14/06/2026
KEPUTUSAN Badan Pengelola Investasi Danantara menggelontorkan dana awal Rp5 triliun untuk proyek hilirisasi komoditas ayam demi menopang proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mempertaruhkan reputasi lembaga di mata investor internasional.
Langkah ini memicu kekhawatiran pasar global karena Danantara baru saja menerbitkan obligasi dolar Amerika Serikat sebesar US$1,5 miliar dengan tenor 5 dan 10 tahun untuk investasi dan refinancing.
Keterlibatan Danantara dalam proyek pangan yang sarat muatan politis dan tidak transparan ini berisiko dibaca oleh pelaku pasar modal sebagai alarm buruknya tata kelola (governance risk).
Hal itu sekaligus memicu keraguan besar apakah Danantara benar-benar menjalankan disiplin investasi profesional atau sekadar menjadi kendaraan pembiayaan untuk program populis pemerintah.
Secara kalkulasi bisnis, proyek yang diproyeksikan menelan total dana Rp16,7 triliun hingga tahun 2036 ini dinilai keluar dari mandat utama Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis yang seharusnya mengoptimalkan aset negara secara komersial.
Keputusan mendanai rantai pasok ayam melalui PT Berdikari dan ID Food di enam wilayah Indonesia ini mengabaikan kepastian Internal Rate of Return (IRR), manajemen risiko fluktuasi harga komoditas, serta kejelasan mitigasi kerugian jika skema belanja atau target penerima MBG berubah di tengah jalan.
Keberanian Danantara menanggung risiko pasar ini menjadi ironis karena dilakukan tepat saat sektor perunggasan nasional sedang rapuh, ditandai dengan jatuhnya harga telur di tingkat peternak rakyat di bawah harga acuan Rp26.500/kg akibat kelebihan pasokan.