Alicia Bali Channel

Alicia Bali Channel Konten tentang Wisata ✅
Tradisi ✅
Motivasi dan Afirmasi ✅

12/06/2026

Semua bisa kita lakukan sesuai keyakinan, Dumogi amor ing acintya

12/06/2026

Penampilan kalian keren

12/06/2026

Tonton sampai habis ya tradisional

12/06/2026

Makan bersama mbok kadek habis rapotan murid langsung kita makan makan

12/06/2026

Kalian hebat 🥰🥰

12/06/2026

Tari Penyambutan

12/06/2026

Menghayati lagu sampai terharu 🤭🤣🤣

09/06/2026

Wedding Pulukan-Banjar

Maturan Canang Tiap Hari?"Kek, bolehkah menghaturkan canang setiap hari?", tanya remaja itu pada kakeknya."Katanya jika ...
04/06/2026

Maturan Canang Tiap Hari?

"Kek, bolehkah menghaturkan canang setiap hari?", tanya remaja itu pada kakeknya.

"Katanya jika setiap hari menghaturkan canang, akan menyisakan lebih banyak sampah. Tapi kan kita memang perlu setiap hari beryadnya?" Lanjutnya penasaran.

Sang kakek tersenyum.

"Tidak ada yang salah dan benar, Nak. Semua hanya pilihan dan konsekuensi. Setiap Karma membawa pahalanya tersendiri."

"Jangan lupa, yadnya itu artinya persembahan suci yang tulus ikhlas. Tulus dalam berkarma, artinya berbuat tanpa pamerih. Ikhlas artinya siap menerima pahala dan konsekuensi dari Karma itu, termasuk dalam beryadnya."

"Sastra menyatakan bahwa ada dua jenis Yadnya berdasarkan waktunya. Nitya yadnya yang dilakukan sehari-hari, dan Naimitika yadnya yang dilakukan secara berkala."

"Di masa lalu, Nitya Yadnya atau persembahan sehari-hari lebih umum dilakukan berupa persembahan Banten Saiban, yaitu menghaturkan nasi dan lauk yang kita masak pagi harinya. Awalnya ada yang menghaturkan hanya di 5 tempat. Belakangan berkembang menjadi menghaturkan di berbagai tempat. Intinya adalah sebagai simbol ungkapan rasa bakti dan puji syukur atas berkah makanan."

"Selain itu, di Bhagawad Gita dikatakan bahwa mereka yang memakan makanan tanpa mempersembahkannya kepada Sang Pencipta lebih dulu, sama dengan mencuri makanan itu. Maka Banten Saiban bisa dimaknai sebagai bentuk persembahan rasa syukur itu."

"Ketika banyak orang mulai berdagang, entah di pasar seni atau di toko-toko mereka, tampaknya menghaturkan canang sari setiap hari di tempat berjualan itu mulai dilakukan. Dari sana mungkin muncul rasa kurang pas kalau di rumah tidak ikut menghaturkan canang sari tiap hari. Sepertinya itu perubahan awal yang Kakek lihat di rumahmu dilakukan oleh nenekmu."

"Nah, sejak itu kemudian semua menantu nenekmu, termasuk ibumu, mengikuti tradisi tersebut sampai sekarang dan tidak berani menguranginya. Bahkan, di masa lalu, menghaturkan Segehan hanya dilakukan pada saat Kajeng Kliwon. Sekarang malah dihaturkan setiap hari."

"Apakah hal itu salah, Kek? Apakah menghaturkan segehan tiap hari itu keliru?" Segera si remaja memutus penjelasan sang kakek.

"Sekali lagi tidak ada salah benar, Nak. Segehan warna-warni itu ibarat menghaturkan energi cahaya. Mirip seperti warna-warni bunga yang bisa dimaknai menghaturkan energi cahaya. Sehingga Butha atau materi alam sekitar akan menjadi Dewa atau bercahaya. Jika dilakukan tiap hari, berarti sama dengan menyalakan terang setiap hari."

"Tetapi jangan lupa, jika menyalakan lampu tiap hari, tentu biaya listrik akan bertambah. Begitu juga jika menghaturkan canang sari dan segehan tiap hari, tentu akan ada tambahan biaya dan urusan sisa upakara. Selama kau bisa ikhlas menerima konsekuensinya, tidak ada yang salah."

"Namun jika kau menghaturkan canang dan segehan setiap hari sembari mengeluh setiap hari oleh biaya dan sisa canang keringnya, di situ akan mulai muncul masalah. Palemahan atau alam sekitar mungkin akan berubah dari Butha menjadi Dewa, tetapi Pawongan akan berubah dari Dewa menjadi Butha, oleh energi kemarahan dan keluhanmu itu."

Si cucu remaja terdiam sejenak lalu melanjutkan.

"Terus, kalau kita kembali seperti dulu, hanya menghaturkan Banten Saiban setiap hari dan hanya pada hari-hari tertentu seperti Purnama, Tilem, dan rahina suci lainnya menghaturkan canang sari, berarti rasa sujud bakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi dan leluhur menjadi berkurang d**g, Kek?"

Dengan tenang sang kakek menambahkan.

"Persembahan itu adalah jalan Bakti. Jika kau kembali melakukan seperti ajaran sastra berupa Nitya dan Naimitika Yadnya itu, maka di jalan Karma sehari-hari bisa kau imbangi dengan berbuat baik pada segala ciptaanNya. Di jalan Jnana kau bisa lakukan setiap hari dengan belajar pengetahuan suci. Dan di jalan Raja Yoga kau bisa lakukan dengan sembahyang dan meditasi."

"Banten atau upakara adalah simbol pengganti dari dirimu sendiri. 'Banten pinaka awakta tuwi'. Jika kau hanya mempersembahkan banten canang sari secara berkala, maka kau bisa mempersembahkan dirimu sendiri secara langsung melalui Karma dan Bakti setiap hari."

"Kau bisa duduk sembahyang, bahkan sampai 3 kali sehari lewat puja Tri Sandhya di merajan. Ritual sembahyangmu itulah persembahan utama melebihi banten canang sari yang bisa kau persembahkan setiap hari. Apakah kau sudah melakukan Puja Tri Sandhya pada pagi, siang, dan sore, Nak?" Tanya sang kakek lembut.

04/06/2026

Romantis gati joged jak pengantin

Address

Jalan Denpasar Gilimanuk
Jembrana
82262

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Alicia Bali Channel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share