EYB119

EYB119 PRASANGKA BURUK ORANG LAIN ITU ADALAH TEMAN YANG SELALU MENDAMPINGI DALAM PERJALANAN HIDUP KITA, MAKA TERSENYUMLAH DENGAN KEHADIRANNYA.

Dari Lembah Sungai Menuju Hegemoni Mineral.Oleh: Edi Sriyanto.Dalam rentang panjang sejarah, bumi telah menjadi panggung...
05/05/2026

Dari Lembah Sungai Menuju Hegemoni Mineral.

Oleh: Edi Sriyanto.

Dalam rentang panjang sejarah, bumi telah menjadi panggung bagi turbulensi perebutan sumber daya. Sebagai khalifah, manusia sejatinya mengemban amanah mas’uliyah (tanggung jawab) untuk mengelola alam. Namun, sejarah mencatat bahwa nilai khidmah seringkali tergerus oleh ambisi hegemoni.

Jika hari ini dunia gaduh memperebutkan nikel dan uranium, maka menelusuri akar sejarah menunjukkan bahwa ini hanyalah evolusi dari kecenderungan manusia memonopoli urat nadi kehidupan.

Peradaban awal tidak mengenal emas hitam, mereka menyembah "emas hijau" dan "emas biru": kesuburan tanah dan akses air. Peradaban Mesopotamia dan Nil bukan sekadar entitas politik, melainkan entitas kultural yang lahir dari ketergantungan mutlak pada alam.

Prahara pada masa ini bersifat agraris-geografis. Kekuasaan didefinisikan secara sederhana: siapa yang menguasai hulu, dialah yang memegang nyawa hilir. Di sinilah struktur sosial pertama kali lahir dari kebutuhan kolektif mengelola irigasi.

Masuknya era metalurgi mengubah tatanan secara struktural. Perunggu, yang lahir dari paduan tembaga dan timah yang langka, menciptakan struktur kekuasaan yang elitis. Hanya kerajaan besar dengan jalur dagang luas yang mampu memilikinya. Namun, kehadiran era besi memicu pergeseran massif. Karena bijih besi tersedia hampir di mana saja, ia memicu "massifikasi" kekuatan militer.

Besi tidak hanya melahirkan alat bajak sawah yang lebih kuat untuk kemaslahatan, tetapi juga pedang yang lebih banyak untuk ekspansi. Hegemoni bergeser dari penguasaan lembah sungai menuju penguasaan tambang dan teknologi tempa.

Di era modern, narasi ini mencapai titik kulminasi pada mineral langka dan energi fosil. Secara proporsional, watak dasarnya tetap sama: siapa yang menguasai bahan baku, dia yang mendikte arah peradaban.

Perbedaannya hanya pada objeknya dari yang kasat mata di permukaan bumi, menuju elemen mikroskopis namun vital di perut bumi. Turbulensi global hari ini adalah bentuk pengulangan sejarah dalam kemasan teknologi tinggi.

Memahami perjalanan dari tanah subur hingga uranium mengajak kita berkontemplasi. Kejayaan peradaban semestinya tidak diukur dari seberapa luas ia mampu merampas, melainkan seberapa bijak ia mengelola untuk kemaslahatan bersama (Rahmatan lil ‘alamin). Tanpa kendali moral, kemajuan hanya akan mewariskan bumi yang tandus bagi generasi mendatang.

24/04/2026

Gotong Royong Warga Dusun Kampung Duren Desa Seloretno Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan berat

Kemandirian di Pelataran Safinatun Najah.Oleh: Edi Sriyanto.Membaca potret Harlah ke-92 Nahdlatul Ulama di Lampung Selat...
09/01/2026

Kemandirian di Pelataran Safinatun Najah.

Oleh: Edi Sriyanto.

Membaca potret Harlah ke-92 Nahdlatul Ulama di Lampung Selatan tahun 2018 adalah membaca sebuah kejujuran dalam berkhidmat.

Di lokasi yang kelak menjadi mercusuar peradaban, Masjid Safinatun Najah, terpampang sebuah spanduk hijau yang tidak biasa: Ekspose 9 Program PCNU Lampung Selatan 2018. Spanduk itu bukan sekadar pajangan, melainkan kontrak jam'iyyah di hadapan jamaah.

