Seputar Jepara

Seputar Jepara Mau berita viral like dan sukai halaman ini :
✅BERITA TERUPDATE DAN TERPERCAYA
✅INFO BERITA TERKINI
✅HOT NEWS
✅SEPUTAR JATENG DAN SEKITARNYA

Banyumas - Tiga remaja dilaporkan tenggelam saat bermain air di Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Ti...
08/08/2026

Banyumas - Tiga remaja dilaporkan tenggelam saat bermain air di Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Tim SAR gabungan berhasil menemukan salah satu korban, Fajar (14), dalam kondisi meninggal di kedalaman sekitar 2 meter.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat (7/8/2026) sore. Saat kejadian, delapan anak diketahui sedang bermain air dan berenang di aliran Sungai Serayu sekitar pukul 16.00 WIB.

Saat itu Fajar (14), Naren (12), dan Rizky (12) diduga tidak bisa berenang sehingga tenggelam. Beruntung, Rizky berhasil menyelamatkan diri. Namun, kedua remaja lainnya dinyatakan hilang.

Kepala Basarnas Cilacap, M Abdullah, mengatakan tim SAR langsung bergerak setelah menerima laporan kejadian pada pukul 17.20 WIB.

"Setelah menerima informasi, kami langsung memberangkatkan tim rescue menuju lokasi untuk melakukan pencarian dan pertolongan," kata Abdullah dalam keterangannya, Sabtu (8/8) dini hari.

Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian menggunakan metode penyelaman. Pencarian dilakukan dalam beberapa tahap di sekitar lokasi tiga anak tersebut dilaporkan tenggelam.

Hasil pencarian mulai membuahkan hasil pada Jumat malam. Saat melakukan penyelaman yang dimulai pukul 19.55 WIB, petugas menemukan keberadaan Fajar.

"Korban ditemukan pada pukul 19.58 WIB atau sekitar tiga menit setelah penyelaman dimulai. Fajar ditemukan berada di kedalaman sekitar 2 meter. Namun saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia," ujarnya.

Tim SAR kemudian segera mengevakuasi jasad Fajar ke tepi Sungai Serayu. Korban selanjutnya diserahkan kepada pihak kepolisian dan keluarga.

Setelah menemukan Fajar, operasi SAR dilanjutkan untuk mencari korban lainnya. Petugas kembali melakukan penyelaman serta penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Namun hingga operasi dihentikan sementara, Naren belum ditemukan.

"Untuk korban yang masih dalam pencarian, operasi SAR akan kami lanjutkan kembali besok dengan melakukan penyelaman dan penyisiran di sekitar lokasi kejadian bersama seluruh unsur SAR gabungan," pungkasnya.

Baca artikel detikjateng

Magelang - Jumlah korban diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) G...
08/08/2026

Magelang - Jumlah korban diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giyanti dilaporkan sebanyak 28 orang. Para korban tersebut tidak ada yang menjalani rawat inap.
Jumlah tersebut didapat dari data Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (Korwil SPPI) Kabupaten Magelang, Nrangwesthi Widyaningrum mengatakan, hingga Jumat (7/8) pukul 20.50 WIB.

"Terdampak hingga pukul 20.50 WIB sebanyak 28 orang. Mereka terdiri atas 26 siswa SMPN 3 Candimulyo dan 1 siswa serta 1 guru MI Nurul Hidayah Trenten," kata Westhi dalam pesannya kepada detikJateng, Sabtu (8/8/2026).

Westhi menyebut untuk mengantisipasi kejadian serupa pihaknya langsung memberikan imbauan ke seluruh SPPG Operasional di Kabupaten Magelang. Imbauan ini menyangkut hal-hal yang wajib dilakukan SPPG.

"Menindaklanjuti kejadian fatal dugaan gangguan pencernaan pada penerima manfaat Program Makan Bergizi (MBG) di SPPG Magelang Candimulyo Giyanti tanggal 7 Agustus 2026, seluruh kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, asisten lapangan, dan relawan wajib meningkatkan pengawasan serta memastikan seluruh proses operasional dilaksanakan sesuai SOP dan standar keamanan pangan," tegas Westhi.

Dalam imbauan tersebut berisi 9 poin antara lain memastikan seluruh bahan baku yang diterima sesuai spesifikasi dalam kondisi baik, layak digunakan serta dilakukan pemeriksaan fisik, aroma, warna, tekstur, suhu dan masa simpan. Kemudian seluruh proses produksi dilaksanakan sepenuhnya di area SPPG.

