19/05/2026
Hari ini, Bank Indonesia (BI) tidak perlu menunggu emas atau Dollar bertambah untuk mencetak atau mengedarkan uang Rupiah. BI mencetak uang berdasarkan kebutuhan riil ekonomi masyarakat, target inflasi, dan pertumbuhan ekonomi negara.
Jika BI mencetak uang terlalu banyak hanya karena memiliki banyak Dollar, yang terjadi justru inflasi gila-gilaan (harga barang naik semua), sehingga uang yang beredar malah kehilangan nilainya.
(Efek Domino IHSG)
Meski teori cetak uangnya kurang tepat, analisis Anda tentang dampak IHSG ke kehidupan nyata itu 100% akurat.Mari kita bedah bagaimana IHSG yang jeblok menjalar sampai ke tukang bakso, ojek online, dan pencari kerja:
1. Efek Domino ke Lapangan Kerja
IHSG adalah cermin kepercayaan. Ketika IHSG merah membara dalam waktu lama, itu adalah sinyal bahwa investor (lokal maupun asing) sedang cemas.
Investor asing menarik modalnya dari Indonesia.
Perusahaan besar yang terdaftar di bursa (emiten) kehilangan nilai pasarnya.
Akibatnya? Perusahaan menahan ekspansi, menunda buka cabang baru, atau bahkan melakukan efisiensi (PHK).
Efek ke kita: Anak-anak muda yang baru lulus kuliah atau SMK makin sulit mencari lowongan kerja.
2. Pelemahan Rupiah dan Harga Barang Pokok
IHSG jeblok sering kali berjalan beriringan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah. Ketika Rupiah loyo terhadap Dollar AS:
Biaya impor bahan baku naik (ingat, tempe kita dari kedelai impor, mi instan dari gandum impor, bahkan banyak komponen elektronik dan obat-obatan didatangkan dari luar negeri).
Produsen terpaksa menaikkan harga jual barang di pasar.
Efek ke kita:Gaji tetap sama, tapi harga sembako dan barang kebutuhan sehari-hari makin mahal (daya beli turun).
3. Sepinya Omset Pedagang Kecil
Ketika daya beli masyarakat menurun akibat harga-harga naik dan susahnya cari kerja:
Orang-orang mulai berhemat. Yang tadinya jajan kopi tiap hari jadi seminggu sekali. Yang tadinya mau renovasi rumah ditunda dulu.
Efek ke kita: Omset pedagang pasar, pemilik warung, pelaku UMKM, hingga driver ojek online ikut seret. Lingkaran setan ekonomi pun terjadi.
Kesimpulan
IHSG adalah "termometer" kesehatan ekonomi negara. Jika termometernya menunjukkan angka yang buruk (demam), maka seluruh anggota tubuh—termasuk rakyat kecil yang tidak punya saham—akan ikut merasakan lemasnya.
Melihat situasi ekonomi yang dinamis seperti sekarang, memperkuat bantalan keuangan pribadi dan tetap jeli melihat peluang adalah kunci bertahan hidup yang paling masuk akal.