18/04/2026
Bergang — Luka akibat bencana belum benar-benar sembuh. Di tengah kondisi yang belum pulih pasca banjir dan longsor yang melanda Aceh pada 26 November 2025 lalu, warga kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: akses penghubung yang rapuh dan risiko keselamatan yang mengintai setiap saat.
Peristiwa memilukan terjadi di Desa Bergang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (11/4/2026). Jenazah seorang anak terpaksa digendong oleh orang tuanya untuk menyeberangi Sungai Peusangan. Mereka melintasi rangka jembatan Bailey yang masih dalam tahap pembangunan dan belum layak dilalui, namun menjadi satu-satunya harapan.
Kondisi ini terjadi setelah jembatan darurat yang sebelumnya menghubungkan tiga desa di wilayah tersebut hanyut tersapu arus sungai. Derasnya debit air meningkat signifikan usai hujan lebat yang mengguyur kawasan itu pada Selasa (7/4/2026), mengakibatkan akses kembali terputus dan warga terisolasi.
Tak ada pilihan lain, warga kini kembali menggunakan tali sling darurat untuk menyeberang. Aktivitas sehari-hari, termasuk situasi darurat seperti pengantaran jenazah, harus dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa.
Jembatan utama yang semula menjadi urat nadi transportasi di kawasan tersebut telah lebih dulu hancur saat bencana besar pada November 2025 lalu. Hingga kini, proses pembangunan jembatan Bailey sebagai pengganti belum rampung, memperpanjang derita masyarakat yang bergantung pada akses tersebut.
Peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa pemulihan pascabencana di wilayah pedalaman Aceh masih jauh dari kata tuntas. Di saat duka belum usai, warga kembali dipaksa menghadapi kerasnya alam tanpa infrastruktur yang memadai.