. Dengan kekuatan pemikiran yang benar, Habakuk menyimpulkan, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pokok anggur tidak berbuah, dan hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan dan tidak ada lembu dalam kandang, aku akan bersukacita di dalam TUHAN” (ayat 17-18). Ia menunjukkan bahwa sangatlah mungkin untuk senantiasa bersukacita—bahkan di tengah cobaan dan penderitaan yang mendalam—ketika sukacita kita tidak bergantung pada faktor eksternal tetapi bergantung hanya pada Tuhan.

Allah telah menetapkan bahwa pemikiran kita harus diisi dan dibentuk oleh wahyu-Nya—apa yang telah Ia nyatakan tentang diri-Nya melalui firman dan ciptaan-Nya. Mengutip kata-kata ilmuwan abad ke-16 Johannes Kepler, kita harus “memikirkan pikiran Allah sesuai dengan pikiran-Nya.” Saat kita belajar berpikir dengan benar, kita akan semakin mampu menyelaraskan emosi kita dengan pemikiran yang benar.

Ketika sukacita Anda berakar pada karakter Allah yang tidak berubah, Anda dibebaskan dari sukacita yang terbelenggu oleh diri sendiri dan keadaan Anda. Ya, sukacita Anda mungkin diuji oleh kesulitan dan kekecewaan hari ini, tetapi tidak akan terguling. Pada saat-saat ketika sukacita Anda diuji, ucapkanlah kata-kata ini:

“Itulah yang kuketahui tentang Engkau, Tuhanku dan Allahku,

Yang memenuhi jiwaku dengan damai, bibirku dengan nyanyian:

Engkau adalah kesehatanku, sukacitaku, tongkatku, dan gada penuntunku;

Bersandar pada-Mu, dalam kelemahan aku menjadi kuat. (*¹⁰³)

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: Mazmur 20

(*¹⁰³) Horatius Bonar, “Not What I Am, O Lord, but What Thou Art" [Bukan Aku, Ya Tuhan, tetapi Engkau”] (1861).

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Hakim-hakim 4–6; Yohanes 3:1-15

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

06/09/2026

7 SEPTEMBER

UMAT ALLAH

“Sebab, orang Yahudi sejati bukanlah orang yang lahiriah Yahudi dan sunat sejati bukanlah sunat yang dilakukan secara lahiriah. Tetapi, orang Yahudi sejati ialah orang yang tidak tampak keyahudiannya dan sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah”
ROMA 2:28-29

Setiap kerajaan memiliki warga negara, dan kerajaan Allah tidaklah berbeda. Lalu, siapakah warga negara dalam kerajaan Allah? Siapakah umat Allah?

Umat Allah terdiri dari semua orang yang telah menaruh iman mereka kepada Yesus Kristus. Orang-orang ini bukanlah bagian dari kerajaan Allah karena kecerdasan, kekuatan, atau faktor eksternal lainnya, tetapi semata-mata karena Allah telah memilih untuk mengasihi mereka dan karena itu telah mengaruniakan mereka iman kepada Putra-Nya. Yesus menegur orang-orang Farisi yang menganggap bahwa mereka adalah anggota keluarga Allah karena garis keturunan mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham,” kata-Nya, “tentulah kamu melakukan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (Yohanes 8:39). Lalu apakah yang dilakukan Abraham? Ia percaya pada janji-janji Allah, “Abraham percaya kepada Allah, dan Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Galatia 3:6).

Kita adalah anggota penuh keluarga Allah, bukan karena sesuatu yang kita lakukan, tetapi karena karya Roh Allah yang meyakinkan hati kita, menyebabkan kita percaya, dan menuntun kita kepada pertobatan. Kita tidak perlu menjalani persyaratan ritual hukum Yahudi atau menjadi keturunan fisik Abraham untuk menjadi bagian dari umat Allah. Dalam Roma 2:29, Paulus pada dasarnya bertanya, Siapakah anak-anak Abraham? Jawabannya adalah: siapa pun yang menjalani “sunat di dalam hati, secara rohani.”