"Pastikan penyimpanan bahan baku sesuai standar, termasuk pengendalian suhu chiller, freezer, gudang basah, dan gudang kering serta dilakukan pencatatan suhu secara berkala," ujarnya.

Selanjutnya seluruh relawan SPPG diminta menggunakan APD lengkap dan menerapkan higiene personal selama proses produksi.

"Pastikan waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi penerima manfaat tetap berada dalam batas aman sesuai ketentuan. Sampel makanan (food sample) dan sampel organoleptik disimpan sesuai prosedur," katanya.

"Apabila ditemukan bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi, penyimpangan proses produksi, atau kondisi yang berpotensi mengganggu keamanan pangan, segera hentikan proses pada tahapan tersebut dan laporkan kepada Koordinator Wilayah untuk mendapatkan arahan lebih lanjut," tegas Westhi.

Westhi mengingatkan agar hal ini menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan sepenuh tanggung jawab.

"Keselamatan penerima manfaat merupakan prioritas utama sehingga tidak ada toleransi terhadap penyimpangan prosedur operasional," paparnya.

Iamenyampaikan mulai Senin (10/8) lusa, SPPG Giyanti berhenti operasional.

"Betul (mulai Senin berhenti operasional). Selain itu, juga menunggu surat untuk diizinkan operasional kembali oleh BGN pusat pascadugaan kejadian ini," jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Dr Lies Pramudiyanti, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel makanan dan sampel muntahan untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium kesehatan.

"Iya betul, laboratorium khusus di BLKK (Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi) Jogja," kata Lies dalam pesan singkatnya kepadadetikJateng.

"(Sampel yang diambil) Makanan yang disajikan yang dicurigai menyebabkan keracunan. Menu hari itu ditambah sampel muntahan," ujarnya.

Baca artikel detikjateng

Batang - Kecelakaan lalu lintas tunggal terjadi di Jalan Raya Desa Kebumen, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang. Satu un...
08/08/2026

Batang - Kecelakaan lalu lintas tunggal terjadi di Jalan Raya Desa Kebumen, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang. Satu unit truk boks menabrak tebing usai mengalami gangguan pada sistem pengereman.
Kecelakaan tersebut mengakibatkan pengemudi truk, Asep (31), warga Kabupaten Pandeglang, Banten, meninggal di lokasi kejadian. Kasat Lantas Polresta Batang AKP Eka Hendra Ardiansyah mengatakan kecelakaan terjadi sekitar pukul 07.00 WIB.

"Terjadi kecelakaan lalu lintas tunggal di ruas Jalan Kabupaten, tepatnya Jalan Raya Desa Kebumen, Kecamatan Tersono. Satu orang meninggal dunia merupakan pengemudi truk," kata Eka saat dimintai konfirmasi, Sabtu (8/8/2026).

Berdasarkan keterangan kepolisian, truk boks bernomor polisi B-9895-FCK itu awalnya melaju dari arah selatan menuju utara. Truk boks muatan daging itu diduga hilang kendali karena rem tak berfungsi.

"Truk berjalan dari arah selatan ke utara, melewati menikung ke kanan, menurun, terbuat dari beton baik, cuaca cerah, arus lalu lintas sedang, pagi hari. Sesampainya di TKP diduga rem tidak berfungsi dengan baik sehingga berjalan lurus menabrak tebing yang berada di sebelah kiri jalan," katanya

Benturan keras menyebabkan kabin truk mengalami rusak parah. "Pengemudi masih terjepit di dalam kabin ketika petugas melakukan proses evakuasi," katanya.

Korban mengalami cedera kepala berat dan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP). Dalam kecelakaan tersebut, tidak terdapat korban luka lainnya.

Petugas kemudian melakukan penanganan dan proses evakuasi terhadap korban yang masih terjepit di dalam kabin truk.

Baca artikel detikjateng,

Banyumas - Tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban terakhir insiden tiga remaja tenggelam di Sungai Serayu, Kecamatan...
08/08/2026

Banyumas - Tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban terakhir insiden tiga remaja tenggelam di Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Korban bernama Naren (12) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Koordinator Tim SAR Gabungan, Amin Riyanto, mengatakan Naren ditemukan pada pukul 09.28 WIB. Jasad korban ditemukan tim yang melakukan pencarian dengan teknik body rafting di sekitar sungai dangkal.

