EYB119

EYB119 PRASANGKA BURUK ORANG LAIN ITU ADALAH TEMAN YANG SELALU MENDAMPINGI DALAM PERJALANAN HIDUP KITA, MAKA TERSENYUMLAH DENGAN KEHADIRANNYA.

Setelah Muktamar, Kita Kembali Menjadi SaudaraOleh: Edi SriyantoMuktamar telah usai.Forum permusyawaratan tertinggi Nahd...
01/09/2026

Setelah Muktamar, Kita Kembali Menjadi Saudara

Oleh: Edi Sriyanto

Muktamar telah usai.

Forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama itu telah mengambil keputusan penting bagi perjalanan jam'iyyah lima tahun ke depan. Kepemimpinan baru telah mendapatkan amanah. Perdebatan, perbedaan pandangan, dan dinamika yang mengiringi proses Muktamar semestinya perlahan kita letakkan kembali pada tempatnya.

Sebab ada satu hal yang jauh lebih besar daripada seluruh kontestasi itu: Nahdlatul Ulama.

Di sinilah barangkali kedewasaan kita sebagai warga NU sedang diuji.

Muktamar adalah ruang untuk berbeda pilihan. Di sana gagasan bertemu, harapan dipertarungkan, argumentasi disampaikan, dan setiap orang memiliki pandangan tentang arah terbaik bagi jam'iyyah. Itu semua merupakan bagian dari dinamika organisasi.

Tetapi Muktamar mempunyai batas.

Ketika keputusan telah ditetapkan, kontestasi seharusnya selesai. Yang kemudian dimulai adalah khidmah.

Kita tidak perlu menyeragamkan hati untuk menjaga persaudaraan. Tidak semua warga NU harus memiliki pandangan yang sama terhadap setiap keputusan organisasi. Tetapi kita harus memiliki kesadaran yang sama bahwa apa pun pandangan pribadi kita, NU adalah rumah bersama.

Ada kecenderungan yang perlu kita hindari dalam menyikapi suasana pasca-Muktamar: seolah-olah menerima keputusan organisasi berarti seluruh warga harus berhenti bertanya, berhenti mengkritik, atau membenarkan segala sesuatu.

Tidak demikian.

Menerima keputusan adalah sikap organisatoris.

Menghormati para ulama adalah sikap adab.

Sedangkan mengawasi, bertanya, dan memberikan kritik yang argumentatif adalah bagian dari tanggung jawab warga terhadap jam'iyyah.

Ketiganya dapat berjalan bersama.

Kita dapat menghormati keputusan Muktamar tanpa kehilangan daya kritis. Kita dapat berhusnuzan kepada para kiai tanpa meninggalkan tradisi tabayun. Kita dapat memberikan kesempatan kepada pemimpin baru untuk bekerja tanpa menyerahkan hak kita untuk mengingatkan.

Justru di situlah letak kematangan organisasi.

Loyalitas tidak identik dengan diam. Kritik tidak identik dengan pembangkangan.

Yang membedakan kritik dengan kegaduhan adalah niat, data, argumentasi, dan adab.

Karena itu, yang perlu kita lawan bukan perbedaan pendapat, melainkan fitnah. Bukan pertanyaan, melainkan tuduhan tanpa dasar. Bukan kritik, melainkan provokasi. Bukan kebebasan berbicara, melainkan penggunaan kebebasan untuk merusak ukhuwah.

Hari-hari ini, persoalan menjadi semakin rumit karena setiap orang dapat menjadi produsen informasi.

Satu potongan video dapat beredar tanpa konteks. Satu kalimat dapat dipisahkan dari keseluruhan pernyataan. Satu opini dapat disebarkan seolah-olah fakta. Bahkan sebuah dugaan, setelah berkali-kali dibagikan, terkadang diperlakukan seperti kebenaran.

Di sinilah tradisi tabayun menjadi semakin penting.

Warga NU tidak boleh mudah digerakkan oleh sesuatu hanya karena sesuatu itu viral.

Tidak semua yang ramai adalah benar.

Tidak semua yang sepi berarti salah.

Tidak semua kritik adalah kebencian.

Dan tidak semua pembelaan adalah kebenaran.

Sebelum membagikan sebuah informasi, kita patut bertanya: dari mana sumbernya, apakah konteksnya lengkap, apakah faktanya dapat diverifikasi, dan apa akibat jika informasi tersebut kita sebarkan?

Pertanyaan sederhana itu mungkin terlihat kecil.

Tetapi di tengah derasnya arus informasi, ia dapat menjadi penjaga ukhuwah.

Sebab terkadang sebuah perselisihan besar bermula dari sesuatu yang sangat kecil: sebuah unggahan yang dibagikan tanpa tabayun.

Husnuzan juga perlu ditempatkan secara tepat.