Saat kita mempertimbangkan kebenaran-kebenaran ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah Paulus berpikir ada manfaat menjadi orang Yahudi. Paulus menjelaskan bahwa sebenarnya ada keuntungan yang luar biasa, karena orang Yahudi adalah yang pertama menerima janji-janji Allah, yang memberi mereka kesempatan unik untuk memahami tanda-tanda yang menunjuk kepada penggenapan di dalam Kristus (Roma 3:1-2). Namun pemahaman itu sendiri tidak menjadikan siapa pun warga Kerajaan Allah. Itu terbuka dan diperuntukkan bagi mereka yang tunduk kepada Rajanya. Baik kita Yahudi atau bukan Yahudi—apa pun latar belakang kita, di mana pun kita dilahirkan, dan bagaimana pun kita dibesarkan—Allah menawarkan keselamatan kepada semua yang percaya kepada Kristus. Kewarganegaraan kita di dalam Kerajaan Allah tidak terikat pada etnis atau hal-hal lahiriah, melainkan pada iman yang rendah hati dan tulus seperti anak kecil kepada Sang Mesias.

Dunia ini penuh dengan orang-orang yang berjuang untuk menemukan tempat mereka atau berusaha mempertahankan posisi mereka di perusahaan, masyarakat, lingkaran pertemanan, atau bahkan keluarga mereka sendiri. Allah tidak meminta Anda untuk berjuang atau berusaha, tetapi hanya untuk menikmati. Jika Anda termasuk umat Allah melalui iman kepada Yesus, maka Anda telah diselamatkan oleh nama-Nya, Anda telah terbebas dari aib & kutuk, dan Anda adalah bagian dari umat-Nya. Di sinilah Anda cocok, di sinilah Anda menemukan rumah Anda.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: EFESUS 2:11-22

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Hakim-hakim 1–3; Yohanes 2

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

05/09/2026

6 SEPTEMBER

AKIBAT IRI HATI

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”
AMSAL 14:30

Iri hati adalah kanker rohani, yang menghancurkan seseorang dari dalam ke luar.

Akibat iri hati sangatlah serius. Raja Salomo tidak bertele-tele saat memperingatkan kita tentang diagnosa ini dengan gambaran yang gamblang dan mengarahkan kita menuju kehidupan yang sehat dan damai.

Iri hati merugikan kita. Bahkan jika tidak berdampak pada orang lain, itu tetap akan menghancurkan orang yang iri hati. Itu memengaruhi persepsi kita terhadap orang lain. Itu menumbuhkan semangat kritis yang merusak, membuat kita memandang sesama kita dengan kecurigaan dan kemarahan yang tidak beralasan. Itu membuat kita tidak mampu ikut berbahagia dengan orang lain, dan itu merusak setiap kesempatan untuk merasa puas, karena selalu ada orang lain yang lebih banyak memiliki yang membuat kita merasa iri. Iri hati membusukkan tulang.

Iri hati dapat menyerang dengan cepat dan halus. Ambil contoh rasul Petrus. Sebelum penyaliban, ia telah membuat kekacauan dengan menyangkal Kristus tiga kali. Yohanes mencatat bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus membuat sarapan untuk Petrus dan beberapa murid lainnya di pantai, dan Yesus berbicara dengan Petrus, memulihkan hubungan mereka, mengingatkannya akan panggilan-Nya kepada Petrus untuk mengikuti Dia, dan menugaskannya untuk menggembalakan dan memberi makan umat-Nya. Jika Anda bertanya kepada Petrus sehari sebelumnya apakah yang paling dirindukan hatinya, jawabannya pasti seperti itu. Namun ketika Yesus menambahkan bahwa suatu hari Petrus akan dipanggil untuk memberikan nyawanya bagi Tuhannya, bagaimanakah tanggapan Petrus? Dengan menatap Yohanes, ia berkata, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?”

Namun Yesus, yang sepenuhnya menyadari bahaya iri hati, menjawab, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tetap hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Namun engkau, ikutlah Aku” (Yohanes 21:22).

Betapa mudahnya, bahkan di saat-saat kemajuan besar, iri hati meracuni kita dan menyebabkan kita melupakan semua yang telah Yesus lakukan dan berikan kepada kita! Lalu, bagaimana kita menemukan obat untuk kebusukan rohani ini?

Hal terakhir yang ingin kita lakukan merupakan hal pertama yang perlu kita lakukan: mengenali iri hati sebagai dosa dan membawanya ke hadapan Allah melalui pengakuan. Kemudian, kita harus dengan penuh doa menolak iri hati, dari waktu ke waktu, memohon kepada Roh Kudus agar Dia memampukan kita untuk merenungkan semua yang kita miliki di dalam Kristus, sampai kita tidak lagi dikuasai oleh iri hati tetapi oleh sukacita. Mereka yang menghitung atau mengingat berkat mereka lebih mampu memuji Allah atas berkat yang Dia berikan kepada orang lain. Dan hati yang tenang memberi kehidupan.

