04/02/2022
https://www.facebook.com/101010395206609/posts/351569780150668/?d=n
Tentang Basmalah
Sebab “kecelakaan sejarah”, pada kelas 3 SMP oleh Papa saya dipindahkan dari SMP 2 Kendari ke SMP Kartika Chanda Kendari. Kebetulan, Kepsek Kartika saat itu adalah teman Papa. Saya dititip untuk ditempa dan mendapat lingkungan baru.
Disitulah awal mula saya berkenalan dengan sahabat saya Evans Tosepu. Saya berada satu kelas dengannya.
Sebagai siswa baru, saya tentu berupaya menyesuaikan diri dengan teman-teman yang lain. Oleh sebab saya menyukai musik, saya jadi mudah membaur dengan teman-teman.
Di Kartika Kendari, setiap hari sabtu siswa dibebaskan untuk memakai baju kaos dan membawa alat musik. Siswa juga diberi waktu yang agak luas untuk berkreatifitas sesuai dengan minat bakat masing-masing.
Setiap sabtu tersebut, saya selalu membawa gitar akustik. Kami memanfaatkan waktu untuk bermain gitar, bernyanyi bersama teman-teman, dan saling bertukar referensi musik.
Saya dan Evans memiliki minat yang sama di musik. Pertemanan kami jadi makin akrab setelah bersama teman-teman lain kami membentuk sebuah band. Saya berposisi sebagai pemain bass, sedang Evans sebagai vokalis.
Sejak dulu Evans memang memiliki suara yang enak didengar. Selain bermain dengan band yang kami bentuk, tak jarang ia mendapat panggilan untuk mengisi departemen vokal di band lain.
Selain bermusik, Evans ini adalah salah satu siswa yang disegani di sekolah. Postur tubuhnya yang bagus, ditambah ia adalah atlet taekwondo, menjadikan ia sebagai sosok yang hobi berkelahi dan juga melakukan kenakalan-kenakalan remaja yang lain.
Sebagai seorang sahabat, saya pun turut larut dalam pertemanan dengan Evans. Bukan untuk bilang bahwa Evans yang membuat saya nakal, toh saya sudah punya modal nakal sewaktu di SMP 2 Kendari. Hanya saja, dengannya, saya seperti menjadi seorang sosok murid yang ketemu guru dalam soal kenakalan.
Jika tidak ada lawan berkelahi, Evans ini tidak bisa diam. Dia menyukai keributan. Terhitung dua kali ia sukses sebagai tukang kompor yang membuat saya berkelahi dengan teman sekelas. Dengan alasan yang kalau diingat-ingat sebenarnya tidak masuk akal. Intinya kami dibikin harus berkelahi.
Berjalannya waktu, pada saat masuk di sekolah menengah, kami pisah sekolah. Intensitas ketemu tidak seperti dulu lagi. Hingga pada saat lulus SMA, saya yang memilih merantau jadi tidak pernah lagi ketemu dan komunikasi dengannya.
Ada sekitar 14 tahun kami tidak ketemu. Sesekali waktu saat masih di perantauan, ketika mudik saya menyempatkan diri ke rumahnya. Setelah itu tidak lagi. Paling hanya sekedar sapa-sapa singkat di sosmed.
***
Pada sepekan menjelang tutup tahun 2021 kemarin, saya bersama sahabat saya yang bernama Mamat kebetulan sedang jalan ke sebuah tempat tongkrongan. Sepulangnya, kami secara tiba-tiba ada ide untuk singgah silaturahmi ke rumah Evans. Mendengar Mamat menyebut nama Evans, saya langsung tertawa. Secara visual sosoknya langsung terbayang di kepala. Ada semacam rasa rindu yang tiba-tiba.
Oh, ya. Selain nakal, Evans ini sosoknya juga humoris dan s**a membual. Sosok yang selalu bisa berhasil membuat tongkrongan menjadi ramai.
Sebelum berangkat, kami menelponnya. Dia di rumah dan bilang sedang sakit. Kami kurang percaya, sebab terkadang sulit membedakan kapan Evans serius atau sedang bercanda. Berangkatlah kami dengan Mamat.
Setiba di rumahnya, ternyata ia sakit betulan. Dan sakitnya lumayan parah hingga tak bisa berjalan secara normal.
Setelah mendengar kronologi penyakitnya, kami langsung cerita lepas tentang masa lalu. 14 tahun tidak berjumpa, tumpukan cerita kami urai satu per satu.
Semakin malam, perbincangan larut pada tema agama. Sebelumnya, saya memang pernah mengunggah video ngaji satu ayat di story Facebook. Evans pada saat itu langsung menyambar dan mengajak sharing tentang tata cara ngaji. Kami jadi berbincang lebih dalam seputar Qari’.
Ternyata, pada beberapa tahun yang lalu, oleh sebab kenakalannya, ia sempat jadi santri selama beberapa tahun di “pondok jeruji”. Sebuah pengalaman hidup yang kelam namun menghadirkan terang pada lembar baru episode hidupnya. Di sana ia memperdalam ngajinya.
Saya dan Mamat mengingatkan untuk tidak mengulangi kenakalannya lagi. Dalam hening malam, kami pun diingatkan untuk tidak mencoba kenakalan bodoh yang pernah ia lakukan.
Di akhir perbincangan, muncullah sebuah ide untuk sama-sama membuat hal positif yang bisa mendekatkan kita untuk tidak melulu memikirkan hal duniawi. Terbesitlah ide untuk membuat kanal Basmalah sebagai wadah untuk kami sama-sama belajar ngaji dan ilmu keagamaan.
Basmalah adalah ruang untuk belajar melafalkan, menebarkan, memaknai, dan membumikan ajaranNya ke dalam tindakan. Nama tersebut rasa-rasanya cocok dengan kami yang baru pada tahap awal hendak memulai untuk saling menguatkan dan mendekatkan diri kepadaNya dengan penuh seluruh.
Saya langsung bergairah menyambut ide tersebut. Sebab tahun-tahun sebelumnya memang, saya ada keinginan untuk membuat semacam kanal Basmalah. Secara kelembagaan bersama Indielogis pada Oktober tahun 2019 kami pernah menyatakan keinginan tersebut di publik pada sebuah program kerjasama singkat di The Radio Kendari.
Alhamdulillah ide tersebut kini membumi. Gerakan pertama yang kami lakukan adalah melafalkan dan menebarkan Surah Surah pendek Al-Quran dalam bentuk audio visual.
Sembari yang lain sedang memperbaiki tajwid dan langgam, sebagai langkah awal kami memulainya dengan Evans Tosepu yang melafalkan Surah Al-Fil.
Pada tahapan awal ini, insyaAllah kami akan konsisten untuk memposting 1 Surah di setiap hari Jum’at.
Apa hal-hal lain yang akan kami bikin? Nantikan saja di kanal youtube Basmalah https://youtu.be/FxdstKvrtXs