Berprasangka baik kepada para ulama bukan berarti menganggap semua persoalan pasti benar dan tidak boleh dibicarakan. Husnuzan adalah adab. Tabayun adalah metode. Kritik adalah bagian dari ikhtiar memperbaiki keadaan.

Ketiganya tidak perlu dipertentangkan.

Kita boleh berhusnuzan sekaligus memeriksa fakta.

Kita boleh menghormati keputusan sekaligus mengawal pelaksanaannya.

Kita boleh menghormati pemimpin sekaligus mengingatkannya.

Justru NU membutuhkan warga yang mampu menggabungkan adab dan keberanian berpikir.

Sebab jam'iyyah yang sehat bukan jam'iyyah yang tidak pernah dikritik.

Jam'iyyah yang sehat adalah jam'iyyah yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan persaudaraan, dan mampu memberikan kritik tanpa kehilangan adab.

Kini pertanyaan kita semestinya mulai bergeser.

Bukan lagi siapa yang menang.

Bukan lagi siapa yang kalah.

Bukan p**a siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang akan dilakukan setelah amanah itu berada di tangan para pemimpin baru?

Apakah NU semakin dekat dengan umat?

Apakah pesantren semakin kuat?

Apakah kaderisasi semakin hidup?

Apakah pendidikan dan dakwah semakin berkembang?

Apakah pelayanan kepada masyarakat semakin nyata?

Apakah organisasi mampu menjaga marwahnya?

Dan yang tidak kalah penting: apakah NU mampu menjadi rumah yang cukup luas bagi seluruh warganya, termasuk mereka yang dalam proses Muktamar memiliki pandangan berbeda?

Di situlah keberhasilan kepemimpinan akan benar-benar diuji.

Sebab kemenangan dalam sebuah forum hanyalah awal dari amanah. Ukuran sesungguhnya bukan bagaimana seseorang mendapatkan kepercayaan, tetapi bagaimana kepercayaan itu dipertanggungjawabkan.

Jabatan dalam NU bukan piala.

Ia adalah amanah.

Dan amanah selalu memiliki konsekuensi pertanggungjawaban.

Muktamar berlangsung dalam hitungan hari.

Tetapi NU harus berjalan jauh melampaui lima tahun.

Karena itu, jangan sampai perbedaan yang seharusnya selesai di ruang Muktamar justru diwariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk permusuhan, saling curiga, dan pengelompokan yang tak kunjung selesai.

Anak-anak muda NU tidak membutuhkan warisan dendam politik.

Mereka membutuhkan teladan.

Teladan bahwa orang NU boleh berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan.

Teladan bahwa perdebatan dapat berlangsung keras dalam forum, tetapi setelah keputusan diambil kita kembali duduk dalam satu barisan.

Teladan bahwa menghormati ulama tidak berarti kehilangan akal sehat.

Dan teladan bahwa kritik dapat disampaikan dengan keberanian sekaligus kesantunan.

Barangkali inilah salah satu makna penting dari tradisi panjang pesantren dan Nahdlatul Ulama: berbeda tanpa tercerai, kritis tanpa kehilangan adab, dan tunduk kepada keputusan bersama tanpa kehilangan tanggung jawab moral.

Kita boleh mempunyai pilihan.

Kita boleh mempunyai pertimbangan.

Kita boleh mempunyai catatan.

Bahkan kita boleh memiliki kritik terhadap proses maupun kebijakan yang kemudian lahir.

Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa kepada sesuatu yang lebih besar.

NU bukan milik satu figur.

NU bukan milik satu kelompok.

NU bukan milik satu periode kepengurusan.

Dan NU bukan p**a milik mereka yang paling keras bersuara di media sosial.

NU adalah amanah panjang yang diwariskan para muassis kepada generasi demi generasi.

Karena itu, setelah Muktamar, mari kita kembalikan energi kita kepada pekerjaan yang lebih penting.

Kembali mengurus jamaah.

Kembali menghidupkan majelis.

Kembali memperkuat pesantren.

Kembali membina kader.

Kembali melayani masyarakat.

Kembali menghidupkan lembaga dan badan otonom.

Dan kembali menghadirkan wajah NU yang teduh di tengah masyarakat.

Sebab umat tidak terlalu membutuhkan kita untuk terus berdebat tentang siapa yang seharusnya menang.

Umat lebih membutuhkan kita untuk hadir ketika mereka membutuhkan pertolongan.

Mungkin kita tidak selalu sepakat.

Itu tidak masalah.

Yang menjadi masalah adalah ketika ketidaksepakatan membuat kita kehilangan saudara.

Mungkin kita memiliki penilaian yang berbeda terhadap proses yang telah berlangsung.

Itu juga tidak harus menjadi persoalan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan penilaian berubah menjadi kebencian kepada sesama warga NU.

Maka setelah Muktamar ke-35, mari belajar meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Keputusan organisasi kita hormati.

Para ulama kita muliakan.

