
08/05/2025
Saham Chengdu Aircraft Corporation (CAC), produsen jet tempur J-10C asal Tiongkok, melonjak tajam menyusul klaim Pakistan bahwa Angkatan Udara Pakistan (PAF) berhasil menembak jatuh lima pesawat tempur India, termasuk tiga jet Rafale, dalam konflik terbaru antara kedua negara.
Lonjakan Saham CAC
Pada Rabu, 7 Mei 2025, saham CAC di Bursa Efek Shenzhen melonjak hingga 18%, mencapai harga tertinggi CNY 71,08 sebelum ditutup di level CNY 68,88, mencatat kenaikan harian sebesar 16,29% . Kenaikan ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap performa jet tempur buatan Tiongkok, khususnya J-10C dan JF-17 Thunder, yang digunakan oleh PAF dalam operasi tersebut.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan meningkat setelah India meluncurkan serangan udara bertajuk "Operation Sindoor" yang menargetkan infrastruktur yang diklaim sebagai basis teroris di wilayah Pakistan. Sebagai respons, PAF dilaporkan menembak jatuh lima pesawat tempur India, termasuk tiga Rafale, satu MiG-29, dan satu Su-30MKI, menggunakan jet tempur J-10C yang dilengkapi rudal PL-15E .
Dampak Terhadap Pasar Saham Global
Kinerja J-10C dalam konflik ini meningkatkan kepercayaan terhadap industri pertahanan Tiongkok. Selain CAC, saham perusahaan pertahanan Tiongkok lainnya seperti AVIC Aerospace juga mengalami kenaikan, dengan sahamnya di Hong Kong naik lebih dari 6% .
Sebaliknya, saham Dassault Aviation, produsen Rafale asal Prancis, mengalami penurunan sebesar 1,64% di Bursa Saham Paris, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap efektivitas jet tempur tersebut dalam pertempuran nyata .
Kesimpulan
Lonjakan saham CAC menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dan keberhasilan militer dapat mempengaruhi pasar saham, khususnya di sektor pertahanan. Keberhasilan operasional J-10C dalam konflik ini tidak hanya memperkuat posisi CAC di pasar global tetapi juga menyoroti pergeseran kepercayaan terhadap produk pertahanan Tiongkok di kancah internasional.