Jangan biarkan iri hati menggerogoti Anda tanpa terkendali. Kenali dengan cara apakah iri hati sudah menguasai Anda? Akui, doakan, dan lawanlah dengan kebenaran Injil.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: YOHANES 21:15-23

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 148-150; Yohanes 1:29-51

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

05/09/2026

5 SEPTEMBER

SEBUAH PESAN UNTUK PARA SUAMI*

“Hai Suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya.”
EFESUS 5:25-26

Oleh anugerah Allah, setiap pernikahan Kristen lebih dari sekadar pernikahan.

Tujuan pernikahan manusia [yang alkitabiah] adalah untuk mengarahkan perhatian dari dirinya sendiri kepada pernikahan tertinggi yang terjadi di surga: yaitu pernikahan Kristus, Sang Mempelai Pria, dan gereja, mempelai-Nya. Dengan kata lain, pernikahan adalah tentang tujuan utama Allah, yaitu “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Efesus 1:10). Inilah sebabnya mengapa Paulus memberikan instruksi khusus untuk para suami: agar pernikahan mereka dapat menunjukkan persatuan yang dikehendaki Allah.

Dalam pernikahan, tujuan utama suami bukanlah untuk memastikan istrinya terpenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya. Itu memang sebagian dari tujuan tersebut—tetapi tujuan utamanya adalah agar istrinya siap untuk bertemu dengan Yesus. Untuk itu, kata yang Paulus gunakan untuk "kasih" di sini, agape, sangatlah penting: kata itu mengungkapkan pengorbanan diri dan kerendahan hati. Ini tentang apa yang kita berikan, bukan apa yang kita dapatkan. Ini tentang apa kewajiban kita, bukan apa yang menjadi hak kita. Ini bukan tentang mencari apa yang baik untuk diri sendiri; ini tentang menyerahkan diri untuk apa yang benar-benar baik bagi istri Anda, sehingga ia dapat menjadi “kudus dan tidak bercela" (Efesus 5:27). Inilah tujuan Kristus memberikan hidup-Nya bagi gereja-Nya; dan, sebagai gambaran dari hal ini, inilah yang harus dilakukan seorang suami dan diupayakan untuk istrinya.

Tetapi jika Anda seorang suami, bagaimanakah Anda mengasihi dengan cara ini dalam realita kehidupan sehari-hari? Salah satu langkah praktis adalah berupaya tanpa "menggerutu". Artinya, Anda harus menolak pengabaian [menyepelekan], baik secara fisik, emosional, maupun spiritual—dan, jika karier, klub, atau kewajiban di gereja atau hal lain mengganggu, Anda mungkin perlu mengevaluasi kembali komitmen Anda. Anda juga perlu menolak pelecehan [kekerasan], yang, meskipun mencakup dosa-dosa yang lebih berat, juga meliputi meremehkan istri Anda, berbicara dengan nada merendahkan, memperlakukannya dengan tidak hormat, atau bertindak seolah-olah dia benar-benar beruntung menikah dengan Anda. Dan akhirnya, Anda perlu memastikan Anda tidak pernah menganggap remeh pernikahan Anda, yang sangat mudah terjadi seiring berjalannya waktu.

Namun, meskipun pengingat praktis seperti itu sangat membantu, tolok ukur utama dan motivasi untuk mengasihi adalah kasih Kristus yang berbentuk salib kepada mempelai-Nya. Tanpa pandangan yang jelas tentang bagaimana Yesus mengasihi gereja-Nya, niat terbaik kita akan gagal, dan kegagalan kita akan menghancurkan kita. Jadi kita harus memandang kepada Kristus, yang, meskipun Ia tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun, datang dan menyerahkan diri-Nya agar kita, dalam kebutuhan, pemberontakan, dan kekosongan kita, dapat diangkat dalam pelukan-Nya, diterima ke dalam hati-Nya, dibawa ke dalam keluarga-Nya, dan dianggap sebagai bagian dari mempelai-Nya.

