Sikawes

Sikawes Seputar Informasi Karo & Kawasan Sekitarnya #1

Pengembangan kasus narkotika yang dilakukan Personel Unit II Satresnarkoba Polres Karo berhasil mengungkap rangkaian per...
17/09/2026

Pengembangan kasus narkotika yang dilakukan Personel Unit II Satresnarkoba Polres Karo berhasil mengungkap rangkaian peredaran narkotika jenis sabu hingga ke wilayah Kabupaten Simalungun.

Dalam pengungkapan tersebut, Lima orang pria diamankan dari empat lokasi berbeda dengan barang bukti sabu total 6,99 gram netto.

Kelima pria yang diamankan masing-masing berinisial DA (24), RHS (18), BJ (42), SS (25), dan RAP (26). Pengungkapan berlangsung pada Selasa (15/9/2026) mulai sekitar pukul 16.15 WIB hingga 19.00 WIB.

Kasat Resnarkoba Polres Karo AKP Jonni H. Pardede menyampaikan pengungkapan tersebut merupakan hasil pengembangan dari penangkapan dua orang tersangka di wilayah Desa Merek, Kecamatan Merek.

“Pengungkapan ini berawal dari penangkapan dua orang tersangka di dalam mobil di wilayah Desa Merek. Dari hasil pemeriksaan awal, keduanya mengaku memperoleh narkotika dari seseorang berinisial BJ,” ujar Jonni.

Dijelaskan, petugas terlebih dahulu mengamankan DA dan RHS di pinggir jalan Desa Merek. Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan dua paket plastik klip berisi kristal putih diduga sabu dengan berat keseluruhan 0,4 gram netto yang berada di dalam mobil C**t Diesel warna kuning nomor polisi BK 8336 EJ.

Petugas selanjutnya berhasil mengamankan BJ di sebuah perladangan di Desa Nagasaribu, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun.

Dari lokasi tersebut, petugas menemukan delapan paket diduga sabu dengan berat keseluruhan 4,79 gram netto, dua bal plastik klip kosong, satu unit timbangan elektrik, satu plastik assoy warna merah, satu unit handphone Android, serta uang tunai Rp600 ribu.

Pengembangan kembali dilakukan. Dari hasil pemeriksaan terhadap BJ, petugas memperoleh informasi bahwa sabu tersebut diperoleh dari SS.

Petugas kemudian mengamankan SS di sebuah rumah di Dusun Bandar Raya, Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun.

Dari tangan SS ditemukan satu paket diduga sabu dengan berat 1,14 gram netto, tiga bal plastik klip kosong dan satu unit handphone Android.

Dalam rangkaian pengembangan tersebut, petugas juga mengamankan RAP, yang sempat melarikan diri dari lokasi. Petugas kemudian menemukan barang bukti delapan paket diduga sabu dengan berat keseluruhan 0,66 gram netto, satu unit timbangan elektrik, satu botol plastik, satu unit handphone Android serta uang tunai Rp450 ribu.

“Seluruh tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Satresnarkoba Polres Karo untuk menjalani proses pemeriksaan dan penyidikan lebih lanjut,” jelasnya.

Atas perbuatannya, para tersangka diproses sesuai ketentuan Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, serta ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 609 ayat (1) juncto Pasal VII poin 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Jonni menegaskan, Polres Karo akan terus melakukan pengungkapan dan pengembangan terhadap jaringan peredaran narkotika yang masuk maupun beroperasi di wilayah hukum Polres Karo.

“Setiap informasi terkait peredaran narkotika akan kami tindak lanjuti. Pengembangan akan terus dilakukan untuk mengungkap jaringan dan memutus mata rantai peredaran narkotika,” pungkasnya.

Sumber: Polres Karo

Siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Agnesia Paruliana Boru Si...
17/09/2026

Siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Agnesia Paruliana Boru Silitonga, kini dinyatakan dalam kondisi stabil dan mulai pulih usai mengalami gagal ginjal akut.

Kondisi tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Henny Adriani Puspitasari, usai Agnesia menjalani perawatan sejak dirujuk pada Sabtu (12/9/2026).

"Diagnosis yang kami terima saat ananda (Agnesia) masuk adalah penurunan fungsi ginjal akut. Pada evaluasi kami, kami juga mendapatkan diagnosis yang sama sehingga kami meneruskan terapinya," kata Henny dalam konferensi pers di RSCM, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026).

