31/12/2025
SANDI PERGERAKAN DI TANAH KEMUKUS
Oleh: Edi Sriyanto.
Menyebut nama Desa Kemukus di Kecamatan Ketapang, memori saya secara otomatis terlempar ke suatu hari di bulan April tahun 2007. Kala itu, wajah Pondok Pesantren Hidayatut Thulab masih sangat bersahaja.
Memang bukan lagi bangunan kayu, semen sudah membalut dinding-dindingnya, namun skalanya belum sebesar yang kita saksikan hari ini. Santri mukimnya masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, namun riuh rendah anak-anak desa setempat yang mengaji di sana telah memberikan sinyal kuat: ada denyut nadi perjuangan yang sedang dipompa oleh Kiai Ahmad Mukhlisin.
Tujuh belas tahun berselang, di penghujung Desember 2023, saya kembali menginjakkan kaki di tanah yang sama. Namun atmosfernya telah berubah total. Hidayatut Thulab tidak lagi sekadar tempat "ngaji kuping" bagi warga desa, melainkan telah bertransformasi menjadi center of excellence kaderisasi Nahdlatul Ulama melalui PD-PKPNU Angkatan XXV.
Melihat perubahan fisik bangunan dan kemandirian pesantren ini, saya menyadari bahwa kaderisasi bukan hanya soal mencetak orang, tapi soal bagaimana sebuah institusi kultural mampu bertahan dan relevan terhadap zaman.
Ada pemandangan yang sangat ikonik pada perhelatan Angkatan XXV ini: penyerahan dan penanaman bibit pohon sawo. Bagi mata awam, ini mungkin hanya sekadar simbol penghijauan. Namun bagi mereka yang memahami narasi sejarah Nusantara, pohon sawo adalah "kotak hitam" perjuangan.
Sejarah mencatat bahwa Laskar Pangeran Diponegoro menggunakan pohon sawo (khususnya sawo kecik) sebagai sandi rahasia. Di mana ada pohon sawo ditanam di halaman rumah atau pesantren, di situlah terdapat simpul kekuatan pengikut Diponegoro. Ia adalah penanda identitas sekaligus simbol perlawanan yang senyap namun dalam.
Kiai Ahmad Mukhlisin, yang didampingi oleh instruktur Kiai Abdul Aziz Attarmasi, melakukan prosesi penanaman ini dengan khidmat yang luar biasa. Secara kultural, pilihan pohon sawo ini adalah pengejawantahan dari kalimat “Sawu Sufufakum” luruskan, rapatkan barisanmu. Di tangan para kader, sawo bukan lagi sekadar tanaman, melainkan pengingat bahwa seorang Kader Penggerak harus memiliki karakter seperti sawo: kulit luarnya sederhana (cokelat tanah), namun isinya manis dan mengenyangkan.
Pemberian bibit ini dari mas Imam Subkhi, SH (Kader Penggerak NU Angkatan VI) dan Kader Penggerak NU lainnya menunjukkan adanya dialektika antar-generasi. Kader senior menanam, kader junior merawat. Ini adalah implementasi nyata dari tugas "Merawat Jagad". Kita tidak bicara perubahan iklim global dengan bahasa langit, kita bicara dengan mencangkul tanah dan menanam pohon di halaman pesantren sendiri.
Sisi menarik yang luput dari pengamatan sekilas adalah kehadiran struktur MWCNU dari kecamatan lain, seperti Sragi. Kehadiran Kiai Sumari (Ketua MWCNU Sragi) dan Kiai Syukur (Rais Syuriyah Sragi) dengan membawa puluhan peserta menunjukkan bahwa Ketapang bukan sebuah p**au terpencil dalam peta dakwah Lampung Selatan.
Ketapang dan Sragi, dua wilayah yang bersinggungan dengan garis pantai, memiliki tantangan dakwah yang serupa. Kehadiran mereka di Hidayatut Thulab adalah bentuk "tabayyun struktural". Kiai Mukhlisin sendiri, sebagai tuan rumah, telah lama mempraktikkan politik silaturahmi ini dengan selalu hadir di berbagai angkatan PD-PKPNU di wilayah lain. Di sinilah letak kekuatan NU: ia bergerak bukan karena instruksi kering di atas kertas, tapi karena ikatan emosional (kultural) antar-kiai yang sudah melampaui batas-batas administratif kecamatan.
Dari Ketapang Menuju Way Sulan PD-PKPNU Angkatan XXV ini unik karena ia adalah bagian dari sebuah "maraton". Saat kegiatan di Ketapang berlangsung, di saat yang hampir bersamaan, mesin organisasi di Way Sulan juga sedang dipanaskan untuk Angkatan XXVI. Para instruktur, mulai dari Gus Abror yang datang dari Lampung Timur, hingga punggawa PCNU Lampung Selatan seperti Hi. Nur Mahfudz, dan Ust Zaini Ghofur, melakukan kerja-kerja estafet.
Hi. Nur Mahfudz dalam satu kesempatan mengingatkan dengan tegas bahwa sertifikat PD-PKPNU bukanlah "ijazah untuk dipajang". Ia adalah mandat untuk bergerak. Kader penggerak dituntut untuk kembali ke "habitat" asalnya baik itu di Banom maupun di Ranting dengan membawa cara pandang yang baru. Mereka harus menjadi dinamo yang Mereka harus menjadi dinamo yang menggerakkan struktur yang mungkin selama ini sedang stagnan.
Desember 2023 di Kemukus mungkin akan tercatat sebagai salah satu momen paling tenang namun progresif. Meskipun berada di musim penghujan, Alhamdulillah, semesta memberikan "dispensasi" sehingga rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa terkendala cuaca.
Pohon sawo yang ditanam oleh Kiai Mukhlisin dan para instruktur kini sedang berjuang menumbuhkan akar-akarnya di bumi Kemukus. Demikian p**a para kader yang telah dibaiat. Mereka adalah "sawo-sawo" baru yang membawa sandi perjuangan Diponegoro ke abad ke-21. Tugas kita sekarang bukan lagi mempertanyakan kapan buahnya bisa dipanen, tapi memastikan bahwa barisan (shaf) ini tetap rapat, serapat akar pohon sawo yang sedang menghujam bumi Lampung Selatan.
Khidmah sunyi adalah kesepakatan batin untuk menjaga agar sanad perjuangan tak terinterupsi oleh ego personal. Di sini, identitas meluruh demi keberlangsungan jam'iyyah. Ini bukan perkara siapa yang menggenggam tongkat estafet di bawah sorot panggung, melainkan kepastian bahwa tongkat itu tak pernah menyentuh tanah, meski tangan-tangan yang menopangnya tak pernah tercatat dalam sejarah.
Siapa Kita...???!!!