21/10/2020
Pohon Trembesi 1
Pagi dengan angin semilir, matahari yang mulai menghangatkan jiwa-jiwa muda. Tapi disini ada resah tak terhapus sinarnya. Angkot langganan yang kutunggu tak datang juga. Padahal aku telah menuggu lebih dari 30 menit. Sebenarnya itu membuatku sedikit jengkel. Baru saja aku ingat, ini hari jumat.
Tangan mulai kebas, mendekap buku-buku tebal untuk persiapan ujian nasional. Aku tak mampu untuk membelinya, apa salahnya jika aku meminjam dari perpustakaan. Toh stok buku tersebut teronggok, jarang peminatnya. Maklum bukan edisi terbaru, bisa di bilang usang karena periode 3 sampai 4 tahun berlalu.
Tak masalah bagiku. Ini sudah lebih dari cukup.
Decit rem motor mendekat. Merasa buyar konsentrasi, aku mengamati. Ada yang berdetak lebih kencang, tapi bukan suara musik warung belakang. Ada yang berdesir halus, tapi bukan gesekan dawai biola. Pun ada kegugupan yang mati-matian kuredam.
Saat ini aku bahagia hanya dengan melihatmu baik-baik saja. Sungguh, mimpi pagi yang cerah.
"Nunggu siapa?". Kau memandang heran, karena tak langsung mendapat jawaban. Yang kau lihat malah bukuku berceceran. Ah, sial. Kegugupan ini sungguh norak. Aku bukan tipe pemalu, tapi menghadapimu membuatku mati kutu.
Tersadar rasa, aku mengibas-ngibaskan buku. Berusaha menjaga keutuhan dan kebersihannya. Atau aku bakal kena sanksi.
"Nunggu angkot". Jawabku dengan suara bergetar. Padahal sudah kuatur nafas sedemikian agar tetap menguasai diri.
Kau putar stang, mempersilahkan aku naik motor. Menawarkan jasa antar. Oh tukang ojek...tak kan kusia-siakan kesempatan ini.
Sepanjang perjalanan yang ku pegang adalah buku. Entah aku takut buku-buku tersebut jatuh, atau aku enggan lancang memegang pinggang. Yang ku sadar, kami tak punya ikatan. Motor melaju dengan kecepatan 60 KM/Jam.
Gerbang sekolah menyambut bersama satpam yang siaga memeriksa. Mereka tak mau diajak kompromi terkait peserta didik yang masuk ke lingkungan sekolah ini. Bisa menunjukkan kartu siswa berarti di izinkan.
Sebelum kau menghilang sempat ku ucap terima kasih yang kau balas kalimat peluruh logika.
"Jam 12.45 di sini". Motor pun melaju hingga jarak menghapus bayangmu.
Kalimatmu sanggup memperpanjang hari yang harusnya cukup empat jam saja menggeluti buku-buku sekolah. Kupukul-pukul meja dengan pensil. Mencoba melerai rasa gugup yang mulai usil. Ku kira lapar merasakan badan gemetar, nyatanya ini adalah ungkapan rasa bahagia yang menjalar.
Konsentrasiku benar-benar buyar. Les tambahan hari ini benar-benar hambar. Hanya imajinasi banyangmu saja yang menguar.
Tuhan tolong, aku tak ingin gagal. Baik Cita maupun cinta. Sesak memendamnya terlalu lama. Kini keduanya jelas di depan mata.
Pos satpam ku pilih bernaung menunggumu. Aku tau ini belum waktunya, tapi aku telah bersiap menemuimu.
Skater Army senada dengan jaket berpadu kaos Marun, menambah kemaskulinan hidung yang makin terlihat mancung. Ah, Tuhan menciptamu begitu indah. Membuat rasa yang dulu bersemi kian membuncah. Ini pertemuan pertama kita setelah hampir tiga tahun terpisah.
Mantap aku berjalan ke arahmu. Meninggalkan sekujur ragu yang hampir menang membelenggu. Senyummu menyambut dunia merah jambuku.
-------
Hari putih abu-abu semakin jelas hampir berganti. Tenggang masa pergantian, kukira akan terjadi sebuah kekosongan. Nyatanya ada warna pelangi meski tidak hujan.
Mencipta kenangan sebelum kita benar-benar disibukkan dunia intelektualitas. Padahal aku merasa baru kemarin sore meminjamkan buku catatan Himpunan bilangan saat kita masih memakai seragam biru putih.
Yah...kurasa ada yang teriris dari rasa kita. Meski entah kapan gabungan takdir mengikat.
"Pernah kau bermimpi saat ini akan terjadi?", kau membuka pertanyaan yang mengejutkan. Aku menggeleng pelan. Menjadi mati kata, tak bisa meluapkan orasi layaknya menyajikan makalah di depan teman. " Apa hanya aku yang menginginkan kita?".
