06/01/2026
🌿Garis Finish Yang Tak Terlihat - Ilustrasi Khotbah
✍️Ia dikenal sebagai pelari terbaik di klubnya. Catatan waktunya rapi, tekniknya halus, dan tubuhnya jarang cedera. Setiap pagi ia datang lebih awal ke stadion, berlari mengelilingi lintasan yang sama, dengan ritme yang sudah ia hafal di luar kepala. Semua terasa terkendali.
Beberapa bulan menjelang kejuaraan besar, pelatih mulai memperhatikan sesuatu.
Langkahnya masih cepat, tetapi napasnya sering tertahan. Ia mulai menghindari sesi tambahan, memilih berhenti tepat saat jam latihan usai. Ketika ditanya, jawabannya selalu singkat. Masih aman. Masih kuat.
Di luar lintasan, hidupnya semakin padat. Wawancara, sponsor, undangan acara. Latihan yang dulu jadi pusat hidupnya kini terasa seperti rutinitas yang bisa disesuaikan. Ia tetap berlari setiap hari, tetapi jarang mendorong dirinya melewati batas lama.
Hari perlombaan tiba. Stadion penuh. Sorak penonton mengalir seperti gelombang. Di garis start, ia berdiri dengan percaya diri. Ia tahu lintasan ini. Ia sudah berlari ribuan putaran di tempat yang sama.
Peluit berbunyi. Ia melesat bersama yang lain. Putaran pertama terasa ringan. Putaran kedua masih terkendali. Namun di pertengahan lomba, sesuatu berubah. Kakinya terasa berat. Napasnya pendek. Ia mencoba menaikkan kecepatan, tetapi tubuhnya tidak merespons seperti yang ia harapkan.
Satu per satu pelari lain menyalip. Ia berusaha bertahan, memaksa langkahnya tetap rapi. Garis finis sudah terlihat, tetapi jaraknya terasa lebih jauh dari yang ia bayangkan. Ketika akhirnya menyentuh garis akhir, namanya tidak dipanggil. Ia menunduk, menatap lintasan yang selama ini terasa begitu akrab.
Di ruang ganti, ia duduk diam. Tidak ada cedera. Tidak ada kesalahan teknis yang jelas.
Hanya satu kenyataan yang sulit dihindari. Ia tidak kalah hari itu. Ia telah kalah lama, ia sudah tertinggal jauh sebelumnya, saat ia berhenti menyiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh.
Kegagalan sering tidak dimulai di hari yang besar, melainkan jauh sebelumnya, saat seseorang perlahan berhenti bersungguh-sungguh. Ia tetap hadir, tetap bergerak, tetapi tidak lagi menjaga kedalaman komitmen. Akibatnya baru terasa ketika ujian datang.
Dalam kehidupan iman, hal yang sama sering terjadi. Doa, firman, dan ketaatan bisa berubah menjadi rutinitas yang dijalani tanpa kesadaran penuh. Tidak ada dosa besar yang terlihat. Tidak ada langkah yang tampak salah. Namun ketika kekuatan rohani tidak terus dipelihara, hati menjadi lemah tanpa disadari.
Tuhan memanggil umat-Nya untuk tetap setia dan tekun, bahkan ketika hasilnya belum terlihat. Pertumbuhan rohani membutuhkan kesungguhan yang dijaga setiap hari, bukan hanya saat dibutuhkan.
Waktu menuai ditentukan oleh Tuhan, sementara bagian kita adalah tetap setia menyiapkan diri. Ketekunan hari ini membentuk kekuatan untuk menghadapi saat yang menentukan.
Galatia 6:9) "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."