01/03/2013
"Latihan ..." (3-Tamat)
ASAL USUL - Jalan protokol beraspal hotmix sengaja diberi garis tengah yang terputus dan yang masif. Marka jalan dari cat putih "tahan panas dan air" itu termasuk rambu lalu lintas. Namanya juga rambu-rambu, paling tidak mengingatkan kepada pengendara mobil maupun motor agar berhati-hati saat melaju di atas badan jalan tersebut. Ada yang berkelok dan lurus. Ada yang nanjak dan menurun, dan jalan itu dipergunakan untuk dua arah.
"Apa bedanya pengemudi mobil atau motor dengan pemimpin. Persamaannya mereka adalah pengambil keputusan. Bedanya bila pemimpin atau yang kita kenal dengan sebutan Bos selalu bersama sopir kalau hendak bepergian," ucap mang Asal. "Kalau begitu sang bos selama berada di dalam mobil menjadi bawahan sopir, begitu?" tanya mang Usul. "Sepatutnya lah ...," ujar mang Asal. Syahdan, sang sopir selalu membawa bos-nya sampai ke tujuan sekalipun kurang tidur. Lantas mang Asal bertanya, "Kenapa masih ada bos yang setengah hati?" Maksudnya? "Fakta membuktikan dia berhenti sebelum sampai tujuan?" ucapnya diplomatis.
Namanya juga bos tidak mungkin "sekuat" sopir yang hampir tiap hari melihat rambu-rambu lalu lintas seperti garis pemisah jalan yang "kuat" itu. Semangat sang sopir bertambah dan bertambah bahkan kehati-hatiannya pun terjaga. Bagaimana dengan sang bos? "Mungkin sering lupa, karena tasnya pun sering terlihat dijinjing oleh sopirnya, eh ajudannya," seloroh mang Asal. "Penyakit lupa itu" rupanya "kuat" menghinggapi sang pemimpin. Sehingga, ada "uang parkir" pun diambil tapi sering juga sang sopir kebagian. "Katanya uang yang diterima si sopir adalah 'uang duka' setelah mau diajak mampir ke tempat yang penuh dengan misteri," ungkap mang Asal. Maksudnya? Ya ..., apabila ada yang bertanya kepada sopir hendak ke mana dengan sang bos, sang sopir cukup menjawab singkat dan hanya satu kata, "duka" (Ind. tidak tahu). Itulah arti dari stilah "uang duka".
Karena kelihatan bingung menanggapi celotehan mang Asal, lalu mang Usul mengungkapkan duka-citanya atas peristiwa yang berawal dari kegiatan yang misterius tapi di situ ada sang pemimpin atau si bos. Contohnya, ada pemimpin parpol yang nampak "setengah hati" mengemban "amanah", yang akhirnya nginep di ruang tahanan KPK. Selain itu, ada pimpinan daerah yang dimakzulkan lembaga wakil rakyat, karena "terbukti setengah hati" alias tidak memegang amanah rakyatnya. "Kalau begitu mereka yang menjadi pemimpin perlu latihan konsentrasi kepada sang sopir," harap mang Usul. "Setujulah ...," ucap mang Asal, yang langsung mencuatkan "cita-citanya" ingin menjadi sopir sang bos karena ia pun terangsang oleh "uang duka" turunannya dari "uang parkir". Nasib bos-bos yang sedang berduka itu, ibarat sedang "latihan tidur".