23/08/2026
Pemakzulan Andrew Johnson pada 1868 tidak menjatuhkannya dari kursi presiden—nasib politiknya bertahan hanya karena satu suara.
Andrew Johnson menjadi Presiden Amerika Serikat ke-17 pada 1865, setelah Abraham Lincoln dibunuh. Ia kemudian memimpin pada masa Reconstruction, periode sulit setelah Perang Saudara ketika Amerika Serikat harus menghadapi penyatuan kembali negara, pembagian kekuasaan politik, dan hak-hak orang yang sebelumnya diperbudak.
Sumber ini menggambarkan pilihan Johnson untuk segera mengakhiri Reconstruction sebagai titik benturan utama dengan Radical Republicans yang menguasai Kongres. Konflik atas arah “Radical Reconstruction”—istilah sumber untuk kebijakan rekonstruksi yang lebih tegas—berujung pada pemakzulannya pada 1868.
Namun pemakzulan bukan berarti seorang pejabat otomatis kehilangan jabatan. Johnson selamat dengan selisih satu suara, lalu menyelesaikan masa kepresidenannya hingga 4 Maret 1869.
Di ruang sidang yang tegang itu, satu suara menjadi pengingat betapa rapuhnya kekuasaan politik ketika sebuah negara masih berusaha pulih dari perang dan perpecahan. Kisah Johnson bukan sekadar tentang bertahan di jabatan, melainkan juga tentang bagaimana keputusan politik setelah konflik dapat meninggalkan dampak panjang bagi masyarakat.