Meski sempat mengalami penurunan fungsi ginjal secara akut, Henny memastikan organ-organ vital di dalam tubuh Agnesia saat ini sudah mulai membaik.

Tim dokter juga tidak menemukan adanya riwayat atau faktor risiko penyakit ginjal bawaan pada pasien.
Sehingga, kondisinya pun berangsur membaik dan tidak mengalami adanya gejala komplikasi.

"Berdasarkan evaluasi menyeluruh melalui wawancara, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan ultrasonografi, kondisi ginjalnya sudah dalam fase pemulihan. Kami sudah melakukan evaluasi berkala dan fungsi ginjalnya sudah normal," ujar Henny.

Agnesia juga sudah mulai bisa beraktivitas secara normal. Saat ini, ia sudah mampu berdiri, berjalan, dan beraktivitas secara mandiri tanpa memerlukan bantuan orang lain.

Sementara itu, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSCM, dr. Kusuma Minayati, memastikan kondisi mental Agnesia dalam keadaan yang positif dan tidak mengalami gangguan emosional setelah mengalami keracunan.

"Pemeriksaan klinis menunjukkan kondisi psikiatriknya cukup baik dan sesuai dengan tahap perkembangan remaja seusianya. Kami telah memberikan dukungan yang sesuai untuk mengoptimalkan pemulihannya," jelas Kusuma.

Atas perkembangan pemulihan yang cukup positif, tim dokter pun menargetkan Agnesia sudah bisa kembali pulang dan melanjutkan rawat jalan pada akhir pekan ini. Selain Agnesia, siswi asal Kabupaten Karo lainnya yaitu Febiona Purba yang sempat diduga mengalami hilang ingatan juga akan dipulangkan bersama-sama.

"Fase pemulihannya sudah hampir sempurna. Kami mengestimasi ananda bisa dipulangkan akhir pekan ini. Saat rencana rawat jalan nanti, kami akan menyertakan resume tertulis dan berkomunikasi dengan sejawat di tempat asal untuk menentukan lokasi kontrol, sehingga ananda bisa segera melanjutkan sekolah dan aktivitas sehari-harinya," tutur Kusuma.

Sementara itu, Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Dr. Renan Sukmawan, mengimbau publik dan awak media untuk memberikan ruang privasi kepada kedua siswi tersebut setelah mereka keluar dari rumah sakit.

"Kita mengajak semua pihak untuk memberi kesempatan adik-adik kita ini tenang kembali. Tidak diwawancara di media dan sebagainya agar mereka nyaman. Tujuan utamanya agar mereka bisa kembali bersekolah dan bertemu teman-temannya," tutup Renan.

Smber: kunjungi laman Kompas

Sebanyak 37 siswa SMK Negeri 1 Merdeka kembali menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat keluhan kesehatan yang...
16/09/2026

Sebanyak 37 siswa SMK Negeri 1 Merdeka kembali menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan insiden makanan program Makan MBG yang terjadi sejak Senin (14/9/2026).

Ironisnya, sebagian siswa tersebut sebelumnya telah diizinkan pulang pada malam hari usai mendapat penanganan awal. Namun kondisi mereka kembali memburuk keesokan paginya, memaksa puluhan siswa itu kembali dilarikan ke rumah sakit.

Ketua Tim Pemantau MBG Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Fauzi Hardiansyah, mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II untuk memastikan perkembangan kondisi para siswa.

“Pagi tadi kita sudah koordinasi dengan Kepala Cabang Dinas Wilayah II, ada 37 orang yang kembali masuk untuk dirawat,” ujar Fauzi saat memberikan keterangan di kantor Gubernur Sumut, Rabu (16/9).

Saat ini, puluhan siswa tersebut menjalani perawatan di Rumah Sakit Efarina, Kabanjahe. Fauzi menyebutkan kondisi para siswa secara umum berangsur membaik dibandingkan saat pertama kali ditangani, meski belum sepenuhnya pulih.

“Kondisinya sudah mulai membaik, tetapi masih dalam perawatan. Nanti perkembangan lebih lanjut akan kita sampaikan,” katanya.

Insiden ini kembali memantik sorotan publik terhadap tata kelola program MBG, khususnya pada aspek pengawasan distribusi makanan dari dapur penyedia hingga tiba di sekolah.

