14/09/2026
Kok Santri Kadang Akhlaknya Kalah dengan yang Bukan Santri?
Ada pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya cukup dalam: "Gus, kenapa kadang ada santri yang akhlaknya justru kurang baik dibanding orang yang tidak pernah mondok?"
Jawaban paling pendek mungkin begini: karena pesantren adalah tempat belajar, bukan pabrik yang setiap orang keluar dengan kualitas seragam.
Santri tetap manusia. la datang ke pesantren membawa watak, kebiasaan keluarga, pengalaman masa kecil, lingkungan pergaulan, tingkat kematangan emosi, bahkan luka dan persoalan psikologis yang berbeda-beda. Pesantren mendidik semua itu, tetapi pendidikan adalah proses. Ada benih yang cepat tumbuh, ada yang lambat, ada p**a yang baru tumbuh bertahun-tahun setelah meninggalkan pondok.
Maka jangan membayangkan seseorang begitu memakai sarung dan masuk pesantren, seluruh tabiat buruknya otomatis tertinggal di gerbang.
Kalau begitu mudah, pesantren cukup menyediakan pintu masuk, tidak perlu menyediakan guru.
Ilmu dan akhlak memang berhubungan, tetapi bukan barang yang sama!.
Dalam tradisi ulama, ilmu semestinya melahirkan adab, tawadhu, dan rasa takut kepada Allāh. Karena itu para ulama sangat keras mengingatkan tentang bahaya ilmu yang hanya berhenti di kepala.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin panjang lebar membahas penyakit orang berilmu: riya, ujub, cinta kedudukan, merasa lebih tinggi, dan kecenderungan menjadikan ilmu sebagai alat memenangkan diri.
Artinya, mengetahui kebaikan belum tentu sudah menjadi orang baik. Orang bisa tahu dalil tentang sabar, tetapi masih mudah marah. Hafal bab ghibah, tetapi lidahnya belum terjaga. Mengerti keutamaan tawadhu, tetapi masih senang merasa dirinya lebih alim daripada orang lain.
Ini bukan berarti ilmunya tidak berguna. Justru menunjukkan bahwa perjalanan dari tahu, kemudian sadar, lalu terbiasa, sampai akhirnya menjadi karakter, membutuhkan waktu dan mujahadah.
Dalam bahasa sederhana: mengetahui resep masakan tidak otomatis membuat seseorang kenyang.
Psikologi juga menjelaskan hal yang sama
Dalam psikologi, perilaku manusia tidak dibentuk oleh pengetahuan saja. Ada kebiasaan, kontrol emosi, pola asuh, lingkungan sosial, pengalaman, kemampuan berempati, temperamen, dan banyak faktor lainnya.
Karena itu seseorang dapat mempunyai pengetahuan moral yang tinggi tetapi pengendalian dirinya belum matang.
Ada p**a fenomena yang menarik: semakin seseorang merasa dirinya bagian dari kelompok yang dianggap "baik", kadang muncul godaan merasa dirinya sudah baik.
Di sinilah label dapat menjadi jebakan.
"Saya santri."
"Saya alumni pesantren."
"Saya dekat kiai."
"Saya belajar agama."
Semua itu sebenarnya identitas yang baik. Tetapi kalau tidak dijaga, identitas baik bisa diam-diam berubah menjadi sertifikat yang kita keluarkan sendiri untuk membenarkan diri.
Padahal menjadi santri bukan pengumuman bahwa pendidikan telah selesai. Justru pengakuan bahwa saya masih belajar.
Lalu mengapa ada orang bukan santri yang akhlaknya sangat bagus?
Ya memang ada. Dan tidak perlu kita ingkari.
Ada orang yang tidak pernah mondok tetapi sangat jujur. Ada pedagang yang mungkin tidak pernah membaca kitab akhlak tetapi pantang menipu pembeli. Ada tetangga yang pengetahuan agamanya sederhana tetapi ringan menolong, tidak s**a membicarakan keburukan orang, tahu berterima kasih dan pandai menjaga perasaan.
Kebaikan dapat tumbuh melalui pendidikan keluarga, lingkungan, pengalaman hidup, kebiasaan, hati nurani, dan berbagai proses kehidupan.
Seorang santri seharusnya tidak merasa terganggu melihat kebaikan pada orang lain. Justru belajar darinya.
Ilmu agama mestinya membuat mata semakin mudah melihat kebaikan, bukan semakin terampil mencari kekurangan manusia.
Tetapi ada satu kesalahan lagi: cara kita membandingkan
Kadang yang bermasalah bukan santrinya saja. Alat ukur kita juga bisa keliru.
Kita bertemu satu santri yang kasar, lalu berkata: "Santri kok begitu?"