28/10/2025
PART 3 : Saat Seseorang Datang Membawa Cahaya Baru
Hari-hari Maya kembali berjalan seperti biasa.
Kafe kecil di tepi laut itu masih jadi tempatnya bersembunyi dari keramaian. Tapi sejak dua minggu terakhir, ada satu hal baru — seseorang yang selalu duduk di kursi dekat jendela, dengan kamera tergantung di leher dan kopi hitam di meja.
Namanya Reno.
Ia bilang sedang keliling Papua untuk membuat proyek foto dokumenter tentang kehidupan pesisir. Rambutnya agak berantakan, kulitnya sedikit gelap karena matahari, dan cara bicaranya tenang — kayak orang yang selalu tahu kapan harus diam.
“Sa boleh foto ko kah??” katanya suatu sore, tanpa banyak basa-basi.
Maya sempat kaget. “Hah? Sa iyo?”
“Iyo. Ko kelihatan kayak… orang yang lagi tunggu sesuatu,” jawabnya santai. “Dan itu menarik SA.”
Maya tersenyum canggung, tapi akhirnya mengangguk.
Reno memotret tanpa banyak bicara. Klik kamera itu terdengar pelan, bersahutan dengan suara ombak di luar.
“Sa jarang dapat foto,” ucap Maya akhirnya.
“Ya, kadang yang paling indah itu justru yang tra sadar kalau d**g pu diri tuh pantas diabadikan,” kata Reno sambil menurunkan kameranya.
Sejak hari itu, Reno jadi pelanggan tetap. Kadang ia bawa foto hasil tangkapan sore sebelumnya — langit jingga di Pantai Base G, anak-anak main bola di pasir, atau perahu nelayan di kejauhan.
“Papua punya cahaya yang beda,” katanya suatu hari. “Lembut tapi jujur.”
Maya hanya tersenyum, menatap pantulan senja di jendela kafe.
“Cahaya yang lembut kadang datang dari tempat yang dulu tong pikir trabisa bisa terang lagi,” gumamnya.
Reno menoleh, menatapnya heran. “Ko bicara macam selalu pake kata puitis, Ee?
Maya tertawa kecil. “Mungkin karena sa sering cerita deng kenangan kah.”
Mereka sering berbincang — tentang laut, tentang foto, tentang hal-hal kecil yang entah kenapa terasa penting. Reno nggak pernah bertanya terlalu banyak soal masa lalu, tapi entah kenapa, Maya merasa aman di dekatnya.
Ia bisa tertawa lagi, bahkan tanpa merasa bersalah.
Malam itu, ketika kafe sudah tutup, Reno menunjukkan hasil fotonya di kamera.
“Sa mau kasih judul foto ini ‘Perempuan yang Menunggu Cahaya’.”
Maya menatap layar itu lama. Wajahnya di foto terlihat sederhana — rambut diikat seadanya, mata menatap keluar jendela. Tapi ada sesuatu di sana: tenang, meski belum sepenuhnya pulih.
“Lucu,” katanya pelan. “Padahal sa su berhenti menunggu.”
Reno menatapnya dalam. “Mungkin ko tra sadar, tapi kadang cahaya juga datang buat orang yang su berhenti berharap.”
Kata-kata itu menancap diam-diam di hati Maya.
Untuk pertama kalinya sejak Elian pergi, hatinya terasa sedikit hangat. Bukan karena seseorang datang menggantikan, tapi karena ada yang datang — dan menyalakan kembali sesuatu yang hampir padam.
Malam Jayapura terasa lebih lembut malam itu.
Dan di balik jendela kafe yang gelap, cahaya kecil dari dalam hati Maya mulai menyala… perlahan.
(...BERSAMBUNG... )
Judul : Yang Tatinggal di Jayapura
SapCerpen@2025