31/12/2025
Seperti Digigit Ribuan Semut,
Dea Bertahan Hidup dalam Rasa Sakit yang Tak Pernah Pergi Namanya Dea. Usianya baru 10 tahun.Namun tubuh kecilnya sudah terlalu lama mengenal rasa sakit.Sejak usia satu tahun, Dea hidup dengan penyakit kulit langka. Rasa gatalnya bukan gatal biasa. Ia seperti digigit ribuan semut sekaligus—perih, panas, dan menyiksa tanpa henti. Ada hari-hari ketika Dea tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu.
Tangannya gemetar, matanya penuh air mata.
Ia merendam tangannya ke air panas, bukan karena ingin bermain,tapi karena rasa perih di kulitnya terasa lebih ringan dibandingkan gatal yang membakar dari dalam. Ibunya, Bu Sukaesih, hanya bisa menangis. Memohon sambil memeluk tubuh kecil itu.
“Bertahan ya, Nak… sebentar lagi ya…
Ibu belum punya uang buat beli obat…”
Ketika air panas menyentuh luka-luka di kulit Dea, kulitnya kembali pecah. Darah merembes.Ibunya melihat bagian tubuh anaknya yang terbuka, memerah, dan sakit—
lalu hanya bisa berbisik dengan suara patah:
“Maafkan Ibu ya, Nak… Ibu belum bisa jadi ibu yang sempurna.”
Kulit Dea mengelupas, kering, pecah-pecah, bahkan menghitam di beberapa bagian.
Sedikit saja tergaruk, luka kembali terbuka.
Setiap hari harus dibersihkan agar tidak infeksi.
Namun rasa sakitnya tak pernah benar-benar pergi. Yang lebih perih dari sakit di tubuhnya…
adalah sakit di hatinya.Teman-temannya menjauh.Sebagian mengejek. Sebagian takut mendekat. Suatu hari Dea menangis di pelukan ibunya dan bertanya pelan:
“Bu… kenapa aku selalu dijauhi?
Mereka bilang wajahku menakutkan… katanya takut tertular. Padahal saat itu kulitku lagi sakit sekali, Bu…”Tidak ada jawaban yang cukup untuk pertanyaan itu.Tidak ada kata yang bisa menghibur anak sekecil itu.Dea sempat merasa lelah. Sempat putus asa. Sepuluh tahun hidup dalam rasa sakit yang sama, tanpa kepastian sembuh.Tapi di balik tubuhnya yang penuh luka,
ada hati yang luar biasa kuat.
Dea tetap sekolah. Tetap belajar. Tetap menghafal Al-Qur’an. Tetap berusaha berprestasi—meski setiap sentuhan pakaian saja bisa membuatnya meringis. Ayahnya hanyalah buruh serabutan.
Penghasilannya sekitar tiga puluh ribu rupiah sehari, itu pun tidak selalu ada.Jangankan untuk pengobatan khusus, untuk makan sehari-hari saja kadang harus saling menguatkan.
Ibunya hanya bisa mengoleskan pelembap seadanya. Bukan karena tidak ingin membawa Dea berobat, tapi karena hidup sering kali memaksa orang memilih bertahan dengan apa yang ada. Setiap hari Dea menahan sakit.
Dan setiap malam, ibunya menahan tangis.
Di dunia yang sering menilai dari luar,
Dea hanya ingin satu hal sederhana:
hidup tanpa rasa sakit… dan diterima seperti anak-anak lain.Semoga Tuhan menjaga Dea. Menguatkan tubuh kecilnya. Menenangkan hatinya. Dan melembutkan hati kita semua—
agar tidak lagi menutup mata pada perjuangan yang tak bersuara.