24/07/2026
# # **Kronologi Lengkap Hilangnya Presenter TVRI Papua Barat Yanto Idorway di Air Terjun Memti, Kabupaten Pegunungan Arfak (18 - 25 Juli 2026)** # #
Tanggal-Tanggal Penting
Peristiwa hilangnya Yanto Idorway terjadi pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WIT. Laporan resmi diterima oleh Polres Pegunungan Arfak pada pukul 20.30 WIT di hari yang sama dan langsung diteruskan ke Basarnas Manokwari.
Tim SAR gabungan diberangkatkan dari Manokwari menuju lokasi kejadian pada pukul 20.52 WIT. Operasi pencarian resmi dilaksanakan selama tujuh hari, terhitung mulai Minggu, 19 Juli 2026, hingga Jumat, 24 Juli 2026.
Operasi SAR resmi ditutup pada Jumat, 24 Juli 2026, pukul 18.15 WIT. Hingga Sabtu, 25 Juli 2026, Yanto Idorway belum berhasil ditemukan.
**Identitas Korban dan Saksi**
Korban dalam peristiwa ini adalah Suriyanto Tuwing Idorway yang akrab disapa Yanto. Ia berusia 32 tahun, berjenis kelamin laki-laki, dan bekerja sebagai presenter di stasiun televisi TVRI Papua Barat.
Dua orang saksi yang bersama korban saat kejadian adalah Desty Marska Tenu dan Petra Timotius Pattipeilohy. Kedua saksi merupakan rekan korban yang turut dalam perjalanan wisata tersebut dan baru pertama kali mengunjungi Pegunungan Arfak, dengan Yanto bertindak sebagai pemandu.
---
**Sebelum Kejadian**
Jumat, 17 Juli 2026
Yanto Idorway bersama dua rekannya, Desty Marska Tenu dan Petra Timotius Pattipeilohy, berangkat dari Manokwari menuju Kabupaten Pegunungan Arfak menggunakan dua sepeda motor. Rombongan menginap semalam di Distrik Oransbari sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
**Kejadian Hilangnya Korban**
Sabtu, 18 Juli 2026 – Sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WIT
Rombongan melanjutkan perjalanan melewati Distrik Kobrey hingga tiba di kawasan Air Terjun Memti.
Sebelum peristiwa terjadi, seorang perwira Polres Pegunungan Arfak secara tidak sengaja bertemu dengan Yanto dan kedua rekannya di simpang jalan menuju air terjun. Perwira tersebut mengenali Yanto sebagai presenter TVRI dan melihat ketiganya masuk ke arah air terjun, yang kemudian memperkuat kronologi yang disampaikan oleh para saksi.
Setibanya di lokasi, ketiganya berusaha menyeberangi sungai yang merupakan aliran buangan dari Air Terjun Memti.
Posisi Yanto berada paling depan dan ia berhasil menyeberang terlebih dahulu ke sisi seberang untuk meletakkan tiga telepon genggam yang dibawanya. Setelah itu, Yanto kembali ke tengah sungai dan berdiri di atas sebuah batu untuk membantu kedua rekannya menyeberang.
Saksi kedua sempat menyampaikan bahwa dirinya tidak berani menyeberang karena arus sungai cukup deras, namun Yanto meyakinkan bahwa ia akan membantu proses penyeberangan.
Ketika kedua saksi mulai menyeberang, saksi kedua tiba-tiba terpeleset dan terseret arus. Melihat kejadian tersebut, Yanto bersama saksi pertama secara spontan berusaha memberikan pertolongan. Saksi pertama berhasil menarik jaket atau sweter yang dikenakan saksi kedua hingga akhirnya dapat diselamatkan ke tepi sungai. Saat menoleh ke arah Yanto, saksi pertama melihat Yanto sudah terseret arus sejauh sekitar lima meter dan menghilang dari pandangan.
Saksi pertama kemudian berlari memutar melalui jalur hutan menuju bagian hilir sungai dengan harapan dapat menghadang Yanto, namun hingga tiba di lokasi yang diperkirakan menjadi lintasan arus, Yanto sudah tidak terlihat lagi. Korban diduga terjatuh dengan posisi kaki lebih dahulu ke sungai yang memiliki pusaran air cukup kuat.
**Upaya Pertolongan Awal**
Sabtu, 18 Juli 2026 – Pukul 14.00 hingga 18.15 WIT
Kedua saksi melakukan pencarian secara mandiri menyusuri aliran sungai hingga sekitar seratus meter dari lokasi kejadian. Pencarian berlangsung selama dua hingga tiga jam, namun tidak berhasil menemukan Yanto.