Apakah Anda mendapati diri Anda berkata, “Mengapa Ia mengasihi saya seperti itu?” Jika demikian, Anda melihat betapa tingginya panggilan bagi para suami untuk “kasihilah istrimu, sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.” Jadi jika Anda seorang suami, atau berharap menjadi suami suatu hari nanti, itu harus dimulai dengan doa: berdoa agar Roh Kudus memungkinkan Anda untuk berpikir secara alkitabiah, hidup taat, dan benar-benar mengasihi tanpa pamrih. Dan jika Anda seorang istri, atau berharap menjadi istri suatu hari nanti, ini juga harus menjadi doa Anda untuk suami Anda, demi sukacita Anda dan sukacitanya, tetapi yang terpenting demi kemuliaan Allah.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: EFESUS 5:22-32

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 146–147; Yohanes 1:1-28

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

03/09/2026

4 SEPTEMBER

RANCANGAN ALLAH ATAS PERNIKAHAN*l

“Sebab itu, seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya, tetapi mereka tidak merasa malu.” KEJADIAN 2:24-25

Pernikahan adalah pemberian Allah yang telah kita nodai dengan dosa kita. Ayat-ayat ini menggambarkan kemitraan kasih yang sepenuhnya saling percaya, sepenuhnya tanpa rasa malu, dan sepenuhnya menjadi satu ikatan. Sayangnya, salah satu dampak nyata dari hidup kita di dunia yang sudah jatuh dalam dosa adalah bahwa di luar film yang menggambarkan pernikahan sempurna, tidak ada pernikahan yang hanya dan pernah seperti itu. Tragedi dosa manusia adalah bahwa sudah menjadi sifat kita untuk merusak apa yang telah Allah ciptakan demi kebaikan kita maupun kemuliaan-Nya, menyebabkan hilangnya keindahan dan kenikmatan pernikahan seperti yang Dia maksudkan. Namun ada harapan! Bagi orang percaya, Roh Allah memungkinkan kita untuk mempertimbangkan [untuk menghidupi] pernikahan sesuai dengan rancangan-Nya.

Kita harus terlebih dahulu mengakui bahwa di luar Kristus, pria dan wanita benar-benar memberontak terhadap tujuan Allah. Bukan berarti kita hanya bingung tentang hakikat pernikahan; melainkan keinginan berdosa kita sepenuhnya bertentangan bahkan dengan apa yang kita pahami. Pernikahan sebagaimana yang diberikan kepada kita dalam Alkitab sering dianggap sebagai sangkar, batasan, atau rekayasa manusia yang dibuat sejak lama—semacam peninggalan tak berguna dari generasi sebelumnya. Jika kita melihat rancangan Allah untuk pernikahan dalam alur pemikiran ini, itu karena kita cenderung berkata, “Saya tidak menyukai rancangan Allah. Saya akan menjalani ini dengan cara saya sendiri.”

Namun, ketika kita dipersatukan dengan Kristus, Allah memungkinkan kita untuk memandang atau menanggapi pernikahan sesuai dengan rancangan-Nya. Tidak peduli apa pun yang ditetapkan oleh pemerintah, Alkitab sangat jelas bahwa hubungan apa pun selain hubungan monogami heteroseksual, tidaklah dapat dan bukanlah pernikahan di hadapan Allah, karena itulah yang Dia putuskan tentang pernikahan sejak awal. Penegasan Yesus tentang penggambaran pernikahan dalam Kejadian 2 menunjukkan bahwa tidak ada perubahan dalam rancangan Allah sejak permulaan sampai sekarang (Matius 19:4-6). Kita tidak boleh mengubah atau menyesuaikan Alkitab untuk mengakomodasi tren sosial yang mendefinisikan pernikahan secara berbeda. Meskipun pola pernikahan menurut Alkitab yang ditetapkan Allah mungkin dipandang rendah oleh dunia kita yang telah jatuh, jika kita percaya Alkitab adalah firman Allah yang sejati, maka kita akan menjunjung tinggi ajarannya—dalam cara kita mengatur hidup kita sendiri dan dalam cara kita berbicara dan berdoa untuk ikatan relasi orang lain.

Sebagai orang percaya, kita harus menyadari bahwa kepedulian Allah terhadap pernikahan di semua budaya dan sepanjang waktu adalah agar pernikahan tersebut mencerminkan kasih dan komitmen Kristus kepada umat-Nya (Efesus 5:22-25). Dan kita harus ingat bahwa semua yang rusak dan terdistorsi sebagai akibat dari kejatuhan, Tuhan Yesus datang untuk memperbarui dan memperbaikinya. Hanya di dalam dan melalui Kristuslah kita dapat memandang pernikahan sesuai dengan pola dan rencana Allah. Alih-alih kita hidup menurut cara kita sendiri, Dia dengan murah hati mengundang kita untuk menundukkan hati kita di bawah rancangan-Nya, yang tidak ada bandingannya. Bagi sebagian orang, hal itu akan membutuhkan pengorbanan pribadi yang besar untuk menaati perintah Allah dalam hal ini. Bagi kita semua yang hidup di abad ke-21, dibutuhkan keberanian untuk membela jalan Tuhan di hadapan kehendak manusia. Dalam konteks dan keadaan Anda, apakah artinya bagi Anda untuk berpikir, berbicara, dan bertindak dengan cara yang mencerminkan rancangan Tuhan atas pernikahan sebagai karunia-Nya yang agung?