Pemimpin kita beri kesempatan untuk menjalankan amanah.

Kebijakan kita kawal.

Informasi kita tabayunkan.

Kritik kita sampaikan dengan adab.

Dan ukhuwah kita jaga.

Karena setelah semua nama disebut, semua suara dihitung, semua pilihan ditetapkan, dan semua jabatan dibagikan, pada akhirnya kita tetap akan kembali kepada satu identitas yang sama:

Nahdliyyin.

Muktamar boleh melahirkan pilihan yang berbeda.

Tetapi jangan biarkan perbedaan pilihan melahirkan jarak yang tidak perlu.

Kontestasi boleh selesai.

Perdebatan boleh kita akhiri.

Catatan boleh tetap kita simpan.

Kritik boleh terus kita sampaikan ketika diperlukan.

Namun khidmah harus berjalan.

Sebab NU tidak boleh berhenti hanya karena Muktamar telah selesai.

Justru setelah Muktamar, pekerjaan yang sesungguhnya dimulai.

Kita kembali ke desa-desa.

Kembali ke pesantren.

Kembali ke masjid dan majelis.

Kembali mendampingi umat.

Kembali membangun kader.

Kembali menjaga tradisi.

Kembali bekerja.

Dan yang paling penting:

kita kembali menjadi saudara.

Sebab boleh jadi kita berbeda dalam menentukan siapa yang layak memimpin.

Tetapi kita tidak boleh berbeda dalam satu hal:

menjaga Nahdlatul Ulama agar tetap menjadi rumah besar yang teduh, beradab, kritis, dan bermanfaat bagi umat.

Siapa Kita?!

Selamat atas terpilihnyaKH. Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH. Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU un...
31/08/2026

Selamat atas terpilihnya
KH. Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH. Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU untuk Masa Khidmat 2026–2031.

Semoga amanah dalam mengemban tugas, senantiasa mendapat bimbingan dan pertolongan Allah SWT, serta mampu membawa jam’iyyah dan umat menuju kemajuan, kemaslahatan, dan keberkahan.

Semoga hasil Muktamar NU ke-35 menjadi pijakan bagi semakin kuatnya khidmah Nahdlatul Ulama dalam merawat tradisi, menjawab tantangan zaman, dan menghadirkan kemanfaatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Selamat mengemban amanah.
Semoga NU semakin maslahat, kokoh dalam khidmah, dan luas keberkahannya.

31/08/2026

Setelah hadir dilokasi Muktamar, ziarah, dan perjalanan panjang dari Jombang hingga Surabaya, akhirnya kami tiba di Yogyakarta.

Rombongan pun berpencar.

Ada yang menikmati Malioboro, ada yang menjelajah Merapi dengan jeep, sementara kami memilih Kauman dan berkeliling Yogyakarta.

Tak ada agenda besar hari itu.

Hanya berjalan, ngopi, menikmati kota, berbagi cerita, dan sesekali berburu oleh-oleh sebelum kembali melanjutkan perjalanan p**ang.

Mungkin memang demikian perjalanan.

Tidak setiap langkah harus diisi dengan sesuatu yang besar.

Ada waktunya kita berhenti sejenak, menikmati kebersamaan, tertawa, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Karena orang-orang yang berjalan bersama dalam sebuah khidmah juga tetaplah manusia yang sesekali membutuhkan waktu untuk menikmati perjalanan.

Yogyakarta menjadi jeda sebelum perjalanan p**ang.

Dan dari jeda itu, kami membawa p**ang cerita yang berbeda-beda, tetapi tetap dalam satu perjalanan yang sama.

31/08/2026

Ada perjalanan yang ditempuh untuk sampai pada sebuah tujuan.
Ada p**a perjalanan yang justru membuat kita belajar dari orang-orang yang telah lebih dahulu sampai.

Dari Denanyar, Tebuireng, Bangkalan hingga Ampel, kami menundukkan kepala, melangitkan doa, dan tabarukan di makam para ulama.

KH Bisri Syansuri.
KH Hasyim Asy'ari.
Syaikhona Kholil.
Para ulama di Bujuk Sara.
Sunan Ampel.
KH Hasan Gipo.

Bukan sekadar ziarah.
Bukan p**a sekadar perjalanan.

Ini adalah ikhtiar untuk kembali mengingat dari mana ilmu, perjuangan dan khidmah itu diwariskan.

Semoga doa-doa yang kami panjatkan menjadi wasilah keberkahan, dan semoga jejak para guru serta muassis tidak hanya kita kenang, tetapi juga mampu kita teruskan dalam kehidupan dan khidmah hari ini.

Tabarukan. Mengingat para pendahulu. Meneguhkan langkah untuk melanjutkan perjuangan.

والله أعلم بالصواب

31/08/2026

Di Jombang, kami datang sebagai musafir.
Di Masjid Al Mar'aa, kami diterima sebagai saudara.