Bersemu merah saat ini wajahku, sejujurnya aku merasa itu adalah inginku. Baru kusadari, kita sama. Andai dulu aku mengerti bahwa itu adalah tanda.
"Aku benar-benar bodoh". Kau menautkan alis. Entah heran atau tersinggung. Sekuat tenaga aku menyajikan kata. Mengkonfirmasi kepolosan masa lalu. "Ku kira kau membenciku. Karena kau selalu menghindariku. Pun jika kita bersama, hanya ada pertengkaran-pertengkaran hebat lewat kata".
"Aku cemburu".
Dua kata yang sejenak menahan jantung berhenti memompa aliran darah merahku.
"Pada?". Luar biasa. Itu diluar rangkai memori. Pada apa kau cemburu? seberapa besar marah itu? sejak kapan itu menguasaimu?. Senandikaku menguasai alam bawah, yang nampak kegugupan.
"Semuanya. Itu dimulai ketika kau lebih memilih duduk dengan Lathifa ketimbang denganku. Apa yang dipilih guru untukku, beliau tahu aku cocok denganmu. Sayangnya kau tidak begitu". Nampak raut kecewa di bibirmu yang sedikit merah itu. Bahkan kau terus mengaduk makanan di depanmu tanpa mencicip. Pasti berat bagimu mengingat hal yang kau benci.
"Sudahlah, mencoba melupakanmu hanya menyiksaku. Ayo kita buat kenangan indah yang dulu tidak sempat kita lakukan. Apa kau tahu kenapa jumat kemarin aku bisa mengantarmu?"
"Maafkan aku".
"Diterima". Kau memetik jari tanda setuju. "Itu sungguh merepotkan. Aku bahkan butuh waktu satu bulan mengobservasi pola keberangkatanmu. Dan lemahmu hari jumat".
Kau membalas tatapan fokusku. Menautkan jari-jari kita. Ada energi hangat yang menyelimutiku. Ada haru yang tak kusangka hadir dimasa peralihan SMA-ku. Perasaan terikat kita dimasa lampau yang baru terucap saat ini membuat aku kembali terlarut pada jatuh cintaku.
Bulan menerangi kita. Kehangatan api unggun di atas bukit trembesi. Tempat di belakang SMP kita. Ada banyak pohon tersebut disini. Tempat yang selalu aku datangi ketika aku meluapkan emosi sesaat setelah kita bertengkar hebat. Dan berikut-berikutnya menjadi tempat belajarku serta menyendiri.
Andai dulu aku tahu, kau diam-diam mengawasiku marah-marah disini...ah, betapa konyolnya aku saat itu. Tapi tak sekalipun aku pernah melihatmu di sini. Kini baru ku tahu alasanmu, kau ingin aku nyaman tanpa terusik hadirmu. Kau selalu bersembunyi di balik pohon, menerima makianku dengan sesal dan sesak yang menyiksa. Kau menanggungnya sendirian. Apa itu tidak berat?
Waktu seolah berputar kembali ke masa itu, kenangan yang mengalir didalam dadaku. Hari dimana kau membuang tasku. Hari dimana aku begitu luar biasa marah dan memutuskan membencimu, walau pada berjalannya waktu aku tak mampu. Aku menangis tanpa malu didepanmu, air mata luluh tanpa bisa kutahan. sesak melihatmu membuang tanpa ku tahu alasan.
Semua karena cemburu. Pada murid baru yang mengambil duduk di sebelahku, yang harusnya tempatmu. Betapa tidak pekanya aku.
--------
Tiap detik rindu itu memaksaku ada di bawah Trembesi ini. Melenakan buku-buku pelajaran, rasa bersalah itu kian menekan. Aku berjanji tidak kehilangan keduanya. Belajar bersamamu, kian membuka wawasan.
Tetiba aku kehilangan jejak membedakan susunan rantai Pentana dan Pentuna. Itu menyadarkanku, harusnya tidak terlalu terlena padamu. Toh pada akhirnya kita menempuh jalan cita yang berbeda.
"Aku ingin pindah kampus". Lirih aku berdecak kesal yang disambut acakan tanganmu pada rambut ini. "Sepertinya aku tak sanggup jauh darimu". Aku memperjelas rengekan. Kusandarkan lelah ini dipundakmu dengan manja. Berharap kau setuju.
"Tidak. Kau tetap harus melanjutkan hingga selesai pada apa yg menjadi pilihanmu dulu. Aku akan menantimu. Bahkan jika kuliahku libur, aku akan berkunjung ke sini menunggumu". Tegas sekali keputusanmu. Seolah tak ikut merasa beban menahan rindu. Padahal kau lebih dari aku.
Pada akhirnya kita sampai pada kisah yang sama. Hanya mampu menatap kenangan yang pernah kita jaga.