17/08/2026
TEGURAN KERAS UNTUK MIMBAR GEREJA
Pendeta, jangan jadikan Roma 13 sebagai tameng untuk membungkam penderitaan rakyat!
Alkitab memang memerintahkan kita menghormati pemerintah. Tetapi Alkitab juga memerintahkan: “Usahakanlah keadilan” (Yesaya 1:17), “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu” (Amsal 31:8), dan “Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air” (Amos 5:24).
Jadi jangan hanya berani berkata kepada rakyat, “Tunduk kepada pemerintah,” tetapi takut berkata kepada pemerintah, “Jangan berlaku tidak adil!”
Aceh dan Papua punya sejarah, luka, kehilangan, dan perjuangan. Hal seperti ini juga bukan hanya terjadi di Indonesia. Dunia mencatat Timor-Leste dan berbagai bangsa lain yang pernah mengalami konflik, penjajahan, kekerasan, dan perjuangan menentukan masa depan.
Sejarah tidak boleh dipaksa diam hanya karena mengganggu kenyamanan kekuasaan.
Gereja jangan menjadi pengeras suara pemerintah. Gereja juga jangan menjadi pengeras suara kelompok politik. Gereja harus menjadi pengeras suara kebenaran.
Kalau mimbar begitu keras menegur rakyat kecil tetapi mendadak bisu ketika berhadapan dengan penguasa, maka pertanyaannya sederhana:
Apakah yang ditakuti pendeta sebenarnya manusia atau Tuhan?
Menghormati pemerintah bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Mencintai Indonesia bukan berarti harus menutup mata terhadap penderitaan Aceh dan Papua. Menyuarakan keadilan bukan berarti mengajarkan perang.
Jangan tunggu darah tertumpah baru gereja bicara tentang perdamaian. Bicara tentang keadilan sebelum luka semakin dalam.
Perjuangan tidak harus dengan senjata. Kebenaran juga adalah perjuangan. Keadilan juga adalah perjuangan. Dan keberanian mengatakan yang benar di hadapan kekuasaan adalah perjuangan.
Tuhan melihat rakyat yang menangis. Tuhan melihat penguasa yang berkuasa. Dan pada akhirnya, semua akan berdiri di hadapan Hakim yang sama.