22/01/2021
Persembahan Ratu Untuk Suami Tercinta
Masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah Masjid Agung Demak. Dibangun pada 1481 Saka, atau 1559 Masehi oleh Ratu Kalinyamat.
Tahun pembangunan masjid itu diketahui berdasarkan candra sengkala yang terukir di mihrab, yang berbunyi, “Rupo Brahmana Wanasari”.
Dikisahkan satu peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh . Peristiwa tragis ini dipicu oleh perselisihan yang terjadi selepas meninggalnya Raja Demak, Raden .
Istri Sultan Hadiri yang bernama sangat bersedih dan terpukul. Untuk mengatasi kesedihannya itu, Ratu Kalinyamat membuat makam beserta masjid di daerah , , yang sekarang kita kenal dengan .
Dalam memersembahkan bangunan untuk mendiang suami, Sang Ratu meminta bantuan guru spiritual sekaligus ayah angkat Sultan Hadlirin ketika menimba ilmu di China. Ia adalah Chi Hui Gwan, yang lebih dikenal dengan Patih Sungging Badarduwung.
Patih inilah yang menjadi arsitek Masjid Mantingan.
Masjid yang berusia sekitar 5 abad ini memiliki relief-relief yang menempel pada dinding masjid. Saat ini terdapat 114 relief, karena masih ada beberapa relief yang tersimpan di ‘museum’ sederhana di samping masjid.
Mungkin ini satu-satunya masjid yang memiliki relief.
Gaya arsitekur bangunan masjid memerlihatkan akulturasi budaya Hindu dan China. Terlihat dari bentuk mustaka dan atap tumpang yang merupakan corak Hindu Majapahit. Begitu juga dengan relief yang merupakan budaya yang mendahuluinya. Pengaruh China terlihat dari adanya bentuk barongsai pada relief yang digayakan (stilisasi).
Sumber: