Nuna History

Nuna History Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Nuna History, Digital creator, Jalan gardu, Karanganyar.

22/02/2026
dibatas waktu senjakita memulai cerita cintatentang alam dan yang Maha Kuasa
17/02/2026

dibatas waktu senja
kita memulai cerita cinta
tentang alam dan yang Maha Kuasa

sejak kepergianmu, aku paham bahwa aku hanya punya Allah
03/04/2024

sejak kepergianmu, aku paham bahwa aku hanya punya Allah

krupuk upil
23/02/2024

krupuk upil

29/01/2024

selamat pagi cinta
halaman ini khusus berbagi kisah romantisme ya

15/11/2020

CINTA PERTAMA

Laman facebookku penuh postingan selamat hari ayah.

Ayah untuk ayahnya, dan ayah untuk anaknya. Pun ada untuk ayah calon anaknya.

Aku iri. Ingin posting juga seperti mereka.

Ketik hapus ketik hapus.

Untuk ayah anakku, percuma tak kan ditanggapi jika aku posting dilaman medsos logo biru. Lebih baik aku mengucapnya langsung seperti biasa. Balasannya langsung kecup mesra. Hmm..., bukan tidak peka. Tapi begitulah dia.

Ayahku...

Ingin juga aku membanggakannya seperti yang lain. Tapi ingatan yang muncul selalu kebengisannya, mendaratkan tangan ringannya pada surga pertamaku. Caranya melemparkan benda sekitarnya ke arah wanitaku itu.

Di usia jelang akhir masa emas, aku merekam sempurna potret suram dan kejam itu. Aku belum tau alasannya mengapa ayah seperti itu. Bukankah seharusnya ia yang melindungi ibu?

Sungguh rasa takut itu begitu mencengkram, sabit rumput berkilat dilemparkan seolah itu hanya sebuah gumpalan kapas. Aku menjerit.

Bukannya Ayah berhenti, ibu malah semakin menantang berani.

Aku mendorong ibu keluar pintu. Menutupnya. Hanya aku berdua dengan ayah. Apa ayah akan membunuhku?

Masih dengan tergugu dan kacau, air mata terus membanjir. Keluar bukan hanya pada rasa takut nyawaku melayang. Tapi pada apa yang barusan kupinta pada pencipta alam.

------
Raga ayah semakin rapuh. Ibu sudah tak memperdulikan bagaimana ia menahan gejolak kerinduan pada anak lelakinya.

Yang ibu pahami, uang harus terkumpul agar esok hidup berlanjut tanpa ada hutang.

Bukan usianya tak renta, tapi memang kewajiban menitahkan kerja keras demi anak perempuannya yang terus merengek mengenyam pendidikan selayaknya.

Rasa benci pada ayah terus menggerogotiku hingga ujung usianya. Benci sekaligus cinta.

Dia cinta pertamaku. Ayahku.

Mengajarkan cara menjadi kuat tanpa hadirnya ibu ketika harus berjuang hidup mati.

Merawatku pasca perjuangan panjang membelah tumor dari ragaku.

Mengendongku ketika aku tergeletak lemah tak berdaya menahan sakit.

Menidurkanku yang kesulitan menahan insomnia.

Ayah ada saat aku rapuh dan butuh.

Baru ku tahu 20 tahun berikutnya, aku bukan benih yang ditanam ayah.

21/10/2020

Pohon Trembesi 1

Pagi dengan angin semilir, matahari yang mulai menghangatkan jiwa-jiwa muda. Tapi disini ada resah tak terhapus sinarnya. Angkot langganan yang kutunggu tak datang juga. Padahal aku telah menuggu lebih dari 30 menit. Sebenarnya itu membuatku sedikit jengkel. Baru saja aku ingat, ini hari jumat.

Tangan mulai kebas, mendekap buku-buku tebal untuk persiapan ujian nasional. Aku tak mampu untuk membelinya, apa salahnya jika aku meminjam dari perpustakaan. Toh stok buku tersebut teronggok, jarang peminatnya. Maklum bukan edisi terbaru, bisa di bilang usang karena periode 3 sampai 4 tahun berlalu.
Tak masalah bagiku. Ini sudah lebih dari cukup.

Decit rem motor mendekat. Merasa buyar konsentrasi, aku mengamati. Ada yang berdetak lebih kencang, tapi bukan suara musik warung belakang. Ada yang berdesir halus, tapi bukan gesekan dawai biola. Pun ada kegugupan yang mati-matian kuredam.