Fauzi mengklaim mekanisme pengawasan selama ini telah berjalan, salah satunya melalui uji coba rasa oleh guru sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

“Pengawasan tetap ada, yang pastinya sebelum dimakan oleh siswa, guru terlebih dahulu ikut mencicipi makanan,” jelas Fauzi.

Namun demikian, Fauzi sendiri mengakui adanya persoalan mendasar yang selama ini luput dari perhatian, yakni lamanya rentang waktu pengiriman makanan dari dapur hingga sampai ke sekolah.

“Kadang-kadang waktu penyampaian makanan dari dapur ke sekolah itu terlalu lama,” ungkapnya.

Pengakuan ini menjadi sorotan tersendiri, sebab durasi distribusi yang tidak terkontrol berpotensi memengaruhi kualitas dan keamanan pangan sebelum makanan sampai ke tangan siswa sebuah celah yang semestinya dapat diantisipasi sejak awal apabila pengawasan benar-benar berjalan ketat.

Fauzi menegaskan pihaknya akan terus memperkuat pengawasan, tak hanya pada standar keamanan dan kelayakan konsumsi makanan, tetapi juga pada seluruh rantai proses distribusinya.

Ia memastikan Dinas Pendidikan Sumut akan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah dan instansi terkait guna memantau kondisi siswa sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program MBG di lapangan.

Sumber: kunjungi laman Waspada

Tim dokter spesialis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap kondisi medis terkini Febiona Purba, siswi asal Ka...
16/09/2026

Tim dokter spesialis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap kondisi medis terkini Febiona Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Agustus 2026.

Febiona dirujuk ke RSCM sejak Sabtu (12/9/2026) bersama satu korban keracunan lainnya, yaitu Agnesia Paruliana Silitonga yang diduga mengalami gejala gagal ginjal usai mengonsumsi MBG.

Namun, Direktur Medik dan Keperawatan RSCM Dr. Renan Sukmawan mengatakan, sejak awal kedatangan, kondisi kedua pasien dalam keadaan yang tidak membutuhkan perawatan intensif.

"Jadi perawatannya di ruang rawat biasa, kira-kira gitu ya. Pasien dapat berkomunikasi dan kemudian kontak baik. Kedua adik kita ini sudah kita rawat dan alhamdulillah saya ingin menyampaikan bahwa hari ini kondisi sudah saya rasa sih sudah baik dan jauh lebih baik," kata Renan dalam konferensi pers di RSCM, Rabu (16/9/2026).

Renan pun menyebut tim dokter saat ini tengah berfokus melakukan pemulihan terhadap keduanya. Febiona dan Agnesia pun diharapkan bisa kembali ke rumahnya dan mulai bersekolah sambil melakukan pengobatan rawat jalan.

"Insya Allah segera kami rencanakan rawat jalan, ya. Supaya adik-adik kita, anak-anak kita ini cepat sekolah kembali. Dan saya kira ini tugas kita di RSCM ini untuk menangani sebaik-baiknya perawatan dan segala hal yang diperlukan sampai nanti persiapan untuk rawat jalannya," ucap Renan.

Tak hilang ingatan Sementara itu, di tengah mulai pulihnya kondisi fisiknya, tim dokter RSCM juga membantah adanya dugaan dan gejala hilang ingatan sebanyak 70 persen pada Febiona.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti menyebut hal itu dipastikan setelah melakukan wawancara klinis dan pemeriksaan penunjang berupa rekam gelombang otak atau elektroensefalografi (EEG).

"Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda (Febiona) ingatannya sangat baik, ya. Memori jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dan juga pemeriksaan elektroensefalografi juga tidak menunjukkan gangguan apa pun," ujar Handry.

Terkait diagnosis masuk yang mencurigai adanya gangguan fungsi saraf pusat, Handry menegaskan hasil evaluasi menunjukkan tak ada masalah yang terdeteksi pada otak Febiona. Menurutnya, diagnosis neurologis Febiona lebih mengarah pada kejadian yang menyerupai kejang, tetapi dipastikan bukan epilepsi.

"Diagnosis dari neurologi anak adalah paroksismal non-epileptiform event, ya. Jadi bahasa awamnya adalah suatu serangan tiba-tiba yang bukan merupakan suatu kejang sebetulnya, dan juga bukan problem organ dari otak itu sendiri," jelasnya.