Di bawah kubah ikonik yang memvisualisasikan lambang NU, kami menemukan makna khidmah yang sederhana: membuka pintu, menyediakan tempat beristirahat, dan melayani dengan ketulusan.

Terima kasih H. Mar'an dan keluarga, serta warga NU Tunggorono, atas keramahan yang membuat perjalanan jauh terasa lebih dekat.

Khidmah tak selalu hadir di atas panggung.
Kadang ia hadir di dapur, di meja makan, dan di pintu masjid yang terbuka.

Jombang, 27-28 Agustus 2026.

APA YANG PERNAH KITA TUMBUHKAN?Oleh: Edi Sriyanto Ada kalanya sebuah majelis doa tidak hanya mengajak manusia menengadah...
22/08/2026

APA YANG PERNAH KITA TUMBUHKAN?

Oleh: Edi Sriyanto

Ada kalanya sebuah majelis doa tidak hanya mengajak manusia menengadah kepada langit, tetapi juga memaksa manusia menundukkan kepala untuk melihat kembali apa yang telah dikerjakannya di bumi.

Istighotsah Kubro MWCNU se-Lampung Selatan di Pondok Pesantren Faatihul Buldaan, Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Sabtu, 22 Agustus 2026, sesungguhnya dapat dibaca dalam kerangka itu.

Ratusan warga Nahdlatul Ulama dari berbagai unsur kepengurusan berkumpul dalam majelis bertema “Mengetuk Pintu Langit”. Secara lahiriah, mereka datang untuk berdoa. Terlebih beberapa hari lagi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Tetapi di antara doa-doa yang dilangitkan itu, ada sebuah pertanyaan yang justru terasa sangat membumi.

Pertanyaan itu datang dari Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan, Kyai Moh. Ishomudin:

“Selama saya menjadi pengurus, apa yang pernah saya tumbuhkan?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun semakin direnungkan, semakin sulit menjawabnya.

Sebab menjadi pengurus organisasi sering kali lebih mudah dibuktikan dengan jabatan daripada dengan pertumbuhan.

Kita mudah menyebut pernah menjadi pengurus MWC, ranting, lembaga, atau badan otonom. Kita mudah menyebut periode kepengurusan, posisi, rapat yang pernah dihadiri, bahkan berapa kali seseorang duduk dalam forum organisasi.

Tetapi apakah semua itu otomatis menunjukkan bahwa sesuatu telah tumbuh?

Di sinilah pesan Kyai Ishomudin menjadi penting.

Kyai Ishomudin mengibaratkan perjalanan Nahdlatul Ulama seperti sebuah pohon.

Pohon tidak pernah tiba-tiba menjadi besar.

Ia bermula dari benih. Benih itu tumbuh menjadi batang. Dari batang lahir cabang dan ranting. Kemudian muncul tunas dan daun. Setelah melalui proses panjang, barulah pohon mampu menghasilkan buah.

Tidak ada orang yang melihat sebuah pohon besar lalu mengatakan bahwa pohon itu muncul begitu saja.

Di balik batang yang kokoh terdapat akar yang tidak terlihat.

Akar itulah yang mencengkeram tanah, menyerap nutrisi, dan menjaga pohon tetap berdiri ketika angin datang.

Begitu p**a Nahdlatul Ulama.

NU tidak lahir dari ruang kosong. Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, telah tumbuh berbagai ikhtiar perjuangan para ulama, antara lain melalui Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar. Kemudian pada sekitar satu abad lalu, KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama lainnya menumbuhkan Nahdlatul Ulama.

Karena itu, generasi hari ini bukanlah titik awal.

Kita adalah bagian dari pohon yang telah tumbuh jauh sebelum kita lahir.

Ada akar yang tidak kita lihat. Ada batang yang tidak kita tanam. Ada cabang yang bukan kita bentuk. Tetapi kita menikmati teduhnya, menikmati buahnya, dan hari ini bahkan diberi amanah untuk merawatnya.

Maka pertanyaannya menjadi semakin penting:

Ketika kelak kita meninggalkan pohon ini, apakah kita meninggalkan tunas baru atau justru meninggalkan ranting yang kering?

Tugas Pengurus Bukan Sekadar Duduk di Struktur

Di sinilah makna kepengurusan menjadi lebih dalam.

Menurut Kyai Ishomudin, salah satu tugas utama pengurus adalah menumbuhkan.

PCNU harus mampu menumbuhkan MWC. MWC menumbuhkan ranting. Ranting menumbuhkan anak ranting.

Namun pertumbuhan tidak berhenti pada susunan struktur.

Di dalam setiap tingkatan itu harus tumbuh kehidupan.

Harus ada Muslimat NU. Harus ada Ansor. Harus ada Fatayat. Harus ada IPNU-IPPNU. Harus ada lembaga yang bergerak. Harus ada Bahtsul Masail. Harus ada RMI. Harus ada kegiatan yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat.