Di sana tertulis dengan tegas bahwa NU tidak sedang bermain-main dengan janji struktural. Dari urusan batin melalui Lailatul Ijtima’ dan ngaji Hikam, hingga urusan kedaulatan ekonomi melalui workshop kewirausahaan dan penyebaran kotak LAZIS NU di 256 desa, semua tertata dalam garis waktu yang presisi. Inilah wajah NU yang mandiri; organisasi yang tidak hanya pandai berwacana di atas mimbar, tapi nyata secara amal shaleh di tengah umat.

Suasana kebatinan warga saat itu terekam jelas dalam Grebeg Tumpeng. Sekitar seratusan tumpeng yang dibawa secara swadaya oleh Muslimat, MWCNU, dan para penggerak adalah bukti bahwa semangat kemandirian telah mendarah daging. Tumpeng-tumpeng itu adalah simbol dari kedaulatan dapur jam'iyyah yang tidak bisa dibeli.

Di pelataran masjid yang saat itu tiang-tiang bambunya masih menyangga beton-beton kokoh, warga berkumpul dengan satu keyakinan: bahwa masjid ini harus berdiri tembok di akhir tahun 2018, sebagaimana tertulis dalam poin kesembilan ekspose program tersebut.

Pembangunan ini menjadi ujian sekaligus pembuktian bahwa kekuatan kolektif Nahdliyin mampu mengubah lahan marjinal menjadi episentrum gerakan yang diperhitungkan.

Sinergi antara kiai sepuh jajaran Syuriyah yang memimpin doa dengan para penggerak Tanfidziyah yang mengeksekusi sembilan program tersebut menciptakan sebuah harmoni pergerakan yang luar biasa.

Di bawah kepemimpinan H. Nur Mahfudz marwah NU Lampung Selatan ditegakkan melalui kerja-kerja taktis yang terukur. Ekspose program tersebut adalah cara NU menunjukkan transparansi dan tanggung jawab kepada basis massa.

Bahwa koin-koin yang dikumpulkan dari saku warga di 256 desa benar-benar menjelma menjadi tembok-tembok masjid, menjadi pembentukan ranting-ranting baru, dan menjadi penguatan ideologi melalui Madrasah Kader NU.

Refleksi Harlah ke-92 ini akhirnya memberikan pesan abadi bagi kita semua: bahwa harga diri organisasi hanya bisa tegak jika ia memiliki kemandirian total. Safinatun Najah, sang perahu penyelamat, adalah saksi bisu betapa NU di Lampung Selatan pernah dan akan selalu menjadi jangkar bagi keselamatan umat.

Warisan semangat 2018 ini dengan seratusan tumpengnya dan sembilan nawa baktinya adalah sanad khidmah yang harus terus dijaga arah layarnya. Sebab, bagi Nahdliyin, ber-NU adalah tentang bagaimana memastikan setiap koin keikhlasan warga menjadi fondasi yang kokoh bagi tegaknya martabat agama dan bangsa.

Selamat Harlah 103 Tahun NU (16 Rajab 1447 H) dan Harlah 100 Tahun NU (31 Januari 1926 - 31 Januari 2026) dan Harlah 103 Tahun NU Hijriyah.

Momentum bersejarah ini menjadi saksi atas komitmen kita bersama dalam "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia".

Mari kita terus melayarkan kapal besar ini dengan semangat kemandirian yang telah kita tanam di Lampung Selatan, agar Nahdlatul Ulama tetap menjadi "Perahu Penyelamat" yang kokoh mengarungi samudera zaman demi kemaslahatan umat yang hakiki.

Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

Doly: Jejak Abadi Bidadari Penyelamat dari Taman JayaOleh: Edi.SDi sebuah ruang perawatan, deru mesin hemodialisis menja...
04/01/2026

Doly: Jejak Abadi Bidadari Penyelamat dari Taman Jaya

Oleh: Edi.S

Di sebuah ruang perawatan, deru mesin hemodialisis menjadi latar belakang yang kontras bagi seorang pria yang sedang tenang menyantap nasi bungkusnya. Pria itu adalah Doly. Di balik selang-selang merah yang membantunya bertahan hidup, tersimpan segudang kisah tentang dedikasi yang tak pernah padam. Baginya, menjadi Slankers bukan sekadar soal gaya, tapi soal bagaimana sisa umur bisa berguna bagi sesama.

Doly adalah potret nyata bahwa loyalitas kepada komunitas bisa bertransformasi menjadi pengabdian tanpa batas. Mengenal Slank sejak 1996 lewat lagu "Tong Kosong," ia justru menemukan kompas hidupnya pada lagu "Balikin" yang ia jadikan cermin untuk terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik.

