31/10/2025
Kesaksian yang sangat sedih dari Saksi Kunci Prada Ricard Junimton Bulan
Sidang Kasus Prada Lucky Mamo, Saksi Kunci Prada Ricard Junimton Bulan Mengaku Kel4min dan 4nus Dilumuri Cab4i hingga Penyiksa4n Ala Akmil
saksi satu atas nama Prada Ricard Junimton Bulan merupakan saksi kunci dalam kasus ini. Ia juga merupakan korban dari pengan!ayaan bersama Prada Lucky. Sedangkan dua saksi lainnya adalah orang tua dari almarhum.
Pada kesempatan itu, Prada Ricard Junimton Bulan tanpa ragu mengisahkan kejadian penyiksaan yang dilakukan para seniornya itu. Menurutnya, perlakukan para senior hingga pimpinannya itu bukan lagi didikan namun sudah penyiksa4n dan tidak manusi4wi.
Ia mengungkapkan bahwa peristiwa itu mulai dialaminya sejak pukul 00.40 tanggal 28 Juli 2025. Saat itu, kata dia, dirinya sedang berada di dapur, datanglah Andre Mahoklory terdakwa 2 dan menyampaikan saksi diperintahkan menghadap oleh Dansi Intel Thomas Desambris Awi (terdakwa 1).
“Saat dia panggil, dia tanya saya, kamu ada masalah apa?, saya jawab tidak ada masalah, lalu HP saya diambil dan diperiksa kemudian dibawa menemui terdakwa 1. Ia kemudian menjalani pemeriksaan. Dalam pemeriksaan ditanya terkait sikap dan kepribadian dari Prada Lucky.
“Saat itu saya menjelaskan bahwa sepengetahuan saya, yang bersangkutan merupakan orang yang baik dan perhatian “ ujarnya.
Usai pengakuan itu, Dansi Intel langsung menyebut bahwa saksi dan korban menjalan hubungan terlarang (LGBT). Atas tuduhan itu keduanya lalu diinterogasi lebih lanjut dan mendapat pengan!ayaan.
“Dansi Intel menanyakan kepada almarhum, apakah kamu pernah berhubungan dengan Ricard?, almarhum menjawab tidak pernah. Jawaban itu kemudian membuat ia emosi lalu memuk korban menggunakan sandal. Tidak puas ia menghubungi Provos,” katanya.
Tak lama kemudian, datanglah Provos Poncianus Allan Dadi (terdakwa 3). Ia lalu hendak menamp4r korban Prada Lucky namun ditahan oleh Dansi Intel. Pratu Alan kemudian memerintahkan Rio Laka alias Umeke untuk mencari selang namun dibawakan kabel berwarna putih.
Dari kabel itu, Dansi Intel gunakan untuk menc4mbuk kedua korban berulang kali pada bagian punggung. Tak sampai di situ, kedua korban disuruh membuka baju kaos loreng yang dikenakan kemudian dic4mbuk oleh Pratu Alan hingga berdar4h.
“Kami dicambuk dari jam 1 sampai jam 3 subuh. Dansi Intel suruh saya tidur sedangkan korban Lucky hendak ke kamar mandi. Tak lama kemudian ia diberitahukan bahwa korban melarikan diri sehingga kami mencari di sekitar Batalyon namun tidak ditemukan,” sebutnya.
Ia menyebut setelah pencarian, ia diborgol dan dipindahkan ke salah satu ruang kosong hingga pagi. “Tangan kanan diborgol di jendela mulai jam 9 pagi sampai malam,” ujarnya.
Setelah pergantian piket kepada Pratu Imanuel Nimrot Laubora (terdakwa 6), saksi kembali menerima pengan!ayaan sekitar pukul 15.00 Wita. “Saat itu ia menyampaikan bahwa kami membuat malu lalu memuk menggunakan tangan pada bagian p**i. Tak puas, ia mengambil selang kompresor lalu menc4mbuk dibagikan punggung sebanyak empat kali. Saat bersamaan Sertu Dervinti Arjuna Putra Bessie (terdakwa 7) datang dan memuk menggunakan kopel,” ceritanya.
Ia juga mengaku, sore itu ia belum mendapat kabar tentang keberadaan Prada Lucky. Sejak sore jam 15.00 sampai pukul 21.00 ia dibawa oleh Pratu Nimrot dan letingnya Prada Eugenius Kin ke ruang Staf Intel. Disana sudah ada Letda Made Juni Arta Dana (terdakwa 8) yang siap mengintrogasinya.