Sebab struktur yang hanya ada di atas kertas pada akhirnya tidak berbeda dengan ranting yang tidak lagi menghasilkan tunas.

Ia masih terlihat sebagai bagian dari pohon.

Tetapi ia sudah kehilangan kehidupan.

Pohon yang hidup akan terus menghasilkan tunas, daun, dan pada waktunya buah.

Karena itu, ukuran kehidupan organisasi tidak semata-mata terletak pada apakah pengurusnya masih lengkap, apakah surat keputusan sudah diterbitkan, atau apakah struktur telah terbentuk.

Ukuran yang lebih penting adalah:

Apa yang tumbuh setelah kita hadir di dalamnya?

Keberkahan sebuah pohon tidak berhenti pada akarnya.

Akar menyerap nutrisi. Nutrisi mengalir melalui batang. Batang menghidupkan cabang. Cabang melahirkan ranting. Ranting menghasilkan tunas dan daun. Pada akhirnya, semua proses itu bermuara pada buah.

Begitulah semestinya keberkahan perjuangan NU mengalir.

Kyai Hasyim Asy'ari dan para ulama pendahulu adalah bagian dari akar sejarah yang telah menanamkan dasar perjuangan. Generasi setelahnya menerima, merawat, dan meneruskan. Dan generasi hari ini menerima amanah yang sama untuk memastikan aliran keberkahan itu tidak berhenti pada dirinya.

Sebab kalau keberkahan hanya berhenti pada pengurus, untuk apa struktur dibentuk?

Pengurus bukan tujuan akhir.

Kyai Ishomudin bahkan menegaskan bahwa setelah pengurus terbentuk, masih ada tujuan yang jauh lebih besar.

Dalam QS Ali Imran ayat 104, terdapat seruan agar ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, memerintahkan yang makruf, mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Di titik inilah organisasi menemukan alasan keberadaannya.

Pengurus bukan sekadar orang yang memiliki nama dalam struktur.

Pengurus adalah orang yang mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan.

Karena itu, jabatan seharusnya tidak berhenti menjadi identitas administratif. Jabatan harus berubah menjadi energi pengabdian.

Ada satu hal lain yang tidak kalah penting: orang yang mengajak kepada kebaikan harus berusaha menjadi bagian dari kebaikan itu sendiri.

Kyai Ishomudin mengingatkan dengan prinsip yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW: “Man dalla 'ala khairin falahu mitslu ajri fa'ilihi.”

Orang yang menunjukkan kepada suatu kebaikan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya.

Tetapi ada kekuatan moral yang lebih besar ketika ajakan itu disertai keteladanan.

Mengajak Yasinan, ikut Yasinan.

Mengajak istighotsah, ikut istighotsah.

Mengajak urunan, ikut urunan.

Mengajak masyarakat bergerak, dirinya juga bergerak.

Sebab organisasi akan kehilangan daya hidup ketika pengurus hanya pandai menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan orang lain, tetapi tidak menunjukkan bahwa dirinya bersedia melakukan hal yang sama.

Keteladanan membuat ajakan memiliki nyawa.

Dan organisasi yang hidup membutuhkan manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

Kemudian sampailah pesan Kyai Ishomudin pada titik yang paling reflektif.

Ia mengajak setiap pengurus bertanya kepada dirinya sendiri:

“Selama saya menjadi pengurus, apa yang pernah saya tumbuhkan?”

Bukan:

“Berapa lama saya menjadi pengurus?”

Bukan:

“Jabatan apa yang pernah saya pegang?”

Bukan p**a:

“Berapa banyak rapat yang pernah saya hadiri?”

Melainkan:

“Apa yang tumbuh karena saya pernah berada di sana?”

Pertanyaan itu dapat dijawab dengan banyak cara.

Mungkin seseorang pernah membantu berdirinya musala.

Mungkin ia ikut menumbuhkan pondok pesantren.

Mungkin ia mendirikan atau menghidupkan madrasah.

Mungkin ia merintis majelis taklim, majelis shalawat, Yasinan, atau istighotsah.

Mungkin ia berhasil mengajak anak-anak muda masuk dalam kegiatan NU.

Mungkin ia melahirkan kader baru.

Mungkin ia membuat sebuah ranting yang sebelumnya sunyi menjadi kembali hidup.

Mungkin pertumbuhannya bahkan sangat sederhana dan tidak pernah masuk berita.

Tetapi justru hal-hal seperti itulah yang membuat sebuah organisasi benar-benar hidup.

Sebab tidak semua pertumbuhan harus terlihat besar.

Yang penting adalah ada sesuatu yang sebelumnya belum ada, kemudian menjadi ada; sesuatu yang sebelumnya lemah, kemudian menjadi kuat; sesuatu yang sebelumnya mati, kemudian hidup kembali.

Itulah pertumbuhan.

