04/10/2026
Apakah Ajaran Shohibul Haul SOLO "Sesat"?
Hari ini, 4 Oktober 2026, adalah puncak Haul Solo. Tetapi siapa sebenarnya Shohibul Haul Solo, dan bagaimana ajaran yang dinisbatkan kepadanya?
Ia adalah الحبيب الإمام علي بن محمد الحبشي, pengarang Simṭud Durar. Ia bukan orang yang lahir dan hidup di Indonesia, apalagi tokoh yang berjasa dalam sejarah Kota Solo. Soal itu tidak saya bahas lebih lanjut. Saya hanya ingin menguji salah satu riwayat yang dinukil dalam kitab yang menghimpun anfas-nya.
Kitab itu adalah جواهر الأنفاس فيما يرضي رب الناس من أنفاس الإمام علي بن محمد الحبشي, kump**an anfas Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi yang dihimpun muridnya, Habib Umar bin Muhammad Mula Khaylah.
Pada halaman 6 terdapat pembahasan tentang pertanyaan di alam kubur: مَنْ رَبُّكَ؟ مَنْ نَبِيُّكَ؟ dan seterusnya.
Di sinilah point persoalannya.
Dalam hadis al-Bara’ bin ‘Adzib tentang pertanyaan kubur, disebutkan pertanyaan:
مَنْ رَبُّكَ، وَمَا دِينُكَ، وَمَنْ نَبِيُّكَ؟
“Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu?”
Jawaban seorang mukmin pasti:
رَبِّيَ اللهُ، وَدِينِيَ الإِسْلَامُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ
“Rabb-ku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad.”
Tetapi terdapat kisah yang sangat menarik dalam kitab Jawahirul Anfas.
Kisah tersebut memiliki kemiripan dengan riwayat yang jauh lebih tua dalam kitab المشرع الروي في مناقب السادة الكرام آل أبي علوي, karya Muhammad bin Abi Bakr al-Shilli al-Ba‘alawi (w. 1093 H).
Dalam Juz II, halaman 188, al-Shilli menuturkan sebuah kisah dalam bagian karamah ‘Abdullah bin ‘Alawi bin al-Faqīh al-Muqaddam.
Seorang lelaki melantunkan syair tentang kebangkitan dan hisab. Abdullah bin ‘Alawi tersentuh hingga jatuh pingsan. Setelah sadar, ia meminta syair tersebut diulangi.
Lelaki itu kemudian meminta jaminan masuk surga. Abdullah menjawab:
ليس ذلك إلي
“Hal itu bukan berada dalam kewenanganku.”
Namun setelah lelaki itu meninggal, Abdullah menghadiri pemakamannya. Di dekat kuburnya, wajahnya berubah dan ia tampak gembira.
Ketika ditanya sebabnya, ia menceritakan bahwa ketika dua malaikat bertanya kepada lelaki tersebut tentang Rabb-nya, lelaki itu menjawab:
شيخي عبد الله باعلوي!
“Syaikhku adalah Abdullah Ba‘alawi!”
Kisah itu kemudian berlanjut dengan jawaban kedua yang sama. Malaikat berkata:
مرحبا بك وشيخك عبد الله باعلوي
“Selamat datang kepadamu dan kepada syaikhmu, Abdullah Ba‘alawi.”
Perhatikan baik-baik.
مَنْ رَبُّكَ؟
Pertanyaannya adalah: “Siapa Rabb-mu?”
Tetapi dalam kisah tersebut, jawaban yang dinukil bukan:
رَبِّيَ اللهُ
melainkan:
شَيْخِي عَبْدُ اللهِ بَاعَلَوِي
“Syaikhku Abdullah Ba‘alawi.”
Dalam redaksi lain yang dinukil dalam Jawahirul Anfas, diksi yang digunakan adalah حبيبي—“habibku”—atau bentuk ungkapan yang menempatkan seorang tokoh Ba‘alawi sebagai jawaban atas pertanyaan tentang Rabb.
Di sinilah kita harus berhenti sejenak.
مَنْ رَبُّكَ؟
Bukan pertanyaan:
“Siapa gurumu?”
Bukan:
“Siapa habibmu?”
Bukan p**a:
“Siapa wali yang kamu cintai?”
Pertanyaannya adalah:
مَنْ رَبُّكَ؟
Dan jawaban tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ adalah:
رَبِّيَ اللهُ
“Rabb-ku adalah Allah.”
Ahlussunnah wal Jama'ah mengakui adanya karamah para wali. Tetapi karamah tidak boleh mengubah prinsip tauhid. Kisah karamah—sebagaimana kisah-kisah lainnya—tetap harus ditimbang dengan Al-Qur’an, Hadits, dan prinsip akidah. Wajib berkesesuaian dengan syariat.
Mencintai wali bukan persoalan.
Mengakui karamah juga bukan persoalan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika sebuah kisah menempatkan nama seorang habib sebagai jawaban atas pertanyaan yang secara tegas berbicara tentang Rabb.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri tidak memiliki kuasa mutlak untuk memberikan hidayah kepada siapa pun.
Lalu bagaimana mungkin seorang guru atau wali menjadi “Rabb” seseorang?
Karena itu, pertanyaan kubur tetap sederhana:
مَنْ رَبُّكَ؟
Dan jawabannya:
رَبِّيَ اللهُ.
Bukan syaikhku.
Bukan habibku.
Bukan waliku.
Rabb-ku Allah.
Setelah mengetahui riwayat yang tertulis dalam kitab tersebut, bagaimana kita seharusnya menilai dan menyikapi ajaran Shohibul Haul Solo? Akankah kita mengikutinya dan juga menghadiri haulnya?