“Saat itu saya berusaha berbohong dengan harapan agar tidak mendapat penyiksa4n lagi,” katanya.
Meski demikian, kata dia, cambukan terus dilayangkan dengan harapan ia bisa mengakui akan perbuatannya (LGBT). Karena saksi tidak mengakui tuduhan tersebut, terdakwa Made mulai menggantikan cara penyiksa4n dengan menggunakan lombok (Cabai) yang sudah diulek.
Letda Made menyeluruh Pratu Nimrot mengambil cabe. Pratu Nimrot kemudian menyuruh lagi Egianus Kin untuk mengambil cabe yang sudah diulek di dapur. Tak lama berselang, datanglah Egianus dengan membawa cabe yang sudah diulek setengah gelas.
Saksi kemduan disuru telajang oleh Made kemidiam memerintahkan Egianus Kin untuk mengoles cabe itu ke kemalu4n dan 4nus. “Leting kami menggunakan plastik di tangan kemudian melumuri kemalu4n saya. Setelah itu saya disuruh nungging lalu lanjut melumur 4nus. Saya merasakan perih dan panas,” ujarnya.
Usai penyiksaan itu, saksi kemudian disuruh mengenakan kembali celana dan digabungkan dengan Prada Lucky yang saat itu keluar dari ruang Staf Pers. Keduanya yang sedang duduk dilantik, datanglah Pratu Alan dan menuduhnya berbohong sembari menend4ng pakai kaki kanan pada bagian telinga dan memuk menggunakan vanbelt kompresor dibagikan tulang ekor.
Dalam kesaksiannya, sekitar pukul 22.00 Wita datanglah para perwira. Pertama kali tiba adalah Lettu Lukman Hakim, lalu Lettu Ahmad Faisal (Danki Kompi A yang juga terdakwa berkas terpisah) dan dua org perwira lainnya. Mereka memberikan nasehat kepada kedua korban.
Di ruang itu, tiba-tiba masuk Pratu Rofinus Sale (terdakwa 9) lalu memberikan hormat sambil mengambil selang dan menc4mbuk keduanya masing-masing sebanyak 5 hingga enam kali setelah itu ia keluar. Tak berselang lama, datang lagi Pratu Emanuel Joko Huki (terdakwa 10) dan Pratu Jamal Bangal (terdakwa 12) juga melakukan hal yang sama.
Lebih sadis lagi, Pratu Arianto Asa (terdakwa 11). Ia datang langsung meludahi keduanya dibagikan wajah lalu menc4mbuk hingga korban kencing dicelana. Setelah itu berlanjut ke terdakwa 13, Yohanes Viani Ili, Mario Paskalis Gomang (terdakwa 14) dan terdakwa 15.Firdaus.
“Danki C Rahmat lalu melarang untuk ambil (memukul) kami lagi. Selanjutnya Dansi Intel memerintahkan Provos Pratu Alan dan Pratu Piter untuk membawa kami ke kamar mandi untuk mandi oleh,” katanya.
Setelah di ruang staf pers datanglah Danki Achmad Thariq Al Qindi Singajuru, S .Tr . (Han) (Terdakwa 16) lalu memerintahkan keduanya untuk tiarap. Lalu keduanya dic4mbuk. Saat itu Prada Lucky berteriak kalau dadanya sakit. Bukannya diampuni, malah disuruh tahan napas lalu memuk pada bagian perut kanan. “Danki suruh berdiri lalu puk dibagian perut sebelah kanan. Saat itu ia langsung membungkuk kesakitan,” terangnya.
Lebih lanjut, saksi mengaku penyiksa4n berikutnya adalah tradisi tenggelam di daratan. Ia mengaku Prada Lucky terlebih dahulu disiks4. Kedua tangan diinjak oleh Danki, kedua kaki dipegang lalu disiram menggunakan air yang sudah terlebih dahulu disiapkan ke bagian muka hingga air habis.
“Setelah itu gantian dengan saya. Saya merasa sesak napas dan muntah air,” jawabnya ketika ditanya tentang apa yang dirasakan oleh Oditur.
Usai itu, keduanya kembali dic4mbuk berulang kali oleh Pratu Aprianto Rede Radja menggunakan hanger yang sudah dililit hingga Prada Lucky meminta ampun.
Sumber : Mage Wake