"Korban kedua atas nama Naren, laki-laki usia 12 tahun, ditemukan pada kedalaman kurang lebih 1,5 meter oleh tim body rafting dalam kondisi meninggal dunia," kata Amin melalui pesan video yang diterima detikJateng, Sabtu (8/8/2026).

Amin mengatakan lokasi penemuan Naren berada sekitar 15 meter ke arah hilir dari lokasi kejadian. Di area tersebut, kondisi arus sungai diketahui memutar sehingga menjadi salah satu titik yang disisir tim SAR.

Setelah ditemukan, jasad Naren kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka.

"Dengan diketemukannya kedua korban, maka operasi SAR dinyatakan ditutup dan seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuannya masing-masing," ujar Amin.

Diberitakan sebelumnya, tiga remaja dilaporkan tenggelam saat bermain air di Sungai Serayu, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jumat (7/8) sore. Tim SAR gabungan berhasil menemukan salah satu korban, Fajar (14), dalam kondisi meninggal dunia di kedalaman sekitar 2 meter.

Saat kejadian, delapan anak diketahui sedang bermain air dan berenang di aliran Sungai Serayu sekitar pukul 16.00 WIB. Tiga anak yakni Rizky (12), Fajar (14), dan Naren (12) hilang diduga tenggelam. Beruntung, Rizky berhasil menyelamatkan diri. Nahas, Fajar ditemukan tewas di kedalaman 2 meter.

"Korban ditemukan pada pukul 19.58 WIB, atau sekitar tiga menit setelah penyelaman dimulai. Fajar ditemukan berada di kedalaman sekitar 2 meter. Namun saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia," ujar Kepala Basarnas Cilacap, M Abdullah, Sabtu (8/8).

Baca artikel detikjateng

Pati - Sungai Bango sepanjang 5 kilometer hingga ke pantai Desa Bulumanis Lor Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati kondis...
08/08/2026

Pati - Sungai Bango sepanjang 5 kilometer hingga ke pantai Desa Bulumanis Lor Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati kondisi airnya menghitam dan bau busuk. Kondisi ini pun diduga karena tercemar limbah tapioka di wilayah Margoyoso.
Kabar mengenai kondisi Sungai Bango dan bibir pantai yang tercemar itu diunggah akun Facebook Ekokuswanto. Pada unggahan tersebut memperlihatkan sungai dan bibir pantai yang kondisi airnya menghitam.

Kondisi ini diduga karena aliran sungai hingga tepi pantai tercemar limbah pabrik tapioka. Para nelayan pun hanya bisa pasrah karena kondisi alam yang tercemar.

"Kondisi saat air pasang sungai dan pantai tertutup limbah kulit tapioka, saat air pasang petani hanya bisa melihat karena tertutup sampah kulit ketela," kata pria dalam video yang dilihat detikJateng, Sabtu (8/8/2026).

Pada unggahan tersebut dijelaskan kondisi air di sungai dan pantai menghitam. Selain itu banyak limbah pabrik tapioka yang menggunung membuat warga resah karena tidak bisa bekerja.

"Beginilah kondisi Sungai Bango do Desa Bulumanis Lor Kecamatan Margoyoso, airnya menghitam dan tampak tumpukkan limbah pabrik tapioka menggunung," tulisnya.

Dimintai konfirmasi, Ketua Aliansi Warga Anti Limbah (AWALI), Supriadi mengatakan sungai yang tercemar limbah sepanjang 5 kilometer. Terparah sejak 7 tahun terakhir ini.

"Itu sungai mulai dari jembatan jalan raya ke laut itu sepanjang 5 kilometer. Terparah 7 tahun terakhir ini, mulai 2019 sampai sekarang," kata Supriadi saat dihubungi lewat sambungan telepon oleh detikJateng siang ini.

Supriadi mengatakan pencemaran itu diduga berasal dari sejumlah pabrik tapioka di wilayah Margoyoso. Menurutnya sejumlah pabrik tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

IPAL ini merupakan sistem atau fasilitas teknik yang dipakai untuk mengolah air sisa proses produksi industri agar bersih, aman, dan sesuai standar baku mutu sebelum dibuang ke lingkungan.

"Kemudian ditambah pabrik besar, pabrik tapioka tanpa IPAL, itu sudah dikasih izin sama DLH Pati. Aturan usaha itu kan harus ada ipal, apalagi pabrik besar," jelas dia.