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: KEJADIAN 2

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 143–145; 2 Korintus 13

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

02/09/2026

3 SEPTEMBER

PESAN UNTUK PARA ISTRI

“Hai Istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.” EFESUS 5:22

Kata "tunduk" cenderung memicu berbagai macam respons negatif. Hal ini sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa, seperti yang ditulis John Stott lebih dari 40 tahun yang lalu, “tunduk kepada otoritas sudah ketinggalan zaman saat ini. Hal itu sama sekali bertentangan dengan sikap kontemporer tentang kebebasan dan serba boleh.”(*¹⁰²) Empat dekade yang berlalu hanya memperburuk reputasi negatif ketundukan, dan hal ini paling nyata terjadi di dalam pernikahan.

Namun faktanya tetap bahwa, jika dipahami dengan benar dan diterapkan dengan tepat, ketundukan terletak di jantung hubungan sebagaimana yang ditetapkan Allah. Anak-anak harus tunduk kepada orang tua mereka (Efesus 6:1), anggota gereja harus tunduk kepada pemimpin gereja mereka (Ibrani 13:17), dan, di sini, istri harus tunduk kepada suami mereka _“seperti kepada Tuhan.”_ Ketundukan kepada orang lain, tergantung pada peran yang kita emban dalam hidup, adalah bagian tak terpisahkan dari hubungan kita satu sama lain.

Ketundukan seorang istri kepada suaminya mencerminkan tatanan ilahi Allah untuk pernikahan. Tetapi bagaimanakah, secara spesifik, kita harus memahami ajaran ini? Pertama-tama, arahan agar seorang istri tunduk kepada suaminya sama sekali tidak menyiratkan inferioritasnya [kedudukan yang lebih rendah]. Alkitab sangat jelas bahwa laki-laki dan perempuan setara dalam martabat, karena keduanya diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sebagai orang percaya, kita juga setara dalam penebusan—dan kesetaraan itu terlihat dalam kenyataan bahwa kita adalah sesama ahli waris anugerah kehidupan (1 Petrus 3:7). Kedudukan kita sebagai laki-laki dan perempuan di hadapan Allah sepenuhnya setara. Perbedaan peran tidak berarti perbedaan nilai.

Kedua, wanita harus tunduk kepada suami mereka sendiri, bukan kepada semua laki-laki secara umum. Paulus tidak memberikan instruksi umum tentang tempat wanita dalam masyarakat; ia memberikan arahan khusus mengenai peran istri dalam keluarga. Dalam konteks itu, keinginan seorang wanita untuk tunduk kepada Tuhan sebagian diungkapkan melalui ketundukannya kepada suaminya.

Ketiga, ketundukan ini tidak sama dengan ketaatan tanpa syarat. Suami tidak boleh memaksa istri mereka, juga tidak boleh meminta mereka untuk tunduk, dan tentu saja tidak kepada hal-hal yang tidak ditetapkan Tuhan. Seorang istri tidak berada di tangan seseorang yang memiliki wewenang untuk memerintah sesuka hatinya. Sebaliknya, seorang suami harus “mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri," menyerahkan dirinya untuknya dan membimbingnya dalam kekudusan (Efesus 5:33). Jika Anda seorang suami, maka perlu digarisbawahi bahwa jika pada titik tertentu Anda berusaha untuk menjauhkan istri Anda dari ketaatan kepada Kristus ketimbang membawanya lebih dalam ke dalamnya, istri Anda tidak berkewajiban secara alkitabiah untuk mengikuti arahan Anda.

