05/02/2026
Hari ini kita dipaksa menelan kabar yang seharusnya tidak pernah terjadi di negeri yang mengaku menjunjung pendidikan.
seorang anak SD mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena.
Ini bukan sekadar tragedi keluarga.
Ini tamparan keras untuk sistem dunia pendidikan kita.
Ketika negara sibuk bicara kurikulum unggul, digitalisasi, dan ranking global, bahkan baru-baru ini malah sibuk mengurusi atap rumah warga (gentengisasi). namun telah luput bahwa ada anak yang bahkan tak punya alat paling dasar untuk belajar. Buku dan pena, bukan gawai mahal, bukan fasilitas elite, hanya alat paling minimal. Namun bahkan itu gagal dijamin negara.
Pemerintah sering berkata pendidikan adalah hak setiap warga.
Tapi apa arti “HAK” jika aksesnya dibiarkan bergantung pada kemampuan ekonomi orang tua?
Apa arti “WAJIB BELAJAR” jika bebannya justru mematikan harapan?
Ini bukan soal satu sekolah.
Bukan soal satu daerah.
Ini soal negara yang membiarkan KEMISKINAN duduk sebangku dengan anak-anak, lalu heran ketika luka itu berubah menjadi keputusasaan.
Nalar Negeri menolak lupa.
Karena ketika seorang anak memilih menyerah sebelum masa depannya dimulai,
yang gagal bukan anak itu,
yang gagal adalah sistem.
Jika negara tidak mampu menjamin buku dan pena,
maka semua pidato tentang masa depan bangsa tak lebih dari slogan kosong.