28/03/2026
Malam itu, langit di atas desa tampak gelap tanpa bintang.
Angin berhembus pelan, membawa bau tanah basah dari arah pemakaman tua yang sudah lama jarang dikunjungi. Nisan-nisan miring ditumbuhi lumut, dan pohon bambu di sekelilingnya bergoyang, menciptakan suara berderit yang menyerupai bisikan panjang.
Di tengah kesunyian itu, seorang pria bernama Miskum berjalan perlahan sambil membawa sekop dan lampu minyak.
Wajahnya tegang, namun matanya penuh tekad.
Ia sudah lama mencari ritual ini.
Tapa pendem.
Sebuah praktik mistis yang konon bisa membuka mata batin dan mempertemukan manusia dengan arwah yang sudah lama terkubur.
Banyak orang menganggapnya gila.
Sebagian lagi bilang, siapa pun yang mencobanya tidak akan kembali seperti semula.
Namun Miskum tidak peduli.
Ia ingin melihat dunia lain dengan matanya sendiri.
Ia berhenti di antara dua makam tua yang retak. Tanpa banyak bicara, ia mulai menggali tanah.
Suara sekop menghantam tanah terdengar keras di tengah malam.
Sekali. Dua kali. Berkali-kali.
Lubang itu semakin dalam.
Keringat mulai mengalir di wajahnya meskipun udara terasa dingin.
Setelah cukup dalam, ia masuk ke dalam lubang itu.
Tanah dingin langsung menyentuh kulitnya.
Dengan perlahan, ia menimbun kembali tanah di sekeliling tubuhnya hingga hanya kepalanya yang tersisa di atas permukaan.
Lampu minyak diletakkan di sampingnya.
Cahayanya kecil, bergetar tertiup angin malam.
Miskum menutup mata.
Ia mulai berdoa dalam hati.
Menunggu.
Awalnya, hanya suara jangkrik dan desiran angin.
Waktu berjalan lambat.
Sangat lambat.
Namun tak lama kemudian, suasana mulai berubah.
Angin tiba-tiba berhenti.
Pemakaman menjadi terlalu hening.
Seperti dunia berhenti bergerak.
Lalu… terdengar suara.
Langkah kaki.
Pelan.
Berat.
Seolah seseorang berjalan di atas tanah basah.
Miskum membuka mata perlahan.
Ia melihat ke sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya bayangan nisan yang memanjang di bawah cahaya lampu minyak.
Namun suara itu tidak berhenti.
Malah semakin dekat.
Langkah demi langkah.
Mengitari dirinya.
Napas Miskum mulai tidak teratur.
Ia mencoba tetap tenang.
Namun tubuhnya terkubur.
Ia tidak bisa bergerak.
Tiba-tiba, terdengar bisikan.
Pelan.
Serak.
Seperti berasal dari dalam tanah.
“Mengapa… kau datang…”
Miskum membeku.
Suara itu jelas.
Dan bukan dari luar.
Itu datang dari bawahnya.
Dari dalam tanah.
Lampu minyak di sampingnya mulai meredup.
Cahayanya mengecil, seakan tersedot oleh kegelapan.
Lalu, dari kejauhan, muncul sosok.
Siluet hitam tinggi berdiri di antara nisan.
Tubuhnya kurus panjang.
Kepalanya sedikit miring.
Wajahnya tidak jelas, tertutup bayangan.
Namun matanya…
Kosong.
Hitam pekat.
Sosok itu tidak berjalan.
Ia melayang.
Perlahan mendekat.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Kulitnya tampak pucat seperti tanah kering yang retak.
Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak mengeluarkan suara.
Hanya udara dingin yang menusuk.
Tanah di sekitar Miskum mulai bergerak.
Getaran kecil terasa di bawah tubuhnya.
Seolah ada sesuatu yang bangun.
Satu tangan muncul dari tanah di sampingnya.
Pucat.
Kotor.
Jari-jarinya panjang dan kurus.
Miskum menahan napas.
Lalu tangan lain muncul.
Dan satu lagi.
Dalam hitungan detik, banyak tangan keluar dari tanah di sekelilingnya.
Meraba-raba udara.
Mencari sesuatu.
Bisikan kembali terdengar.
Kali ini lebih banyak.
Lebih keras.
Tumpang tindih.
“Bangunkan kami…”
“Kau membuka jalan…”
“Kami mendengar panggilanmu…”
Miskum panik.
Ia mencoba bergerak.
Namun tubuhnya terkunci dalam tanah.
Tidak bisa keluar.
Tidak bisa lari.
Sosok hitam itu kini berdiri tepat di depannya.
Wajahnya sangat dekat.
Terlalu dekat.
Miskum bisa merasakan udara dingin keluar dari mulut makhluk itu.
Matanya yang kosong menatap lurus tanpa berkedip.
Lalu, perlahan, makhluk itu mengangkat tangannya.
Menunjuk ke arah tanah.
Seketika, tangan-tangan yang keluar dari kubur mulai bergerak lebih cepat.
Mereka meraih ke arah Miskum.
Beberapa hampir menyentuh wajahnya.
Lampu minyak akhirnya padam.
Gelap total.
Yang tersisa hanya suara.
Suara tanah bergeser.
Suara napas berat.
Dan bisikan yang semakin dekat di telinganya.
Miskum berteriak sekuat tenaga.
Teriakan itu memecah kesunyian malam.
Namun tidak ada yang datang.
Tidak ada yang mendengar.
Atau mungkin…
Tidak ada yang berani mendekat.
Keesokan paginya, beberapa warga desa melewati pemakaman itu.
Mereka berhenti saat melihat tanah yang berantakan di antara dua makam.
Seperti bekas galian.
Namun kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada jejak kaki keluar.
Hanya bekas tanah yang seperti digali dari dalam.
Dan jejak tangan…
Yang tercetak jelas di permukaan tanah basah.
Sejak saat itu, tidak ada yang berani mendekati tempat itu lagi saat malam tiba.
Karena terkadang…
Di tengah kesunyian…
Masih terdengar suara bisikan pelan dari dalam tanah.
Seolah seseorang…
Masih mencoba keluar.