Tak ada gangguan psikotik Selain pemeriksaan saraf, Febiona juga ditangani secara intensif oleh tim Departemen Psikiatri RSCM. Sebelumnya, rujukan medis awal menduga Febiona mengalami kondisi psikotik yang membuatnya kesulitan membedakan realita dan fantasi pasca-insiden keracunan massal tersebut.

Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, menyatakan setelah ditelusuri secara klinis, dugaan kondisi psikotik tersebut tidak terbukti. Kondisi emosional Febiona disebut hanya mengalami gejala serangan panik akibat tekanan yang besar usai peristiwa keracunan.

"Ketika kami telusuri di sini, kelihatannya kondisi itu (gangguan psikotik) kurang mendukung. Yang pasti mendukung adalah adanya beberapa serangan panik dalam waktu satu bulan ini. Sehingga ketika dia mengalami tekanan yang besar, lalu kepanikan itu muncul, lalu diduga sebagai sesuatu yang seperti psikotik," papar Tjhin.

Ia juga menegaskan bahwa saat ini, orientasi kognitif Febiona sangat baik dan stabil. Kini, Febiona disebut sudah mampu menceritakan kronologi dan bagaimana kondisi tubuh yang dirasakannya secara runut dan jelas.

"Dia tahu dia di mana, dia tanggal berapa, hari apa, siapa, dia semuanya tahu. Jadi saya tidak melihat adanya disorientasi atau ada masalah pada memori kerjanya," ucapnya.

Adapun, saat ini, kondisi Febiona maupun Agnesia disebut sudah berangsur pulih dan sangat baik. Keduanya kini ditempatkan di ruang perawatan VIP standar Kencana RSCM untuk memastikan kenyamanan psikologis mereka.

Keduanya pun diproyeksikan bisa kembali pulang ke rumahnya pada akhir pekan ini dan tim RSCM akan memantau kondisinya melalui koordinasi dengan dokter-dokter di Sumatera Utara.

Renan juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan sosial dan mengimbau semua pihak untuk memberikan ruang privasi kepada kedua pasien setelah keluar dari rumah sakit nanti.

"Kita mengajak semua pihak ya untuk memberi kesempatan anak-anak, adik-adik kita ini untuk tenang kembali. Tidak diwawancara atau apa di media dan sebagainya sehingga bisa kembali (beraktivitas). Karena dengan usia remaja seperti ini, menjadi pusat perhatian juga bisa menjadi hal yang tidak nyaman dari segi psikiatris," tutup Renan.

Usai pemulangan yang diperkirakan akhir pekan ini, tim RSCM akan terus memantau kesehatan Febiona dan Agnesia melalui koordinasi dengan dokter sejawat di Sumatera Utara.

Sumber: kunjungi laman Kompas

Desakan agar pemerintah memberikan perhatian serius kepada para korban kasus keracunan MBG di Kabupaten Karo kembali men...
15/09/2026

Desakan agar pemerintah memberikan perhatian serius kepada para korban kasus keracunan MBG di Kabupaten Karo kembali menguat.

Ketua DPRD, Iriani Tarigan, meminta BGN memenuhi aspirasi masyarakat, khususnya para orang tua siswa yang terdampak kasus keracunan MBG.

Desakan itu disampaikan Iriani saat membawa hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama masyarakat dan orang tua korban dalam pertemuan dengan BGN Pusat di Jakarta, Senin (14/9).

Iriani menegaskan, kedatangan delegasi DPRD Karo yang turut didampingi anggota DPR RI tersebut bukan untuk mencari panggung maupun pencitraan. Mereka datang membawa langsung keluhan dan aspirasi masyarakat yang terdampak persoalan MBG.

“Pada prinsipnya, kami datang bukan mencari panggung atau pencitraan. Kami membawa aspirasi dan jeritan hati masyarakat, khususnya orang tua dan pelajar yang menjadi korban,” tegas Iriani.

Salah satu tuntutan utama yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah pemberian kompensasi atau bantuan khusus bagi para korban.

Menurut Iriani, dampak kasus keracunan tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Anak-anak yang menjadi korban juga menghadapi tekanan psikologis, sementara sebagian di antaranya harus menjalani perawatan berulang hingga keluar-masuk rumah sakit.