Lebih lanjut, dia bilang jika bau menyengat dari sungai dan pantai yang tercemar. Selain itu tumpukan sampah menggunung di sepanjang sungai.

Kondisi ini seperti pada sejumlah foto dan video yang diterima detikJateng. Sungai Bango dipenuhi sampah. Kemudian bibir pantai airnya berwarna hitam karena tercemar limbah.

"Sungainya bau bukan main, sampah kulit air itu menumpuk besar, terus di laut kayak beduk wungu itu ya," kata dia.

Dia mengatakan warga terutama para nelayan berdampak tidak bisa bekerja. Mereka tidak bisa melaut karena pantainya tercemar. Selain itu tambak mereka juga tidak bisa digunakan karena airnya ikut tercemar.

"Kena resapan limbah ikan itu pada mati, ikan laut mati, ribuan hektare terdampak mulai dari garis pantai Tunjungrejo sampai Langgenharjo itu ada ribuan hektare," jelasnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah menertibkan pabrik supaya menertibkan yang tidak memiliki ipal. Warga juga meminta untuk melakukan normalisasi Sungai Bango yang kondisi dangkal tercemar limbah.

"Wajib para pengusaha wajib mempunyai ipal baku mutu, kedua setelah punya sungai Bulumanis Lor Bango itu dinormalisasi, dan ketiga ada biaya perawatan per tahun," terang dia.

DLH Pati Koordinasi Bareng BBWS
Dimintai konfirmasi, Kabid Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Pati, Suwi'i mengatakan sungai tersebut dipenuhi sampah, baik dari limbah pabrik sampai sampah rumah tangga.

Terkait dengan normalisasi, ia mengatakan perlu kerja sama dengan semua dinas terkait. Karena normalisasi menjadi kewenangan pemerintah pusat dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

"Kalau di sungai itu sampah tidak hanya dari tapioka tapi padat aliran sungai dari atas ada bermacam sampah ada kasur, ada bantal, tuntutan warga agar segera ada pengerukan, pengerukan ini pusat semua pihak saling mendukung," kata Suwi'i kepada wartawan di Pati.

Terkait dengan IPAL, Suwi'i bersama dinas terkait akan melakukan pengecekan kepada para pengusaha tapioka di wilayah Margoyoso.

"Baku mutu akan kita cek pengusaha yang ada di Margoyoso ini, kita akan melakukan pengecekan tersebut," jelas dia.

Baca artikel detikjateng

JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten Jepara memilih mempertahankan nuansa khas peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ...
08/08/2026

JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten Jepara memilih mempertahankan nuansa khas peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menghadirkan kembali beragam permainan tradisional.

Di tengah maraknya kompetisi olahraga modern, lomba rakyat seperti tarik tambang dan egrang tetap menjadi magnet yang mampu menyatukan peserta sekaligus menghidupkan semangat kebersamaan.

Suasana itu terlihat di Alun-alun I Jepara, Jumat (7/8/2026), saat perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) saling beradu kekompakan dalam lomba egrang dan tarik tambang.

Riuh sorak pendukung mengiringi setiap pertandingan, menciptakan atmosfer perayaan kemerdekaan yang meriah.

Lomba tarik tambang menjadi salah satu pertandingan yang paling menyita perhatian. Adu tenaga antarregu berpadu dengan strategi dan koordinasi yang matang.

Setiap peserta berusaha mempertahankan posisi hingga peluit akhir berbunyi. Sementara itu, dukungan rekan-rekan satu instansi membuat semangat para peserta semakin membara.

Tak kalah menarik, lomba egrang juga mengundang gelak tawa penonton. Para peserta dituntut menjaga keseimbangan dan konsentrasi saat melangkah menggunakan sepasang bambu.

Meski beberapa kali kehilangan keseimbangan, suasana tetap berlangsung penuh keakraban dan sportivitas.

Kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk menentukan pemenang. Lebih dari itu, perlombaan menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpeserta.

Momen ini juga dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat gotong royong sekaligus memperkuat rasa persatuan yang menjadi nilai utama dalam peringatan Hari Kemerdekaan.

Melalui permainan rakyat yang telah diwariskan turun-temurun, masyarakat juga diajak untuk terus melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Antusiasme peserta maupun suporter menunjukkan bahwa lomba tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat sebagai media membangun kebersamaan dan sportivitas.