Jika Anda seorang istri, Alkitab tidak menyerukan Anda untuk taat seperti budak dan tanpa berpikir. Sebaliknya, ketundukan Anda adalah kesetiaan yang penuh sukacita dan komitmen untuk mengikuti arahan suami Anda sebagai bagian dari kemitraan timbal balik yang mengejar kemuliaan Allah dalam segala hal. Dengan sepenuh hati dan tanpa keengganan, ketundukan semacam ini hanya dimungkinkan oleh kuasa Allah sehingga Anda dapat ”berbuat baik kepada suaminya, dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya” (Amsal 31:12). Ketundukan alkitabiah ini tentu saja bukanlah sesuatu yang sedang tren. Seringkali tidak mudah. ​​Tetapi, di mata Allah dan umat-Nya, itu indah.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: AMSAL 31:10-31

(*¹⁰²) The Message of Ephesians: The Bible Speaks Today [Pesan Efesus: Alkitab Berbicara Hari Ini] (IVP Academic, 1979), hlm. 215.

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 140–142; 2 Korintus 12

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

01/09/2026

2 SEPTEMBER

TAKUT DAN HORMAT AKAN KRISTUS

“Tunduklah seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” EFESUS 5:21

Orang saling tunduk satu sama lain karena berbagai alasan—berdasarkan politik atau struktur sosial, atau bahkan berdasarkan pragmatisme. Terkadang jauh lebih mudah (dan tentu saja lebih menyenangkan!) untuk tunduk kepada orang lain ketimbang mengambil risiko terlihat tidak sopan atau konfrontatif.

Namun, tidak satu pun dari alasan-alasan ini merupakan faktor pendorong ketundukan Kristen. Sebaliknya, ciri khas ketundukan kita satu sama lain seharusnya adalah bahwa hal itu dilakukan “karena takut akan Kristus.” Menekuk lutut di hadapan Yesus mencegah kita terlalu sibuk dengan diri sendiri. Takut akan Kristus tidak hanya menjauhkan kita dari diri sendiri; tetapi juga menarik kita kepada Yesus. Di dalam Dia kita melihat bagaimana menaati panggilan ketundukan, karena Yesus sendirilah yang mengajarkan, “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. … Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:26, 28). Ia tidak hanya mengucapkan kata-kata itu tetapi juga menghidupinya. Perhatikan, misalnya, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya dalam Yohanes 13. Seperti yang dicatat Yohanes, “Yesus tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain linen dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya” (Yohanes 13:3-5). Apa yang terjadi di sini? Tidak lain adalah ketundukan Allah Anak kepada Allah Bapa. Dia yang datang dari Allah dan adalah Allah merendahkan diri-Nya dengan “mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:7).

Yesus datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa-Nya (Yohanes 6:38). Akibatnya, Ia menerima kesulitan. Ia diasingkan dan diperlakukan dengan buruk. Ia menanggung kebencian, kesalahpahaman, dan kematian. Yesus dihancurkan agar kehidupan kita yang hancur dapat diperbaiki dan diubah. Dialah yang datang untuk mati di kayu salib, menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa, agar Ia dapat menyediakan tebusan bagi semua orang yang cukup rendah hati untuk bersujud dan berkata, “Itu memang Juruselamat yang kubutuhkan.”

Ketika kita mempertimbangkan Kristus sebagaimana adanya, kita pasti akan tergerak untuk takut akan Dia. Siapa lagi yang akan kita hormati dan kasihi lebih dari Pribadi kedua Tritunggal yang ilahi, yang rela menyerahkan diri-Nya bahkan sampai mati dalam ketaatan kepada Bapa-Nya dan demi kebaikan umat-Nya? Dan ketika kita menghormati atau takut akan Kristus, kita siap untuk memiliki sikap yang sama seperti Kristus: sikap yang tidak mengejar kedudukan atau berupaya untuk berkuasa atau membela hak-hak kita, tetapi sikap yang taat kepada Allah dengan menundukkan kepentingan kita sendiri kepada kepentingan saudara-saudari kita.

Ada banyak alasan mengapa kita memilih untuk tunduk kepada orang lain (dan lebih banyak lagi alasan mengapa kita memilih untuk tidak melakukannya). Tetapi hendaklah hal ini berlaku bagi Anda: bahwa Anda harus tunduk kepada orang lain di dalam jemaat Anda karena hormat dan takut akan Kristus, yang telah tunduk kepada Bapa-Nya dan dengan berlaku demikian Ia menjadi Juruselamat Anda.

💭❤️🤚

Untuk lebih mendalami bacalah: FILIPI 2:17-30

Bacaan Alkitab Sepanjang Tahun: Mazmur 137-139; 2 Korintus 11:16-33

TRUTH FOR LIFE (Kebenaran bagi Kehidupan) oleh Alistair Begg

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Renungan Kristen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category