Saat ini aku bahagia hanya dengan melihatmu baik-baik saja. Sungguh, mimpi pagi yang cerah.

"Nunggu siapa?". Kau memandang heran, karena tak langsung mendapat jawaban. Yang kau lihat malah bukuku berceceran. Ah, sial. Kegugupan ini sungguh norak. Aku bukan tipe pemalu, tapi menghadapimu membuatku mati kutu.

Tersadar rasa, aku mengibas-ngibaskan buku. Berusaha menjaga keutuhan dan kebersihannya. Atau aku bakal kena sanksi.

"Nunggu angkot". Jawabku dengan suara bergetar. Padahal sudah kuatur nafas sedemikian agar tetap menguasai diri.

Kau putar stang, mempersilahkan aku naik motor. Menawarkan jasa antar. Oh tukang ojek...tak kan kusia-siakan kesempatan ini.

Sepanjang perjalanan yang ku pegang adalah buku. Entah aku takut buku-buku tersebut jatuh, atau aku enggan lancang memegang pinggang. Yang ku sadar, kami tak punya ikatan. Motor melaju dengan kecepatan 60 KM/Jam.

Gerbang sekolah menyambut bersama satpam yang siaga memeriksa. Mereka tak mau diajak kompromi terkait peserta didik yang masuk ke lingkungan sekolah ini. Bisa menunjukkan kartu siswa berarti di izinkan.

Sebelum kau menghilang sempat ku ucap terima kasih yang kau balas kalimat peluruh logika.

"Jam 12.45 di sini". Motor pun melaju hingga jarak menghapus bayangmu.

Kalimatmu sanggup memperpanjang hari yang harusnya cukup empat jam saja menggeluti buku-buku sekolah. Kupukul-pukul meja dengan pensil. Mencoba melerai rasa gugup yang mulai usil. Ku kira lapar merasakan badan gemetar, nyatanya ini adalah ungkapan rasa bahagia yang menjalar.

Konsentrasiku benar-benar buyar. Les tambahan hari ini benar-benar hambar. Hanya imajinasi banyangmu saja yang menguar.

Tuhan tolong, aku tak ingin gagal. Baik Cita maupun cinta. Sesak memendamnya terlalu lama. Kini keduanya jelas di depan mata.

Pos satpam ku pilih bernaung menunggumu. Aku tau ini belum waktunya, tapi aku telah bersiap menemuimu.

Skater Army senada dengan jaket berpadu kaos Marun, menambah kemaskulinan hidung yang makin terlihat mancung. Ah, Tuhan menciptamu begitu indah. Membuat rasa yang dulu bersemi kian membuncah. Ini pertemuan pertama kita setelah hampir tiga tahun terpisah.

Mantap aku berjalan ke arahmu. Meninggalkan sekujur ragu yang hampir menang membelenggu. Senyummu menyambut dunia merah jambuku.

-------
Hari putih abu-abu semakin jelas hampir berganti. Tenggang masa pergantian, kukira akan terjadi sebuah kekosongan. Nyatanya ada warna pelangi meski tidak hujan.

Mencipta kenangan sebelum kita benar-benar disibukkan dunia intelektualitas. Padahal aku merasa baru kemarin sore meminjamkan buku catatan Himpunan bilangan saat kita masih memakai seragam biru putih.

Yah...kurasa ada yang teriris dari rasa kita. Meski entah kapan gabungan takdir mengikat.

"Pernah kau bermimpi saat ini akan terjadi?", kau membuka pertanyaan yang mengejutkan. Aku menggeleng pelan. Menjadi mati kata, tak bisa meluapkan orasi layaknya menyajikan makalah di depan teman. " Apa hanya aku yang menginginkan kita?".

Bersemu merah saat ini wajahku, sejujurnya aku merasa itu adalah inginku. Baru kusadari, kita sama. Andai dulu aku mengerti bahwa itu adalah tanda.

"Aku benar-benar bodoh". Kau menautkan alis. Entah heran atau tersinggung. Sekuat tenaga aku menyajikan kata. Mengkonfirmasi kepolosan masa lalu. "Ku kira kau membenciku. Karena kau selalu menghindariku. Pun jika kita bersama, hanya ada pertengkaran-pertengkaran hebat lewat kata".

