19/09/2026
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa Buto Ijo menjadi tokoh antagonis:
1. Watak yang Serakah dan Ingkar Janji
Buto Ijo digambarkan sebagai makhluk yang egois. Meskipun ia membantu memberikan biji mentimun ajaib kepada Mbok Srini (atau Mbok Yarni) agar bisa memiliki anak, bantuan tersebut tidak tulus. Ia memiliki motif tersembunyi dan menuntut balasan yang sangat kejam, yaitu mengambil kembali anak tersebut untuk dimakan saat sudah dewasa.
2. Menjadi Sumber Ancaman dan Teror
Sebagai tokoh antagonis, Buto Ijo adalah penggerak konflik utama (driver of conflict). Ia menciptakan rasa takut dan bahaya yang konstan. Ketika Timun Mas berumur 17 tahun, Buto Ijo datang untuk menagih janji dan mengejarnya tanpa ampun, yang memaksa Timun Mas harus berlari menyelamatkan nyawanya.
3. Representasi Simbolis Keburukan
Dalam budaya dan pewayangan Jawa, sosok raksasa atau buto secara visual dan filosofis sering digunakan untuk melambangkan:
Angkara murka (keserakahan dan kemarahan).
Hawa nafsu manusia yang tidak terkendali.
Warna hijau (Ijo) dalam konteks ini sering dikaitkan dengan sifat rakus atau kelaparan yang tak pemat (selalu ingin memangsa).
4. Melanggar Nilai Kemanusiaan
Tindakan Buto Ijo yang ingin memangsa seorang anak manusia (Timun Mas) jelas melanggar moral dan nilai kesucian hidup. Dalam struktur cerita pahlawan (hero's journey), tokoh yang mencoba menghancurkan kesucian atau kehidupan karakter yang tidak bersalah secara otomatis menempati posisi antagonis.