Adapun hasil perlombaan egrang putri menempatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai juara pertama. Posisi kedua disusul Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) di peringkat ketiga.

Pada kategori egrang putra, juara pertama diraih Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora). Juara kedua diraih Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), sedangkan posisi ketiga ditempati Sekretariat DPRD (Setwan).

Sementara itu, pada lomba tarik tambang, BPKAD berhasil keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati DPUPR, sedangkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RA Kartini Jepara meraih juara ketiga.

SB: joglojateng

Jakarta, CNN Indonesia -- Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,0 terjadi di wilayah Laut Jawa, Jumat (7/8) malam.Mengu...
08/08/2026

Jakarta, CNN Indonesia -- Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,0 terjadi di wilayah Laut Jawa, Jumat (7/8) malam.
Mengutip dari akun X milik BMKG, gempa itu terjadi pukul 21.07 WIB.

"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M4,9 pada kedalaman 540 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5.73° LS; 110.21° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 108 Km arah barat laut Jepara, Jawa Tengah," demikian siaran pers BMKG yang diterima Jumat malam ini.

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," sambungnya.

Guncangan gempa itu dirasakan dengan skala intensitas II-III MMI di Jepara dan Demak. Skala itu menunjukkan getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Selain itu skala II MMI dilaporkan dirasakan di Batang, Jawa Tengah. Skala itu menunjukkan fetaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

"Hingga pukul 21:20 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak adanya aktivitas gempa bumi susulan ( aftershock )," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam siaran pers tersebut.

Dia mengatakan gempa yang terjadi adalah akibat pergerakan turun lempeng bumi.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dalam akibat aktivitas deformasi dalam lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault)," ujar Wijayanto.

SB: cnn Indonesia

INDORAYA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara terus mempercepat penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Hingga 2026,...
08/08/2026

INDORAYA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara terus mempercepat penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Hingga 2026, masih terdapat 7.906 rumah yang masuk kategori tidak layak huni, meski jumlah tersebut telah berkurang dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Jepara, Moh Eko Udyyono mengatakan, jumlah RTLH pada 2025 tercatat sebanyak 9.191 rumah. Angka tersebut berkurang menjadi 7.906 rumah pada 2026.

Untuk menekan jumlah RTLH, Pemkab Jepara menargetkan perbaikan 1.022 rumah sepanjang 2026. Penanganan tersebut dibiayai melalui berbagai sumber anggaran, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun lembaga dan pihak lainnya.

Eko merinci, dari target 1.022 rumah tersebut, sebanyak 29 rumah bersumber dari APBD Kabupaten Jepara, 709 rumah dari APBN, 212 rumah dari APBD Provinsi Jawa Tengah, 18 rumah dari Baznas Provinsi Jawa Tengah, 13 rumah dari CSR BPD, dan 41 rumah dari Dana BTT.

Hingga saat ini, sebagian besar target tersebut telah terealisasi. Perbaikan yang sudah selesai mencakup 20 rumah dari APBD Kabupaten Jepara, 659 rumah dari APBN, 128 rumah dari APBD Provinsi Jawa Tengah, 18 rumah dari Baznas Provinsi Jawa Tengah, serta 41 rumah dari Dana BTT.

“Total bantuan RTLH yang sudah terealisasi sebanyak 866 rumah,” sebut Eko saat mendampingi Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar saat mengunjungi rumah warga penerima program RTLH di Desa Ngeling, Kecamatan Pecangaan

Dengan masih tingginya jumlah rumah yang membutuhkan penanganan, Eko berharap dukungan dari berbagai pihak terus diperkuat. Menurutnya, keterbatasan nilai bantuan pemerintah membuat kolaborasi dengan masyarakat dan sektor swasta diperlukan agar perbaikan rumah dapat dilakukan secara lebih optimal.

“Kita berharap, dari pemerintah kecamatan, desa, pengusaha, bisa ikut membantu pemerintah dalam membantu pembangunan RTLH, sehingga dari tahun ke tahun, jumlah RTLH di Jepara bisa terus berkurang,” pungkas Eko.

Salah satu RTLH yang kini diperbaiki berada di Desa Ngeling RT 3/RW 5, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Rumah tersebut milik Paini (70), yang tinggal bersama anak semata wayangnya, Poniman (40), penyandang disabilitas.

