06/09/2026
Kampus ITB menyimpan rekam jejak sejarah yang mendalam, kampus tertua di Bandung ini bukan hanya menjadi saksi lahirnya pemikiran besar Soekarno, melainkan juga saksi berakhirnya pernikahan sang Proklamator dengan istri pertamanya, Siti Oetari Tjokroaminoto.
Pada tahun 1921, Soekarno muda tiba di Bandung untuk menimba ilmu teknik sipil. Ia datang membawa ikatan pernikahan yang masih baru dengan Oetari, putri dari mentor politiknya, H.O.S. Tjokroaminoto.
Pernikahan yang dilandasi rasa hormat kepada sang guru itu perlahan memudar, seiring dengan tumbuhnya gairah intelektual dan gejolak pergerakan Soekarno di Bandung.
Di lingkungan kampus, Soekarno menyadari ikatan cintanya dengan Oetari tidak pernah benar-benar tumbuh.
Demi berfokus pada studi dan pergerakan, Soekarno memutuskan untuk mengakhiri pernikahan tersebut secara baik-baik.
Ia mengantarkan Oetari kembali kepada ayahnya di Surabaya dengan penuh penghormatan.
Pasca-perpisahan, kawasan sekitar Jalan Ganesha menjadi ruang baru bagi dinamika hidup Soekarno. Di sanalah ia mengenal Inggit Garnasih, sosok wanita matang yang kemudian menjadi penopang emosional dan ekonomi selama masa perkuliahan.
Gelar Insinyur yang diraih Soekarno pada 25 Mei 1926 pun menjadi simbol dari perjuangan panjang yang diwarnai pengorbanan personal.
ITB pun kini tetap berdiri kokoh, tetapi di tiap sudut koridornya, tersimpan cerita tentang seorang pemuda yang harus memilih antara kesetiaan cinta atau panggilan untuk membebaskan bangsanya melalui ilmu pengetahuan.
"Aku bukan lagi suamimu, aku adalah saudaramu," sebuah kalimat yang kabarnya sempat diucapkan Soekarno kepada Oetari, yang menjadi penutup babak cinta pertama sang putra fajar demi gelar yang kini tersemat abadi di depan namanya, Ir. Soekarno.