Kondisi tersebut turut membebani keluarga korban secara ekonomi. Terlebih, sebagian besar orang tua siswa yang terdampak menggantungkan penghasilan sebagai petani dan buruh tani.

“Ini murni aspirasi masyarakat dan harus menjadi perhatian khusus BGN Pusat. Para korban mengalami dampak yang tidak sedikit, baik dari sisi kesehatan, psikologis maupun ekonomi keluarga,” ujarnya.

Evaluasi Tata Kelola MBG

Aspirasi DPRD Karo tersebut diperkuat anggota DPR RI, Rapidin Simbolon, yang ikut mendampingi delegasi dalam pertemuan dengan BGN.

Rapidin meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program MBG. Hal itu dinilai penting setelah muncul persoalan serius, termasuk kasus keracunan yang menimpa ratusan siswa di dua sekolah di Berastagi pada 13 Agustus lalu.

Menurut Rapidin, keberlanjutan program MBG juga perlu dievaluasi apabila persoalan yang muncul di lapangan tidak segera mendapatkan penyelesaian.

“Kalau keberadaan MBG tetap dilanjutkan, setidaknya formula dan tata kelolanya harus diubah,” tegasnya.

Salah satu opsi yang disampaikan Rapidin adalah mengubah mekanisme bantuan dengan memberikan uang tunai secara langsung kepada orang tua siswa.

Menurutnya, skema tersebut dapat dipertimbangkan dengan melihat kondisi dan kebutuhan masing-masing pelajar. Dengan demikian, bantuan dapat diberikan secara lebih tepat sasaran.

“Tidak semua pelajar mungkin membutuhkan MBG. Harus ada pemilahan siapa yang layak menerima dan siapa yang tidak, sehingga anggaran dapat diarahkan untuk program pengentasan kemiskinan yang lebih mendesak,” katanya.

Rapidin menilai evaluasi menyeluruh diperlukan agar program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat tersebut tidak justru melahirkan persoalan baru.

Pertemuan DPRD Karo dengan BGN Pusat itu menjadi bagian dari upaya membawa langsung suara masyarakat dan orang tua korban ke tingkat pemerintah pusat.

Harapannya, persoalan yang terjadi tidak berhenti pada evaluasi, tetapi berujung pada penyelesaian dan bentuk perhatian nyata bagi para korban.

Sumber: kunjungi laman Sumut Pos

Puluhan siswa SMK Negeri 1 Merdeka, Kabupaten Karo, kembali dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan ...
15/09/2026

Puluhan siswa SMK Negeri 1 Merdeka, Kabupaten Karo, kembali dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dalam program MBG, Senin (14/9/2026).

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan, Donal Simanjuntak, mengatakan pihaknya bersama koordinator wilayah (Korwil) Karo dan yayasan terkait langsung melakukan penanganan terhadap para siswa sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

"Tim kami, SPPG dan Korwil Karo bersama yayasan sesuai SOP melakukan penanganan siswa dengan membawa ke rumah sakit," kata Donal saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Selasa (15/9/2026).

Selain memastikan penanganan terhadap siswa, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo untuk melakukan pendalaman terhadap penyebab kejadian tersebut.

Pendalaman dilakukan, salah satunya melalui pengambilan sampel makanan yang kemudian akan diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan para siswa mengalami gangguan kesehatan.

"Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Karo untuk melaksanakan pendalaman sebab kejadian, termasuk pengambilan sampel untuk pemeriksaan sampel makanan," ujarnya.

Donal mengatakan, secara internal KPPG telah mengusulkan penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menangani distribusi makanan untuk para siswa tersebut.

Usulan penghentian operasional sementara itu telah diteruskan ke kantor pusat di Jakarta dan kini sudah mendapatkan keputusan berupa suspend sementara terhadap SPPG terkait.

"Secara internal kami sudah melakukan pengusulan suspend atau stop operasional sementara atas SPPG tersebut ke kantor Jakarta dan sudah terbit suspend sementara atas SPPG tersebut," ungkap Donal.

Menurutnya, penghentian sementara tersebut dilakukan sembari pihaknya memantau perkembangan kondisi para siswa serta menunggu hasil pendalaman mengenai penyebab kejadian.

"Sementara hal ini dilakukan sambil monitor perkembangan di lapangan," katanya.

Donal menjelaskan, kejadian terbaru tersebut menjadi bagian dari perhatian serius KPPG setelah sebelumnya terjadi kasus dugaan keracunan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo.