Metafora pohon itu sebenarnya merupakan kritik yang sangat halus sekaligus sangat tajam.

Sebuah ranting mungkin masih menempel pada pohon. Namanya masih ada. Posisinya masih ada. Tetapi apabila tidak lagi dialiri kehidupan, ia akan mengering.

Begitu p**a organisasi.

Struktur bisa tetap tercatat.

Pengurus bisa tetap memakai nama jabatan.

Rapat bisa tetap dilaksanakan.

Namun apabila tidak ada kader yang tumbuh, tidak ada kegiatan yang hidup, tidak ada lembaga yang bergerak, tidak ada masyarakat yang merasakan manfaat, dan tidak ada kebaikan yang bertambah, maka kita patut bertanya:

Apakah kita masih menjadi bagian dari pohon yang hidup, atau hanya sekadar ranting yang belum jatuh?

Karena itu, ajakan untuk menghitung apa yang pernah ditumbuhkan bukanlah ajakan untuk membanggakan diri.

Justru sebaliknya.

Ia adalah bentuk muhasabah.

Kita perlu menghitung bukan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi untuk mengetahui apakah amanah yang diberikan kepada kita benar-benar menghasilkan pertumbuhan.

Pertumbuhan juga membutuhkan pengetahuan tentang tanah tempat pohon itu tumbuh.

Dalam konteks NU, hal itu dapat diterjemahkan sebagai kebutuhan terhadap peta dakwah.

Kita tidak mungkin mengelola masyarakat hanya berdasarkan perkiraan.

Kita perlu mengetahui di mana masjid berada, di mana musala berdiri, di mana pondok pesantren berkembang, di mana madrasah berjalan, di mana majelis taklim hidup, di mana kelompok Yasinan berkumpul, di mana majelis shalawat tumbuh, dan di mana generasi muda membutuhkan ruang untuk bergerak.

Bayangkan sebuah wilayah dengan 16 desa, sementara setiap desa memiliki sejumlah masjid dan ruang-ruang keagamaan lainnya.

Itu bukan sekadar angka.

Itu adalah potensi dakwah.

Di sana terdapat manusia, jamaah, keluarga, anak-anak muda, para santri, para guru, para tokoh masyarakat, dan berbagai komunitas yang semuanya merupakan bagian dari ruang pengabdian.

Jika semuanya dipetakan, maka NU tidak hanya memiliki struktur.

NU memiliki pengetahuan tentang medan pengabdiannya.

Dari sanalah program dapat disusun secara lebih nyata.

Dari sanalah kaderisasi dapat diarahkan.

Dari sanalah pertumbuhan dapat diukur.

Dan dari sanalah organisasi dapat mengetahui bagian mana yang subur dan bagian mana yang mulai mengering.

Beberapa hari setelah istighotsah ini, Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Tambakberas.

Muktamar tentu berbicara tentang banyak hal: arah organisasi, kebijakan, program, dan kepemimpinan.

Tetapi sebelum membicarakan siapa yang akan memimpin, barangkali ada pertanyaan yang lebih mendasar untuk dibawa p**ang oleh setiap pengurus:

Apa yang akan kita lakukan dengan amanah setelah Muktamar selesai?

Sebab siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin PBNU pada akhirnya akan menghadapi persoalan yang sama.

NU tetap membutuhkan cabang yang hidup.

MWC yang hidup.

Ranting yang hidup.

Lembaga yang hidup.

Badan otonom yang hidup.

Kader yang tumbuh.

Dan masyarakat yang merasakan manfaat.

Kepemimpinan nasional tidak akan banyak berarti apabila kehidupan organisasi di tingkat paling bawah tidak tumbuh.

Sebaliknya, ketika ranting hidup, kader tumbuh, lembaga bergerak, dan masyarakat merasakan manfaat, maka siapa pun yang memimpin akan memiliki fondasi yang kuat untuk membawa organisasi melangkah lebih jauh.

Karena itu, doa untuk Muktamar bukan hanya doa agar forum berlangsung aman, teduh, tenang, dan menghasilkan keputusan yang maslahat.

Doa itu juga semestinya menjadi pengingat bahwa setelah pintu langit diketuk, manusia tetap harus kembali bekerja di bumi.

Mengetuk Langit, Menumbuhkan Bumi

Istighotsah adalah ikhtiar batin.

Kepengurusan adalah ikhtiar sosial.

Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.

Kita mengetuk pintu langit melalui doa, tetapi kita juga harus menanam di bumi melalui kerja.

Kita memohon keberkahan, tetapi kita juga harus menjadi bagian dari tumbuhnya keberkahan itu.

Kita berdoa agar NU diberi masa depan yang baik, tetapi kita juga harus bertanya apa yang telah kita siapkan untuk masa depan tersebut.

Pada akhirnya, mungkin itulah makna terdalam dari pertanyaan Kyai Ishomudin.

