24/03/2026
Di sebuah negeri bernama Republika Serba Baik, segala sesuatu tampak sempurna, di baliho, di pidato, di layar televisi. Presiden tersenyum lebar, jalanan selalu terlihat mulus (minimal di foto udara), dan rakyat… yah, rakyat selalu disebut “bahagia” dalam laporan resmi.
Tapi seperti kopi sachet yang manisnya berlebihan, di balik semua itu ada rasa pahit yang tak bisa disembunyikan.
⸻
Negeri yang Sibuk Berpura-pura
Di Republika Serba Baik, politik bukan soal melayani, tapi soal siapa paling lihai berpura-pura peduli.
Para pejabat sering mengunjungi daerah miskin, bukan untuk memperbaiki keadaan, tapi untuk memastikan angle kamera pas. Mereka turun dari mobil mewah, menyapa warga, lalu berbisik ke ajudan:
“Udah ya? Foto dapat? Kita lanjut makan siang di hotel bintang lima.”
Warga yang disalami?
Masih menunggu bantuan yang “sedang dalam proses” prosesnya panjang, seperti janji kampanye yang tak pernah selesai.
⸻
Demokrasi yang Hanya Ramai Saat Pemilu
Setiap lima tahun, negeri ini berubah jadi pesta besar. Spanduk bertebaran, janji berhamburan, dan rakyat tiba-tiba jadi “saudara”.
“Saudara-saudaraku!” teriak seorang calon pemimpin di panggung.
Padahal kemarin, dia bahkan tidak tahu jalan menuju desa itu tanpa bantuan Google Maps.
Lucunya, setelah pemilu selesai, demokrasi seperti masuk mode hemat energi.
Kritik dianggap mengganggu stabilitas.
Pertanyaan dianggap provokasi.
Dan suara rakyat?
Masih ada… tapi volumenya dipelankan.
⸻
Politik Kotor yang Sudah Dianggap Wajar
Di Republika Serba Baik, istilah “politik bersih” terdengar seperti iklan sabun.
Semua orang tahu ada permainan, tapi pura-pura tidak tahu.
Semua orang curiga, tapi tetap ikut arus.
Seorang warga pernah berkata:
“Di sini bukan soal benar atau salah, tapi soal siapa yang ketahuan.”
Dan yang paling lucu atau menyedihkan adalah ketika pelaku korupsi masih bisa tersenyum di televisi, seolah-olah yang hilang itu bukan uang rakyat, tapi koin receh di sofa.
⸻
Ketidakpedulian yang Menular
Awalnya rakyat marah.
Kemudian kecewa.
Lalu lelah.
Dan akhirnya… terbiasa.
Ketidakpedulian menjadi penyakit yang menyebar lebih cepat daripada berita hoaks.
“Ah, percuma,” kata seorang bapak di warung kopi. “Ganti orang, sama saja.”
Temannya mengangguk sambil menyeruput kopi:
“Yang penting harga mie instan nggak naik.”
⸻
Humor: Senjata Terakhir Rakyat
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibungkam di negeri itu: humor.
Rakyat mungkin tak bisa mengubah kebijakan, tapi mereka bisa menertawakannya.
Muncul meme di mana pejabat digambarkan seperti karakter sinetron:
banyak drama, sedikit logika.
Ada juga lelucon yang beredar:
“Di Republika Serba Baik, transparansi itu ada.”
“Di mana?”
“Di laporan keuangan transparan karena kosong.”
Orang-orang tertawa.
Bukan karena semuanya lucu, tapi karena tertawa lebih murah daripada marah.
⸻
Harapan yang Tidak Mau Mati
Meski begitu, tidak semua orang menyerah.
Masih ada guru yang jujur.
Masih ada jurnalis yang berani.
Masih ada anak muda yang percaya bahwa negeri ini bisa lebih baik.
Mereka mungkin tidak punya kekuasaan, tapi punya sesuatu yang lebih sulit dibeli: integritas.
Dan di tengah semua intrik, kebusukan, dan ketidakpedulian, harapan itu tetap ada—kecil, tapi keras kepala.
⸻
Republika Serba Baik adalah negeri yang aneh.
Di sana, kebohongan bisa terlihat resmi.
Ketidakadilan bisa terdengar normal.
Dan demokrasi… bisa terasa seperti formalitas.
Tapi selama masih ada yang berani berpikir, berbicara, dan bahkan menertawakan absurditasnya, negeri itu belum sepenuhnya hilang.
Karena kadang, perubahan besar…
dimulai dari satu hal sederhana:
“Eh, ini nggak bener, kan?” 😂