Pasca kejadian tersebut, KPPG telah mengumpulkan seluruh kepala dapur, ahli gizi (AG), dan ahli keuangan atau akuntansi (AK) SPPG di Kabupaten Karo.

Pengarahan juga diberikan kepada SPPG di seluruh wilayah Sumatera Utara. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat mitigasi dan mencegah terulangnya kejadian serupa dalam pelaksanaan program MBG.

"Pasca kejadian keracunan Berastagi, kami sudah mengumpulkan kepala dapur, AG dan AK seluruh SPPG di Kabupaten Karo dan SPPG se-Provinsi Sumut untuk memberikan pengarahan untuk melakukan mitigasi agar tidak terjadi keracunan kembali," jelasnya.

Sumber: kunjungi laman Sumut Pos

Belum usai penanganan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami siswa SMA Negeri 1 Berastagi dan Ya...
14/09/2026

Belum usai penanganan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami siswa SMA Negeri 1 Berastagi dan Yayasan Bersama, kejadian serupa kembali dilaporkan terjadi di Kabupaten Karo.

Kali ini, puluhan siswa SMK Negeri 1 Merdeka, Jalan Hotel/Jalan Pendidikan No. 1, Desa Jaranguda, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, mengalami sakit perut setelah menyantap menu MBG, Senin (14/9/2026) siang.

Informasi awal yang dihimpun, para siswa yang mengalami keluhan telah dilarikan ke RS Amanda Berastagi untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga sore, belasan siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Sumatera Utara, Zulkarnain Barus saat dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut.

“Laporan dari kepala sekolah memang betul (keracunan MBG). Kasi SMK sedang berada di sekolah untuk mendapat laporan utuh,” kata Zulkarnain.

Namun, Zulkarnain mengaku belum menerima data lengkap, termasuk jumlah siswa yang mengalami keluhan maupun menu MBG yang diduga menjadi penyebab kejadian.

“Saya belum menerima data, termasuk jumlah korban dan menu MBG yang diduga menyebabkan para siswa mengalami keracunan,” ujarnya.

Dokter RSU Amanda, David Leo Ginting, membenarkan sekitar 20 murid SMKN 1 Merdeka diduga keracunan MBG.

"Benar, sekitar 20 murid tadi masuk ke Rumah Sakit Amanda diduga keracunan MBG. Namun begitu, pihak dokter di lingkungan Rumah Sakit Amanda yang menanganinya," ungkapnya.

Sumber: kunjungi laman Sumut Pos & Mistar

Kejari Karo menyatakan telah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Polres Karo terkait tindak p...
14/09/2026

Kejari Karo menyatakan telah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Polres Karo terkait tindak pidana keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan murid di Berastagi beberapa waktu lalu.

Kasi Intel Kejari Karo, Dona Martinus Sebayang mengatakan pihaknya menerima SPDP dari Polres Karo pada 20 Agustus 2026. Namun, hingga saat ini, belum ada tersangka yang ditetapkan dalam perkara tersebut.

"SPDP masuk tanggal 20 Agustus 2026. Tersangka masih lidik," ucap Dona kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/9).

Dona menjelaskan, perkara tersebut tengah ditangani penyidik Polres Karo.
Dalam SPDP yang diterima kejaksaan, penyidikan dilakukan terkait dugaan pelanggaran sejumlah ketentuan pidana.

"Dalam SPDP, penyidikan kasus itu terkait tindak pidana Pasal 8 ayat 1 jo Pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen subs Pasal 135 jo Pasal 140 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan sebagaimana diubah UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Pangan lebih subs Pasal 343 ayat 1 lebih sub Pasal 474 ayat 2 dari KUHPidana," jelasnya.

PH Berharap Gelar Perkara

Pihak kuasa hukum korban berharap kepolisian segera melakukan gelar perkara untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab dalam perkara tersebut.

Pihak keluarga korban ingin dilibatkan dalam gelar perkara khusus yang disebut akan dilakukan di Polda Sumut.

Polres Karo meningkatkan penanganan kasus dugaan keracunan MBG yang dialami ratusan siswa di Berastagi dari tahap penyelidikan ke penyidikan.