Jejak Doly di dunia Slankers adalah sejarah yang ditulis dengan keringat. Ia adalah saksi hidup momen-momen sakral komunitas, mulai dari Jambore di Cipanas 2004 hingga menjadi duta resmi Anniversary ke-21 Slank di Surabaya.

Ada satu memori kultural yang selalu hangat diingat: saat menyeberangi Selat Sunda menuju Jakarta, Doly membuka bungkusan nasi bekal masakan ibunya untuk dimakan bareng kawan-kawan di atas kapal. Sebuah simbol bahwa sehebat apa pun petualangan di jalanan, restu ibu adalah bekal paling utama.

Ujian sesungguhnya datang pada Maret 2016. Vonis cuci darah memaksanya harus bersahabat dengan rumah sakit. Bayangkan perjuangan fisiknya; pada bulan-bulan pertama, ia harus menempuh jarak sekitar 103 KM dari kediamannya di Desa Taman Sari menuju RS Urip Sumoharjo di Bandar Lampung.

Kini, rutinitas itu berlanjut ke RSUD Bob Bazar Kalianda. Puluhan kilometer ia tempuh berkali-kali dalam seminggu, namun langkahnya tak pernah surut untuk tetap aktif di komunitas.

Luar biasanya, raga yang diuji tak membuat semangat sosialnya luntur. Sebagai Kepala Dusun Taman Jaya, Doly tetap berdiri di garda depan urusan kemanusiaan. Dari tangannya, lahir gerakan sunatan massal hingga inisiasi bedah rumah bagi warga yang membutuhkan.

Hingga tahun 2022, sudah 6 unit rumah warga yang berhasil direnovasi berkat ketuk pintunya ke berbagai pihak. Ia membuktikan bahwa "Slankers" bukan cuma soal teriak di konser, tapi soal aksi nyata di tengah masyarakat.

"Kita ini cuma wayang, biarlah Dalang yang kasih kita peran apa," begitu filosofi hidupnya yang mendalam. Doly sadar, hidup adalah soal menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Kini, sebuah harapan sederhana ia gantungkan: ingin bisa hadir dan kembali naik ke atas panggung dalam konser Slank pada 17 Januari mendatang. Itu bukan sekadar keinginan untuk eksis, tapi simbol "kemenangan" seorang pejuang yang tetap setia pada garis P**S hingga akhir.

Pesan Doly untuk generasi muda sangat jelas: berkomunitaslah untuk belajar berorganisasi dan jangan lupa peduli pada orang di sekitar. Sebab pada akhirnya, saat panggung telah reda dan lampu dipadamkan, kebaikan-kebaikan kecil itulah yang akan menemani kita menuju peristirahatan terakhir.

Seperti kata Chairil Anwar yang sering ia kutip: "Sekali berarti, sudah itu mati." Dan Doly telah memilih untuk berarti bagi kita semua.

P**s.

**s

HUJAN, KEADILAN YANG TANPA KOORDINATOleh: Edi Sriyanto.Jumat sore, 2 Januari 2026, alam seolah sedang ingin berbicara ta...
02/01/2026

HUJAN, KEADILAN YANG TANPA KOORDINAT

Oleh: Edi Sriyanto.

Jumat sore, 2 Januari 2026, alam seolah sedang ingin berbicara tanpa suara. Hujan deras yang tumpah sejak pukul 15.00 hingga menyisakan gerimis tipis satu jam kemudian, menjadi panggung bagi sebuah pertunjukan keadilan yang paling purba.

Air hujan itu turun tanpa memilih; ia membasahi aspal yang angkuh, menyusup di antara genting rumah, hingga memeluk tanah ladang yang menganga. Alam tidak mengenal diskriminasi, sebuah kontras yang tajam jika kita bandingkan dengan cara manusia membangun sekat dan kasta dalam kehidupan sosial.

Namun, di tengah simfoni air ini, mata saya tertahan pada sebuah pemandangan yang kini dianggap "normal" bahkan di pelosok desa: jaringan kabel listrik dan telekomunikasi yang menjuntai semrawut.

Ironis memang, pemandangan yang dahulu menjadi ciri khas kesemrawutan kota, kini telah menjajah cakrawala desa. Modernitas masuk membawa cahaya dan sinyal, namun ia lupa membawa adab estetika. Langit desa yang semestinya menjadi ruang luas bagi jiwa untuk menatap kebesaran Ilahi, kini terfragmentasi oleh kabel-kabel hitam yang tak beraturan.