Pada pukul 18.15 WIT, kedua saksi tiba di Kampung Sisrang dan melaporkan kejadian tersebut kepada masyarakat setempat. Warga kemudian mengarahkan mereka menuju rumah Kepala Kampung Sisrang untuk beristirahat mengingat kondisi hari mulai gelap. Pada pukul 18.30 WIT, laporan diterima oleh pihak kepolisian. Pada pukul 20.30 WIT, laporan resmi diterima oleh Polres Pegunungan Arfak dari Kasat Intel Polres Pegunungan Arfak, Haerun, dan diteruskan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Manokwari. Pada pukul 20.52 WIT, tim SAR gabungan diberangkatkan dari Manokwari menuju lokasi kejadian menggunakan satu unit rescue car. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Manokwari, Yefri Sabaruddin, menyatakan bahwa tim membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam perjalanan darat untuk mencapai lokasi.
**Operasi SAR Gabungan**
Hari Pertama, Minggu, 19 Juli 2026
Tim SAR gabungan tiba di lokasi setelah menempuh perjalanan darat selama lima hingga enam jam. Pencarian dilakukan dengan penyisiran darat dan bantuan drone thermal. Namun, operasi terkendala kabut tebal dan suhu dingin di kawasan pegunungan. Tim SAR mengerahkan sejumlah peralatan pendukung, di antaranya rescue car, drone thermal, perlengkapan SAR air, perangkat komunikasi, peralatan mountaineering, serta perlengkapan evakuasi.
Hari Kedua, Senin, 20 Juli 2026
Area pencarian diperluas ke arah hilir. Tim menyisir celah-celah batu dan pusaran air secara manual.
Hari Ketiga, Selasa, 21 Juli 2026
Pencarian terus berlanjut dengan fokus pada penyisiran aliran sungai yang diduga menjadi jalur korban terseret arus. Kapolres Pegunungan Arfak AKBP Bernadus Okoka memimpin langsung operasi pencarian. Sebelum memulai pencarian pada hari itu, keluarga korban dan masyarakat adat setempat menggelar prosesi adat sebagai bentuk penghormatan. Kepala Kantor SAR Manokwari Yefri Sabarudin menyatakan tim SAR menghentikan sejenak kegiatan untuk mengizinkan ritual adat berlangsung. Setelah ritual selesai, tim SAR kembali melanjutkan pencarian sesuai rencana operasi.
Hari Keempat, Rabu, 22 Juli 2026
Operasi pencarian hari keempat dipimpin Kapolres Pegunungan Arfak AKBP Bernadus Okoka dengan apel konsolidasi pukul 08.15 WIT. Seluruh tim mengawali kegiatan dengan doa bersama sebelum bergerak menuju lokasi. Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa telepon genggam milik Yanto telah ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga, sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang beredar di masyarakat terkait keberadaan ponsel korban. Tim K9 atau anjing pelacak dari Polda Papua Barat dikerahkan untuk menyisir area hingga lima kilometer dari lokasi kejadian.
Hari Kelima, Kamis, 23 Juli 2026
Tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian. Sejak pukul 08.00 WIT, puluhan personel SAR dibagi ke dalam dua Search and Rescue Unit. SRU pertama menyusuri aliran sungai dari lokasi kejadian ke arah hilir sambil memeriksa titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut, sedangkan SRU kedua bergerak dari Kampung Membey ke arah hulu dengan dukungan pemantauan udara menggunakan drone thermal. Tim tiba di area pencarian sekitar pukul 10.00 WIT dan melakukan penyisiran hingga pukul 14.30 WIT. Operasi pencarian dihentikan sementara pada pukul 17.00 WIT dan Yanto Idorway belum berhasil ditemukan.
