09/04/2026
seorang janda hamil
Seorang janda hamil membeli sebuah rumah dengan harga hampir tidak masuk akal… Dan di balik sebuah lukisan tua, ia menemukan harta karun tersembunyi di dalam dinding.
Namanya sekarang Sari.
Di usia 35 tahun, hidup telah meninggalkannya sebagai seorang janda—baru empat bulan berlalu sejak suaminya, Rizal, meninggal tanpa peringatan. Kepergian itu tidak hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga sisa kestabilan yang mereka miliki. Ia bekerja tanpa lelah, namun penghasilannya nyaris tidak cukup untuk bertahan hidup.
Sejak Rizal tiada, segalanya runtuh.
Ia tak lagi mampu membayar kamar kontrakan mereka. Tatapan tetangga berubah. Tangan-tangan yang dulu menawarkan bantuan perlahan menghilang. Karena kenyataannya kejam… bahkan rasa iba pun ada batasnya.
Dan Sari tahu itu.
Lima bulan hamil. Tanpa pekerjaan. Tanpa keluarga dekat. Tanpa siapa pun untuk bersandar. Yang tersisa hanyalah sedikit tabungan hasil bertahun-tahun berjuang—uang yang seharusnya untuk keadaan darurat, untuk persalinan, untuk bayinya.
Lalu datang ancaman terakhir: ia harus keluar dari kontrakan dalam satu minggu.
Di tengah keputusasaan itu, ia mendengar percakapan di pasar. Dua wanita membicarakan sebuah rumah tua di perbukitan terpencil. Terbengkalai. Dilupakan. Tak ada yang mau. Dijual oleh pemerintah dengan harga sangat murah, hanya untuk menyingkirkan masalah.
Orang lain akan mengabaikannya.
Tapi tidak Sari.
Hari itu juga, ia mencari informasi. Petugas melihatnya dengan tatapan iba.
“Rumah itu sudah hampir runtuh… tidak ada listrik, tidak ada air, jauh dari mana-mana,” katanya.
Sari hanya bertanya:
“Berapa harganya?”
Tiga juta rupiah.
Hampir seluruh uang yang ia miliki.
Itulah satu-satunya jaring pengaman, masa depan, harapan terakhirnya. Tapi… apa gunanya uang jika ia tidak punya tempat tinggal?
Ia menandatangani.
Tanpa jaminan. Tanpa kepastian. Hanya dengan keyakinan.
Perjalanan menuju rumah itu adalah ujian tersendiri.
Berjam-jam berjalan di perbukitan, tubuhnya berat karena kehamilan, hanya ditemani sebuah koper kardus. Setiap langkah terasa sakit. Setiap jeda dipenuhi keraguan.
Ia menangis. Ia ragu. Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah ia sedang menghancurkan hidupnya.
Namun ia terus berjalan.
Karena tidak ada jalan kembali.
Saat akhirnya ia tiba… yang pertama menyambutnya adalah kesunyian.
Rumah itu lebih besar dari bayangannya, tapi hancur. Dinding retak, atap bolong, jendela tanpa kaca. Seolah ditinggalkan puluhan tahun.
Tempat yang seharusnya tak dihuni siapa pun.
“Apa yang sudah kulakukan…” bisiknya.
Tapi sekarang… itu miliknya.
Satu-satunya tempat berlindung.
Hari-hari pertama sangat berat.
Ia tidur di lantai. Angin masuk dari segala arah. Lapar menggigit. Tubuhnya semakin lelah dari hari ke hari.
Namun perlahan… ia mulai membangun kembali.
Menambal lubang. Membersihkan debu. Mencari air dari sungai kecil yang jauh. Ia memaksa dirinya percaya bahwa tempat ini bisa menjadi rumah.
Karena ia harus percaya.
Suatu sore, saat sedang membersihkan, matanya tertuju pada satu benda yang belum disentuh:
Sebuah lukisan tua di dinding.
Berdebu. Terlupakan.
Namun… anehnya menarik.
Ia membersihkannya perlahan. Lukisan pemandangan tua, mungkin hampir berusia seabad.
Ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Ia mencoba memindahkannya.
Namun tidak mudah.
Lukisan itu seolah menempel pada dinding.
Saat ia menarik lebih kuat—terdengar bunyi retakan.
Bukan dari bingkai.
Dari dinding.
Retakan muncul. Plester tanah mulai rontok.
Dan kemudian… ia melihatnya.
Sebuah rongga.
Ruang tersembunyi di dalam dinding.
Jantungnya berdegup kencang.
Dengan tangan gemetar, ia mengorek bagian yang longgar.
Ada sesuatu di dalam.
Terbungkus.
Tersembunyi puluhan tahun.
Ia menariknya keluar.
Berat... PART 2 IN CMT!