"Aku cemburu".

Dua kata yang sejenak menahan jantung berhenti memompa aliran darah merahku.

"Pada?". Luar biasa. Itu diluar rangkai memori. Pada apa kau cemburu? seberapa besar marah itu? sejak kapan itu menguasaimu?. Senandikaku menguasai alam bawah, yang nampak kegugupan.

"Semuanya. Itu dimulai ketika kau lebih memilih duduk dengan Lathifa ketimbang denganku. Apa yang dipilih guru untukku, beliau tahu aku cocok denganmu. Sayangnya kau tidak begitu". Nampak raut kecewa di bibirmu yang sedikit merah itu. Bahkan kau terus mengaduk makanan di depanmu tanpa mencicip. Pasti berat bagimu mengingat hal yang kau benci.

"Sudahlah, mencoba melupakanmu hanya menyiksaku. Ayo kita buat kenangan indah yang dulu tidak sempat kita lakukan. Apa kau tahu kenapa jumat kemarin aku bisa mengantarmu?"

"Maafkan aku".

"Diterima". Kau memetik jari tanda setuju. "Itu sungguh merepotkan. Aku bahkan butuh waktu satu bulan mengobservasi pola keberangkatanmu. Dan lemahmu hari jumat".

Kau membalas tatapan fokusku. Menautkan jari-jari kita. Ada energi hangat yang menyelimutiku. Ada haru yang tak kusangka hadir dimasa peralihan SMA-ku. Perasaan terikat kita dimasa lampau yang baru terucap saat ini membuat aku kembali terlarut pada jatuh cintaku.

Bulan menerangi kita. Kehangatan api unggun di atas bukit trembesi. Tempat di belakang SMP kita. Ada banyak pohon tersebut disini. Tempat yang selalu aku datangi ketika aku meluapkan emosi sesaat setelah kita bertengkar hebat. Dan berikut-berikutnya menjadi tempat belajarku serta menyendiri.

Andai dulu aku tahu, kau diam-diam mengawasiku marah-marah disini...ah, betapa konyolnya aku saat itu. Tapi tak sekalipun aku pernah melihatmu di sini. Kini baru ku tahu alasanmu, kau ingin aku nyaman tanpa terusik hadirmu. Kau selalu bersembunyi di balik pohon, menerima makianku dengan sesal dan sesak yang menyiksa. Kau menanggungnya sendirian. Apa itu tidak berat?

Waktu seolah berputar kembali ke masa itu, kenangan yang mengalir didalam dadaku. Hari dimana kau membuang tasku. Hari dimana aku begitu luar biasa marah dan memutuskan membencimu, walau pada berjalannya waktu aku tak mampu. Aku menangis tanpa malu didepanmu, air mata luluh tanpa bisa kutahan. sesak melihatmu membuang tanpa ku tahu alasan.

Semua karena cemburu. Pada murid baru yang mengambil duduk di sebelahku, yang harusnya tempatmu. Betapa tidak pekanya aku.

--------
Tiap detik rindu itu memaksaku ada di bawah Trembesi ini. Melenakan buku-buku pelajaran, rasa bersalah itu kian menekan. Aku berjanji tidak kehilangan keduanya. Belajar bersamamu, kian membuka wawasan.

Tetiba aku kehilangan jejak membedakan susunan rantai Pentana dan Pentuna. Itu menyadarkanku, harusnya tidak terlalu terlena padamu. Toh pada akhirnya kita menempuh jalan cita yang berbeda.

"Aku ingin pindah kampus". Lirih aku berdecak kesal yang disambut acakan tanganmu pada rambut ini. "Sepertinya aku tak sanggup jauh darimu". Aku memperjelas rengekan. Kusandarkan lelah ini dipundakmu dengan manja. Berharap kau setuju.

"Tidak. Kau tetap harus melanjutkan hingga selesai pada apa yg menjadi pilihanmu dulu. Aku akan menantimu. Bahkan jika kuliahku libur, aku akan berkunjung ke sini menunggumu". Tegas sekali keputusanmu. Seolah tak ikut merasa beban menahan rindu. Padahal kau lebih dari aku.

Pada akhirnya kita sampai pada kisah yang sama. Hanya mampu menatap kenangan yang pernah kita jaga.