Hari Keenam, Kamis, 23 Juli 2026 (lanjutan)
Penyidik Polres Pegunungan Arfak telah memeriksa dua saksi, Desty Marska Tenu dan Petra Timotius Pattipeilohy, sebanyak dua kali. Selain menggali keterangan, polisi memeriksa dokumentasi foto dan mencocokkan waktu atau time stamp pengambilan gambar di ponsel kedua saksi. Hasil pemeriksaan menunjukkan kesesuaian dan menguatkan dugaan bahwa korban hilang di kawasan Air Terjun Memti. Kapolres Pegunungan Arfak AKBP Bernadus Okoka menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan kecelakaan murni akibat korban tergelincir saat menyeberangi sungai. Kapolres menegaskan bahwa kesesuaian waktu foto-foto dan perjalanan mempersempit ruang penyelidikan dan hingga saat itu belum ditemukan fakta yang mengarah pada dugaan lain. Tim gabungan juga menemukan sepasang sandal yang hanyut sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian yang berdasarkan pemeriksaan diketahui milik salah seorang saksi. Masyarakat setempat membantu membuat bendungan darurat untuk mengurangi debit air di sekitar lokasi pencarian agar penyisiran lebih mudah dilakukan. Namun, penggunaan anjing pelacak dan drone thermal belum memberikan hasil maksimal karena suhu udara yang dingin, kelembapan tinggi akibat uap air terjun, serta kabut tebal yang turun setiap sore menyulitkan proses pendeteksian.
Hari Ketujuh, Jumat, 24 Juli 2026
Pada pukul 07.30 WIT, tim SAR gabungan mengawali kegiatan dengan apel dan briefing, kemudian bergerak menuju lokasi pada pukul 08.00 WIT dan tiba di area pencarian sekitar pukul 10.00 WIT untuk melaksanakan penyisiran. Pencarian hari terakhir difokuskan pada penyisiran celah-celah batu di sepanjang aliran sungai, penyisiran aliran sungai sejauh kurang lebih 1,6 kilometer dari lokasi kejadian, pemantauan udara menggunakan drone thermal pada radius satu hingga dua kilometer, serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat di kampung-kampung sekitar aliran sungai melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Pada pukul 17.50 WIT, seluruh area yang menjadi fokus pencarian telah diperiksa, namun korban belum berhasil ditemukan.
**Penutupan Operasi**
Jumat, 24 Juli 2026 – Pukul 18.15 WIT
Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan, potensi SAR, dan pihak keluarga melaksanakan evaluasi akhir operasi. Berdasarkan hasil evaluasi, seluruh prosedur pencarian sesuai Standar Operasional Prosedur telah dilaksanakan selama tujuh hari dan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. Atas dasar pertimbangan teknis dan kesepakatan bersama, operasi SAR resmi ditutup dengan status korban hilang dan belum ditemukan. Kepala Subseksi Operasi dan Siaga Basarnas Manokwari, Reza Afrianto, menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan publik karena belum bisa menemukan korban. Ia menyatakan bahwa pihaknya sudah berupaya maksimal dengan pengetahuan, keterampilan serta armada yang dimiliki baik dari Basarnas, Kepolisian, dan TNI, namun semua kehendak Tuhan dan pihaknya prihatin atas kejadian ini.
**Status Terakhir**
Sabtu, 25 Juli 2026
Hingga hari ini, Sabtu, 25 Juli 2026, Yanto Idorway belum berhasil ditemukan. Meskipun operasi SAR resmi ditutup, kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan tetap terbuka.
Kepala Basarnas Manokwari Yefri Baharuddin menyatakan operasi pencarian dapat dibuka kembali apabila di kemudian hari ditemukan petunjuk atau informasi baru yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai keberadaan korban.
---
**Kendala Utama**
Selama tujuh hari operasi pencarian, tim menghadapi berbagai kendala signifikan.
Meski pada hulu sungai yakni Danau Anggi Gida sudah dilakukan penyekatan agar debit air berkurang, arus sungai yang sangat deras menyulitkan penyisiran dan membahayakan personel. Personel SAR beberapa kali hampir terseret arus meskipun menggunakan perlengkapan keselamatan
Bebatuan besar yang membentuk celah sempit atau gua bawah air di dasar sungai menyulitkan jangkauan pencarian. Arus sungai yang sangat deras dengan kemiringan medan mencapai 45 derajat
Kabut tebal membatasi jarak pandang dan menggagalkan deteksi drone thermal.
Suhu ekstrem yang dingin di kawasan Pegunungan Arfak serta medan berat dengan jarak tempuh dari Mapolres Pegunungan Arfak ke lokasi sekitar tiga puluh kilometer dengan kondisi jalan yang berat juga menjadi hambatan.
Selain itu, cuaca yang cepat berubah dan tidak menentu di kawasan pegunungan turut mempengaruhi kelancaran operasi.
---
Kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya dan menunggu informasi resmi dari pihak yang berwenang.
Sumber: kronologi diolah oleh akan diperbarui sesuai perkembangan informasi resmi dari Tim SAR Gabungan dan pihak kepolisian.