Di seberang sana, hamparan jagung tampak hijau royo-royo. Siapa pun yang melihat pasti akan berkata bahwa jagung itu sedang tersenyum berseri-seri. Tapi benarkah itu senyum alami dari hati bumi? Jujur saja, jagung itu sedang "dipompa" oleh urea dan bahan kimia lainnya.

Kita sedang merayakan kesuburan yang dipaksakan. Hijau yang kita lihat hanyalah topeng kimiawi yang menyembunyikan kelelahan tanah di bawahnya.

Pertanyaannya sederhana, tapi berat untuk dijawab: apakah senyum hijau ini akan abadi sampai ke tangan anak cucu kita nanti? Ataukah kita sedang mewariskan tanah yang "mati" dan bantat, yang sudah kehilangan ruh kesuburannya hanya karena kita ingin panen yang cepat dan melimpah hari ini? Kita sering kali menjadi pencuri bagi masa depan keturunan kita sendiri demi gengsi keberhasilan sesaat.

Di teras tempat saya berteduh, langit tampak putih kelabu, persis seperti suasana hati yang kadang mendung tanpa sebab. Namun, saya memilih membungkusnya dengan cengkerama dan tawa. Di tengah dinginnya hujan, hanya kehangatan antarmanusia yang bisa menjaga kita tetap waras.

Januari 2026 ini dimulai dengan pesan sunyi: kebaikan itu bukan soal seberapa tinggi kita menatap langit, tapi seberapa peduli kita pada apa yang ada di bawah kaki kita pada tanah yang mulai jenuh akan kimia, dan pada sesama yang sedang sama-sama berteduh mencari ketenangan.

"Hujan adalah satu-satunya air mata keadilan yang tak mengenal warna kulit atau harga sebuah jubah. Ia mencium aspal yang angkuh dan memeluk akar yang dalam dengan kerinduan yang sama. Di hadapan hujan, kita semua hanyalah butiran debu yang sedang menunggu giliran untuk dibasuh, tanpa peduli seberapa tinggi kedudukan yang kita sombongkan di bawah payung."

Tabik.

SANDI PERGERAKAN DI TANAH KEMUKUSOleh: Edi Sriyanto.Menyebut nama Desa Kemukus di Kecamatan Ketapang, memori saya secara...
31/12/2025

SANDI PERGERAKAN DI TANAH KEMUKUS

Oleh: Edi Sriyanto.

Menyebut nama Desa Kemukus di Kecamatan Ketapang, memori saya secara otomatis terlempar ke suatu hari di bulan April tahun 2007. Kala itu, wajah Pondok Pesantren Hidayatut Thulab masih sangat bersahaja.

Memang bukan lagi bangunan kayu, semen sudah membalut dinding-dindingnya, namun skalanya belum sebesar yang kita saksikan hari ini. Santri mukimnya masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, namun riuh rendah anak-anak desa setempat yang mengaji di sana telah memberikan sinyal kuat: ada denyut nadi perjuangan yang sedang dipompa oleh Kiai Ahmad Mukhlisin.

Tujuh belas tahun berselang, di penghujung Desember 2023, saya kembali menginjakkan kaki di tanah yang sama. Namun atmosfernya telah berubah total. Hidayatut Thulab tidak lagi sekadar tempat "ngaji kuping" bagi warga desa, melainkan telah bertransformasi menjadi center of excellence kaderisasi Nahdlatul Ulama melalui PD-PKPNU Angkatan XXV.

Melihat perubahan fisik bangunan dan kemandirian pesantren ini, saya menyadari bahwa kaderisasi bukan hanya soal mencetak orang, tapi soal bagaimana sebuah institusi kultural mampu bertahan dan relevan terhadap zaman.

Ada pemandangan yang sangat ikonik pada perhelatan Angkatan XXV ini: penyerahan dan penanaman bibit pohon sawo. Bagi mata awam, ini mungkin hanya sekadar simbol penghijauan. Namun bagi mereka yang memahami narasi sejarah Nusantara, pohon sawo adalah "kotak hitam" perjuangan.

Sejarah mencatat bahwa Laskar Pangeran Diponegoro menggunakan pohon sawo (khususnya sawo kecik) sebagai sandi rahasia. Di mana ada pohon sawo ditanam di halaman rumah atau pesantren, di situlah terdapat simpul kekuatan pengikut Diponegoro. Ia adalah penanda identitas sekaligus simbol perlawanan yang senyap namun dalam.