Laporan Polisi Nomor STTLP/B/395/VIII/2026/SPKT/Polres Tanah Karo tertanggal 31 Agustus 2026 tersebut mencatat Dapur SPPG Karo Berastagi Sempajaya sebagai pihak terlapor.

Kuasa hukum orang tua korban selaku pelapor, Juliadi Kaban, membenarkan peningkatan status penanganan perkara tersebut.

Menurutnya, pihak pelapor masih menunggu Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari kepolisian untuk mengetahui langkah penyidikan yang akan dilakukan selanjutnya.

“Ya, betul. Sesuai keterangan yang kami dapat dari Polres, perkaranya sudah masuk ke tahap penyidikan. Nah, untuk memastikan hal itu, kami juga perlu menerima SPDP dari Polres,” ujar Juliadi saat dihubungi Hukumonline, Senin (14/9).

FPDIP Desak Usut Tuntas

Adapun anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, Delpin Barus, mendesak Polres Karo bergerak cepat mengusut tuntas kasus tersebut.

Delpin berharap kasus yang telah berlangsung selama sebulan tersebut segera mengungkap pihak yang bertanggung jawab. Terlebih, hingga kini belum ada seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka.

“Siapapun yang telah melakukan kesalahan terhadap kasus ini harus segera diproses hukum. Tidak boleh pilih kasih. Kalau memang ada kelalaian yang menyebabkan anak-anak mengalami gangguan kesehatan, harus ada pertanggungjawaban secara hukum,” ujar Delpin Barus kepada wartawan, Senin (14/9/2026), melalui telepon dari Medan.
Berita Medan

Menurutnya peningkatan status penanganan perkara dari penyelidikan menjadi penyidikan merupakan langkah penting untuk mengungkap kasus tersebut.

Namun, kata anggota Komisi D DPRD Sumut ini, proses penyidikan jangan berhenti sebatas pemeriksaan saksi dan pengumpulan alat bukti.

Penyidik harus segera mengungkap ada atau tidaknya unsur pidana serta pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Delpin juga meminta penyidik bekerja secara profesional dan transparan dengan mendalami seluruh rangkaian proses penyediaan hingga pendistribusian makanan MBG kepada para siswa.

Menurutnya, pemeriksaan perlu mencakup pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sekolah, tenaga pendidik, maupun pihak lainnya yang memiliki keterkaitan dengan penyediaan dan pendistribusian makanan tersebut.

“Ini menyangkut anak-anak didik kita di Karo. Jangan sampai kasusnya berlarut-larut sehingga masyarakat bertanya-tanya siapa yang bertanggung jawab. Polisi harus gerak cepat, tetapi tetap berdasarkan bukti dan ketentuan hukum,” tegasnya.

Sumber: kunjungi laman CNN, Hukum Online, Orbit

Komisioner Kompolnas, Yusuf Warsyim, menyoroti belum adanya tersangka dalam kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) d...
13/09/2026

Komisioner Kompolnas, Yusuf Warsyim, menyoroti belum adanya tersangka dalam kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi pada 13 Agustus 2026 lalu.

Yusuf menilai, ketika kasus dinaikkan ke tahap penyidikan, seharusnya polisi telah mengantogi nama tersangka atau calon tersangka.

Kasus ini diketahui telah dinaikkan ke tahap penyidikan oleh Polres Tanah Karo pada Jumat (11/9/2026) lalu.

"Ketika sudah ditingkatkan seperti itu, idealnya sudah ada tersangka atau barangkali masih calon tersangka, karena harus ditetapkan sesuai KUHAP berdasarkan minimal dua alat bukti," kata Yusuf Warsyim dalam program "Kompas Petang" KompasTV, Minggu (13/9/2026).

"Jadi mungkin penyidik saat ini belum bisa menetapkan tersangka karena masih memastikan kelengkapan alat bukti."

Yusuf menambahkan, penyidik nantinya juga harus menjelaskan unsur pidana dalam kasus keracunan massal tersebut.

Kata Yusuf, ketika polisi menaikkan kasus ke tahap penyidikan, pihak berwenang telah memiliki konstruksi hukum atas kasus tersebut.

Namun, Yusuf menilai konstruksi hukum dan calon tersangka idealnya diumumkan ke publik saat kasus naik ke tahap penyidikan.

"Unsur pidananya itu ya bisa jadi kelalaian atau bahkan kelalaian ekstrem, dengan sengaja menimbulkan sakit, gangguan kesehatan, bahkan bisa kematian," kata Yusuf Warsyim.