“Selama menjadi pengurus, apa yang pernah saya tumbuhkan?”

Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada satu orang.

Ia layak ditujukan kepada kita semua.

Ketika suatu hari jabatan berakhir, nama kita tidak lagi tercantum dalam struktur, dan generasi berikutnya mengambil tempat yang pernah kita duduki, apa yang akan kita tinggalkan?

Apakah hanya sebuah jabatan yang pernah kita pegang?

Ataukah ada kader yang tumbuh karena kita?

Ada ranting yang hidup karena kita?

Ada majelis yang berdiri karena kita?

Ada madrasah yang berkembang karena kita?

Ada masjid yang semakin makmur karena kita?

Ada anak muda yang menemukan jalan pengabdiannya karena kita?

Ada kebaikan yang terus berjalan meskipun kita sudah tidak berada di dalam struktur?

Jika ada, mungkin di situlah kita menemukan arti menjadi pengurus.

Sebab pohon yang hidup tidak diukur hanya dari seberapa tinggi ia berdiri.

Ia diukur dari seberapa kuat akarnya, seberapa luas teduhnya, seberapa banyak tunas yang dilahirkannya, dan seberapa banyak buah yang dapat dinikmati oleh orang lain.

Begitu p**a NU.

NU tidak cukup hanya berdiri. NU harus terus tumbuh.

Dan setiap orang yang menerima amanah di dalamnya semestinya meninggalkan satu pertanyaan yang sederhana tetapi abadi:

Setelah saya hadir di sini, apa yang menjadi tumbuh?

KETIKA SEBUAH PERJALANAN MENEMUKAN BENTUKNYAOleh: Edi Sriyanto R Tujuh hari menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, se...
20/08/2026

KETIKA SEBUAH PERJALANAN MENEMUKAN BENTUKNYA

Oleh: Edi Sriyanto R

Tujuh hari menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, sebuah perjalanan kecil perlahan memperlihatkan makna yang lebih besar daripada yang pernah dibayangkan ketika pertama kali dimulai.

Tidak semua perjalanan sejak awal mengetahui akan sampai di mana ia berakhir.

Ada perjalanan yang dimulai dengan sebuah ajakan sederhana.

Ada yang berangkat dari percakapan singkat.

Ada p**a yang tumbuh dari keinginan untuk mempertemukan orang-orang yang memiliki semangat dan kecintaan yang sama terhadap jam'iyah.

Demikian p**a sebuah gagasan.

Ia tidak selalu lahir dalam bentuk yang sempurna. Kadang ia hanya berupa kemungkinan kecil yang belum memiliki nama, belum memiliki struktur, bahkan belum memiliki arah yang sepenuhnya jelas.

Namun ketika gagasan itu bertemu dengan manusia, ia mulai menemukan kehidupannya.

Perjalanan menuju Muktamar Ke-35 menjadi salah satu ruang perjumpaan itu.

Pada mulanya, yang dibicarakan hanyalah perjalanan.

Tentang keberangkatan.

Tentang kebersamaan.

Tentang bagaimana sejumlah orang dapat hadir menuju sebuah momentum besar Nahdlatul Ulama di Jombang.

Dari sanalah kemudian lahir ROMLAH (Rombongan Lillah)

Sebuah istilah sederhana untuk menggambarkan perjalanan yang diniatkan bukan sekadar untuk menempuh jarak, melainkan untuk menyambung silaturahmi, memperluas perjumpaan, dan mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa penting dalam perjalanan jam'iyah.

Tetapi perjalanan ternyata memiliki cara sendiri dalam mempertemukan manusia.

Satu perjumpaan melahirkan perjumpaan berikutnya.

Satu percakapan membuka percakapan yang lain.

Satu daerah mengenal daerah lainnya.

Dan dari sana, perlahan muncul kesadaran bahwa yang sedang dibangun bukan lagi sekadar sebuah rombongan perjalanan.

Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang tumbuh.

Bukan karena dirancang dengan ambisi besar sejak awal, melainkan karena gagasan sederhana itu menemukan ruang untuk berkembang.

Di titik inilah sebuah perjalanan dapat berubah menjadi perjumpaan.

Dan dari perjumpaan, dapat tumbuh sebuah gerakan.

Kini, nama yang terpampang bukan lagi ROMLAH.

Yang hadir adalah sebuah identitas yang lebih luas:

KADER PENGGERAK NU PESAWARAN DAN LAMPUNG SELATAN.

Perubahan nama itu bukan sekadar perubahan tulisan pada sebuah spanduk.

Ia menggambarkan sebuah proses.

Bahwa gagasan dapat mengalami perjalanan.

Bahwa sebuah bentuk awal tidak harus menjadi bentuk akhirnya.

Dan bahwa sesuatu yang bermula dari perjalanan menuju satu momentum dapat berkembang menjadi ruang untuk mempertemukan kader-kader penggerak dari dua wilayah yang selama ini berkhidmah di tempat masing-masing.