Kiai Ahmad Mukhlisin, yang didampingi oleh instruktur Kiai Abdul Aziz Attarmasi, melakukan prosesi penanaman ini dengan khidmat yang luar biasa. Secara kultural, pilihan pohon sawo ini adalah pengejawantahan dari kalimat “Sawu Sufufakum” luruskan, rapatkan barisanmu. Di tangan para kader, sawo bukan lagi sekadar tanaman, melainkan pengingat bahwa seorang Kader Penggerak harus memiliki karakter seperti sawo: kulit luarnya sederhana (cokelat tanah), namun isinya manis dan mengenyangkan.

Pemberian bibit ini dari mas Imam Subkhi, SH (Kader Penggerak NU Angkatan VI) dan Kader Penggerak NU lainnya menunjukkan adanya dialektika antar-generasi. Kader senior menanam, kader junior merawat. Ini adalah implementasi nyata dari tugas "Merawat Jagad". Kita tidak bicara perubahan iklim global dengan bahasa langit, kita bicara dengan mencangkul tanah dan menanam pohon di halaman pesantren sendiri.

Sisi menarik yang luput dari pengamatan sekilas adalah kehadiran struktur MWCNU dari kecamatan lain, seperti Sragi. Kehadiran Kiai Sumari (Ketua MWCNU Sragi) dan Kiai Syukur (Rais Syuriyah Sragi) dengan membawa puluhan peserta menunjukkan bahwa Ketapang bukan sebuah p**au terpencil dalam peta dakwah Lampung Selatan.

Ketapang dan Sragi, dua wilayah yang bersinggungan dengan garis pantai, memiliki tantangan dakwah yang serupa. Kehadiran mereka di Hidayatut Thulab adalah bentuk "tabayyun struktural". Kiai Mukhlisin sendiri, sebagai tuan rumah, telah lama mempraktikkan politik silaturahmi ini dengan selalu hadir di berbagai angkatan PD-PKPNU di wilayah lain. Di sinilah letak kekuatan NU: ia bergerak bukan karena instruksi kering di atas kertas, tapi karena ikatan emosional (kultural) antar-kiai yang sudah melampaui batas-batas administratif kecamatan.

Dari Ketapang Menuju Way Sulan PD-PKPNU Angkatan XXV ini unik karena ia adalah bagian dari sebuah "maraton". Saat kegiatan di Ketapang berlangsung, di saat yang hampir bersamaan, mesin organisasi di Way Sulan juga sedang dipanaskan untuk Angkatan XXVI. Para instruktur, mulai dari Gus Abror yang datang dari Lampung Timur, hingga punggawa PCNU Lampung Selatan seperti Hi. Nur Mahfudz, dan Ust Zaini Ghofur, melakukan kerja-kerja estafet.

Hi. Nur Mahfudz dalam satu kesempatan mengingatkan dengan tegas bahwa sertifikat PD-PKPNU bukanlah "ijazah untuk dipajang". Ia adalah mandat untuk bergerak. Kader penggerak dituntut untuk kembali ke "habitat" asalnya baik itu di Banom maupun di Ranting dengan membawa cara pandang yang baru. Mereka harus menjadi dinamo yang Mereka harus menjadi dinamo yang menggerakkan struktur yang mungkin selama ini sedang stagnan.

Desember 2023 di Kemukus mungkin akan tercatat sebagai salah satu momen paling tenang namun progresif. Meskipun berada di musim penghujan, Alhamdulillah, semesta memberikan "dispensasi" sehingga rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa terkendala cuaca.

Pohon sawo yang ditanam oleh Kiai Mukhlisin dan para instruktur kini sedang berjuang menumbuhkan akar-akarnya di bumi Kemukus. Demikian p**a para kader yang telah dibaiat. Mereka adalah "sawo-sawo" baru yang membawa sandi perjuangan Diponegoro ke abad ke-21. Tugas kita sekarang bukan lagi mempertanyakan kapan buahnya bisa dipanen, tapi memastikan bahwa barisan (shaf) ini tetap rapat, serapat akar pohon sawo yang sedang menghujam bumi Lampung Selatan.

Khidmah sunyi adalah kesepakatan batin untuk menjaga agar sanad perjuangan tak terinterupsi oleh ego personal. Di sini, identitas meluruh demi keberlangsungan jam'iyyah. Ini bukan perkara siapa yang menggenggam tongkat estafet di bawah sorot panggung, melainkan kepastian bahwa tongkat itu tak pernah menyentuh tanah, meski tangan-tangan yang menopangnya tak pernah tercatat dalam sejarah.

Siapa Kita...???!!!