"Sehingga apakah ini disebabkan standar penyimpanan makanannya tidak sesuai, kemudian itu menimbulkan racun. Katakanlah sudah ada tempat penyimpanan, tapi tidak disimpan sesuai standar. Nah di situlah terlihat unsur kelalaian."

Keracunan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo pada 13 Agustus dilaporkan memakan korban setidaknya 361 siswa dari lima sekolah.

Hingga September 2026, sejumlah korban dilaporkan masih terdampak keracunan tersebut. Dua anak pun dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Sumber: kunjungi laman Kompas TV

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan dua pasien yang diduga menjadi korban program Makan Bergizi Gratis (MB...
13/09/2026

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan dua pasien yang diduga menjadi korban program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Kabupaten Karo kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Bobby menjelaskan, pemindahan kedua pasien tersebut dilakukan untuk memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis lanjutan secara optimal.

"Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasien mendapat pemeriksaan, dan penanganan medis lebih lanjut secara optimal," kata Bobby.

Dijelaskan Bobby, kedua pasien diberangkatkan ke Jakarta dengan didampingi keluarga menggunakan pesawat terbang komersil.

Selain itu, kedua pasien juga didampingi tenaga medis untuk memastikan terduga korban mendapat pelayanan Kesehatan secara optimal.

"Ini kita lakukan sebagai bagian upaya pemerintah memastikan terduga korban mendapat pelayanan kesehatan secara optimal," kata Bobby.

Selain itu, lanjut dia, pihak keluarga pasien meminta agar kedua siswi ini mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di Jakarta juga menjadi perhatian pemerintah pusat.

"Jadi kedua pasien hati ini dibawa ke Jakarta atas arahan Bapak Wakil Presiden agar penanganan lebih optimal,” katanya.

Gubernur juga meminta, tim medis RSCM Jakarta agar melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kedua pasien itu. Termasuk, apabila kedua pasien membutuhkan penanganan psikologis karena aspek kesehatan mental penting dalam proses penyembuhan, dan tidak boleh diabaikan.

"Kalau memang perlu diobati secara fisik maupun psikis, kita lakukan. Permintaan anak juga harus kita dengarkan. Jangan sampai kondisi yang ada semakin mengganggu mental anak,” ujar Bobby.

Dapatkan Penanganan Medis

Dua korban dugaan keracunan makanan program MBG di Kabupaten Karo, Agnesia Paruliana br Silitonga dan Febiona Purba diketahui sudah mendapatkan penanganan medis di RSCM Jakarta.

"Pasien sudah diterima dan mendapatkan penanganan oleh tim medis RSCM," kata Humas RSCM Jakarta, Sylvia, saat dihubungi, Minggu (13/9/2026).

Sylvia mengaku tak dapat menyampaikan ke publik mengenai kondisi pasien saat ini. Dia menjelaskan kondisi medis kedua pasien merupakan bagian dari privasi.

"Namun, terkait kondisi medis secara detail, kami belum dapat menyampaikannya karena merupakan bagian dari privasi dan kerahasiaan pasien," ucapnya.

Rujukan Berjalan Baik

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan Kemenkes akan memastikan proses rujukan FP dari Medan ke Jakarta berjalan dengan baik.

Kementerian juga memastikan seluruh kebutuhan pelayanan medis FP terpenuhi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kesehatannya.

FP sebelumnya telah mendapatkan penanganan medis secara bertahap setelah mengalami keracunan pasca mengonsumsi MBG. Penanganan dilakukan di rumah sakit swasta dan RSUD di Kabupaten Karo, kemudian di RS Haji Medan. FP juga menjalani rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan.

Menurut Aji, sejak 31 Agustus 2026, FP ditangani oleh tiga dokter spesialis di RSUP Adam Malik. Mereka merupakan ahli gastrohepatologi, neurologi, dan kesehatan jiwa. Tim medis juga telah melakukan pemeriksaan EEG (electroencephalography) untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan pada fungsi saraf.

“Berdasarkan pemantauan terakhir, FP saat ini dalam kondisi stabil,” ujar Aji.

Sumber: kunjungi laman Viva, Detik & Tempo

Address

Tanah Karo
Kabanjahe

Telephone

+82124002330

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sikawes posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share