19/10/2020

Mungkin aku salah karena saat itu menolak pernyataan cintamu. Tapi sungguh, itu tidak rasional menurutku. Kita baru kenal tapi kamu tiba-tiba menyatakan cinta. Kamu bersikeras mengenalku dengan baik. Dan aku makin tersulut emosi saat itu. Aku yang sedang konsen menelaah pertanyaan dosen, dan ambisimu yang mereka anggap keren.

"Jadilah pacarku", paksamu.
" Tidak", tegasku. Entah sudah yang keberapa hari ini. Terus saja kamu menyatakan rasa mu, dan aku tetap dengan teguhku.

Kamu mungkin mengenalku, melalui temanmu dan temanku. Tapi kamu belum mengenalku, dariku. Konyol jika kamu jatuh cinta padaku. Itu menurutku. Terlalu naif.

Aku terus mengacuhkanmu. Bahkan berkali tak segan aku memblokir nomormu. Tetap saja kau selalu menghubungiku. Mau bagaimana lagi, aku yang enggan berganti-ganti nomor ponsel seperti yang lain

Tiba-tiba hari itu kau di depan rumahku. Menenteng makanan kesukaan ibuku. Tersenyum begitu tulus. Aku yang bersiap berangkat kuliah menjadi salah asumsi bagi ibu. Hah, sungguh keberuntungan berpihak padamu. Aku jadi berangkat kuliah naik motor berdua denganmu.

Segala gigihmu seiring putaran waktu melumpuhkan egoku. Aku yang terbiasa seadanya, menjadi lebih nyaman bersamamu. Ah, apakah aku mulai tertular virus merah jambu mu?

Kamu tak pernah lagi menanyakan soal ikatan. Aku ragu untuk bertanya. Padahal tanda yang kau beri begitu nyata. Segala kehangatan sikap, kesigapan menjawab, kesetiaan yang tetap.

Kamu selalu memintaku menunggu di depan kampus, hanya untuk mengantarkanku pulang. Padahal jika kamu sadar, arah rumahku dan arah rumahmu dari tempat kuliah itu berbalik. Sangat jauh malah.

Jika aku tak berangkat kuliah, pulang kerja kamu mendatangiku. Membawa segala jenis camilan untuk nongkrong dirumahku. Hal itu berlangsung cukup seru dengan rentan waktu yang mampu mengikat rasaku padamu.

Tapi aku luput memandang ke sudut lain.

"Aris nembak aku. terima gak ya?". Seketika lumpuh rasaku. Nesya teman akrab kita, kurasa menjadi benalu.

Beberapa waktu, aku masih tersesat diantara rimbun gelagap kecewa. Ku rangkai semburat sinar senja dengan rasa yang mulai entah sejak kapan membuncah. Aku terus bersenadika, lari, lari, larilah sejauh mungkin.

Lalu apa yang ingin ku capai?kenapa harus berlari?. Sedang itu melelahkan. Akhirnya memilih berjalan dengan kecepeptan sesuai kemampuan. Semua harus di relakan.

"Jika hatimu ingin, terimalah". Terburu aku mengalihkan pandangan netra yang mengulirkan genangan. Persahabatan kita tak harus rusak hanya karena cinta sepihak. Biarlah mengalah, esok pasti akan ada yang lain lagi. Meski tak tau kapan akan datang lagi.

Ku serahkan sebuah kotak kardus ukuran tanggung bersampul biru kesukaanku. Dan heranmu, sudah tak kan lagi mampu mengubahku. Aku menyerah. Kau menyerah. Pada apa yang sebelumnya kita perjuangkan tanpa terucap.

Pun tak banyak yang berubah setelah lama terpisah. Waktu mempertemukan kita kembali dalam bingkai samar yang mirip.

Kau bilang menyesal tak memperjuangkanku selangkah lagi.

Menurutmu apa yang perlu di sesali?bukankah aku jauh dari ideal?.

kamu bertanya, mengapa sikapku seperti ini. Ku jawab dalam hati, aku malu pada harapan.

Tak sengaja mencuri dengar curhatmu, bahwa kau masih ingin memperjuangkanku. Berjuanglah!!!. semoga tidak terlambat. Meski aku tak bisa berjanji menunggu.

****
Aku memaafkan, tapi tak sanggup bila harus melanjutkan.

Biar hujan yang menghapus jejakmu.

Kenangan tentang romantisme kita, cukuplah menjadi pelajaran.

Address

Jalan Gardu
Karanganyar
57782

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nuna History posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share