23/12/2025

Ketegasan sikap yang disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan (Kiai Ishomudin) pada Musyawarah Kubro di pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri hari Ahad 21 Desember 2025.

13/12/2025

PERNYATAAN SIKAP RAIS SYURIYAH PCNU SE-PROVINSI LAMPUNG

Bismillahirrahmanirrahim
Pada hari ini, Sabtu 13 Desember 2025 Masehi, bertempatan dengan 22 Jumadil Akhirah tahun 1447 Hijriah, bertempat di Lampung Tengah.

Kami, Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU se-Provinsi Lampung menyatakan:
1. Menyuarakan kepada PBNU untuk islah sebagaimana dawuh Masyayikh NU di Ploso dan di Tebu ireng demi kemaslahatan jamaah dan jam'iyyah.

2. Menegaskan kembali posisi Mandataris Muktamar NU ke-34 Lampung, KH. Miftahul Akhyar sebagai Rais ‘Aam, dan Ki Haji Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama - PBNU masa Khidmah 2021-2026.

3. Mengajak kepada seluruh PCNU se-Indonesia untuk nderek dawuh Masyayikh NU dan senantiasa istighosah dan memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk NU semakin kuat dan jaya demi kemaslahatan umat, kemajuan bangsa, dan rahmat bagi semesta.

Demikian pernyataan ini kami sampaikan setelah menimbang berbagai keadaan dawuh Masyayikh serta keadaan umat yang ada di grass roots Nahdlatul Ulama.

Demikian pernyataan kami semua, semoga mendapatkan ridha dan barakah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq

Wa'alaikumsalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Lampung Tengah, 13 Desember 2025

Solidaritas sejati tidak diukur dari nominal atau kelebihan harta, melainkan dari pengorbanan atas impian yang paling pe...
06/12/2025

Solidaritas sejati tidak diukur dari nominal atau kelebihan harta, melainkan dari pengorbanan atas impian yang paling personal. Kisah Pison Kogoya, bocah dari Papua Pegunungan yang merelakan tabungan setahunnya—yang seharusnya dipakai untuk berlibur di Jayapura—demi masyarakat Sumatra yang tengah diuji bencana, adalah penegasan etis yang fundamental.

Ini adalah aksi strategis sejati, di mana satu ketulusan hati dari Timur membungkam semua konflik kepentingan yang menghabiskan energi bangsa. Aset kemanusiaan kolektif kita adalah ketulusan.

Mari berinvestasi pada aset ketulusan ini.
berat

Marsinah adalah seorang aktivis buruh dan pejuang hak-hak pekerja yang berasal dari Jawa Timur, Indonesia. Ia lahir pada...
11/11/2025

Marsinah adalah seorang aktivis buruh dan pejuang hak-hak pekerja yang berasal dari Jawa Timur, Indonesia. Ia lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Marsinah bekerja sebagai buruh di pabrik jam tangan PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo.

Marsinah dikenal karena keberaniannya memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama dalam menuntut kenaikan upah dan kebebasan berserikat. Ia memimpin aksi mogok kerja pada tahun 1993 untuk menuntut hak-hak buruh di pabriknya.

Tragisnya, Marsinah menghilang pada 5 Mei 1993 dan ditemukan tewas pada 8 Mei 1993 dengan tanda-tanda penyiksaan berat. Kematiannya menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh dan keadilan sosial di Indonesia.

Pada tahun 2025, Marsinah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai pengakuan atas jasanya dalam memperjuangkan hak-hak pekerja dan keadilan sosial.

"Terima kasih, Marsinah, atas keberanianmu memperjuangkan hak-hak pekerja dan keadilan sosial. Engkau telah menjadi inspirasi bagi kami untuk terus berjuang demi kebenaran dan keadilan.

Kami bersyukur atas pengabdianmu yang luar biasa, yang telah membawa perubahan bagi kehidupan banyak orang. Engkau telah menunjukkan bahwa satu orang dapat membuat perbedaan besar dalam masyarakat.

Semoga semangatmu terus hidup dan menginspirasi kami untuk terus berjuang demi kebenaran dan keadilan. Terima kasih, Marsinah, atas warisanmu yang abadi.

Selamat atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional, Marsinah. Kami akan terus menghormati dan mengenangmu."

28/10/2025

Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, KB Tut Wuri Handayani Kalirejo Kecamatan Palas dan Lamban Kelor berbagi manfaat dan pendampingan kesehatan. Pujo Kelor Pujo Kelor Pujo Kelor

Address

Kalianda

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when EYB119 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to EYB119:

Share