Rumah Paini dibangun ulang menggunakan bantuan Rp20 juta dari Baznas Provinsi Jawa Tengah dan Rp7 juta dari Pemkab Jepara. Pembangunan rumah berukuran 5×4 meter tersebut dimulai sejak 26 Juli 2026 dan ditargetkan selesai dalam satu hingga dua pekan.

SB: indorayanews

INDORAYA – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Jepara masih menjadi persoalan serius. Sepanjang Jan...
08/08/2026

INDORAYA – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Jepara masih menjadi persoalan serius. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jepara menangani 27 kasus kekerasan.

Dari jumlah tersebut, korban anak mendominasi dengan 18 kasus. Sementara sembilan kasus lainnya dialami perempuan.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Jepara, Mudrikatun mengatakan, setiap laporan kekerasan ditangani secara menyeluruh dan bertahap. Penanganan meliputi pendampingan psikologis, bantuan hukum, hingga pemeriksaan kesehatan bagi korban.

”Dari 27 kasus yang kami tangani, sembilan merupakan kasus yang menimpa perempuan dan 18 lainnya melibatkan anak-anak. Jumlah korban anak masih mendominasi sehingga menjadi perhatian yang sangat serius bagi kami,” ungkap Mudrikatun pada Jumat (7/8/2026).

Menurut Mudrikatun, kasus kekerasan yang menimpa anak memiliki bentuk yang beragam, mulai dari kekerasan seksual, kekerasan fisik, hingga eksploitasi anak. Sementara kasus yang dialami perempuan rata-rata berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual.

Beberapa kasus yang ditangani DP3AP2KB Jepara saat ini masih dalam proses penyelesaian dan mendapatkan pendampingan secara intensif.

Setiap laporan yang masuk, lanjut Mudrikatun, terlebih dahulu menjalani asesmen untuk mengetahui kondisi korban secara fisik maupun psikis. Selanjutnya, korban didampingi tim yang terdiri atas pendamping, psikolog, serta pihak terkait sesuai kebutuhan penanganan.

Pendampingan juga mencakup pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi korban setelah mengalami kekerasan. Jika diperlukan, korban akan dirujuk untuk mendapatkan layanan medis maupun perlindungan hukum.

Namun, proses pendampingan tidak selalu berjalan mudah. Masih terdapat keluarga korban yang belum sepenuhnya kooperatif, sementara sebagian korban mengalami trauma berat sehingga membutuhkan waktu untuk menceritakan peristiwa yang dialaminya.

”Tugas pendamping memang tidak mudah. Kami harus membangun kepercayaan korban dan keluarganya terlebih dahulu. Tidak semua keluarga bisa langsung terbuka atau kooperatif dalam proses pendampingan,” katanya.

Mudrikatun berharap tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi pengingat bagi keluarga dan masyarakat untuk memperkuat pengawasan terhadap anak, meningkatkan komunikasi di lingkungan keluarga, serta lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Menurutnya, pencegahan kekerasan membutuhkan keterlibatan bersama agar anak-anak terhindar dari kekerasan maupun eksploitasi yang dapat berdampak pada masa depan mereka.

SB: indorayanews

PANDEGLANG – Sebanyak 595.524 warga Kabupaten Pandeglang tercatat masuk kategori desil 1 hingga 3, kelompok masyarakat d...
08/08/2026

PANDEGLANG – Sebanyak 595.524 warga Kabupaten Pandeglang tercatat masuk kategori desil 1 hingga 3, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah berdasarkan data Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG). Jumlah tersebut dinilai masih cukup tinggi dan menjadi perhatian pemerintah daerah.

Selain itu, warga yang masuk kategori desil 6 hingga 10 tercatat mencapai sekitar 468 ribu jiwa.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang, Encep Hermawan mengatakan, data desil bersifat dinamis karena diperbarui secara berkala. Perubahan kondisi ekonomi masyarakat maupun hasil pendataan terbaru dapat memengaruhi posisi desil seseorang.

“Data di SIKS-NG itu dinamis. Pembaruannya biasanya setiap tiga bulan. Selain itu, pendataan keluarga sejahtera dan sensus ekonomi juga bisa memengaruhi perubahan desil,” kata Encep kepada Bantennews.co.id, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, kenaikan desil tidak selalu berarti perubahan data semata, tetapi juga dapat menunjukkan adanya peningkatan taraf hidup masyarakat.

Baca selengkapnya di website BantenNews.co.id

Address

Pakis Aji Jepara
Jepara
59452

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Seputar Jepara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Seputar Jepara:

Shortcuts

Share