Pesawaran dan Lampung Selatan mungkin memiliki wilayah administratif yang berbeda.

Namun khidmah tidak mengenal batas administratif.

Kader bergerak di wilayahnya masing-masing.

Penggerak bekerja di lingkungan masing-masing.

Tetapi ketika mereka dipertemukan oleh semangat yang sama, batas-batas itu dapat berubah menjadi jembatan.

Di sanalah persaudaraan menemukan maknanya.

Bukan dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan mempertemukan mereka dalam tujuan yang lebih besar.

Muktamar pada akhirnya bukan hanya tentang beberapa hari persidangan di Jombang.

Ia juga dapat menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana warga dan kader NU membangun hubungan di daerah masing-masing.

Siapa yang selama ini berjalan sendiri.

Siapa yang belum pernah bertemu.

Gagasan apa yang belum sempat dibicarakan.

Dan kemungkinan kerja sama apa yang sebenarnya dapat dibangun jika para penggerak diberi ruang untuk saling mengenal.

Sebab sering kali yang kita perlukan bukan gagasan yang benar-benar baru.

Kita hanya membutuhkan ruang untuk mempertemukan orang-orang yang selama ini memiliki gagasan baik tetapi berjalan di tempat yang berbeda.

Dari perjumpaan itulah kepercayaan tumbuh.

Dari kepercayaan lahir kerja sama.

Dan dari kerja sama, sesuatu yang lebih besar dapat dikerjakan bersama.

Karena itu, perubahan dari ROMLAH menuju Kader Penggerak NU Pesawaran dan Lampung Selatan tidak perlu dibaca sebagai pergantian semata.

Ia lebih tepat dipahami sebagai perjalanan sebuah gagasan menuju bentuk yang lebih luas.

Gagasan yang semula berbicara tentang perjalanan, kemudian menemukan makna dalam perjumpaan.

Perjumpaan kemudian menemukan kemungkinan dalam kebersamaan.

Dan kebersamaan pada akhirnya membuka ruang bagi lahirnya gerak bersama.

Mungkin memang demikianlah seharusnya sebuah gagasan tumbuh.

Tidak dikurung oleh bentuk awalnya.

Tidak dipaksa berhenti ketika keadaan berubah.

Tetapi diberi kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang, menerima pengalaman baru, lalu menemukan bentuk terbaik yang dapat memberi manfaat.

Tujuh hari lagi Muktamar Ke-35 akan dimulai.

Kita akan menyaksikan sebuah momentum besar yang mempertemukan Nahdliyin dari berbagai penjuru.

Namun bagi kami, perjalanan menuju Muktamar telah memberikan pelajaran bahkan sebelum kaki menginjak Jombang.

Bahwa terkadang perjalanan yang kita kira hanya akan membawa kita menuju sebuah tempat, justru membawa kita menuju sebuah perjumpaan.

Dan terkadang perjumpaan yang semula tampak sederhana justru membuka pintu menuju kemungkinan yang jauh lebih besar.

Barangkali inilah makna terdalam dari perjalanan yang sedang ditempuh.

Bukan semata-mata tentang siapa yang berangkat.

Bukan p**a tentang dari mana seseorang berasal.

Melainkan tentang bagaimana orang-orang yang memiliki niat baik dapat dipertemukan, saling mengenal, lalu menemukan alasan untuk berjalan bersama.

Sebab sebuah perjalanan akan selesai ketika kita sampai di tujuan.

Tetapi sebuah gagasan dapat terus berjalan bahkan setelah perjalanan itu berakhir.

Ia dapat tinggal dalam ingatan.

Tumbuh dalam perjumpaan.

Berkembang dalam kebersamaan.

Dan suatu hari, mungkin menjelma menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah kita bayangkan ketika pertama kali memulainya.

ROMLAH mungkin merupakan nama dari sebuah perjalanan.

Namun Kader Penggerak NU Pesawaran dan Lampung Selatan adalah salah satu bentuk yang ditemukan oleh perjalanan itu ketika ia bertemu dengan ruang yang lebih luas.

Dan mungkin, di situlah kita memahami satu hal:

Sebuah perjalanan tidak selalu berakhir ketika sampai di tujuan. Kadang, justru di sanalah ia menemukan bentuk baru untuk melanjutkan perjalanan.

Tujuh hari menuju Muktamar.

Tujuh hari menuju sebuah perjumpaan besar.

Dan mungkin, tujuh hari ini bukan sekadar hitungan waktu menuju Jombang.

Ia adalah kesempatan untuk menyiapkan hati, memperluas persaudaraan, dan membawa p**ang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kenangan perjalanan:

semangat untuk terus bergerak, mempertemukan, dan memberi manfaat.

Tabik.

Address

Kalianda

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when EYB119 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to EYB119:

Shortcuts

Share