28/03/2026
Bab 2: Pintu yang Tertutup dan Hati yang Waspada
Ransel hitam itu terasa lebih berat malam ini, meskipun isinya masih sama: botol minyak zaitun yang tinggal setengah, balsem otot, selembar jarik, dan handuk kecil. Yanti melangkah keluar dari lobi apartemen di Jakarta Pusat, tempat ia baru saja menyelesaikan sesi dua jam dengan seorang ibu rumah tangga yang menderita migrain kronis. Itu adalah sesi yang damai, penuh percakapan tentang resep masakan dan harga cabai, jenis interaksi yang jarang namun menenangkan bagi Yanti.
Ponselnya bergetar di saku celana kargo kelabunya. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor baru.
“Mbak Yanti? Saya direkomendasikan Pak Tio. Bisa pijat malam ini? Badan saya pegal semua. Alamat: Jalan Kemang Raya, Gg. X No. Y. Pukul 21.00 WIB. Pria.”
Yanti menghela napas, menatap layar ponselnya di bawah sorotan lampu jalan yang temaram. Kemang. Jauh dari kosnya di Bendungan Hilir, tapi pembayaran untuk area itu biasanya lumayan. Stigma tentang “pelanggan pria” langsung muncul di kepalanya, teringat Pak Handoko dari minggu lalu. Namun, ia teringat tagihan kos yang jatuh tempo lusa.
“Bisa, Pak,” ketiknya pelan. “21.00 WIB.”
Ia harus bergerak cepat. Transportasi di Jakarta saat jam pulang kerja adalah mimpi buruk, dan ia tidak boleh terlambat. Pikirannya beralih dari resep masakan ibu tadi ke mode waspada yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali menerima panggilan dari pelanggan pria baru.
Perjalanan dengan ojek daring terasa lambat. Angin malam menerpa wajahnya, mengeringkan sedikit keringat yang mulai muncul. Ransel hitamnya, setianya yang menemaninya ke mana pun, terasa seperti beban tapi juga tameng. Di dalamnya, selain alat pijat, ada juga sebotol kecil lada bubuk di saku samping yang mudah dijangkau, alat pertahanan diri yang syukurnya belum pernah ia gunakan.
Gedung apartemen Pak Tio atau siapapun pria ini ternyata lebih tua dari bayangannya. Fasadnya sedikit kusam, dan lobi utamanya sepi, hanya dijaga seorang satpam yang terkantuk-kantuk. Yanti mendaftar di buku tamu, menuliskan nama "Yanti - Terapis Pijat," mengabaikan tatapan singkat namun menilai dari sang satpam. Tatapan itu selalu sama: campuran rasa ingin tahu dan prasangka yang sudah biasa ia abaikan.
Lantai tujuh. Lorongnya panjang, gelap, dan sunyi, hanya diterangi beberapa lampu kuning yang berjarak jauh. Yanti berjalan dengan langkah pasti, namun indranya tajam, mendengarkan setiap suara, setiap langkah kaki. Nomor 7B. Pintu kayu berwarna cokelat tua.
Ia merapikan t-shirt hijaunya yang sedikit kusut akibat perjalanan ojek, menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu tiga kali. “Permisi, pijat panggilan.”
Pintu terbuka perlahan. Di ambang pintu berdiri seorang pria dengan usia sekitar 40-an, rambutnya acak-acak, mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek selutut. Matanya tampak lelah, namun sorot matanya yang menilai membuat Yanti langsung memasang radar kewaspadaan. Pria itu Pak Rudi, begitu ia memperkenalkan diri tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.
“Masuk, Mbak,” suaranya berat, serak.
Yanti melangkah masuk, ransel hitamnya tetap di punggung.
Apartemennya kecil, berantakan dengan tumpukan majalah dan pakaian kotor di kursi. Bau apek samar tercium, bercampur dengan aroma rokok yang pekat.
"Pegal di mana saja, Pak?" tanya Yanti profesional, berusaha menjaga jarak.
"Seluruh badan, Mbak. Terutama punggung dan... paha," jawabnya, tatapannya menyapu tubuh Yanti dari atas ke bawah, dari wajahnya yang berkerut lelah hingga tubuhnya yang ramping di balik pakaiannya.
Yanti mengangguk, membuka ranselnya dan mulai menyiapkan peralatannya. “Silakan tengkurap di kasur, Pak. Saya akan mulai dari punggung dulu.”
Pria itu berbaring di tempat tidur yang seprainya sudah usang. Yanti menuangkan minyak zaitun ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu mulai memijat. Jemarinya yang terlatih menekan titik-titik ketegangan di punggung Pak Rudi. Ia fokus pada tekniknya, pada aliran otot yang kaku.
"Mbak Yanti sudah lama jadi terapis?" tanya Pak Rudi, suaranya terdengar terlalu dekat di telinganya.
"Sudah tiga tahun, Pak," jawab Yanti, menjaga nada suaranya tetap datar dan fokus pada pekerjaannya.
"Badannya bagus ya, ramping. Pasti kuat ya tangannya," lanjutnya, tangannya sendiri mulai mencoba bergerak, mendekati tangannya yang sedang memijat.
Yanti segera menarik tangannya, menghentikan pijatan sejenak. "Maaf, Pak, tangan saya di punggung dulu. Saya sedang fokus melemaskan ototnya," ucapnya tegas, matanya menatap lurus ke arah Pak Rudi.
Pria itu terkekeh pelan, tawa yang membuat bulu kuduk Yanti meremang. "Iya, iya. Sensual juga ya kulitnya kalau kena minyak..."
Yanti menahan diri untuk tidak membalas. Ia kembali memijat, kali ini dengan tekanan yang lebih kuat, mencoba mengalihkan perhatian pria itu dari fantasi konyolnya. Setiap detik terasa seperti satu jam. Ia harus menyelesaikan ini. Ia harus pulang.
Setengah jam kemudian, pijatan selesai. "Sudah selesai, Pak," ucap Yanti, langsung berdiri dan mulai membereskan peralatannya.
Pria itu duduk, mengulurkan tangannya yang kasar ke arah Yanti. "Terima kasih, Mbak. Ini," ia menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu, jumlahnya lebih banyak dari tarif biasanya. "Ambil saja kembaliannya. Untuk tip..."
Yanti menerima uang itu, menghindari kontak fisik sebisa mungkin. "Terima kasih, Pak," ucapnya singkat, langsung menyampirkan ransel hitamnya.
"Mbak Yanti... kalau besok-besok saya panggil lagi, bisa?" pria itu bertanya, tatapannya menahan Yanti di ambang pintu.
Yanti menatap pria itu sejenak, menimbang-nimbang. Tatapan itu masih sama, penuh dengan hasrat yang tersembunyi di balik kata-kata sopan.
"Insyaallah, Pak," jawab Yanti, lalu langsung melangkah keluar, menutup pintu kayu berwarna cokelat tua itu rapat-rapat.
Langkah kakinya di lorong sunyi lantai tujuh terasa lebih ringan, bukan karena berat ranselnya yang berkurang, melainkan karena ia sudah keluar dari ruang privasi yang penuh dengan intimidasi samar itu. Di dalam ransel hitamnya, sebotol lada bubuk di saku samping masih utuh. Pintu apartemen 7B sudah tertutup, tapi pintu hati Yanti untuk selalu waspada tetap terbuka, setajam matanya di bawah sorotan lampu jalan malam itu.
Ia belum pulih dari trauma kecilnya, tapi ia harus tetap melangkah, karena besok adalah hari yang lain, dan tas ransel hitamnya masih penuh dengan mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Bersambung...